JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Monster Baik Hati


__ADS_3

Gina juga merasakan rasa lega luar biasa menyelinap di lerung hati. Ternyata begini rasanya bebas dari rasa dendam. Seluruh tubuh plong tak ubah seperti kapas melayang di udara. Melayang bebas tanpa hambatan.


Tangis Lucia benar-benar tak peduli riasan wajah luntur kena cucuran air mata. Tangis bahagia jarang dia dapatkan. Lucia ingin menangis sepuasnya untuk meluapkan rasa gembira yang berlebihan. Lucia menangis bukan bersedih melainkan bahagia mendapat pengakuan tulus dari Gina.


Gina tidak mengeluarkan air mata melainkan menyimpan air mata itu ke dalam hati. Manusia monster mana boleh mengeluarkan air mata nya bakal menyebabkan reputasinya runtuh.


Tangan Gina berkali-kali mengusap punggung Lucia untuk menenangkan kakak tirinya itu. Lucia memang berpangkat sebagai kakak namun di lapangan Gina lebih pantas disebut kakak karena profil dan kewibawaan dia. Gina lebih tenang menghadapi segala masalah dan bersikap selalu cool. Sikap inilah yang membuat Kevin tak bisa berpaling dari Gina.


"Kita makan siang bersama? Kita undang Gani untuk gabung. Hanya kita bertiga."


"Kurasa siang ini aku akan sibuk oleh banyak pekerjaan. Gimana besok saja kita makan malam? Kita pergi setelah aku pulang dari rumah Pak Julio. Aku ada janji ingin mengunjungi Pak Julio dan keluarganya atau kau mau ikut? Pak Julio itu adik ibuku."


Lucia masih segan masuk ke dalam keluarga sebelah ibunya Gina. Lebih baik dia menunggu malam untuk bisa bersantap makan malam bersama kedua adiknya.


Lucia mengurai pelukan Gina jauhi tubuh Gina. Lucia menyusut air mata walau telah porak poranda kan riasan wajahnya. Wajah itu tetap cantik tanpa dandan tebal. Mereka berdua ada kemiripan mewarisi gen Subrata.


Gina menghapus air mata Lucia pakai kari tangan. Gina makin iba pada Lucia menjalani hari-hari tanpa kasih sayang. Tak salah bila Lucia berbuat semaunya karena tak ada arahan yang tepat.


"Cucilah muka di kamar mandi! Nanti orang pikir aku aniaya kamu."


Lucia berusaha tertawa di sela tangis. Lucia berusaha membendung air mata yang mengalir namun tetap saja mengalir tanpa dicegah. sentuhan tangan Gina makin membuat Lucia terenyuh. Cinta yang ditunjukkan oleh Gina semoga adalah cinta tulus dari seorang adik.


"Aku jelek ya tanpa make up."


"Justru kamu jelek make up tebal seperti dakocan. Begini lebih cantik. Hemat biaya juga tak melukai kulit wajah dengan bahan kimia."


Perasaan Lucia makin membaik mendapat kata-kata penyemangat dari Gina. Lucia akan mengatakan semuanya kepada Subrata bahwa dia telah menjadi seorang kakak buat kedua adiknya. Subrata pasti bahagia kalau ketika anaknya telah akur.


"Aku ke kamar mandi dulu ya! Sebelah mana kamar mandinya?"


Gina menunjuk salah pintu tertutup rapat dari luar. Ruang kerja Gina termasuk ruang kerja paling komplit karena memiliki banyak fasilitas. Mau ke kamar mandi saja tidak perlu keluar dari ruang kerja. Semua sudah tersedia di dalam.


Gina membiarkan Lucia menggunakan kamar mandinya. Gina kembali duduk di kursinya untuk melanjutkan pekerjaannya. Gina masih harus menyelesaikan masalah promo yang telah dibuat oleh Mandala dan Putri. Kedua orang itu yang membuat rencana justru membawa dampak buruk kepada perusahaan. Gina harus memikirkan cara bagaimana memberi jawaban kepada pelanggan untuk mengalihkan masalah kredit ke pihak ketiga.


Gina pasti akan mengeluarkan Mandala dan Putri dari perusahaan setelah menyelesaikan masalah ini. Keduanya tidak bisa dipertahankan lagi di perusahaan karena hanya membawa keonaran. Namun Gina tidak akan gegabah memecah mereka sebelum persoalan tuntas.


Gina juga adegan diskusikan masalah ini dengan Pak Julio untuk mencari jalan keluar. Pak Julio adalah pebisnis senior pasti mempunyai cara menyelesaikan promo bertajuk bencana ini. Semoga saja Gina mendapat jalan keluarnya tanpa harus kehilangan pelanggan.


Tak lama berselang Lucia telah kembali dengan wajah lebih segar. Bedak dan gincu tebal tidak menempel di wajah cantik itu lagi melainkan hanya riasan tipis menambah kesegaran wajah Lucia.


Gina mengacungkan jempol memuji riasan tipis Lucia membuat dia makin tampak lebih muda.


"Wah..aku kedatangan anak SMA!"


Hidung Lucia kempes-kempis mendapat pujian aneh dari Gina. Mau memuji orang tetapi tidak langsung pada sasaran melainkan berputar-putar duluan.


"Kakakmu cantik kan?"


"Cantik apalagi menurut Aa' Ardi. Nona Lucia fresh from oven."

__ADS_1


"Roti dong!"


"Roti lezat...kamu mau di sini? Aku harus selesaikan sedikit kekacauan. Kalau di lapangan sudah kupatahkan tangan kedua manusia itu." omel Gina kesal ingat kekacauan gara-gara promo merugikan.


Lucia tidak bisa membantu cuma bisa prihatin melihat adiknya kesal bukan main kepada bawahannya. Lucia mana ngerti diajak berbincang soal bisnis.


"Sabar...emosi takkan selesaikan masalah. Aku pergi aja deh! Tak enak ganggu kamu terus. Besok malam kita makan malam ya!"


Gina mengayunkan kepala sebagai jawaban. Kepala Gina sedikit plong setelah ngobrol dengan Lucia. Sebagian beban pikiran terangkat walaupun tidak sepenuhnya. Dia masih harus berjuang sampai betul-betul berada di puncak memberitahu semua orang bahwa anak yang diabaikan telah menjadi seorang pemimpin hebat. Ambisi Gina terlalu besar untuk memuaskan egonya yang pernah terluka parah.


"Gin... terimakasih ya. Kakak pergi ya! Assalamualaikum." Lucia teringat pada ajaran Ardi untuk beri salam bika hendak pergi. Lucia cepat belajar untuk melengkapi semua kekurangan dia.


"Waalaikumsalam... hati-hati. Aa' Ardi masih menunggu."


Lucia tersenyum pada Gina yang sempat-sempatnya menggoda. Lucia tak menyangka kalau ternyata Gina itu orangnya sangat lucu. Wajahnya serius namun kalimat yang keluar dari mulutnya bikin orang ingin tertawa. Itu namanya pelawak berbakat alam. Tak perlu bertingkah aneh untuk memancing tawa orang cukup hanya dengan mengeluarkan kalimat lucu.


Ruang kerja Gina kembali hening ditinggal oleh Lucia. Gina tak tahu apa yang dia lakukan itu termasuk panggilan hati kecil atau sekedar iba melihat Lucia mewek. Apapun itu Gina lega sekali berhasil melawan nafsu Angkara yang membelitnya selama ini.


Gina tidak diberi waktu panjang untuk berpikir hal-hal lain selain memikirkan pekerjaan yang masih bertumpuk. Gina kembali fokus pada pekerjaannya agar cepat pulang bertemu dengan pujaan hati. Semoga Kevin di sana juga mendapat kelapangan dalam menjalankan tugas.


Kevin sudah ada di rumah sewaktu Gina pulang. Begitu juga Gani dan Jay sudah ada di rumah. Gina tak tahu dia yang terlambat atau ketiga orang itu cepat menutup kantor.


Kevin sudah rapi dengan baju rumahan berwarna biru muda dipadu dengan celana warna biru dongker. Lelaki itu semakin tampan dari hari ke hari setelah melewati berbagai rintangan. Tentu saja Gina makin mencintai laki itu.


"Assalamualaikum..." sapa Gina menginjak pintu rumah.


Gina mencium tangan Kevin sopan sebagai ungkapan hormat pada suami. Kevin tak melepaskan tangan Gina menariknya mendekat bersatu dengan dadanya. Adegan romantis dalam rumah undang kerlingan iri cicak di dinding.


Masih untung Jay dan Gani tidak berada di ruangan ini. Andai mereka berada di situ juga pasti akan iri kepada pasangan pengantin baru ini. Jumpa mulut Gani sudah pasti akan meluncur seribu kalimat nyinyiran. Bebek itu mana betah bila tidak mengeluarkan suara kwek kwek menyindir adiknya.


"Capek ya? Abang urut?"


"Abang bisa?" Gina mengangkat kepala menatap lurus ke mata suaminya.


Bola mata Kevin berbinar membayangkan mengelus tubuh yang licin. Acara urut mengurut pasti memiliki kelanjutan ke jenjang lebih menguntungkan dirinya. Tidak dibayar juga tidak apa-apa asal bisa bersama Gina.


Gina cepat tersadar sedang dipermainkan oleh Kevin. Tatapan mata Kevin agak liar buat Gina sadar kalau suaminya menginginkan lebih dari sekedar.


"Dukun urut mesum. Gin mau mandi dulu. Sebentar lagi magrib bang."


Kevin agak kecewa tak mendapat izin untuk buka praktek sebagai dukun urut dadakan. Namun Kevin tak bisa melarang Gina untuk menunaikan ibadah sembahyang yang tak pernah dia tinggalkan kecuali halangan. Kalau sudah menyangkut ibadah Kevin tak berani membantah Gina.


"Mandilah. Mas tunggu kamu di sini." Kevin melepaskan pelukannya dengan berat hati. Maunya Gina selamanya berada dalam pelukannya. Tak terpisah sedetikpun.


Gina segera masuk ke dalam kamar begitu terbebas dari rengkuhan Kevin. Dengan langkah gontai Gina meninggalkan suaminya yang menatap lurus ke arahnya..


Gina tak mau bercerita masalah yang sedang dia hadapi mengenai promo ugal-ugalan dari Mandala dan Putri. Nanti Kevin keikutan berpikiran karena jiwa lelaki itu baru mulai sembuh dari trauma yang dihadapi. Biarlah Gina berdiskusi dengan Pak Julio yang memiliki banyak pengalaman..


Kebetulan esok hari Gina akan bertamu ke rumah Pak Julio sekaligus melapor kesulitan yang sedang dihadapi. Menjadi seorang bos bukan perkara enak. Ada saja tantangan mesti dia hadapi. Gina takkan mundur cari solusi terbaik tanpa kehilangan pelanggan.

__ADS_1


Malam itu Gina mengajak Gani bicara mengenai Lucia dan mamanya. Gani harus tahu kalau Gina telah bersepakat damai dengan Lucia. Gina tak ingin merahasiakan apapun dari saudara kembarnya itu karena suka duka telah mereka hadapi bersama-sama. Ada kabar duka maupun suka tetap Gina ingin melapor kepada Gani sebagai Abang.


Seusai makan malam Gina mengajak Gani ke ruang tamu diskusi semua tentang Lucia. Gina mengajak Kevin ikut nguping agar suaminya itu tahu kalau dia telah berdamai dengan Lucia. Ke depan mereka tidak perlu menghindari Lucia atau memusuhinya lagi.


Jay menghindar cari angin keluar rumah. Jay tak mau ikut campur urusan keluarga. Kalau urusan kantor mungkin dengan senang hati Jay ikut nimbrung.


Jay pamitan main ke rumah tetangga yang menyajikan pemandangan sejuk di retina lajang itu. Alasan cari angin di sekitar rumah tetangga hanyalah satu alasan untuk mendekati cewek di ujung jalan. Kevin maupun Gina tidak melarang selama Jay melakukannya dengan sopan.


Di ruangan itu tinggal Gani, Gina dan Kevin. Bibik menyajikan minuman hangat untuk halau udara dingin di kala mentari kembali ke peraduan. Malam ini udara bertiup agak lembab tanda sebentar lagi akan hujan. Angin bertiup cukup kencang yang sebentar lagi akan mengantar kehadiran jutaan jarum air turun ke bumi.


Ketiga orang ini tidak merasa terganggu dengan perubahan cuaca di luar. Mereka aman di dalam rumah menikmati suguhan bibik.


Kevin dan Gani menunggu apa yang akan disampaikan oleh Gina karena mengajak mereka bicara. Gina dan Kevin duduk berdekatan sedangkan Gani mengambil tempat di seberang berdekatan dengan pasangan muda ini.


Gani harus tahu diri tidak mengganggu pasangan pengantin ini. Keduanya pasti selalu ingin bersama merasakan setiap ******* nafas dari pori-pori kulit mereka. Begitulah cinta kalau sudah berbicara. Tai gigi bisa terasa jadi coklat lezat.


Gani bukannya tak tahu Kevin bucin berat pada Gina. Ini merupakan kabar baik berarti Gani tak perlu kuatir Kevin akan sia-siakan adiknya.


Gina membasahi kerongkongan dengan suguhan minuman Bibik sebelum beraksi mengatakan hal sebenarnya mengenai Lucia.


"Kayak nunggu pilot panaskan pesawat. Take off lama banget. Hamil mungkin sudah lahiran." omel Gani mulai gelisah Gina tak kunjung bersuara.


"Emang pesawat harus dipanaskan? Kopi dingin kali dipanaskan." sahut Gina uji nyali kesabaran Gani.


"Pesawat mau ke kutub utara antar monster pulang ke habitat. Pantatku berasap nih!" Gani goyang itik kiri kanan gesek bokong ke sofa. Memang seperti sofanya mengandung hawa panas. Itu hanya ulah Gani protes sikap plin plan Gina.


Kevin menahan tawa dengan kelucuan kakak adik ini. Kalau ngobrol ngak pernah waras. Satu topik melebar ke mana-mana barulah kembali ke asal cerita. Kevin tak heran kedua anak itu debat kusir membincangkan hal tak penting.


"Ayok Gin...to the point! Gani mau susul Jay cari angin." lerai Kevin. Diperpanjang sampai subuh tak kelar.


"Kembung dong. Angin duduk ya!" Gina masih bergurau dapat delikan tajam Gani. Cari angin duduk sama aja cari mati.


"Serangan jantung woi.. kak Kevin nyari bini model gini apa tak nyesal? Sumpah aku nyesal satu rahim sama monster. Suka nyiksa miskin iba lagi." Gani merepet bikin Gina makin semangat lanjut canda.


Kevin mencolek paha Gina tak usah mainkan mood Gani. Anak itu tak sabar mau susul Jay cari udara segar di malam mendung. Kevin tak tahu seberapa menarik cewek incaran anak muda ini. Kevin bukan orang suka jajan mata. Jajan tak ada guna tak bisa menyentuh.


Gina diberi kode Kevin berubah sikap sok wibawa. Gina mendehem dua kali sebelum bicara. Gani berdecak mau cekik Gina. Tak berani sih cuma pingin.


"Tadi Lucia datang ke kantor minta aku beri keringanan pada mamanya."


Perut Kevin dan Gani menegang. Mereka mau tahu keputusan Gina. Hukuman Angela memang sangat bergantung pada kemurahan hati Gina. Kevin takut Gina keras hati tak mau beri ampun pada musuh bebuyutan.


"Lalu?" tanya Gani serius. Gani juga sepemikiran Kevin tak mau Gina kejam membuat Angela dapat hukuman berat. Gani yakin Tuhan lebih pandai rancang hukuman tepat untuk pendosa.


"Aku janji biarkan Angela hidup agar bisa bertobat."


Gani meloncat senang akhirnya monster punya juga rasa iba hati. Pikir monster tak punya hati nurani main keras.


Kevin tersenyum ikut larut dalam kegembiraan Gani. Gani hampiri adiknya beri kecupan di pipi kiri kanan tanpa open delikan mata Kevin. Kelewat senang sih.

__ADS_1


__ADS_2