JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Penyakit Kevin


__ADS_3

Dalam nada suara Gina mengandung kebencian mendalam terhadap orang yang dia sebut ayah kandung. Namun Gina memuja ayah tirinya. Konflik apa termaktub dalam hidup anak ini. Mungkin karena pengalaman masa lalu membuat anak ini jadi keras. Dia bentuk kubah tebal untuk lindungi diri dan keluarga.


Kevin tak berani banyak tanya mengenai keluarga pegawainya satu ini. Pasti bukanlah hal indah bisa disebar ke orang lain.


Kevin diam menunggu gadis ini memajukan mobil sampai ke tempat dokter yang sudah janjian dengan Kevin. Gina sendiri fokus pada jalan hitam melewati beberapa kenderaan dengan skill mumpuni.


Mereka tiba di satu klinik pengobatan khusus untuk pasien berkenaan dengan penyakit jiwa. Gina tak berani bertanya pada Kevin mengenai penyakit laki ini. Kunjungi dokter jiwa pastilah punya sesuatu rahasia berkenaan dengan jiwa Kevin. Kalau orang awam diajak bincang ke dokter ini tentu saja akan bilang pasiennya gila.


Gina biarkan Kevin duluan turun takut menyinggung perasaan laki ini. Tak semua orang senang berada di tempat beginian. Kevin mau tak mau harus tebalkan kulit wajah karena memang bermasalah dengan kesehatan jiwa.


Kevin mendorong pintu kaca yang memang tertera didorong. Tubuh lelaki itu masuk menghilang di balik kaca. Mata Gina menangkap bayangan Kevin bicara dengan petugas penjaga meja pendaftaran. Ntah apa yang dibicarakan oleh orang itu. Hanya sekali-kali Kevin melirik ke arah Gina.


Gina menduga penyakit Kevin ada hubungan dengan dirinya barulah laki itu ajak Gina ke sini. Kalau tidak mana mungkin Kevin mau bongkar rahasia pribadi pada anak buah.


Dari balik kaca Gina melihat Kevin keluar dari lagi. Apa mungkin dokter sedang tak ada di tempat sehingga gagal adakan pertemuan. Katanya sudah janji namun molor. Ternyata dokter juga bisa ingkar janji.


Kevin dekati mobilnya mengetok kaca mobil beberapa kali. Gina terpaksa turunkan kaca lihat apa mau bosnya itu.


"Turun!"


"Aku tak sakit pak!" dengus Gina jual mahal.


Kevin malas bertengkar memilih buka pintu mobil menarik gadis ini dengan paksa keluar dari mobil. Cara Kevin agak ekstrim tak hargai seorang wanita. Kevin tak punya pilihan lain berhubung gadis bersama dia ini bukan merpati jinak bisa dikeloni dengan rayuan.


"Bapak mau jual aku?" rengut Gina kesal dipaksa masuk ke dalam klinik.


"Iya...kamu ini sangat mahal untuk dijadikan objek penelitian dokter Clara!"


"Bapak ini mafia jual organ tubuh manusia?"


"Lebih kurang begitulah! Ayok ikut aku masuk ke ruang praktek lihat apa kamu duluan diambil!" Kevin tidak melepaskan genggaman tangan Gina. Sebenarnya dengan mudah Gina patahkan genggaman tangan Kevin namun di tempat praktek dokter ada beberapa orang pasien membuat Gina menyurut tidak melawan.


Kevin mengetok salah satu pintu kamar praktek dengan pelan. Tanpa tunggu ijin masuk laki ini segera masuk masih genggam tangan Gina.


Dokter di dalam menjatuhkan pandangan pada genggaman tangan kedua muda mudi ini lalu tersenyum. Kelihatannya Kevin memang telah menemukan obat untuk kesembuhan dia. Gina adalah gadis pertama yang bisa disentuh oleh laki itu setelah kejadian trauma ibunya meninggal.


Bu Dokter itu mendehem menyadarkan Kevin dia sedang pamer wanitanya. Kevin segera lepaskan tangan Gina.


Gina mengelus tangannya agak memerah akibat cekalan kuat Kevin. Kalau Kevin tak kuat dengan mudah Gina tepis tangannya. Gina tunjukkan sikap bermusuhan pada Kevin. Gina tak suka dipaksa lakukan hal tak dia senangi.


"Duduklah! Sekarang kita bahas soal kalian dua." dokter itu mempersilahkan Gina dan Kevin ambil tempat duduk di tempat.


Kevin mencolek Gina agar duduk di sampingnya. Gina mencibir majukan bibir ejek Kevin. Keduanya persis anjing dan kucing sedang saling menyerang.


Bu Dokter tertawa kecil, hari gini masih ada orang tak suka pada Kevin si cowok ganteng kaya raya. Semua gadis ingin berlabuh dalam pelukan laki ini tapi ada yang istimewa abaikan laki itu.


"Kalian ini suka berantem ya?" tanya Bu Dokter kalem.


"Ngak Bu dokter! Cuma aku tidak reseh tebar lem setan di mana-mana biar orang terjerat." ketus Gina melirik Kevin.

__ADS_1


Kevin pura-pura tak dengar ocehan Gina. Disahuti pasti panjang terus. Dijabar tujuh hari tujuh malam juga takkan selesai.


"Bu...inilah orang yang kucerita! Tebar pelet biar aku tak bisa jauh." Kevin tuduh Gina main pelet baru dia tak bisa move on dari gadis ini.


Gina bagai kebakaran jenggot. Tunggu dulu cewek dari mana muncul jenggot. Apanya mau dibakar. Ganti kebakaran pantat saja. Gadis ini memiliki pantat indah menggoda laki. Di bakar sedikit akan makin yahud goyangan.


"Bu di sini ada suntik euthanasia? Aku mau pinjam suntik mati nih makhluk! Dia yang tak mau bebaskan aku malah tuduh aku main pelet. Kalau aku mau pelet mungkin akan pelet satpam depan gedung. Macho kumis melintang. Lebih keren dari orang stress ini."


Bu Dokter tertawa lebar geli lihat Gina memusuhi cowok sekeren Kevin. Kevin dianggap kalah keren dari satpam gedung. Betapa parah penilaian Gina.


"Iya Vin? Ok deh! Sekarang kita mulai masalahmu. Kau mau dihipnotis?"


"Tak usah lagi Bu! Kita ke topik saja."


"Ok..kudengar keluhan mu!"


Kevin berpaling ke arah Gina sekejap sebelum keluarkan isi hati. Gadis di samping pasti akan besar kepala dianggap penting oleh Kevin.


"Anak ini bekerja untukku tapi menyamar sebagai laki. Aku nyaman saja berada di sampingnya walaupun ketahuan dia itu betina. Aku tidak alergi padanya."


Gina diam saja menyimak mau tahu mengapa laki ini sampai menderita demikian parah. Kevin sudah cerita trauma masa lalu namun Gina tak begitu percaya ada orang sampai begitu parah alerginya. Semula Gina mengira Kevin karang cerita untuk menahannya.


"Kurasa kau bisa tenang bersama nona ini karena bawah alam sadar ingatkan kamu bahwa dia itu seorang lelaki. Makanya kamu merasa tidak perlu waspada padanya. Ada satu yang paling vital adalah kalian harus lebih intim."


"Intim? Maksud dokter?" tanya Kevin belum ngeh.


"Ya seperti sering pelukan atau paling tepat kalian saling berbagi cinta."


"No way Bu Dokter. Najis.." protes Gina melirik jijik pada Kevin. Dekatan dengan laki itu merupakan siksaan bagi Gina. Minta lebih intim? Sama saja minta nyawa Gina.


"Maksud Bu Dokter gimana?"


"Nona ini harus berbuat seakan kalian sepasang kekasih. Ya cium pipi, ciuman biar kamu sadar yang dekat kamu itu anak cewek. Naluri kamu masih anggap dia cowok maka kamu nyaman."


Kevin angguk-angguk ngerti tujuan Bu Dokter. Kevin harus buktikan pada diri sendiri wanita di depannya itu cewek barulah bisa dikatakan dia sudah sehat. Pikiran Kevin masih terpaku Gina itu cewek.


Kevin menatap Gina meneliti raut wajah gadis ini lihat reaksi anak ini. Gina kontan menutup dadanya gunakan sepasang tangan seakan lindungi diri dari incaran Kevin.


"Kau apa?" bentak Gina menaruh curiga pada Kevin. Apa yang ada di otak laki itu. Jangan-jangan terpikir hal mesum untuk test kejiwaan laki itu.


"Memang aku mau apa? Dengan tampang nilai tiga mana bisa goda aku. Mata aku belum rabun tak bisa lihat kilau berlian dengan kilau batu plastik."


Gina sama sekali tidak marah dibilang batu plastik. Gina tidak terlalu open ejekan Kevin. Gina malah senang Kevin tak punya rasa padanya. Untuk sementara dia aman berada di lingkungan laki itu.


"Syukurlah! Mau berlian mau batu koral bahkan batu di comberan tak ngaruh buat aku. Yang penting aku bukan batu di rumahmu."


Bu Dokter surprise ada cewek secuek ini terhadap reputasi seorang cewek. Biasa seorang cewek paling senang diibaratkan sebongkah berlian permata. Cewek jaman sekarang bahkan tak ingin diibaratkan sebagai bulan purnama. Bulan sudah tidak berharga lagi karena sudah banyak jejak kaki manusia mendarat di situ. Bahkan bulu kaki para astronot bertaburan di permukaan bulan.


Kevin menatap Bu dokter minta pengertian atas sikap tak bersahabat Gina. Kevin terpaksa omong gitu agar Gina tidak waspada padanya. Kalau Gina menjauh dia akan sulit menarik gadis itu mendekat.

__ADS_1


"Baiklah! Kalian bersahabat dalam batas wajar dulu sampai kewaspadaan Kevin mereda. Sekarang aku mau rileksasi tubuhmu. Ayok berbaring!"


"Tapi aku masih banyak kerja di kantor."


"Tak lama Vin! Kamu sudah lama tak lepaskan beban hati. Kita lakukan terapi sebentar." bujuk Bu Dokter.


"Mau sembuh tidak? Ikuti saja semua anjuran dokter biar cepat sehat. Apapun yang dianjurkan dokter harus dipatuhi." Gina ceramahi Kevin seperti dia sedang marahi Gani bila nakal.


"Harus ikuti semua anjuran dokter? Bukankah kamu juga harus ikut bantu?"


"Insyaallah aku akan bantu sebisanya!"


Kevin dan Bu dokter saling tukar pandangan. Gina seperti telah melupakan anjuran Bu dokter kalau mereka harus lebih intim untuk test kejiwaan Kevin sudah siap terima Gina sebagai seorang anak gadis. Paling sedikit dia harus dapat mengecup pipi Gina sebagai seorang wanita.


Cuma untuk sekarang Kevin tak mau mengejutkan Gina langsung lakukan hal tak pantas. Dia pasti akan dapatkan kesempatan itu. Cepat atau lambat Kevin akan kuasai gadis ini. Kelemahan gadis ini hanya satu yaitu masih lugu.


"Ok...kita terapi relaksasi." Kevin mengalah perlihatkan pada Gina dia mau kerja sama dengan Bu Dokter cari kesembuhan.


Dokter Clara membawa Kevin ke ruang sebelah di mana terdapat banyak alat untuk terapi orang bermasalah dengan kejiwaan. Yang paling menonjol adalah satu tempat tidur lebih mirip kursi santai dilapisi busa tebal. Sekilas pandang tempat tidur itu sangat nyaman untuk pejamkan mata.


Gina hanya bisa diam perhatikan tempat Kevin berobat. Tak ada yang mengerikan di ruangan itu. Bahkan bikin adem karena suara musik lembut mengalun sendu bikin hati adem.


Kevin tampak sudah terbiasa dengan teknik pengobatan dokter Clara. Laki itu rebahkan di atas kursi santai tanpa menunggu pengarahan sang dokter. Kevin mencari posisi nyaman agar bisa lebih dari santai.


Dokter Clara mengeluarkan tablet ukuran sepuluh inchi lalu arahkan ke muka Kevin. Bu Dokter itu sama sekali tak berani sentuh Kevin takut bawa akibat tak diinginkan. Bu Dokter belum tahu sampai di mana tahap tingkat alergi Kevin saat ini. Jaga jarak seperti biasa lebih aman.


"Perhatikan bulatan ini dan kamu akan terlelap. Kau akan nyaman dan rilex." Suara lembut dokter mengayun Kevin supaya terlena oleh suara bujuk rayu Bu dokter.


Gina simak dari awal hingga Kevin diam dengan mata terpejam. Bu Dokter singkirkan tablet lalu beri kode pada Gina untuk pindah ke ruang praktek.


Gina ikuti gerak langkah Bu Dokter sampai keduanya berada di ruang pengobatan. Bu dokter meminta Gina duduk di kursi gunakan kode tangan. Bu dokter sendiri duduk di tempat dia layani pasien.


Gina menanti apa yang akan dikatakan oleh dokter itu. Gina belum tahu apa kemauan sang dokter. Paling ikuti dulu apa petunjuk dokter. Jujur Gina mau bantu Kevin dalam batas kewajaran. Tidak merugikan kedua belah pihak.


"Aku surprise akhirnya Kevin temukan kamu tanpa sengaja. Kau tahu Kevin itu sebenarnya rapuh namun dia berusaha angkuh di hadapan semua orang. Dia bercerita tentang kamu sampai menetes air mata."


"Dia menetes air mata? Air mata buaya kw berapa Bu?" Gina tak percaya bos angkuh itu menangis hanya karena jumpa dirinya. Apa istimewanya dia?


"Kau salah nak! Kevin memang memiliki kejiwaan kurang stabil. Dia berusaha tegar tanpa ada yang dampingi dia. Hanya ada saudaranya si Peter temani dia selama ini. Dia jatuh bangun sendirian mengatasi alergi terhadap lingkungan wanita. Sekarang sudah agak lumayan. Dulu lebih parah. Dia akan pingsan bila bicara dengan wanita dalam jarak satu meter. Dia bukan buat-buat cari perhatian kamu. Jadi kumohon kau bantu dia atasi trauma ini."


Gina menangkap kesungguhan di wajah bu dokter. Dokter bukan sedang bantu Kevin menaklukkan Gina. Kevin memang butuh penanganan medis juga bantuan orang yang dia percayai.


"Aku bisa bantu apa?" tanya Gina tersentuh hati.


"Aku tahu hal ini akan menyulitkan kamu sebagai anak gadis namun cuma ini jalan satu-satunya agar Kevin kembali percaya pada wanita. Seringlah dekat Kevin dan jangan berdandan lelaki lagi. Usahakan pakai gaun agar instingnya katakan kau ini memang keturunan hawa."


"Cuma ini? Itu mah aku bersedia cuma seperti Bu dokter bilang harus cium pipi segala. Aku takut Bu. Aku belum pernah dekat dengan lelaki selain saudara kembar aku. Pak Kevin lah satu-satunya pria yang pernah dekat dengan aku. Itupun didasar salah paham."


Bu dokter manggut-manggut memaklumi posisi Gina sebagai seorang gadis suci. Anak ini masih hargai nilai kesucian seorang gadis maka sangat keberatan diajak intim. Intim bukan dalam hal beranjang ria namun hanya sekedar peluk paling jauh ciuman. Itu saja tabu bagi Gina.

__ADS_1


"Aku percaya kau mampu memulihkan rasa percaya diri Kevin. Mungkin. ini anugerah buat Kevin jumpa kamu. Doa dia telah dijawab oleh Tuhan. Kuserahkan dia kepadamu. Jagalah dia sampai dia temukan jati diri."


__ADS_2