JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Orang Tua Durhaka


__ADS_3

Kevin tampak surprise ada tamu datang pagi hari. Biasanya rumah ini sunyi senyap karena jarang menerima tamu selain Peter. Tamu dari mana menyambangi Kevin di pagi hari ini.


"Siapa bik? Kalau orang tidak penting katakan saja aku sudah ke kantor."


Bibik nampak grogi untuk menjawab perkataan Kevin. Perempuan tua ini seperti menyimpan sesuatu yang tak bisa dikatakan dengan kalimat. Hanya raut wajah memperlihatkan kalau dia sedang dalam keadaan tidak nyaman.


Bibik jarang bertingkah aneh menarik perhatian Kevin untuk cari tahu mengapa si Bibik bungkam tatkala disuruh tolak tamu tak diundang.


"Ada apa bik? Sudah kukatakan rumah ini tak terima siapapun selain Peter dan Gina. Lakukan saja apa yang kukatakan." kata Kevin dengan nada agak keras. Kevin tetap harus tegas untuk kurangi masalah dalam hidupnya. Dia memiliki sesuatu rahasia memalukan jadi harus bisa jaga jarak dengan orang asing.


"Nak...itu tuan!" lirih bibik lantas menundukkan kepala mencari semut di atas ubin. Kali aja ada serangga tersesat di rumah ini.


Wajah Kevin kontan berubah hitam mendengar siapa yang datang pagi sekali. Orang yang samasekali tak ingin ditemui oleh Kevin. Jika negeri ini tak ada hukum mungkin Kevin akan penggal kepala orang itu.


"Mau apa dia ke sini? Suruh pergi dan jangan pernah datang lagi. Aku tak terima manusia berhati setan seperti itu. Suruh satpam usir dia!" Kevin meradang karena musuh terbesar dalam hidupnya berani injak rumahnya.


Bibik mengangguk tanpa daya. Perintah Kevin adalah perintah raja. Di rumah ini Kevin merupakan raja karena dialah pemilik rumah ini. Semua yang terjadi di rumah ini adalah keinginan sang majikan. Bibik tak bisa berbuat apa-apa selain patuh pada perintah sang pemilik rumah. Dia tetap harus minta tamunya tinggalkan rumah ini karena Kevin tak mau jumpa mereka.


Gina perhatikan kalau wajah Kevin berubah menjadi pucat pasi menahan emosi. Gina tak tahu seberapa dendam Kevin pada orang tuanya itu. Apa sedalam dendam dia kepada Subrata? Gina tak berhak nasehati Kevin berhubung dia sendiri juga mengalami peristiwa memilukan dalam keluarga.


"Pak...mengenai proyek di kota M lebih baik kita tunda dulu sampai bapak sehat lagi. Kita harus betul-betul fokus karena ini bukan proyek kecil. Banyak yang harus dipertaruhkan di sini. Aku akan minta tolong pada pak Julio beri kita waktu sedikit lagi untuk bergerak." Gina alihkan perhatian Kevin dari keruwetan pikiran soal kemelut dalam keluarga. Anak ini baru saja tenang dari trauma kejadian semalam. Tak mungkin juga Gina biarkan dia kumat lagi. Harus ada penyejuk mengalihkan perhatian Kevin.


"Apa pak Julio bersedia menunggu kita? Waktu berjalan terus. Ini merugikan beliau sebagai pemilik proyek. Di dunia bisnis setiap detik adalah uang."


"Insyaallah aku akan bantu bapak cari jalan tengah. Pak Julio orangnya pengertian."


Kevin angguk-angguk mengingat perhatian yang diberikan pak Julio pada Gina. Seorang CEO perusahaan raksasa bersedia mengantar makanan untuk anak buah seperti Gina tentu saja bukan sekedar rasa simpatik pada pegawai kecil. Gina pasti punya nilai lebih mampu mencuri perhatian pak Julio. Kevin tak bisa jabarkan apa hubungan kedua orang ini namun Kevin terima niat baik Gina bantu dia minta waktu pada pak Julio. Kevin akan memiliki sedikit waktu lagi untuk bersiap lebih matang. Kevin bersyukur jumpa asisten sehandal Gina. Orangnya sederhana tapi mampu tangani semua keruwetan Kevin.


Bibik tergopoh-gopoh kembali ke ruang makan seperti baru siap dikejar setan neraka. Gelagat bibik dia tak berhasil wujudkan misi dari Kevin. Bahasa tubuh bibik perlihatkan dia ketakutan.


"Kenapa bik?" kening Kevin berkerut heran pada tingkah aneh sang pembantu rumah tangganya.


"Tuan besar marah tak diizinkan masuk. Dia masih di luar menunggu nak Kevin jumpa dia."


Kevin ingin omong sesuatu lagi namun ditahan oleh Gina. Gina kasihan pada bibik terjepit di antara dua musuh bebuyutan. Posisi bibik sekarang jadi serba salah. Berada dalam rumah dimarahi Kevin, keluar juga kena marah sama bapak Kevin. Gina paham bibik dilema tak tahu harus melangkah ke arah mana. Kiri kanan tetap salah.


"Biar aku yang keluar pak! Bibik di sini saja!" Gina menawarkan diri gantiin bibik temui orang yang disebut tuan besar. Sebenarnya Gina juga mau tahu bagaimana tampang orang yang tega melancarkan anak isteri demi pelakor. Apa wajah para pria berakal setan hampir sama? Punya tampang bagus tapi isi busuk kayak isi septic tank.

__ADS_1


Bibik sangat berterima kasih pada Gina telah bebaskan dia dari suasana tak enak ini. Gimanapun papa Kevin itu mantan majikan dia sewaktu mama Kevin masih ada. Bibik masih ada rasa segan kendatipun kelakuan laki itu bejat.


Gina tinggalkan ruang makan langsung menuju ke luar ganti bibik temui tamu tak diundang Kevin. Gina tidak menunggu persetujuan laki itu lagi. Berlarut dalam masalah ini hanya menghambat kegiatan mereka selanjutnya.


Gina keluar sampai luar pagar dengan sikap dingin. Gina tak ada urusan dengan orang itu maka berani bersikap arogan. Satpam berdiri mematung tak berani buka pintu pagar tanpa persetujuan Kevin. Satpam paling tahu sifat Kevin tak suka ada orang lain berkunjung ke rumahnya Selian orang yang dia bawa contohnya Gina.


Gina melihat sepasang manusia berjenis kelamin pria dan wanita menatap ke arahnya begitu kakinya berdiri diluar pagar. Dua pasang mata itu meneliti Gina dengan sorotan mata hendak menelan Gina bulat-bulat masuk ke dalam kolam mata itu. Gina bukan anak mudah diintimidasi tetap tenang hadapi manusia berhati busuk itu.


"Selamat pagi pak Bu...ada apa ya?" tanya Gina berlagak pilon tak kenal kedua orang itu.


"Kau siapa? Mana Kevin? Aku ini mama Kevin." yang wanita maju menantang Gina dengan membusungkan dada lumayan gede. Gina bukan takut pada wanita ini malah pikiran melayang cari tahu apa kedua bukit kembar itu asli buatan Tuhan atau buatan dokter oplas. Berapa biaya harus dikeluarkan untuk dapatkan sepasang bukit kembar sempurna. Seharga satu rumah atau lebih.


"Hei...kau tuli ya?" bentak wanita lagi diabaikan oleh Gina. Para orang kaya selalu ingin didahulukan tanpa ingat semua makhluk di bumi mempunyai posisi sama selama menginjak di bumi rata ini.


"Oh maaf Bu...ibu bilang apa tadi?"


"Aku tanya Kevin. Kau sedang apa di rumah anak kami?"


"Pagi begini aku ada di sini ibu pikir sendiri. Kumohon dengan segala kesopanan bapak dan ibu tinggalkan tempat ini. Kevin tak mau terima tamu karena capek. Kami tak mau diganggu."


"Apa maksudmu? Kau bersama Kevin?" tanya wanita itu kurang percaya Gina tinggal bersama Kevin.


"Bagaimana mungkin Kevin bisa terima kamu? Dia itu invalid sebagai lelaki. Takut perempuan."


Gina tertawa sinis. Ternyata kedua orang ini mengetahui kekurangan Kevin. Mereka tidak percaya kalau Gina bisa bersama Kevin. Bisa saja Gina sedang mengarang cerita bohong untuk mengusir mereka dari rumah lelaki itu.


"Bu...aku sudah di sini. Apanya tak mungkin? Apa ibu mau mendengar lebih detail tentang kami? Maaf...itu urusan pribadi kami! Untuk saat ini kami tak mau diganggu. Waktu kami sangat berharga." selesai berkata demikian Gina melengos masuk tak peduli reaksi kedua orang itu.


Papa Kevin bersikap pasif cukup kaget Kevin sudah bisa berdekatan dengan seorang wanita. Papa Kevin tak menyangka kalau anaknya berhasil keluar dari trauma masa lalu. Sejahatnya papa Kevin dia tetap orang tua dari Kevin tak berharap anaknya menderita seumur hidup.


"Kau dengar mas...Kevin sudah sembuh! Kita harus segera bertindak sebelum semuanya terlambat. Mas harus segera mencari cara agar Kevin mau menikah dengan Luna. Kalau tidak hidup kita akan segera tamat."


"Apa Kevin suka sama Luna? Apa kamu tidak melihat wanita muda yang barusan bicara dengan kita? Gadis tadi 10 kali lebih cantik daripada Luna. Kujamin Kevin akan menolak Luna."


"Aduh mas... tanpa bantuan Kevin perusahaan mas akan segera gulung tikar! Kita hanya punya dua cara untuk menyelamatkan hidup kita. Yang pertama adalah meningkatkan Kevin dengan Luna dan yang kedua Kevin menghilang dari bumi ini." ujar wanita dengan nada kejam.


Papa Kevin menghela nafas. Kedua rencana isterinya sangatlah buruk. Melenyapkan Kevin sama saja berniat bunuh anaknya demi kebangkitan perusahaannya yang nyaris bangkrut. Menikahkan Kevin pada anak tirinya juga rencana gila. Anak tirinya lebih tua dari Kevin dan janda satu anak pula. Semua rencana mereka adalah rencana jahat.

__ADS_1


"Kita pulang dulu! Aku akan usaha jumpai Kevin minta bantuannya. Sekarang dia punya partner kuat pak Julio. Kalau Kevin mau bantu kita bujuk pak Julio investasi di perusahaan kita maka kita akan bangkit lagi."


Wanita itu mulai tenang seakan tak rela hidup susah. Segala cara hanya rus ditempuh untuk hidup di atas angin lagi. Termasuk lenyapkan Kevin agar mereka jadi pewaris harta Kevin. Mereka adalah keluarga Kevin maka otomatis semua aset Kevin akan jatuh ke tangan mereka bila Kevin meninggal.


"Syukurlah! Tapi papa harus waspada kalau sekarang Kevin sudah sehat. Dia bisa saja menikah lalu punya anak jadi warisan jatuh ke tangan wanita tadi. Papa harus tegas pada Kevin. Masak seorang bapak tak bisa atur anak sendiri."


"Atur dia? Apa kau lupa semua kejadian dulu? Kau pikir dia bisa lupa semua kesalahan kita? Ayok kita pergi! Nanti aku akan cari waktu ke kantor dia."


"Itu kan cerita dulu! Aku saja sudah lupa pada mantan isterimu itu. Tulangnya saja mungkin sudah raib dimakan belatung. Pikir kita yang masih hidup ini. Kita butuh uang untuk lanjut hidup. Apa mas tak pikir anak Luna yang sedang sekolah di luar negeri? Itu butuh biaya besar. Belum lagi biaya hidup Luna."


Papa Kevin tak bisa berkata-kata dengar betapa egois isterinya itu. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan nasib orang lain. Mereka sudah berada di ujung tanduk tetapi masih menganggap diri mempunyai kekuatan untuk menundukkan Kevin. Dasar apa mereka menginginkan harta Kevin. Kekayaan Kevin saat ini murni hasil kerja keras dia. Papa Kevin tak beri Kevin sepeserpun uang untuk bangun perusahaan lumayan besar. Anak itu berjuang sendiri tanpa didampingi oleh keluarga selain Peter.


Kevin sukses murni atas usahanya sendiri tanpa campur tangan orang tuanya yang bejat itu. Setelah Kevin sukses dan mandiri Mereka ingin kembali merebut harta Kevin tanpa dasar apapun.


Kedua manusia berhati setan itu tidak mengetahui kalau satpam yang berdiri di pinggir pagar mendengar percakapan mereka serta merta merekam semua percakapan itu. Kini satpam mengerti mengapa Kevin tidak mau menerima kehadiran kedua orang itu. Apa yang dilakukan oleh Kevin sudah tepat karena kedua orang itu sangat busuk dan jahat.


Satpam akan laporkan hal ini pada Gina selaku asisten Kevin. Kevin kurang sehat belum tentu sanggup dengar rencana jahat kedua orang yang disebut orang tua. Apa mereka masih pantas disebut orang tua? Dari ujung rambut hingga ujung kaki dibalut oleh aura setan seluruhnya.


Di dalam rumah Kevin menanti hasil karya Gina. Kevin ragu Gina sanggup menuntaskan tugas menjadi pengawal pribadinya yang patut diandalkan. Dugaan Kevin segera terjawab karena Gina datang dengan wajah datar tanpa emosi.


Wajah begini adalah wajah yang paling sulit ditebak sukses atau tidaknya Gina mengusir kedua orang itu. Tak ada sedikitpun emosi di dalam diri kita membuat orang makin bertanya-tanya.


Bibik ikutan penasaran mau tahu hasil kerja Gina. Tadi dia sudah berusaha melarang papa Kevin masuk namun yang ada kena semprot oleh ibu tiri Kevin. Wanita sok jagoan tak tahu betapa luas bumi ini. Merasa dirinya adalah orang paling hebat mampu menundukkan siapapun.


Kali ini mereka harus berhadapan dengan orang yang lebih keras daripada mereka. Hati dan jiwa Gina sudah tertempa rasa dendam sehingga tidak memiliki rasa belas kasihan kepada orang yang selalu berbuat curang.


"Sudah pergi." kata Gina santai ingin menghabiskan sisa roti tinggal sekerat. Susu sudah duluan habis maka sisanya hanya makan roti.


Bibik paling duluan merasa lega. Konflik antara anak dan bapak tidak terjadi pagi ini. Mereka datang tentu akan bawa masalah baru buat Kevin. Bibik tahu kedua orang itu takkan bawa aura bagus.


"Apa kata mereka?"


"Ngak ada... orang model gitu tak perlu bicara panjang lebar. Mereka tak ngerti bahasa manusia. Hanya ngerti bahasa hewan."


Kevin tertawa Gina mengejek orang yang disebut orang tua sebagai rekan hewan. Menurut Kevin kalimat Gina tak salah. Mereka tak ubah seperti hewan tak ngerti arti keluarga. Mungkin hewan lebih baik dari mereka tidak akan menyakiti anak sendiri. Namun ayahnya itu lebih mengerikan dari seekor hewan yang tega menyakiti anak istri demi mencari pasangan lain.


"Terima kasih Gina! Aku makin tak bisa pisah dari kamu. Gimana kalau aku menobatkan kamu sebagai ratu dari Raja Kevin?"

__ADS_1


"Apa ada ratu selalu sembunyi di kolong mobil rusak?" Gina mengerling Kevin balas menggoda.


__ADS_2