JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Kesetiaan


__ADS_3

Pak Julio manggut-manggut setuju dengan perkataan Kevin. Anak-anak memang tak seharusnya datang ke tempat ini jika memang tidak penting sekali. Kehadiran pak Julio dam istrinya memang tak banyak bawa aura positif. Mereka jiga tak bisa berbuat apa-apa. Namun sebagai orang tua pak Julio wajib memantau kondisi Gina. Pak Julio bertanggung jawab sepenuhnya kepada bu Sarah.


"Gani mana?" tanya pak Julio tak menangkap bayangan lelaki kemayu itu di situ.


"Pulang mandi pak! Dia sudah cukup capek menunggu sendirian dari tadi senja. Biarlah dia pulang istirahat sebentar. Nanti di balik kok!" sahut Kevin. Gani memang cukup lelah pikiran. Mungkin untuk badan tak lelah karena kerjanya hanya duduk menunggu kabar baik.


"Iyalah! Apa dari tadi Gina tidak ada kabar sama sekali?"


Kevin menggeleng karena memang tidak ada perubahan sama sekali selain melihat dokter dan perawat keluar masuk memantau kondisi Gina. Para dokter hanya mengatakan kalau Gina dalam kondisi stabil tak boleh diganggu. Mereka tak bisa protes apapun karena faktanya memang harus menunggu Gina benar-benar sadar barulah dinyatakan lolos dari maut.


Pak Julio kembali mengangguk-ngangguk juga pasrah karena tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong keponakannya. Kalau Gina minta pertolongan soal lain mungkin pak Julio akan segera melaksanakannya.


Tak banyak yang dibincangkan oleh mereka malam ini karena memang tidak ada yang bisa dijadikan topik. Tak lama kemudian muncullah Sam dan kelompoknya terdiri dari 6 orang. Mereka juga tidak berani mengeluarkan suara karena di situ suasananya agak sepi. Apalagi di situ ada pak Julio dan Kevin yang merupakan bos dari perusahaan besar. Mereka tidak bisa sembarangan menggunakan bahasa pasaran yang akan merusak kedua pemimpin itu.


Semua hanya bisa berdiam diri sambil menunggu waktu berlalu dengan posisi berbeda-beda. Ada yang duduk dan ada yang berdiri. Semua dengan pose masing-masing seperti peragawan yang sedang mendalami akting mereka.


Dekat tengah malam pak Julio dan istrinya pamitan karena masih ada anak-anak di rumah. pak Julio wanti-wanti kepada Kevin untuk memberi kabar setiap saat bila ada perubahan pada diri Gina. Pak Julio mengatakan tidak perlu dulu jam berapa dia selalu siaga menanti kabar dari Kevin.


Gani juga datang bergabung untuk meramaikan suasana malam yang semakin dingin. Kehadiran Gani membuat suasana lebih hidup sedikit walaupun mereka tidak berani bersuara besar. mereka hanya berbisik-bisik untuk kurangi ketegangan.


Malam semakin larut membuat satu persatu orang yang menjaga Gina satu persatu tumbang terayun menuju ke alam mimpi. Para pemuda itu tidur sambil duduk di atas bangku bersandaran satu sama lain. Kevin sudah meminta mereka untuk pulang namun rasa solidaritas mereka melarang mereka meninggalkan teman mereka. Apalagi yang terluka itu adalah Gina yang menyerupakan bos mereka.


Malam ini terasa panjang buat mereka yang menjaga Gina. Gina merupakan orang paling bahagia. Di saat dia berada diambang maut semua teman dengan setia temani dia lalui tahap paling kritis ini. Inilah yang dinamakan teman sejati. Bukan hanya bersama di saat senang. Di kala sedang musibah mereka juga ada.


Angin dingin tak terasa di kulit karena ada yang lebih penting dari sergapan hawa dingin. Bila ada kabar baik semua akan hangat sendiri. Kevin memeluk tangan sambil memejamkan mata mencoba tenangkan pikiran. Semoga esok begitu menyingsing sudah ada kabar baik.


Samar-samar terdengar adzan subuh berkumandang memanggil mereka yang wajib bersholat subuh. Jay mencolek Gani yang tertidur bersandar di bahunya. Jay bukannya ingin ganggu tidur sahabatnya namun waktunya Gani berdoa pada Yang Maha Kuasa untuk kesembuhan Gina sekaligus laksanakan kewajiban sebagai umat Islam.


Gani mengucek mata mengintip apa yang diinginkan oleh Jay. Mungkin karena masih ngantuk Gani menutup mata lagi tak peduli colekan Jay. Gani mungkin lupa dia sedang berada di mana. Jay menghela nafas tak menyalahkan Gani bila masih terserang demam ngantuk. Tapi Jay tak mau membuat Gani berkubang dosa tinggalka tugas penting.


Jay mencubit cuping hidung Gani sampai anak tak bisa bernafas lancar. Gani kontan blingsatan tak bisa menghirup udara pagi. Mata yang melek segera terbuke lebar seraya menepis tangan Jay jauhi hidungnya. Gani tersengal-sengal kehilang oksigen.


"Kau gila ya! Kau mau bunuh aku ya!" bentak Gani tak bisa rem suara. Suara Gani cukup keras membangunkan yang lain.


"Kamu kan bebek tak bisa mati kalau tak disembelih. Dibanguni malah molor terusan. Tuh sudah adzan subuh!" Jay menarik kuping Gani untuk dengar lebih jelas panggilan adzan.


Gani makin jengkel kena tarik kuping. Hidung baru saja terselamatkan sekarang kuping pula korban kejahilan Jay. Mata yang semula sayu berubah tajam ingin membelah Jay jadi berkeping.


"Kalian ini sedang apa? Jualan di pasar pagi?" Kupret mengucek mata terganggu oelh aksi kedua orang perusuh itu.


"Pagi-pagi ada orang stress.. bangunkan pakai metode pembunuhan."

__ADS_1


Jay tertawa geli melihat betapa kusutnya Gani di pagi ini. Biasa pantang bagi Gani tampil berantakan. Ini menyalahi tradisi Gani harus tampil sempurna setiap saat.


"Sudah adzan subuh. Aku mau bangunkan bebek untuk sholat. Kita gantian pergi sholat. Cari mushalla di sini saja." Jay abaikan amarah Gani. Mereka harus setor dulu pada Allah untuk bayar kewajiban.


Satu persatu anggota Gina bangkit tanpa bergairah. Tidur ayam di bangku mana bisa puaskan rasa ngantuk. Namun apa mau dikata karena bos mereka dapat musibah. Sesusah apapun mereka harus jabari.


Yang merasa ingin sholat duluan melangkah mengikuti kami yang tak pernah meninggalkan sholat subuh. Di situ tinggal Kebin dan Jay. Kevin tidur ayam memeluk tangan bersandar pada sandaran bangku. Kelihatannya Kevin memang benar-benar sangat ngantuk sehingga tidak mendengar keributan yang ditimbulkan oleh Jay dan Gani. Jay tak tega bangunkan Kevin namun laki itu tetap harus jalankan kewajiban seperti yang lain.


Mau tak mau Jay harus memanggil Kevin untuk bangun. Perlahan Jay hampiri Kevin tak bearni langsung mengulurkan tangan untuk membangunkan Kevin. Kalau hanya dengan panggilan suara belum tentu Kevin bisa terbangun. Mungkin harus dibantu gerakan tangan.


Hati berselimut keraguan namun Jay beranikan diri menepuk bahu Kevin selembut mungkin. Tak mungkin juga Jay kasar seperti pada Gani.


"Pak Kevin...bangun! Sudah subuh.." suara Jay pelan halus.


Kevin tersentak memandang sekeliling untuk mengumpulkan ingatan dia sedang di mana. Mata Kevin agak liar melihat sekeliling terakhir kembali ke wajah Jay menunggunya dengan sabar.


Kevin menyugar rambut dengan sebelah tangan menarik nafas dalam-dalam mengisi paru-parunya dengan bergalon oksigen. Udara pengap di dalam ruangan rumah sakit berlomba masuk ke dalam paru-paru Kevin. Entah ada bakteri ikut masuk atau tidak hanya bakteri itu yang tahu.


"Mana yang lain?" Kevun tersadar kalau saudara Gina yang setia telah raib satu persatu termasuk saudara kembar Gina.


"Ke musholla pak! Ini sudah subuh...kalau mereka balik nanti gantian kita yang sholat. Kita berdoa untuk Gina."


Kevin mengganggu sangat setuju pada perkataan Jay. Memohon pada yang maha kuasa adalah jalan paling tepat untuk memberi keselamatan kepada Gina.


"Iya pak... lalu bagaimana dengan kantor Gina?"


"Itu urusan pak Julio...dia lebih ngerti seluk beluk kantor Gina. Jurusan Gina jauh berbeda dengan jurusan kita. Biarlah kita percayakan kepada Pak Julio! Beliau tak mungkin merugikan keponakannya bukan?"


"Iya pak... lalu bagaimana dengan Naruto dan Hadi yang berada di Pulau Sumatera? Apa kita harus mengabari mereka mengenai Gina?"


"Tak usah...nanti mengganggu konsentrasi kerja mereka. Takutnya nanti mereka akan segera balik ke sini untuk melihat kondisi Gina. Kau kan tahu proyek kita baru saja mencapai tahap 25%. Kita harus mengebut waktu agar tidak mengalami kerugian nanti."


"Tapi mereka pasti akan kecewa bila mengetahui Gina sedang dalam kondisi tidak baik-baik sedangkan mereka tidak tahu apa-apa."


Kevin termenung mendengar alasan Jay bila tak beritahu pada Hadi dan Naruto. Keduanya temannya juga cukup dekat dengan Gina. Mereka pasti akan sangat sedih bila tak menerima berita ini.


"Terserah kamu sajalah. Tapi usahakan mereka tidak balik ke sini sebelum proyek kita berjalan lancar."


"Baik pak...aku akan beritahu mereka untuk lebih fokus. Apa ada perintah lain?"


"Kau lihat agenda aku jumpa klien. Minta mereka undur kan waktu karena Gina dapat musibah. Tak perlu bercerita apa penyebabnya. Cukup katakan istriku berada di rumah sakit."

__ADS_1


Jay kembali mengganggu memahami permintaan Kevin. Sebagai bawahan Jay harus melaksanakan semua perintah Kevin. Hari ini tugasnya sangat berat memikul emban amanah dari Kevin.


Baru saja mereka selesai berbincang seorang perawat datang membawa catatan kesehatan Gina juga nampsn berisi cairan suntikan untuk dimasukkan ke dalam cairan infus Gina. Kevin dan Jay diam saja mengikuti gerakan sang perawat. Andai saja perawat itu berbaik hati memberi kelonggaran kepada mereka untuk melihat walaupun hanya sekilas. Sayang perawat itu tak berani melanggar perintah dari dokter tak izinkan siapapun menjenguk gimana sebelum gadis itu benar-benar melewati masa kritis.


Perawat itu keluar berdiri di depan pintu menatap kedua pemusa itu silih berganti. Wajah kaku sang perawat bikin hati Kevin tak nyaman. Gimana pasiennya bisa sembuh kalau perawatnya memiliki wajah sekeras baja. Tak ada rona lekbut sedikitpun terukir di wajah sang perawat.


"Siapa Kevin?" tanya perawat itu dingin.


Kevin segera maju ke depan sambil menunjuk tangan ke atas seperti anak sekolah sedang diabsen oleh guru. Kevin tak sabaran ingin mengetahui apa yang diinginkan oleh perawat itu.


"Pasien sudah sadar... dia ingin berjumpa dengan orang bernama Kevin. Ayok masuk! Tapi jangan coba-coba membangkitkan emosi pasien! Usahakan emosinya tetap datar."


Bongkahan batu yang menghimpit dada Kevin terangkat sudah. Gina ingin bertemu dengannya berarti gadis itu sudah sadar. Kevin bangga bukan main jadi orang pertama yang ingin ditemui oleh Gina. Ini menyatakan kalau di hati Gina terisi nama Kevin.


Kevin merapikan rambut dan pakaian biar rapi jumpa dengan Gina. Kevin tak mau Gina melihatnya dalam keadaan kusut. Takutnya akan pengaruhi jiwa Gina pikir Kevin kembali drop.


"Aku masuk dulu ya Jay! Istri aku mau jumpa..." ujar Kevin seperti anak kecil jumpa idola. Kevin melupakan statusnya sebagai seorang pengusaha demi Gina. Tingkah Kevin persis seorang anak kecil di mata Jay.


Jay tak anggap tingkah Kevin memalukan justru Jay bahagia kalau Gina telah mendapat seorang lelaki yang betul-betul mencintainya. Jay senang Gina berada di tangan yang tepat. Jay pernah punya angan indah terhadap Gina namun perasaan itu harus dia kikis karena sadar dia tak pantas mendampingi wanita kuat itu. Jay puas lihat orang yang pernah mengukir perasaannya indah di hatinya mendapat kebahagiaan. Jay tetap menganggap Gina orang yang penting di dalam hidupnya dalam versi lain.


Kevin melangkah masuk dengan hati-hati takut menimbulkan suara gaduh. Derap sepatu sengaja diperkecil volume nyaris tak ada suara. Hati Kevin bagai disayat sembilu melihat wanita baja miliknya tak berdaya di brankar warna putih bersih. Berbagai alat medis masih terpasang di tubuh wanitanya. Wajah yang biasa berwarna merah ini pucak kasih kehilangan pamor.


Gina menoleh ke arah Kevin berusaha beri senyum manis di bibir pucat pasi. Kalau bukan ingat pesan perawat tak boleh membuat gejolak emosi Gina meloncat rasanya Kevin ingin menangis meraung-raung melihat kondisi Gina. Gina yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Gina yang sehari-hari dia temui. Gina yang ini begitu lemah tak berdaya.


"Hai..." sapa Kevin lembut sambil goyang tangan.


"Abang tak apa?" Gina mengeluarkan suara khawatirkan keadaan Kevin.


Perawat yang berdiri agak jauh terenyuh mendengar pasien bukan khawatir diri sendiri melainkan lelaki yang baru masuk. Ternyata di dunia ini masih ada cinta yang sangat indah. Cinta palsu bertebaran di mana-mana seolah cinta itu bukan barang langka yang mesti dijaga. Tak ada cinta sejati dibumi ini. Yang ada hanyalah cinta kutu loncat yang bisa pindah setiap saat.


"Kau lihat abang kurang apa? Kurang kena omelan kamu.." gurau Kevin berusaha santai walau dalam hati mau menangis darah.


"Tenang...besok kuping abang akan segera penuh omelan aku."


"Ok...abang tak sabar tunggu omelan kamu. Sudah enakan?"


"Enak bang..ngak usah mikirin tugas kantor. Anggap aku lagi liburan barang sehari dua hari. Abang harus ke kantor ya! Pekerjaan kita masih seabrek."


Kevin menggeleng menautkan tangan ke jari tangan Gina. Sentuhan orang tercinta akan percepat penyembuhan pasien. Perawat tak melarang asal Kevin pandai kontrol emosi pasien.


"Abang tak mau jauh darimu. Ke kantor abang juga tak bisa kerja apa-apa. Biarlah Jay dan Gani yang kerja! Abang percaya mereka mampu terutama Gani. Dia sudah banyak kemajuan."

__ADS_1


Begitu nama Gani terselip dalam obrolan mata Gina mencari sosok gemulai yang selalu bikin dia kesal. Tampang lajang itu tak nongol buat Gina sedikit bertanya.


__ADS_2