
Hadi dan Naruto ikut Gina keluar. Mereka harus menunggu pemilik proyek datang untuk diskusi soal rencana baru yang diusulkan dua manta preman itu. Hadi dan Naruto tak merombak hanya menambah agar penyanggah ada kekuatan dari bencana longsoran yang setiap saat bisa terjadi. Antisipasi dari awal jauh lebih baik ketimbang rugi lebih besar.
Hadi dan Naruto dipersilahkan duduk di dekat meja Gina yang memiliki beberapa bangku untuk tamu yang ingin menjumpai Kevin. Keduanya menggantikan Jay dan Kupret yang sudah pergi mencari Gani. Kini kedua pemuda ini yang duduk berhadapan dengan Gina dengan mata saling melirik karena mereka melihat senyum aneh di wajah Gina.
"Gin... jangan senyum gitu dong! Kami menjadi takut terjadi sesuatu kepada kami." ujar Hadi ngeri bayangkan kalau Gina kumat kerjain mereka di kantor sebesar ini.
"Aduh kalian ini! Aku pasang wajah seram kalian sebut monster! Sekarang aku ramah kalian sudzon. Besok jangan lupa siapkan CV kalian! Nanti berikan pada Gani biar diproses! Jay sudah digaji lima ratus sebulan dan kalian mungkin bisa disamakan!"
"Lima ratus? Jangan canda nona monster! Masa perusahaan segede gini gajinya tukang bersih WC."
"Apa kalian lupa ngasih fee pada monster? Untuk tahap pertama. sembilan puluh lima persen untuk makelar kerja!"
"Gila...kenapa tak aku bunuh saja kami? Kau bisa kuasai harta kami!"
"Kalau kalian mati siapa yang kerja? Sudah terima nasib saja! Jay saja terima masak kalian pelit tak terima!" kata Gina seenak dengkul bikin Hadi dan Naruto mogok bicara. Mending jadi satpam daripada jadi insinyur. Nama saja keren tapi kantong kering.
Inilah yang ditakuti oleh Hadi. Senyum Gina itu berbahaya. Namun mereka tak terlalu kuatir. Ini hanya keisengan Gina usilin mereka. Gina mana tega jahatin mereka. Gina orangnya setia kawan.
"Untukmu semua saja tapi kamu harus jaga aku seumur hidup kamu! Aku akan numpang hidup sama kamu. Semuanya kamu yang urus!" ujar Hadi balas keisengan Gina.
"Itu sama saja jadi bini kamu!"
"Gitu deh! Aku cari uang dan kamu ambil semua tapi harus rawat aku selamanya! Deal?"
"Ok...bangun pagi masak untuk warung ibu lalu bersihkan rumah sebelum ngantor. Pulang kantor nyuci baju dan urus makan malam!"
Naruto tertawa lihat Hadi mati kutu diganggu Gina. Bicara lawan Gina tak ada untungnya. Buntutnya pasti buntung.
"Sama saja jadi budak abadi! Batal deh! Mana Kupret?"
"Lagi nyari bebek...kalian boleh pergi juga! Hati-hati nyasar ya! Satu lagi! Jangan asyik pelototi karyawan cewek! Ntar bintilan!"
Hadi dan Naruto tak open gurauan Gina lagi. Keduanya pilih cari Jay dan Kupret. Merasa enak juga ingin tahu gimana suasana tempat kerja Gani si banci tanggung itu.
Gina kembali tekuni kerjanya. Malam ini Gina mau katakan pada Kevin untuk beri kesempatan pada Jay dan kawan-kawan mengabdi pada Kevin. Gina yakin teman-teman akan lebih mampu menjaga Kevin ketimbang dia. Dia seorang cewek sangat tidak etis asyik bersama seorang lelaki yang bukan muhrim. Kalau sekedar kerja di kantor mungkin masih ok. Namun ini telah merembet ke mana-mana termasuk urusan keluarga. Di tambah Kevin tinggal di rumah dia. Hampir dua puluh empat jam Gina bersama Kevin. Gina tak bisa bekerja untuk pekerjaan lain bila ada Kevin. Rencana ikut lomba akan terganggu. Dia belum juga selesaikan design yang akan dikirim ke juri di Perancis. Padahal waktunya sangat kepepet.
Di tempat Gani sedikit bising karena kehadiran teman-teman satu kampung. Keempat teman Gani takjub lihat Gani punya ruangan sendiri serta memimpin beberapa anak buah. Mereka tak sangka banci tanggung itu bisa juga menjadi seorang manajer bawahi beberapa anak buah.
Gani terlihat keren pakai dasi walaupun tidak pakai jas. Gaya bancinya sedikit menguap berganti seorang pemimpin lembut. Jay bayangkan gimana kalau Gani marahi anak buah. Apa dia akan berkacak pinggang seperti emak kehilangan sapu?
Keempat pemuda itu berdiri didepan meja kerja Gani sambil melihat cara kerja cowok jadi-jadian ini. Gani menjadi risih jadi bahan tontonan keempatnya. Gani mati gaya dipelototi terusan oleh teman-temannya. Seluruh tubuh Gani menjadi kaku susah digerakkan.
"Sobat-sobat tercinta! Aku sedang kerja ya! Silahkan kalian cari mainan lain! Jangan ganggu aku!" Gani memohon pada Jay dkk.
"Monster suruh kami cari kamu! Mulai besok kami juga kerja di sini!" jawab Naruto sukses bikin Gani terpana.
__ADS_1
"What???" Gani terloncat kaget Gina merekrut gerombolan preman di kantor. Apa mau jadi pusat keributan biak mereka di sini.
"Yes..bro! Monster minta kamu urus CV kami besok!" sambung Jay perkuat omongan Naruto.
"No..no...siapa bantu papi di bengkel? Apa kalian tega lihat bengkel papi jadi gudang mati?"
"Monster yang akan balik sana! Kami di sini bekerja sambil kawal pak Kevin! Kami juga tak tega tapi monster mau ngasih kami kesempatan hidup lebih baik."
Gani termenung memikirkan omongan Jay. Gina selalu gitu! Selalu memikirkan orang lain tak pikir diri sendiri. Masalahnya apa Kevin izinkan Gina resign? Gani lihat Kevin sudah serahkan hidupnya pada Gina. Kalau bilang bucin bisa jadi walaupun tidak tampak mereka pacaran.
"Kalian pikir pak Kevin akan izinkan monster resign? Apa kalian tak lihat pak Kevin sangat percaya pada monster?"
Semuanya akui perkataan Gani. Kevin tampak sangat tergantung pada Gina. Mana mungkin dia izinkan gadis itu pergi. Kalau di antara mereka ada yang suka pada Gina sudah harus matikan perasaan karena di belakang Gina ada laki tajir siap beri kebahagiaan nyata.
"Kita lihat saja nanti! Jujur kami ingin juga seperti kamu punya masa depan cerah. Di bengkel kapan majunya?" Naruto keluarkan isi hati mau lebih maju meraih masa depan gemilang.
Gani tak berhak melarang teman-teman mencapai kehidupan lebih baik. Siapapun punya impian untuk menjadi lebih baik. Mereka sudah dewasa bahkan sudah memiliki batas umur waktunya berkeluarga namun karena terkendala materi maka niat baik itu terkunci sendiri. Mereka tak berani meminang gadis manapun bila belum mapan.
"Iyalah! Ayok aku traktir makan siang! Kita makan di cafe depan kantor." Gani pilih tak mau memikirkan hal belum pasti. Persoalan jadi ribet karena Kevin tak tanggung sudah curi lima pegawai Om Sabri. Satu Gina sudahlah karena Gina memang tak pantas berada di sana. Kini malah sabotase empat pegawai inti om Sabri. Papi Gani itu bisa gulung tikar bila tak ada pegawai membantunya mengerjakan pekerjaan yang sangat banyak itu.
"Wah...bebek lagi kaya! Traktir kita makan di cafe mehong. Kayaknya tak baik menolak rezeki! Kita mau dong!" Kupret bergaya kebancian mengolok Gani yang punya gaya gitu. Gani mendelik tak suka Kupret mengoloknya di kantor. Kalau di rumah Gani tidak keberatan karena dia memang begitu. Nyiur melambai.
"Woi..jangan gitu! Itu gaya aku! Enak aja mau rebut hak paten aku!" Gani melengos. Dia bergaya kebancian tak ada yang larang. Giliran orang pasang gaya gitu dia kurang senang. Dasar banci egois.
Keempat teman Gani hanya bisa tersenyum. Mereka sudah hafal sifat Gani yang beda banget dengan Gina. Satu lemah lembut dan satunya sekeras baja. Apapun kedua saudara kembar itu tetap mendapatkan hati dari teman-teman.
"Jadi dong! Pesan tak boleh banyak ya! Cukup pas kenyang saja! Menu tak boleh istimewa. Minum cukup air mineral."
"Kok kayak makan di warteg? Makan dijatah!"
"Cerewet...Mau ngak diajak makan? Itu cafe rasa warteg..!" Gani duluan keluar dari kantor karena waktunya waktu istirahat makan siang. Keempat pemuda terpaksa ikut ke mana perginya Gani. Mereka bersyukur Gani punya inisiatif undang mereka makan siang. Kalau pergi makan sendiri pasti akan menguras kantong mereka. Makan di sekitar perkantoran mana ada yang kenyang dengan modal sepuluh ribu. Paling dikit goban alias lima puluh ribu.
"Eh Gan...tak ajak Monster?" tanya Jay teringat pada Gina yang sendirian di atas.
"Tak usah kalian pikir dia! Backingnya bos kita! Dia takkan lapar kok!" Gani menyakinkan Jay kalau Gina takkan dibiarkan kelaparan oleh bos mereka. Gina malah dapat jatah makan enak karena bersama majikan utama. Mereka bukan level bos yang makan di tempat lebih elite.
"Oh iya...yok kita cabut!"
Sementara di atas Peter datang menemui Kevin. Laki ini mau jumpa Kevin memastikan proyek Pak Julio sudah ada keputusan. Peter belum tahu kalau Kevin sudah berniat geser Peter ke lahan kering. Mengusir Peter gitu saja akan menambah permusuhan di antara mereka. Mengirim Peter ke daerah lain adalah jalan paling tepat. Peter tak usah ikut campur di proyek juga di inti perusahaan. Kevin akan atur ulang siapa yang pantas jadi pengganti Peter.
Seperti biasa Peter menggoda Gina dulu sebelum jumpai Kevin. Laki ini belum ngeh kalau Gina yang bongkar semua kejahatan Peter. Gina juga pura-pura tak tahu kalau Peter itu manusia berkepala ular. Yang penting Kevin sudah tahu mana orang bisa dipercaya.
Peter mengetuk meja Gina cari perhatian gadis ini. Gina angkat kepala melirik sekilas lalu beri senyum manis biar laki ini kena diabetes saking manisnya. Jujur Peter gemas pada Gina. Sudah cantik pintar pula. Dari awal Gina masuk kerja Peter sudah suka lihat gadis ini walau tidak seramah pegawai cewek lain.
"Makin manis saja!" olok Peter caper.
__ADS_1
"Uang receh maupun uang besar tak ada pak! Pak Kevin belum ngasih gaji aku!"
"Emang sudah berapa lama kau kerja sini?"
"Lumayan untuk terima gaji pertama! Pak Kevin lupa kalau aku butuh makan dan uang transportasi! Janji bonus hasil penjualan perhiasan juga belum turun! Kayaknya majikan kita bukan cuma trauma tapi juga pikun dini!"
"Yang bener kau belum gajian!"
"Sumpah disambar cowok ganteng pak! Tanya aja sama bos itu!" Gina menunjuk Kevin gunakan bibir membuat Peter makin tertarik pada cewek kecil ini.
"Enak banget cowok yang sambar kamu! Ok..biar aku tanya! Kau di sini saja! Jangan kabur ya!"
"Rencana mau pindah kerja pak! Nombok melulu jadi hilang semangat kerja!"
"Eit jangan gitu dong! Kevin kan lagi banyak pikiran. Mungkin lupa masukkan nama kamu dalam daftar gaji pegawai. Kamu juga masuk tak lalui jalur resmi. Tunggu sini ya!" Peter melambai melangkah ke ruangan Kevin. Peter tak sangka Kevin teledor tak bayarin gaji Gina. Anak perempuan kan butuh dana untuk percantik diri. Belum lagi kebutuhan lain seperti biaya bahan bakar transportasi.
Kevin sudah linglung melupakan hal paling vital untuk seorang pegawai. Siapa mau kerja bila tak digaji. Gina masih mending bertahan walaupun belum ada kejelasan gajinya. Orang lain mungkin sudah tuntut bos tak bertanggung jawab itu.
Seperti biasa Peter langsung masuk tanpa ketok pintu. Kevin sudah lihat kehadiran Peter dari balik kaca. Di dalam Kevin sudah persiapkan bahan pembicaraan hendak pindahkan Peter ke pulau lain untu handel perhotelan.
"Kok telat hari ini?" tanya Kevin sebagai basa basi.
Peter menarik kursi bawa ke depan Kevin agar bicara lebih dekat. Kevin bersikap biasa saja tanpa tunjukkan telah tahu semua kebusukan Peter.
"Singgah di rumah mama sebentar! Mama aku mau keluar negeri untuk berobat. Kakinya susah jalan akibat reumatik."
"Mau ke mana?"
"Rencana ke pulau Penang saja! Adikku aku ikut!"
"Kau tak ikut?"
"Hanya untuk berobat kaki saja kok! Aku lagi tunggu keputusan pak Julio!
Kevin agak tegang Peter kembali menyebut proyek pak Julio. Sudah nyata Kevin tak bisa serahkan proyek itu kepada Peter. Laki itu punya niat lain terhadap proyek ini maka Kevin harus buat Peter tak ikut campur urusan proyek lagi.
"Kurasa ada yang lebih penting dari proyek! Hotel kita di Bali sedang dalam masa kritis! Kamu harus ke sana pulihkan keadaan. Kamu ke sana cari tahu mengapa tamu makin menghilang. Apa kendala di sana harus segera diatasi sebelu hancur total."
Peter tampak tak begitu tertarik mengelola hotel. Perhotelan bukan bidang Peter walaupun dia ngerti cara tangani satu hotel. Laki ini lebih tertarik pada proyek yang menantang adrenalin seorang insinyur. Kalau Peter tak ketahuan curangi Kevin mungkin Kevin akan serahkan seluruh penanganan proyek kepada Peter.
"Kenapa tak minta yang lain?"
"Yang lain tidak secakap kamu. Kamu segera berangkat dengan pesawat sore. Selesaikan yang sudah ada! Kau tahu hotel itu peninggalan kakek. Kita harus selamatkan hotel itu apapun resikonya." ucap Kevin tegas sebagai atasan.
Peter tak bisa ngelak mendapat perintah dari Kevin. Dia harus siaga apapun perintah Kevin. Peter harus bisa jawab tantangan dari pemimpin perusahaan. Tak ada alasan Peter menolak perintah Kevin. Peter juga tahu hotel itu sangat berarti bagi Kevin karena warisan dari kakek Kevin.
__ADS_1
"Baiklah! Tapi begitu pak Julio ada kabar kau harus panggil aku balik sini! Aku tak sabar ingin tangani proyek besar ini! Aku harus sukses selesaikan proyek impian ini."
Kevin diam saja tak mengikuti euforia Peter soal proyek. Pak Julio mungkin juga keberatan Peter ikut campur setelah tahu akal licik laki itu. Belum apa-apa minta uang DP dikirim ke rekeningnya. Ini melanggar aturan perusahaan. Tapi Peter sudah lakukan hal itu.