JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Belum Sembuh


__ADS_3

"Kami saudara satu bapak." kata Lucia mulus bikin Kevin terpana. Kuping Kevin terasa panas mendengar penjelasan Lucia. Berita ini terlalu mendadak bikin Kevin sulit percaya. Kehidupan mereka bagai langit dan bumi. Lucia bertengger di atas langit sedangkan kedua saudara kembar membumi dengan segala kesederhanaan.


Kevin tak mudah percaya dengan ocehan Lucia. Mungkin Lucia sedang ngawur asal bunyi.


"Kau tak bohong?"


Lucia menunduk sejenak barulah angkat kepala menatap Kevin. Kisah masa lalu ibunya dan Subrata bukanlah kisah indah mesti diumbar ke semua orang. Namun Lucia tak bisa ingkari fakta ibunya memang pelakor dalam hidup keluarga Gina. Mamanya telah curang rebut hak orang sampai membuat Gina sekeluarga sengsara.


"Kau ingat video panas mamaku? Aku tak tau siapa yang sebar video itu namun aku tak bisa ingkari kalau semua itu benar. Mamaku memang telah merebut papa dari ibunya Gina. Mereka berselingkuh jauh hari sebelum diketahui ibunya Gina. Mamaku tega fitnah ibunya Gina sampai diceraikan papaku. Ternyata ibunya Gina sedang hamil waktu dicerai papa. Papaku telah buta hati tega biarkan seorang wanita muda terlunta-lunta tanpa pegangan. Selanjutnya kau sudah tahu kisahnya. Gina dan Gani hidup sederhana sampai papa temukan mereka sewaktu aku sakit dan Gani sakit di rumah sakit. Papa ingin merangkul mereka namun mereka menolak. Tadi aku juga bujuk Gina agar mau ikut papa."


Mulut Kevin ternganga mendengar kisah keluarga Subrata yang ternyata sangat rumit. Di sini Gina dan Gani adalah korban dari keserakahan mamanya Lucia. Badai mereka benci pada mama Lucia sangatlah manusiawi.


"Memalukan bukan? Tolong bujuk Gina mau gabung di perusahaan papa aku! Dia sangat pintar dan berbakat. Dia bisa bantu papa aku kelola perusahaan." Lucia tak bisa mengelak tanggung jawab dari kesalahan mamanya. Lucia harus bayar kesalahan yan pernah dibuat oleh Angela. Paling tidak beri kedua adiknya fasilitas memadai.


"Aku tak sangka kalau Gina dan Gani adalah saudara kamu. Ya Tuhan.. ternyata dunia ini sangat sempit. Kau dan Gani bersama sekian lama tapi tak tahu saudara dekat. Satu bapak itu sangat dekat lho!"


Lucia mengangguk membenarkan perkataan Kevin. Saudara satu ayah termasuk saudara kandung yang masih satu darah. oleh karena itu Lucia tidak boleh membiarkan Gina dan Gani hidup di balik kekurangan. Dia harus melakukan sesuatu untuk memberi kedua saudaranya hidup yang lebih layak.


"Aku ingin Gina dan Gani akui kalau aku ini kakak mereka. Tapi Gina sangat sulit untuk didekati. Tadi aku ngobrol dengannya tetapi dengan modalnya dia menanti kehadiran aku. Dia berbuat seolah aku ini bukanlah siapa-siapa dia."


"Mereka berdua masih muda. Masih terlalu muda untuk memahami suatu masalah terutama Gina yang berdarah panas. Anak itu sangat angkuh tidak mau tunduk pada siapapun bila tidak berkenan di hatinya."


"Sekarang mas sudah mengetahui keburukan keluarga kami. Mahabarata yang tersohor ternyata hanyalah satu bangunan indah yang isinya penuh dengan kebusukan."


Kevin memuji kebijakan Lucia tidak berpihak pada kedua orang tuanya yang jelas-jelas bersalah kepada ibunya Gina. Lucia berkata berdasarkan fakta yang ada tanpa membela mamanya yang memiliki masa lalu kelam. Namun sayang Lucia tidak mempunyai kesempatan untuk menoleh ke belakang karena semua telah terjadi.


"Aku tahu kalau kau tidak mudah berada di posisi ini. Yang satu Mama kamu dan yang satu lagi adalah adik-adik kamu. Yang mana harus menjadi prioritas kamu mungkin hanya kamu sendiri yang bisa menentukan."


Lucia mengetik bahu belum bisa menentukan apa yang harus dia lakukan untuk selanjutnya. Sekarang yang penting adalah merangkul Gina dan Gani kembali ke dalam pelukan papanya. Lucia tahu untuk melakukan hal itu dia harus melalui jurang ngarai dan tebing-tebing yang terjal. Namun Lucia tetap bertekad ingin memberi hak Gani dan Gina.


"Kamu yang sabar! Posisi kamu adalah seorang kakak maka kamu yang harus mengayomi kedua adikmu yang masih muda itu." Kevin memberi semangat kepada Lucia agar tidak patah semangat merangkul kedua adiknya. Sejujurnya Kevin ketar-ketir kalau Gina akan menerima tawaran Lucia pindah ke perusahaan Subrata. Dia ada kan kehilangan seorang pembantu handal yang multi talenta.


"Terimakasih dukunganmu mas! Aku akan usaha."


"Syukurlah kau bisa menjadi kakak baik! Kau boleh kembali ke tempat kerja kamu. Kerja yang baik agar muncul hasil karya bagus."

__ADS_1


"Iya mas!" Lucia bangkit dari kursi berniat kembali ke ruang kerjanya. Dia kembali ke ruang juga tanpa lakukan apapun. Otaknya mana sanggup memikirkan karya yang memang bukan hasil karya dia.


Kevin gunakan kesempatan ini test kejiwaan sendiri coba sentuh Lucia. Kevin ulurkan tangan agar bisa salami Lucia. Kevin mau coba ambil resiko test apa dia mampu menyentuh wanita lain selain Gina.


Lucia tersenyum melihat pertama kali Kevin memberi salam padanya. Lucia tak tahu itu salam untuk apa. Yang penting Kevin sudah lebih ramah dari biasanya. Lucia mengelus punggung tangan Kevin untuk beri rangsangan kalau dia tertarik pada laki itu. Elusan itu membuat Kevin tercekat merasa perutnya mual. Reaksi yang selama ini dia rasakan bila bersentuhan dengan wanita. Dalam arti Kevin belum bisa terima wanita lain selain Gina. Kevin belum sepenuhnya sembuh. Kevin harus lakukan riset lain yakni lebih intim dengan Gina.


Kevin cepat-cepat hindari Lucia sebelum gadis itu melihat dia muntah di hadapan Lucia. Kevin masuk ke kamar mandi tanpa peduli Lucia lagi. Lucia tersenyum mengira Kevin grogi bersentuhan dengannya. Lucia tahu Kevin tidak pernah main gila dengan gadis manapun. Kevin bersih dari segala skandal percintaan.


Lucia tinggalkan ruang kerja Kevin menuju ke kantornya sendiri. Di luar ruang kantor Kevin jumpa lagi dengan Gina yang tekun kerjakan pekerjaan dia. Gina tidak angkat kepala walaupun tahu ada orang lewat di depannya. Lebih baik pura-pura tak lihat ketimbang dipancing emosi lagi oleh Lucia.


Kadang Gina tak bisa bendung amarah bila lihat Lucia. Bayangan buruk nasib ibunya selalu terlintas di otak. Cuma Gina tersadar semua ini bukan kesalahan Lucia melainkan mamanya. Sayang Lucia ikut menanggung dosa mamanya.


Detak sepatu Lucia menjauh tanda orangnya sudah pergi. Gina angkat kepala melirik ke dalam ruang Kevin. Apa yang baru dibicarakan oleh kedua orang itu membuat Lucia sumringah. Apa Kevin janji kawini wanita itu sehingga hati berbunga-bunga kena pupuk cinta Kevin.


Mata Gina menangkap ada yang tak beres dengan majikannya itu. Lelaki itu tampak pucat jalan agak terhuyung-huyung menuju ke kursinya. Tubuh tinggi itu tampak seperti tak ada tenaga untuk capai kursi kerjanya. Gerakannya aneh menahan sesuatu yang tak Gina ketahui.


Tanpa buang waktu Gina segera masuk ke dalam ruang kantor Kevin untuk melihat kondisi majikannya itu. Gina segera meraih lengan Kevin dan bawanya duduk di kursi. Gina sangat kaget melihat seluruh tubuh Kevin dipenuhi oleh keringat dingin.


"Pak...anda tak apa?" tanya Gina sangat kuatir dengan kondisi Kevin yang drop secara tiba-tiba. Barusan tadi masih dalam keadaan baik-baik saja mengapa mendadak berubah jadi aneh.


Andai dalam keadaan biasa Kevin meminta hal ini mungkin tinju Gina akan melayang di wajah ganteng Kevin. Namun Lelaki ini sudah begini mana mungkin Gina tega sakiti laki itu lagi.


Gina memeluk Kevin tanpa syarat selain ingin bantu Kevin keluar dari traumanya. Gina sudah tahu hanya dia yang bisa dekati Kevin maka dia adalah obat Kevin. Kevin menyandarkan kepalanya di dada Gina seperti seorang anak kecil sedang bermanja pada ibunya. Dari sini Kevin mendengar detak jantung Gina yang cukup kencang.


Gina mengelus kepala Kevin memberi rasa aman agar lelaki itu cepat turun dari rasa was-was terhadap traumanya. Elusan tangan Gina membuat Kevin merasa lebih tenang dan nyaman sehingga perlahan dia mulai mendapatkan kembali kesadarannya. Rasa mual dan gemetar di seluruh tubuh perlahan-lahan mulai mereda. Kevin mulai menemukan dirinya sendiri.


"Terima kasih Gin!" kata Kevin pelan.


"Sudah enakan pak?"


"Sudah mending dikit. Biarkan aku istirahat sebentar dalam pelukanmu! Pelukan kamu sangat hangat dan nyaman."


Gina mencolek kepala bosnya dengan jengkel. Sudah diberi tumpangan untuk menenangkan diri masih menggoda dirinya. Bos tak tahu diuntung. Kevin sedang cari keuntungan dari penyakitnya.


Gina mundur selangkah lepaskan kepala Kevin dari dadanya. Otomatis pelukan Gina terurai tinggalkan Kevin sendiri duduk di kursi. Wajah Kevin tampak sudah bercahaya sedikit walaupun belum pulih seratus persen. Namun tidak sepucat tadi. Gina yakin Kevin tidak sedang bersandiwara cari keuntungan darinya. Gina teringat kata dokter kalau Kevin memang punya memiliki penyakit kejiwaan. Kalau sekedar sakit begini mungkin Gina masih sanggup tangani. Coba kalau stress sakit jiwa menjurus ke gila. Gina pasti angkat tangan.

__ADS_1


"Sudah enakan bukan?" tanya Gina menatap lurus ke wajah Kevin lihat perubahan air muka laki itu.


Kevin mengangguk tak mau bohongi Gina. Dia masih perlu gadis ini dalam jangka panjang. Terlalu dini bikin gadis ini sport jantung. Kevin harus jinakkan Gina agar betah di sisinya.


"Aku balik kerja. Hari ini aku kerja satu hari. Minta uang lembur." Gina iba pada Kevin maka pilih tinggal sampai laki itu tenang. Sudah berapa kali Gina lihat Kevin dalam kondisi begini maka gadis ini sudah ngerti kebutuhan Kevin. Dia hanya butuh ketenangan maka alerginya akan cepat reda.


"Baik...cash!"


"Terima kasih. Pas sore nanti aku ingin beli sedikit keperluan."


"Beli apa? Biar kutemani."


Gina terdiam sejenak lantas mengangguk. Gina setuju bukan tanpa alasan. Gina mau ajak Kevin berbaur dengan sekumpulan orang biar bisa kontrol perasaan traumanya. Berada di pusat perbelanjaan pasti akan saling berdesakan secara alami. Ini waktu tepat ajak Kevin bermasyarakat. Gina mau tahu di sampai di mana trauma Kevin terhadap wanita. Mungkin berbaur secara alami dapat mengurangi alergi dan trauma nya Kevin.


Selanjutnya kedua menekuni pekerjaan masing-masing. Tak ada interaksi berlebihan karena mereka punya tugas sendiri.


Kevin bersyukur ada Gina di sampingnya. Dia tidak perlu menderita lebih lama menetralkan rasa trauma. Biasa Kevin membutuhkan waktu berhari-hari untuk menetralkan alergi yang melanda bila bersentuhan dengan wanita. Sekarang hanya butuh waktu beberapa menit Gina berhasil melumpuhkan penyakitnya. Gina lebih mujarab dari obat paten manapun.


Tuhan telah menjawab doa Kevin selama ini dengan menurunkan seorang malaikat membantunya mencari kesembuhan. Sayang gadis yang dianggap malaikat itu bukanlah gadis lemah lembut seperti gadis umumnya. Sikap cueknya bikin orang ingin mencekik lehernya. Namun itulah Gina gadis yang besar karena dendam. Bu Sarah tak pernah ajar Gina mendendam namun jiwa Gina terlanjur dijejali rasa benci kepada orang yang menyebabkan ibunya menderita.


Orang yang paling bertanggung jawab adalah Subrata. Kalau dia manusia baik-baik seribu wanita murahan takkan mampu usik imannya. Sayang iman Subrata setipis kertas tisu, rapuh dan mudah koyak. maka itu Gina sangat membenci Subrata dan Angela. Kini kesempatan Gina untuk membalas dendam sedang terbuka lebar maka dia akan gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Gina sudah memikirkan dalam hal ini dia akan meminta bantuan Pak Julio untuk menjatuhkan Subrata di dalam bisnis. Hanya Pak Julio yang memiliki kekuatan serta kekuasaan untuk melawan Subrata.


Sebelum pukul lima Kevin sudah bersiap-siap mengajak Gina untuk pergi berbelanja. Kevin sudah tidak sabar ingin berduaan dengan gadis itu agar lebih mantap merasakan sisi kewanitaan Gina. Kevin sudah bisa menerima Gina dalam posisi sebagai seorang anak gadis, tinggal bagaimana Kevin melakukan interaksi dengan gadis lain.


"Gin... kau sudah siap untuk pergi berbelanja?" Kevin mendadak sudah berdiri di depan meja kerja Gina.


"Sudah selesai tugasku hari ini. Tinggal besok bapak cek ulang lagi apa yang telah ku persiapkan. Termasuk jadwal perjalanan Pak Peter di kota M nanti. Kurasa bapak harus ikut ke sana untuk tinjau lokasi sebelum di mulai pekerjaan. Sebagai seorang pemimpin bapak wajib mengetahui model apa proyek yang sedang digarap oleh perusahaan bapak. Kalau ditanya oleh Pak Julio sekilas bapak bisa menerangkan apa yang telah bapak saksikan."


Kevin merasa apa yang diusahakan oleh Gina sangat masuk akal. dia memang harus terjun ke lokasi untuk melihat tempat dan cara kerja orang di lokasi. Bukan hanya mendengar laporan dari Peter maupun bawahannya yang lain. Di sini Kevin kembali memuji kepintaran Gina sebagai pemula di dalam bisnis. Gina sedang menunjukkan kualitas sebagai seorang asisten yang bertanggung jawab terhadap bos dan perusahaannya.


"Kau benar. Aku akan ikut Peter ke kota M. Kuharap kamu bisa menghandle perusahaan selama aku pergi bersama Peter."


"Untuk sekedar mengawasi mungkin aku bisa namun untuk ambil keputusan itu bukan ranah aku. Dan lagi aku buta soal bisnis." Gina langsung utarakan kekurangan dia. Gina bukannya senang Kevin percayakan perusahaan padanya. Berbisnis dengan taruhan miliaran bukanlah masalah kecil. Salah-salah bisa mengantar perusahaan ke jurang kehancuran.


"Aku pergi paling dua hari. Kamu cukup mengawasi saja. Kalau ada masalah kamu tinggal lapor kepadaku melalui telepon. Aku yang akan arahkan kamu harus berbuat apa."

__ADS_1


__ADS_2