JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Gembira


__ADS_3

Sikap Gina susah ditebak. Dari ekspresi wajah dingin cuek bebek tapi jauh di lubuk hati memancarkan bergulung kehangatan. Orang yang sudah lama kenal Gina baru tahu siapa sesungguhnya Gina.


Subrata dan Lucia pamitan setelah yakin Gina sudah mulai sehat. Hati Subrata agak tenang mendapatkan Gina mau interaksi dengan Lucia. Subrata berencana pulang kampung jauh dari keramaian. Lucia mana mau ikut ke sana menghitung hari jelang menghadap yang maha kuasa. Biarlah Lucia tetap di kota bersama kedua anaknya yang lain. Subrata yakin Gina takkan abaikan Lucia.


Pak Julio wakili Kevin dan Gina kirim auditor ke Bali untuk audit hotel Kevin. Sebenarnya Kevin rela berikan hotel pada Peter namun cara Peter yang salah membuat Kevin menarik ucapannya. Peter harus kena terapi mental agar jangan merasa hanya dirinya saja yang pintar. Orang lain dianggap bodoh bisa diakali sesuka hati.


Peter sama sekali tidak tahu kalau hotelnya sudah didatangi oleh auditor. Peter masih berada di kota untuk menanti Gina bisa dijenguk. Tujuan Peter ialah meraih perhatian Gina agar berpihak kepadanya. Sekarang Gina bukan asisten kecil Kevin lagi melainkan seorang komisaris yang kaya raya. Seluruh tubuh Gina bersinar oleh pundi-pundi emas yang mengelilinginya. Laki mana tidak akan tertarik kepada wanita yang sangat sempurna itu sudah cantik dan kaya raya pula.


Sayang sekali seluruh hati Gina telah dipersembahkan kepada Kevin yang duluan hadir di dalam hidupnya di saat dia masih dalam kondisi terpuruk. Kevin tidak pernah memasalahkan kehidupannya yang sederhana. Justru Kevin hadir memberi pelita menerangi jalan Gina menuju kesuksesan. Sampai mati pun Gina tidak akan meninggalkan Kevin kecuali Kevin yang meninggalkannya. Itu sudah menjadi tekad Gina sebagai pedoman hidup agar tragedi masa lalu tidak terjadi lagi.


Seminggu setelah itu Gina telah diizinkan pulang ke rumah oleh dokter. Gina sangat lega bisa kembali berkumpul dengan keluarga walaupun minus Bu Sarah dan Om Sabri. Paling tidak Gina tidak perlu berhadapan dengan bau-bau obat dan segala peralatan medis yang selama ini menempel pada tubuhnya.


Kepulangan Gina disambut oleh bibik dan Mai yang telah menyediakan makanan lezat sebagai ucap syukur majikan perempuan mereka telah kembali. Konco-konco Gina tak ketinggalan hadir untuk beri semangat kepada bos mereka. Hari itu rumah Kevin penuh dengan kegembiraan sebab malaikat maut telah dikalahkan oleh Gina. Gina kembali ke rumah dal kondisi sehat walafiat.


Pesta kecil menyambut Gina juga dihadir keluarga kecil pak Julio. Pak Julio sangat senang keponakan kembali dari kematian. Tanggung jawab Pak Julio terhadap kedua anak kakaknya dapat dia tanggung dengan baik. Pak Julio tidak mengecewakan bu Sarah yang percayakan anaknya pada pak Julio.


Gina berseri-seri bisa kumpul dengan keluarga juga konconya. Semua anak muda kampung yang datang turut bahagia ikut nikmati pesta sederhana karya bibik dan Mai. Semua tampak gembira menyambut kepulangan Gina. Bukan hanya sekedar pulang namun berhasil lolos dari maut. Tuhan maha pemurah mengembalikan jiwa Gina secara utuh.


Pesta itu makin semarak tatkala muncul Lucia, Subrata dan Ardi. Ketiga orang ini tak mau ketinggalan larut dalam puji syukur kesembuhan Gina. Kehadiran Subrata mengganggu keriangan Gina sesaat namun Kevin beri kode agar Gina terima saja kehadiran orang yang pernah menorehkan luka di hati Gina. Kevin menggenggam erat tangan Gina untuk beri spirit melawan ego amarah.


"Kita sedang bahagia sayang. Jangan mengecewakan bibik ya!" bisik Kevin lembut di kuping Gina.


Lucia sempat melirik kemesraan kedua orang itu. Meski ada rasa sedih melihat Kevin bahagia bersama Gina namun Lucia harus belajar menerima kenyataan. Dia tak boleh terpaku pada sesuatu yang tak mungkin dia raih. Lucia menepis perasaan sedih ganti dengan pasrah. Hari lebih indah akan segera datang bersama laki lain. Lucia yakin hari itu akan datang.


"Silahkan pak Subrata! Jangan sungkan!" pak Julio menemani Subrata agar laki tua itu tidak canggung berada di tempat anak mantu. Mungkin Subrata belum tahu kalau Gina dan Kevin sudah menikah tanpa libatkan dia. Wali Gina dulu adalah abang kembarnya sebagai ganti Subrata yang waktu itu masih terpukau pada Angela.


"Terimakasih pak Julio...kamu sudah jaga anak-anak." sahut Subrata dengan mata berkaca-kaca. Tersirat betapa besar penyesalan di hati laki tua itu.


"Mereka anak baik...ayok ambil hidangan! Kita tak perlu bahas hal sedih. Hari ini hari kemenangan Gina. Selanjutnya Gina masih harus berjuang di kancah bisnis. Pak Subrata tentu tak keberatan beri ilmu agar Gina makin dewasa." Pak Julio menyentuh punggung Subrata mengiringnya ke meja penuh hidangan. Aneka makanan terhidang di meja mengundang siapa saja yang lapar untuk cicipi.


Gina dan Kevin duduk berdampingan tak banyak gerak karena Gina masih harus jaga luka jangan sempat terbuka. Jahitan belum seratus persen kering masih ada kemungkinan terbuka bila lasak.


Mata Gina mengitari seluruh ruangan larut dalam perasaan gembira. Betapa leganya Gina bisa berkumpul lagi dengan orang-orang yang dia cintai. Memang sudah saatnya Gina melepaskan semua dendam agar hidupnya lebih terarah. Memendam rasa benci hanya membuat hatinya selalu dipenuhi kobaran amarah.


"Nona Gina...kenalkan saya Ardi..."


Lamunan kina buyar disapa oleh suara yang mampu merontokkan iman para wanita. Suara itu begitu seksi mengguncang relung hati setiap anak gadis. Secara refleks Gina memandangi lelaki yang berdiri di hadapannya lantas tersenyum. Gina tersenyum bukan karena apa tetapi mengingat kalau lelaki ini yang telah mencuri sebagian hati Lucia.


Gina bangkit dari tempat duduk mengulurkan tangan salaman dengan polisi yang pernah dicerita oleh Kevin. Laki ini cocok untuk kakak tirinya. Macho mampu beri perlindungan pada Lucia yang manja.

__ADS_1


"Saya Gina..."


"Saya sudah tahu...kapan kita bisa berbincang tentang kejadian yang menimpa anda. Seharusnya kasus nona sudah dilimpahkan ke kejaksaan tapi berhubung nona masih belum sehat maka tertunda."


Gina berat sekali menjawab. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya akan menjadi penentuan hukuman Angela. Gina memang tidak menyukai Angela tetapi dia juga harus menjaga perasaan Lucia. Lucia pasti sangat bersedih bila mamanya dihukum sangat berat. Kini Gina dilanda dilema harus berpijak di posisi mana.


Gina menjatuhkan pandangan ke arah Lucia yang sedang bercanda dengan Gani. Katanya mulut Gani beracun tapi dia justru suka menggoda adiknya itu. Lucia bukan orang jahat hanya dia dibesarkan di tangan tak tepat.


"Besok aku akan beri keterangan di kantor pak polisi." jawab Gina masih ragu akan keputusan harus bagaimana.


Ardi mengangguk siap menerima laporan Gina. Kasus Gina dibekukan karena belum ada keterangan dari korban. Kini Gina sudah siap beri kesaksian maka kasusnya akan segera disidangkan.


"Kami tunggu kehadiran nona. Atau perlu kami jemput?"


"Tidak perlu. Aku akan datang sendiri. Pak polisi jangan segan di sini. Sudah masuk ke rumah ini artinya kita sudah sekeluarga." kata Gina tersenyum simpul lantas menoleh ke arah Lucia.


Arsi mengerti godaan Gina. Wanita muda ini sedang menunjukkan kalau Ardi cocok dipasangkan kepada Lucia. Kalau Lucia dan Ardi sempat jadian maka satu lagi berita bahagia berkumandang di sekitar mereka. Lucia tak perlu bersedih lagi memikirkan Kevin yang telah menjadi milik orang lain. Sudah muncul tangan yang lebih kokoh siap menggandeng Lucia menyongsong fajar lebih cerah.


"Terimakasih mau anggap aku bagian dari kalian."


"Aku siap cetak undangan untuk undang semua orang hadir si pesta kita selanjutnya." kata Gina maju selangkah lebih berani menembak Ardi langsung ke pangkal topik.


"Doakan saja!" Ardi menyambut baik harapan Gina. Ardi sudah melihat kalau keluarga ini bukan keluarga gampangan. Mereka semua punya latar belakang kuat dari segi manapun. Ardi bukan pandang kekayaan keluarga ini namun perilaku Gina sekeluarga yang tunjukkan keluarga ini punya iman kuat.


Lucia sama sekali tak tahu jadi topik pembicaraan. Lucia masih tertawa derai kena sindiran sayang dari Gani. Mulut Gani memang ember namun tak sampai menusuk harga diri Lucia. Cukup sindiran ala anak muda.


Ardi puas dapat tanggapan Gina. Laki itu pamitan tak ganggu Kevin dan Gina lagi. Ardi bergabung dengan Lucia ikut masuk kelompok anak muda. Ardi tertarik melihat tawa ceria Lucia dan anak muda. Rasa ingin tahu membawa Ardi gabung.


Kevin dan Gina kembali berduaan melihat para tamu bercanda ria. Andai selamanya begini damai betapa indah hidup ini. Tidak sia- sia mereka lalui lorong gelap untuk capai hari ini.


Kevin merangkul pundak Gina demikian bahagia. Mereka berkumpul lagi setelah lalui masa suram. Gina melirik ke tangan Kevin merangkul pundaknya. Rangkulan itu takkan lepas selamanya. Akan begini sampai batas ijin tinggal di dunia dicabut oleh malaikat maut.


"Besok abang kawani kamu ya!"


"Tak usah bang! Pekerjaan di kantor sudah sebukit. Aku akan minta anak-anak kawani aku. Mungkin aku akan ajak Kupret dan Sam. Jay dan Gani harus masuk kantor jadi biar mereka yang tak punya kerja temani aku. Percaya saja pada mereka. Mereka akan jaga aku."


Kevin terpaksa mengangguk karena pekerjaan di kantor memang sudah menumpuk. Rela tak rela Kevin harus melepaskan Gina menjadi saksi di kantor polisi.


"Dari kantor polisi kamu langsung balik ke rumah ya." nada suara Kevin mengandung kekuatiran. Wajar saja Kevin kuatir karena Gina adalah istrinya yang baru sembuh dari sakit.

__ADS_1


"Iya pak Kevin...hamba akan patuh!" olok Gina mendapatkan cubitan di hidung mungilnya.


"Sudah lelah? Abang antar ke kamar ya."


"Masih banyak tamu kok masuk kamar. Kayak pengantin baru saja."


"Apa bukan? Mesin baru jalan satu kali. Harus sering dijalankan biar tak macet."


"Ishhh tak tahu malu...kalau didengar orang pikir abang ini orang genit. Pergi gabung sama bapak sana. Masak asyik duduk jaga istri. Tak ada yang mau culik istri abang. Susah diatur."


Kevin terkekeh diusir halus oleh Gina. Harus dia akui dia bukan tuan rumah yang baik. Tamu dibiarkan keliaran dalam rumah tanpa ditemani tuan rumah. Kevin lengket pada Gina enggan pergi jauh.


Kevin bangkit juga untuk berbincang dengan Subrata dan pak Julio. Keduanya pasti bicara seputar bisnis. Pengusaha jumpa pengusaha bincangkan tak jauh daripada tugas seharian.


Kevin jauhi Gina untuk bergabung dengan yang lain agar tak tinggalkan kesan sombong. Gina duduk sendirian memantau setiap tamu sampai terakhir tiga sosok anak manusia hampiri dia. Senyum Gina mengembang lebar didatangi istri pak Julio beserta kedua anaknya.


Netti langsung duduk di samping Gina. Netti hendak ngobrol dengan Gina namun terhalang oleh adanya Kevin. Netti merasa tak enak mengusik kemesraan pasangan baru itu maka bersabar tunggu moments pas. Begitu Kevin pergi Netti langsung segera mengganti posisi Kevin di samping Gina.


Netti meletakkan tangan di atas tangan Gina mau kasih tahu dia sekeluarga sayang pada Gina. Senyum lembut Netti mampu merontokkan semua rasa kuatir Gina terhadap tantangan hati depan.


"Gimana nak? Masih ada yang sakit?" tanya Netti tanpa memindahkan tangan.


"Alhamdulillah semua sakit telah menjauh. Terimakasih Bu.. Tanpa dukungan ibu dan bapak aku tak tahu harus melangkah ke arah mana."


"Setiap langkah pasti ada jalan. Kau lihat kedua adik kamu. Mereka selalu harap kamu datang ajar mereka mengaji."


Pandangan mata Gina berpindah ke wajah kedua bocah manis yang turut mendengar percakapan mereka. Mata mereka begitu bening tanpa ada sedikitpun pijaran kebencian. Kapan Gina bisa belajar legowo seperti kedua anak pamannya.


"Maafkan kakak ya sayang! Kakak sangat sibuk sampai ingkar janji. Kakak akan luangkan waktu untuk kalian. Setiap sabtu dan minggu kakak akan datang ajar kalian." Gina kembali tebar janji yang belum tentu bisa dia penuhi.


Kedua anak pak Julio mencibir secara serentak. Sudah capek dengar janji Gina. Sering janji tapi tak satupun ditepati. Rasa percaya pada Gina tak ada sama sekali. Itu bukan salah anak pak Julio melainkan Gina gagal bayar janji.


Netti tertawa kecil melihat kekesalan kedua anaknya. Mereka tak bisa disalahkan bila kesal. Kini tinggal Gina bangun lagi kepercayaan agar dihargai kedua anaknya.


"Kita kasih kesempatan sekali lagi buat kak Gina. Kalau masih bohong kita musuhan." Netti berusaha bujuk bujuk kedua anaknya beri kesempatan buat Gina bayar janji.


Gina mendapat angin segera angkat jari ucap janji. Kali ini Gina bersungguh-sungguh akan datang ke rumah pamannya temani kedua adik sepupunya.


"Ok...kami tunggu." si cowok sahut dengan angkuh berkesan marah.

__ADS_1


"Makasih sayang...kakak pasti datang kalau sudah bisa bepergian. Ayok dong jangan manyun! Kita ambil makanan yok!" Gina bangun sambil merangkul kedua anak kecil itu. Gina harus bisa rebut hati kedua adiknya lagi. Mereka bukan keluarga besar banyak saudara. Di sini keluarga kandung mereka hanyalah pak Julio jadi Gina tak boleh kehilangan kasih sayang dari mereka.


Kedua anak pak Julio tidak menolak tawaran Gina. Mereka dengan riang gembira mengikuti Gina mencari makanan sesuai dengan selera mereka. Netti hanya bisa menatap keriga anak itu pergi menyongsong kegembiraan. Bersaudara memang seharusnya bersatu.


__ADS_2