JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Selingkuh Semu


__ADS_3

Lucia bersyukur jumpa orang baik. Kalau yang niat jahat tentu akan peras dia habisan. Kalau sekedar perbaiki motor orang itu mungkin tak ada masalah. Jangan cuma perbaiki, beli baru juga takkan masalah asal ditempuh jalan damai.


Lucia tak sempat lihat wajah orang itu karena masih tertutup helm. Lucia tak ambil pusing dengan tampang laki itu, yang penting tak bawa masalah saja. Namun suara khas laki itu terngiang di kuping Lucia. Begitu gentle ciri khas laki sejati. Jauh beda dengan Gani yang agak manja. Sama lelaki namun beda karakter.


Lucia segera meninggalkan laki itu menuju ke mobilnya. Tak ada yang menahan gadis ini karena korban sendiri biarkan Lucia pergi berarti telah ada jalan damai. Untunglah mobil Lucia masih bisa dijalankan. Lucia tak sempat periksa mobilnya ada kena lecet atau tidak. Segera meninggalkan tempat ini adalah jalan paling aman.


Lucia bunyikan klakson minta ijin pergi. Laki itu membalas dengan lambaian tangan penuh persahabatan. Lucia jalankan mobil dengan hati lega. Semoga tidak timbul niat jelek di hati laki itu menempatkan Lucia dalam posisi sulit. Mobil Lucia laju menuju ke rumah.


Kelompok Gina tiba di rumah Kevin sebelum jam sepuluh malam. Suasana rumah telah sepi seperti biasanya sebelum hadir Gani dan Gina. Gina dan Gani berusaha tak menimbulkan keributan sewaktu masuk ke dalam rumah. Tak ada niat merusak keheningan yang jadi trademark rumah ini. Selalu tenang jauh dari kebisingan sehubung yang punya rumah ada sedikit kelainan jiwa.


"Kalian cepat tidur. Jangan begadang lagi!" bisik Gina seakan sedang hadapi dua bocah nakal susah diatur.


Gani mencibir jengkel selalu diperlakukan seperti anak kemarin sore padahal statusnya lebih tinggi setingkat dari Gina. Gani duluan nongol ke dunia maka dia yang jadi kakak.


"Iya bude cerewet! Kami takkan lupa gosok gigi dan cuci kaki. Semua dah dicuci termasuk burung perkutut kesayangan akan dapat jatah dicuci." jawab Gani sengaja pancing kekesalan Gina. Gani hanya ingin balas gaya sok tua Gina.


"Huuusss sudah malam...nanti burungnya masuk angin. Bisa kena influenza. Mendingan kamu kasih balsem biar tetap hangat." Gina tak kalah gila layani Gani.


"Pedes dong! Hangat kagak malah meriang. Dasar adik gila!" Gani merepet sambil melangkah pergi ke arah kamar. Di ruang tamu tinggal Jay dan Gina. Jay sepertinya ada yang ingin dia bincangkan dengan Gina. Laki muda ini belum beranjak tinggalkan ruang tamu Kevin gabung dengan Gani.


Gina cukup peka mengetahui kalau ada yang ingin Jay bicarakan dengan dirinya. Gina tidak segera masuk ke kamar melainkan duduk di sofa menunggu apa yang akan dikatakan oleh laki-laki muda itu. Tanpa berkata apa-apa Jay mengikuti Gina duduk di sofa berseberangan dengan wanita itu.


Gina mencari posisi paling nyaman untuk menanti kalimat-kalimat keluar dari mulut Jay. Gina memeluk tangan ke dada bersikap seorang bos sejati. Kalau sudah begini Jay malah makin segan utarakan maksud hati. Tapi dia tidak bisa diam karena yang dia katakan sangat penting untuk dia dan kawan-kawannya.


"Kalau mau bertapa bisu jangan di rumah ini! Pergilah ke gunung paling tinggi melaksanakan niat hati kamu!"


"Sinis amat nih bos! Aku langsung to the point ya!"


"Ok... lelaki sejati tidak boleh plin-plan. Katakan terus terang apa yang harus kamu katakan!"


"Sam dan Noah kan minta kerja. Mereka minta tinggal di bengkel Om. Mereka akan bersihkan gudang untuk jadikan tempat tidur. Kau tahu keduanya adalah anak yatim piatu yang tidak memiliki orang tua."


"Seingat aku Sam kan punya rumah peninggalan almarhum ayahnya. Ke mana rumah itu?"


"Kamu seperti tak tahu kelakuan adik ayah Sam. Rumah itu sudah dia kuasai dengan alasan itu warisan kakek Sam. Mereka juga punya hak tinggal di situ. Sam malas berdebat maka keluar dan terlunta-lunta di jalanan sejak mabukan."


Hati Gina cukup tersentuh mendengar kisah sedih Sam dan Noah. Kehidupan kalangan bahwa tidak pernah ada kisah yang manis seperti mereka yang tinggal di gedung-gedung besar. Selalu muncul kisah miris menyayat hati.

__ADS_1


"Ya sudah...minta Kupret atur mereka dan bikin peraturan ketat. Yang paling penting adalah utamakan kejujuran. Yang kalian jaga adalah barang-barang mahal jadi kalian harus mempunyai kredibilitas yang bisa dipercaya."


"Aku wakili Sam ucapkan terimakasih. Nanti Sam akan hubungi kamu. Dia belum berani minta apa-apa padamu karena merasa bersalah pada om Sabri."


"Semoga saja Sam dan Noah betul-betul mau berubah dan mengikuti semua peraturan yang akan diterapkan oleh Kupret."


"Aku akan bicara dengan mereka dan beri tekanan agar mereka tahu ini kesempatan terakhir. Kalau mereka masih ulangi kesalahan sama maka mereka akan kita tendang ke laut dari bumi." Jay memberi janji kepada Gina untuk mengatur teman-temannya yang pernah salah jalan.


Gina mengangguk menganggap persoalan ini sudah selesai. Sekarang tinggal bagaimana Kupret memberi pelajaran berharga kepada orang-orang itu.


"Pergilah istirahat! Ke depan tanggungjawab kamu dan Gani akan makin berat. Pak Kevin akan sering ke pulau Sumatera untuk lihat hasil kerja Naruto dan Hadi."


"Siap nyonya bos!" Jay bangkit memberi hormat ala militer kepada wanita bertangan besi itu. Gayanya cukup menyakinkan untuk masuk jadi anggota TNI. Sayang Jay tak punya kesempatan melangkah jadi militer. Tak ada dukungan kiri kanan maka hanya jadi tukang bengkel. Masih untung sekarang jadi orang kantoran.


Gina tersenyum melihat bayangan Jay perlahan menghilang di balik lorong ke kamar dia dan Gani. Suasana jadi hening lagi. Hanya terdengar ******* nafas halus Gina jadi penyemarak keheningan malam.


Gina bersandar pada sandaran sofa angkat wajah hadap langit-langit rumah Kevin yang indah. Dibuat sangat rapi dan indah dengan ornamen ukiran abstrak. Orang yang membuat ukiran ini pastilah orang yang memiliki jiwa seni sangat tinggi. Dari adukan semen saja bisa menghasilkan karya yang patut mendapat ancaman jempol. Itulah kelebihan yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia yang menghuni bumi ini. Masing-masing diberi kelebihan dan kekurangan sesuai dengan kemampuan orang itu.


Lama Gina kosongkan pikiran tak ingin memikirkan apapun setelah mengalami kejadian lumayan buruk hari ini. Sementara malam merangkak makin tua akan menyambut fajar esok yang belum ada kepastian. Gina hanya bisa menaruh harapan semoga esok mentari bersinar lebih cerah menerangi seluruh hidupnya.


Gina menyeret langkah masuk ke kamar Kevin untuk melihat kondisi suaminya itu. Gina menduga kalau Kevin sudah tertidur lelap karena tak ada suara dari kamar itu. Gina membuka pintu perlahan supaya tidak ganggu waktu istirahat Kevin. Apalagi lelaki itu baru saja mengalami trauma terhadap Lucia.


Gina menarik selimut melihat siapa yang berada di samping suaminya. Sementara itu Kevin tertidur pulas seperti anak bayi tanpa dosa.


"Ya Tuhan...Sum...apa yang sedang kau lakukan di sini?" teriak Gina tak peduli teriakan ini akan gegerkan seisi rumah.


Sum menarik badan cengar-cengir menatap Gina tanpa merasa bersalah. Wanita ini merasa apa yang dia lakukan adalah hal yang sangat wajar. Untunglah wanita ini masih berpakaian utuh tidak memperlihatkan aurat yang menjadi haram buat Kevin.


"Seperti yang nona lihat...aku dan mas Kevin sedang tidur. Mas Kevin yang ajak aku." kata Sum sangat yakin dia berada di situ karena undangan Kevin.


"Turun dari ranjang ini...kau sungguh wanita tak tahu malu. Kau pikir aku akan percaya kalau suami aku mengundang Kamu naik ke ranjangnya? Dasar perempuan sundel!" Gina menarik Sum dari ranjang lalu hempaskan ke lantai.


Kevin yang sedang tertidur agak terganggu oleh keributan yang dibuat oleh Gina. Lelaki ini membuka mata dengan berat mau lihat apa yang sedang terjadi di dalam kamarnya. Kevin cukup bingung melihat Gina berdiri dengan gagah dengan sikap siaga. Hal apa yang membuat wanita muda ini sampai begitu. Kevin belum nampak Sum yang terhempas di lantai akibat ditarik oleh Gina.


"Kau kenapa sayang? Pulang-pulang kok marah-marah? Siapa yang berani mengganggu istri kesayangan abang?" Kevin bertanya tanpa mengetahui apa yang telah terjadi.


"Sum berani sekali tiduran di ranjang Abang. Katanya Abang yang mengundang dia naik ke ranjang." Gina menunjuk Sum yang masih terduduk di lantai.

__ADS_1


Mulut Kevin terbuka lebar agak bingung mendengar perkataan Gina. Kevin merasa tidak pernah mengundang siapapun naik ke tempat tidurnya. Jangankan mengundang wanita naik ke tempat tidur berdekatan dengan wanita saja Kevin masih belum bisa terima.


"Sum naik ke ranjang aku?" Kevin mengulang perkataan Gina tak percaya apa yang dia dengar. Trauma terhadap Lucia belum pulih total kini ditambah tekanan baru. Perut Kevin langsung bergejolak berputar memaksa seluruh isi untuk meluncur keluar.


Gina melihat kondisi Kevin mulai tak beres. Dia belum pulih sepenuhnya kini muncul bibit penyakit lain hendak kacaukan pikiran Kevin. Gina segera memeluk Kevin untuk beri perlindungan yang sangat dia butuhkan.


"Sudah bang...Sum hanya orang stress merasa diri sangat cantik. Aku akan segera usir dia dari sini. Kita pindah kamar ya!" Gina membantu Kevin keluar kamar sambil melontarkan tatapan membunuh ke arah Sum.


Sum belum tahu kalau perbuatannya akan bawa dampak sangat buruk buat Kevin. Penghuni rumah lain mulai berdatangan karena suara Gina cukup gegerkan seisi rumah. Bibik dan Mai terbelalak lihat Sum berada dalam kamar Kevin sementara Kevin tampak pucat lagi. Bibik yang sudah pengalaman terhadap penyakit Kevin menduga apa yang terjadi.


Gina membawa Kevin ke ruang tamu untuk tenangkan lakinya. Gani dan Jay menyusul meninggalkan Bibik dan Mai di kamar Kevin. Biarlah bibik yang urus Sum yang ada penyakit gila itu. Kepedean wanita sudah over limit. Selalu merasa yakin semua lelaki akan takluk kepadanya.


"Apa yang kamu lakukan Sum?" tanya bibik geram. Ingin sekali bibik menampar keponakan pembuat sensasi itu.


Sum tersenyum bangkit dari lantai berdiri tegak dengan wajah penuh kemenangan. Sum merasa sudah berhasil taklukkan Kevin karena lelaki sempat memeluknya dalam tidur.


"Aduh bik! Tak ada yang perlu dikuatirkan. Mas Kevin harus nikahi aku. Kami sudah seranjang. Jadi istri kedua juga tak masalah. Yang penting jadi istri orang kaya. Tuh nona Gina juga tak marah padaku. Kita berembuk kapan mas Kevin lamar aku?" Sum berkata tanpa malu-malu. Sum sudah menang berhasil naik ke ranjang Kevin walau secara ilegal.


"Kamu kurang waras...sekarang minta maaf pada nona Gina dan nak Kevin. Tak usah mimpi mau jadi istri nak Kevin. Kau pikir kau pantas jadi pendamping nak Kevin? Jadi pembantunya saja belum pantas." Kata Bibik makin naik tensi lihat keponakan gilanya. Bibik tak sangka kalau anak ini bakal bawa masalah membuat jelek nama baik bibik.


"Itu kata Bibik...pokoknya mas Kevin harus tanggung jawab." Sum bersikeras.


"Baik...sekarang kita ke ruang tamu! Bibik mau lihat apa yang akan dilakukan nak Gina kepadamu! Kau pikir mereka orang bisa kamu ancam. Kamu yang akan masuk penjara."


Sum berjalan santai lewati Bibik dan Mai. Gayanya heboh bak jenderal baru pulang dari Medan perang bawa panji kemenangan. Mai menghela nafas sedih lihat kondisi saudaranya itu. Sum terobsesi banget jadi istri orang kaya. Untung dia tak pernah terpikir masuk ke dalam hidup Kevin yang gersang.


Bibik dan Mai ikut dari belakang menyusul Sum menunggu vonis Gina. Sekarang Gina yang paling berkuasa di rumah. Apa yang dia katakan jadi acuan. Kevin masih dempet pada Gina seperti anak kecil sedang manja pada ibunya. Di sinilah sisi kelam Kevin. Trauma telah merebut sebagian kewibawaan laki ganteng itu.


Bibik merasa tak enak hati telah ijinkan Sum tinggal di situ untuk sementara waktu. Siapa sangka bawa bencana buat majikan dia. Apapun keputusan Gina harus dia terima walau berat hati. Takutnya bibik dan Mai kena imbas.


"Mas Kevin... Kapan lamar aku?" tanya Sum sok manja.


Gani mau muntah lihat tingkah orang yang telah hilang urat malu. Kalau bukan lihat Waja bibik mungkin bibir bebek Gani akan meluncur kalimat hinaan paling anyar.


"Lamar kamu? Lamar jadi apa? Mau jadi penutup septic tank?" keluar juga kalimat tak manis kendatipun tak vulgar.


"Sum...malam ini juga kau harus tinggalkan kota ini. Jangan sampai kami ambil tindakan tegas antar kamu ke penjara! Masuk kamar orang ganggu suami orang dan berdusta. Kau pikir aku percaya suami aku undang kamu? Bintang film top saja dia tak tertarik apalagi kamu yang kayak ikan buntal. Beracun bikin susah orang lain." ujar Gina berusaha menekan perasaan agar tak sampai anarkis hajar Sum.

__ADS_1


"Tapi benar kok mas Kevin peluk aku." tangkis Sum masih usaha.


Kevin merasa perutnya kembali mual mendengar dia sempat peluk Sum. Kali ini Kevin. Tak dapat menahan diri untuk menunda rasa mual. Seluruh isi perut keluar berjemaah. Muntahan Kevin tumpah ke sofa dan tubuh Gina yang paling dekat dengan laki itu.


__ADS_2