
Gina datang terlambat mendatangkan rasa iri di antara karyawan. Kevin tampak memang lebih sayang pada Gina dibanding karyawan lain. Bahkan Gani yang duluan kerja tak bisa merebut hati Kevin. Gina yang baru kerja sudah melampaui karyawan yang masa bakti lebih lama.
Ruang kerja Kevin adem ayem tak ada suara. Gina melihat laki itu tekun mengerjakan tugas yang seharusnya menjadi milik Kevin.
Gina tidak mau mengusik Kevin pilih mengerjakan sisa tugasnya. Gina tak sabar ingin cek semua data tentang kontrak Mahabarata dengan perusahaan pak Julio. Gina akan cari celah di mana bisa temukan kesalahan Mahabarata agar ada cerita jerat Subrata dalam ranah hukum. Gina sudah bersumpah akan buat Subrata malu di depan umum. Laki itu sudah lupa daratan dengan kekayaan yang sudah dia miliki. Subrata terlalu bangga punya bini sejuta umat. Isteri yang ramah semua pada laki. Siapapun boleh pakai dia asal ada duit.
Gina mengangkat kepala karena ada yang usik keasyikan dia bekerja. Mata Gina beradu dengan mata Lucia yang dipoles aneka warna. Bagi yang suka akan merasa model begitu sangat cantik. Namun bagi Gina mata Lucia seperti orang kena bogem mentah.
"Aku mau tawarkan kerjasama menguntungkan kamu!" Lucia buka mulut anggap Gina gampang dimanipulasi.
"Oya???" Gina relaxkan badan mundurkan punggung bersandar pada sandaran kursi. Gina mau tahu apa yang akan ditawarkan Lucia. Gina takkan ladeni Lucia walaupun tawaran menggiurkan. Gina memang sengaja mau buat Lucia malu di depan Kevin. Tinggal tunggu moments tepat.
"Ayok bicara di ruang aku! Kau tak usah takut! Aku takkan makan kamu! Kamu kan adikku!"
"Aku sibuk...dan satu lagi jangan sebut aku adikmu! Ibuku tak pernah melahirkan kamu maka kita bukan saudara." ujar Gina agak sinis hendak merobek hati Lucia. Lucia tertawa Gina tak mau akui dia sebagai saudara. Lucia tidak salahkan Gina karena perbuatan mamanya memang kelewatan hancurkan rumah tangga orang. Kalau bisa Lucia juga tak mau dilahirkan perempuan jahat.
"Ok...kau boleh ingkari siapa aku tapi fakta darah kita sama. Aku cuma mau tawarkan kamu sejumlah uang dengan catatan kau berikan gambar mu padaku. Aku janji cuma sekali ini. Setelah itu aku takkan ganggu kamu lagi!"
"Maaf nona Lucia...aku bukan perancang! Desain gambarku yang ada pada pak Kevin hanyalah gambar iseng doang! Syukurlah bisa tembus pasaran. Aku tak berniat gambar lagi!" Gina langsung patahkan hasrat Lucia cari keuntungan darinya.
"Gina...aku tahu kau tak suka padaku! Tapi aku bersumpah tak pernah benci pada kalian berdua. Aku malah mau kalian jadi anak papa biar tercantum dalam daftar keluarga. Kalian juga berhak atas semua harta papa. Aku di sini minat tolong untuk pertama dan terakhir!" Lucia merangkap tangan ke dada memohon Gina bantu dia soal gambar.
"Kau mau mati? Aku tak mau ikut campur jalan hidupmu! Mau mati ya mati saja! Tak usah lapor padaku! Oya...apa nona tak takut aku lapor pada pak Kevin kau minta gambar aku?"
"Aku hanya lagi tak punya inspirasi untuk merancang maka minta tolong padamu! Kau tahu kejadian yang menimpa keluarga aku cukup memalukan. Eh..siapa lagi mau mati? Aku belum kawin mana boleh mati. Siapa akan jaga Mas Kevin bila aku mati?"
"Lah tadi bilang permintaan terakhir! Bukankah hanya orang mau mati punya permintaan terakhir?"
Lucia ingin jewer kuping adiknya tak mau akui dia itu. Salah omong sedikit dijadikan bahan ejek dia. Lucu juga punya adik songong. Tapi sikap tak bersahabat Gina tak membuat Lucia bebas lakukan keinginan hati.
"Kamu ini...aku akan beri kamu satu mobil baru! Hadiah dari kakak yang baik!"
"Mau sogok ya? Apa nona tak tahu pak Kevin mau beli mobil keluaran tahun tinggi namun aku tolak. Aku tak mau mimpi muluk jadi orang kaya sementara levelku masih di bawah standard. Aku akan kendarai mobil hasil jerih payah aku! Jadi aku tolak! Lupakan soal gambar! Aku tak punya stok gambar di otakku! Jumpai Pak Kevin dan jujur tak bisa gambar lagi karena otak sudah karatan. Aman toh!" kata Gina bernada mengejek. Gina senang bisa permainkan emosi Lucia. Makin sengsara anak itu Gina makin terhibur. Lucia pasti sedang bingung tak bisa hubungi orang yang biasa kasih gambar. Ini merupakan pelajaran berharga buat Lucia tak jual nama di atas nama orang.
Lucia mati kutu jumpa orang sekeras Gina. Tak mempan disogok dengan barang berharga. Lucia pikir beri mobil pada Gina sama saja berikan sedikit hak Gina atas harta keluarga yang cukup banyak. Lucia tak tahu kalau Gina sedang bangun jalan terjal untuk dorong Subrata masuk jurang. Gina mana tertarik pada tawaran materi dari keluarga Subrata.
__ADS_1
"Gina...aku minta tolong sebagai kakak! Suka atau tidak kau adalah adikku. Apa kau tega lihat aku malu di depan Kevin?"
"Itu urusan anda nona Lucia! Aku tak ada hubungan apapun dengan nona! Aku takkan usik anda jadi jangan usik aku! Silahkan jelaskan sendiri pada pak Kevin! Aku takkan omong apapun pada pak Kevin tentang permintaan kamu! Anggap obrolan kita tak pernah terjadi." Gina pasang raut wajah serius tak mau panjang cerita dengan Lucia lagi. Lucia pasti akan nyungsep sendiri kalau kelewat banyak tingkah.
Lucia menarik nafas panjang. Sifat Gina hampir sama dengan dirinya sangat keras tak bisa diubah pendirian. Lucia makin tak ragu kalau mereka memang satu bapak walaupun lain ibu. Dengan cara apa dia baru bisa bujuk Gina menyerah mau kerja sama. Lucia berniat mengundurkan diri dari kebohongan ini namun dia harus punya karya terakhir untuk yakinkan Kevin kalau dia memang seorang designer perhiasan.
"Gin...dengan cara apa kau baru mau bantu aku?" Lucia sudah tak bisa membujuk dengan materi. Jalan terakhir adalah memelas minat dikasihani agar rasa iba Gina muncul.
Gina menghentikan gerakan tangan lantas berpikir ulang apa yang dikatakan Lucia itu permintaan atau permohonan. Apapun itu Gina takkan bantu dia. Gina berharap Lucia nyungsep jadi dasar apa dia harus bantu dia lagi. Bukankah Gina sedang membantu bebuyutan bila tergerak hati bantu Lucia. Jangan harap hati Gina tergerak. Dia malah tak sabar ingin buat keluarga Subrata kenal kata sakit hati.
"Maaf aku banyak kerja!" Gina tak mau panjang lebar lagi. Gina kembali fokus pada layar komputer tanpa peduli pada Lucia lagi. Betapa bodoh Lucia bersikeras mau tampil hebat di depan Kevin. Kevin itu punya penyakit tak diketahui oleh Lucia. Kalau dia belum sembuh sampai kapanpun dia tak bisa dekat dengan wanita. Namun Gina tak mau bongkar kesulitan Kevin. Biarlah ini tetap jadi rahasia mereka.
Lucia sangat putus asa menghadapi kekerasan sifat Gina. Untuk sementara Lucia harus mundur memberi ruang kepada Gina untuk berpikir ulang. Lucia tak boleh terlalu memaksa membuat Gina makin ilfil kepadanya. Lucia harus main cantik agar meraih simpati Gina. Lucia menyadari kalau cepat atau lambat dia memang harus mengandalkan adiknya itu untuk membantunya di masa depan. Lucia tidak tahu menahu soal bisnis apalagi mengelola perusahaan. Lucia hanya tahu bagaimana menghamburkan uang orang tuanya dan tampil modis sebagai seorang gadis dari keluarga kaya raya.
Dina benar-benar tega mengabaikan Lucia yang tergugu tak bisa ngomong apa-apa lagi. Wanita muda ini pilih kembali ke ruang kerjanya sambil pikir langkah selanjutnya. Mencari designer rawan bongkar rahasia Lucia. Dan lagi style Lucia yang terkenal berjiwa bebas dan kreatif agar tergusur bila ada campuran tangan designer lain.
Sementara itu Gina sedang menyusun rencana menjebak usia untuk membongkar wajah asli wanita itu. Gina akan melakukan itu tanpa mengenal kata kasihan. Sudah saatnya memberi pelajaran kepada Lucia yang pembohong itu.
Gina mulai dengan langkah awal yakni memposting satu karya di akun rahasianya. Gina memposting karya itu dengan catatan bahwa itu adalah karyanya yang telah memiliki hak paten. Akun rahasia yang dimaksud adalah akun yang sering berhubungan dengan Lucia. Tinggal tunggu langkah selanjutnya mengantar Lucia dalam penyesalan tak terhingga. Gina tersenyum licik memandangi punggung Lucia berjalan jauhi meja kerjanya.
Kevin memanggil Gina masuk ke ruang kerjanya untuk menerima laporan tentang hasil percakapan dengan pak Julio. Kevin mau tahu apa langkah pak Julio selanjutnya mengenai mega proyek yang sedang dia tangani. Kevin sendiri tidak bisa menangani proyek itu seutuhnya tanpa bantuan Peter yang seorang insinyur. Sayang sekali Peter telah berjalan di arah yang salah dengan menghianati Kevin.
Gina tak menunda langkah segera masuk ke dalam ruang kerja Kevin dengan sopan. Gina harus membedakan waktu berada di rumah dan di kantor. Di rumah dia bisa berbuat seenak perut terhadap Kevin namun di sini dia tetap seorang bawahan yang harus menghormati atasan.
"Ya pak!" Gina sudah berada di depan Kevin menunggu apa yang akan dikatakan oleh bosnya itu.
"Duduklah! Jangan berdiri seperti seorang debt kolektor sedang menanti utang!"
Gina menarik kursi di depan Kevin tanpa sungkan lagi. Memang banyak yang harus dia bicarakan dengan Kevin. Mengenai proyek juga masalah Peter yang duluan melangkah jauh.
"Saya sudah jumpa pak Julio."
"Lalu apa katanya?"
"Peter pernah minta pembayaran tahap awal ke rekening pribadi tapi ditolak pak Julio. Pak Julio tak mau ambil resiko kebocoran keuangan karena menyangkut kontrak dua perusahaan."
__ADS_1
Wajah Kevin berubah warna tak sangka Peter sudah senekat ini mau ambil alih proyek besar ini keuntungan pribadi. Kevin sangat menyesal telah mempercayai Peter sepenuhnya. Nyatanya Peter betul-betul ular yang sangat berbisa siap mematoknya setiap saat. Untung lah Gina sangat cerdas membongkar segala kebusukan Peter.
"Peter sudah terlalu maju. Sekarang apa rencana Pak Julio menangani masalah proyek ini? Atau kita serahkan saja kepada pengembang lain. Kita akan fee saja!" Kevin tampak putus asa.
"Saya sudah memikirkan jalan keluarnya. Saya telah minta kepada pak Julio untuk beri seorang insinyur dari perusahaannya dampingi Peter. Jadi pimpro bukan Peter melainkan orang pak Julio secara langsung."
"Kau yang minta pak Julio lakukan hal ini? Ya Tuhan...apa hubungan kamu dengan pak Julio sampai mampu kontrol konglomerat tersebut? Aku tak mau kamu lakukan hal tak pantas demi aku!"
"Bapak pikir aku ini apa? Asisten sejuta umat jual pesona jerat bos kaya? Aku punya kharisma buat Pak Julio percaya padaku! Itulah hebatnya Gina!" ujar Gina naikkan derajat sendiri tak peduli cibiran Kevin. Dia memang telah sukses setir pak Julio menangani proyek yang hampir disabotase oleh Peter. Kevin mau pikir apa terserah laki itu. Gina bukan orang terlalu peduli pada ocehan orang lain.
"Aku jadi takut kepada kamu! Jangan-jangan kamu ini peri yang nyamar jadi manusia!" gurau Kevin tak bisa tak puji Gina.
"Bukan peri pak tapi nek lampir nyamar jadi manusia! Hati-hati ya padaku! Aku bisa sihir bapak jadi katak lompat!" balas Gina tak biarkan Kevin menang.
"Kok katak lompat? Pangeran katak yang ganteng tunggu ciuman tuan Puteri! Kau mau jadi Puteri itu?"
"Apa aku ada tampang jadi Puteri? Tuh ada Puteri Mahabarata yang ngebet mau jadi pendamping katak! Dari tadi berharap jadi pengayom katak."
Kevin tak heran kalau Gina beberkan rahasia hati Lucia. Semua orang tahu kalau Lucia tergila-gila pada Kevin sampai rela berkorban kerja di perusahaan Kevin agar bisa dekat dengan laki tersebut. Sayang Kevin tak bisa balas cinta Lucia karena terkendala masalah mental.
"Aku anggap dia hanya teman dan pegawai berprestasi. Tak ada lebih dari itu."
Gina tak mau ikut campur soal perasaan Kevin. Biarlah Kevin yang tentukan siapa yang berhak bertatah dalam hatinya. Buat Gina untuk sementara tak mungkin menaruh hati pada siapapun sebelum misinya tercapai. Dendam masih berkobar dalam dadanya sebelum beri pelajaran berharga buat Subrata.
"Saya tak tahu isi hati bapak! Tapi bapak harus usaha untuk menjadi diri sendiri. Dokter hanya bisa menyarankan tapi yang betul-betul bisa sembuhkan bapak adalah bapak sendiri. Bapak harus lawan semua kegelisahan dala hati."
"Aku akan usaha selama kau berada di sisiku!"
"Kalau gitu bapak omong saya tak segan peras bapak! Aji mumpung berguna bagi bos!"
Baru kali ini Kevin lihat ada maling jujur. Langsung mengaku mau peras majikan. Kevin yakin Gina sedang bercanda. Dilihat dari sifat Gina yang tulus sangat jauh kemungkinan Gina akan ambil kesempatan memeras Kevin jadi ladang uang. Gina tidaklah sejahat itu.
"Tak usah kau peras! Aku rela berikan segenap jiwa raga untukmu!"
Gina mau muntah digombali oleh Kevin. Gombalan pasaran zaman nenek Gina. Wanita zaman kekinian mana cukup diberi gombalan gaya era naik sepeda ontel. Jadul bikin malu saja!
__ADS_1
"Ciiss...opa oma di sawah! Oya...besok pak Julio akan datang ke sini rapat bahas soal proyek! Bersiaplah! Saya sudah lakukan apa yang bisa kulakukan! Selanjutnya terserah bapak!"