
Gina ingin sekali menampar mulut sendiri buka kartu dia juga perancang perhiasan. Inilah akibat kelewat semangat bela diri. Lupa pada jati diri sebagai perancang misterius buat Lucia. Gina tak bisa buka diri sebelum tuntaskan dendam dalam dada.
"Aku suka merancang tapi bukan untuk dikonsumsi buat umum. Aku bisa hadirkan rancangan satu set asal bayaran cocok. Aku sudah punya bayangan untuk pencinta perhiasan jelang hari raya."
"Satu set? Maksudmu?"
"Kalung, giwang, cincin dan gelang. Cewek pasti senang bila diberi hadiah satu set perhiasan oleh suami maupun pacar. Aku bisa siapkan dalam waktu seminggu asal cocok harga. Tema masih rahasia atau bapak punya request?"
"Kau bisa penuhi request aku?"
"Harusnya bisa untuk buktikan aku ini bukan plagiat."
"Baiklah! Besok kuberi tantangan buat kamu. Nanti kamu datang ke kantor sebentar untuk diskusi perhiasan kamu sebelum masuk dapur."
"Ok...beri aku waktu satu jam!"
"Baiklah! Kutunggu kamu!"
Kevin menutup telepon tanpa beri salam. Orang model Kevin mana banyak adat seperti orang tua. Dia itu produk abad atom. Banyak adat terhapus secara otomatis ikuti arus moderenisasi.
Kevin lega setelah ngobrol dengan Gina. Kevin makin yakin Gina mempunyai kelebihan dalam design. Gani pernah cerita kalau Gina itu lulusan dua gelar. Dari sini sudah bisa dipastikan Gina bukan sembarangan remaja. Pasti multi talenta.
Kevin bersyukur menemukan pelita di tengah kegelapan. Dia telah mendapat balasan setimpal memberi ijin pada Gani untuk tour. Gani telah membalasnya dengan hadiah berlipat ganda. Kevin harus pandai ambil hati Gina agar tidak pindah ke tempat lain. Gadis dengan berbagai keahlian di mana saja welcome.
Kevin kembali menyibukkan sambil menanti kehadiran Gina. Menanti tanpa lakukan apapun adalah pekerjaan paling membosankan. Kevin menyelesaikan tugas kantor sambil memikirkan tantangan buat Gina. Tantangan apa yang harus diberikan agar yakin Gina bukan plagiat seperti dugaan Lucia.
Hampir pukul lima sore Gina baru datang dengan wajah tampak lelah. Wajah Gina tampak berantakan seperti baru dikejar orang gila. Betul sangat lusuh tak cerminkan gadis umumnya yang ingin tampak cantik di depan majikan apalagi majikan cowok. Gadis tak jaga image.
Kevin perhatikan anak buahnya yang sangat berantakan itu. Andai ada orang jatuh cinta padanya tentu saja bukan lihat tampang anak ini melainkan memang tulus dari hati. Gina tak pandai memikat cowok dengan gaya genit ria.
"Duduklah! Kita bahas kerja kita. Kamu lihat dulu hasil perbaikan kami terhadap rancangan mu. Kami tetap hargai perancang asli walaupun ini hak kami." Kevin memutar laptopnya agar Gina bisa melihat lebih jelas bagaimana hasil perbaikan dari kantor Kevin. Tak banyak berubah selain ditambahkan dua butir permata Swarovski.
Sebenarnya Gina kurang setuju penambahan butiran itu karena merusak makna keteduhan perhiasan itu. Namun kalau ini merupakan kebijkan perusahaan Gina tak bisa berkata apa-apa.
"Bolehkah kutahu alasan apa menambah dua butir batu hiasan?" Gina tak berani langsung katakan keberatan namun ingin minta keadilan untuk hasil rancangan.
"Menurut perancang kami hiasan ini terlalu kosong. Beri sedikit pernik agar tampak lebih mewah."
Gina tertawa mendengar alasan tak masuk akal Kevin. Orang yang berniat merusak rancangannya bukanlah perancang baik. Tak memahami satu rancangan. Menambah sesuka hati merusak makna. dari perhiasan itu.
"Pak...satu rancangan itu bukan dilihat dari mewahnya tapi makna perhiasan itu. Tema kita adalah keteduhan bukan gemerlapan. Penambahan dua butiran itu merusak maknanya. Bapak bandingkan sendiri gambar asli dan gambar setelah bapak revisi. Rasakan kekonyolan dua butiran itu." Gina menunjukkan perbedaan dua gambar. Memang tampak aneh di bawah batu berjuntai dua butir permata padahal gambar awal sudah serasi dengan design kalung model tangga.
Kevin angguk-angguk menyetujui penjelasan Gina. Penjelasan Gina sangat masuk akal karena batu yang tampak tenang tiba-tiba melahirkan dua butiran yang seperti cukup mengganggu pemandangan.
"Kau benar.. mengapa aku tidak terpikir efek dari dua butiran ini! Setelah diperhatikan dengan seksama memang terasa sangat ganjal tiba-tiba muncul dua butir batu di bawahnya. Kali ini aku percaya kepadamu menghilangkan dua butiran ini. Kita coba terobos rancangan kamu sebagai rancangan sejuta umat."
Gina tampak sangat lega Kevin mendengar apa yang dia jelaskan. Ternyata Kevin tidak sebodoh yang dia bayangkan. Bos yang hanya mendengar perkataan anak buah tanpa cek langsung fakta sesungguhnya.
Rasa percaya Kevin kepada Gina makin melambung karena gadis ini dengan percaya diri memaparkan isi hati tentang perhiasannya. Kini tinggal Kevin memberi tantangan baru buat Gina untuk meluncurkan hasil karya baru untuk diproduksi menjerang Ramadan dan hari raya.
__ADS_1
"Terima kasih bapak sudah percaya kepadaku. Merancang satu perhiasan bukanlah hanya asal gambar tetapi harus memahami apa yang diinginkan oleh pelanggan dan memunculkannya dari lubuk hati terdalam."
Kevin menatap Gina dalam-dalam berusaha menyelami isi hati anak ini. Apa yang terlintas di dalam kepala anak ini sehingga mampu membuat orang percaya kalau dia adalah seorang perancang handal.
"Sekarang kita bicarakan rancangan selanjutnya! aku memberimu tantangan dua macam. Kamu harus memberi rancangan untuk para ibu-ibu di atas 50-an dan ibu-ibu muda. Seperti keinginanmu merancang satu set maka kuberikan kamu kesempatan untuk itu."
Gina memperbaiki gesture tubuh sebelum iyakan tantangan Kevin. Menurut Gina Kevin terlalu mubazir membuat dua set perhiasan. Sebenarnya keinginan Kevin itu bisa digabungkan jadi satu satu dengan tema freestyle. Tidak perlu merancang dua set melainkan satu set tapi bisa digunakan di berbagai kalangan usia.
Kevin biarkan Gina memikirkan apa yang harus dia katakan. Mampu menjawab tantangan atau hanya sampai sekian saja. Di sini kredibilitas Gina sedang diuji oleh Kevin.
"Pak... menurut aku tidak perlu merancang dua set. Kita akan membuat rancangan yang bisa digunakan oleh berbagai kalangan usia. Yang penting warnanya tidak mencolok dan terlalu ramai. Jadi kalau ibunya membeli untuk dirinya bisa juga digunakan oleh anak perempuannya. Jadi orang tidak perlu mengeluarkan uang lebih banyak hanya untuk membeli 2 set perhiasan. Cukup beli satu set bisa digunakan bersama-sama."
Kevin agak surprise mendengar jawaban Gina yang begitu mantap. Gina tidak ragu-ragu mengemukakan apa yang dia pikirkan untuk membantu Kevin meluncurkan produk baru. Di sini Gina sedang menunjukkan kualitasnya sebagai seorang perancang tidak menghamburkan dana para ibu-ibu untuk membeli perhiasan.
"Baik..aku ikuti saran kamu. Kau beri rancangan secepatnya agar kami bisa evaluasi sketsa kamu. Kalau bisa buat seperti biasa tida dimensi."
"Akan ku usahakan pak! Beri aku waktu beberapa hari." jawab Gina yakin akan penuhi tantangan dari Kevin. Kevin suka gaya optimis Gina. Gadis ini tunjukkan semangat anak muda siap jawab semua tantangan. Tak usah diragukan kalau Gina memiliki potensi itu.
"Cuma beberapa hari?" tanya Kevin heran Gina tak minta waktu lama. Lucia yang senior tak berani jawab permintaan Kevin dalam waktu singkat. Ini anak bawang berani kemukakan waktu pendek.
"Akan ku usahakan pak! Kalau tak ada perintah lain aku harus pulang. Aku masih ada pekerjaan lain."
"Gina...kamu itu manusia bukan robot. Mengapa harus demikian lelah banting tulang ke sana kemari. Aku akan tambah gaji kamu asal kamu mau kerja sampai jam kantor."
Gina menatap penuh keraguan pada Kevin. Berapa Kevin sanggup bayar dia hanya jadi asisten. Tak mungkin juga gajinya melebihi Gani yang sudah jadi manager. Gani orangnya pelit tak mau bantu uang cicilan rumah, anak itu hanya bantu untuk keperluan mendadak bila ibu mereka sedang tak ada uang.
"Berapa gaji aku?" Gina beranikan diri tanya gaji untuk pastikan cukup bayar cicilan.
"Lima puluh juta? Apa bapak tak salah hitung? Itu banyak amat!" Gina kaget mendengar tawaran gaji Kevin. Ini di luar dugaan Gina. Dia pontang panting ke sana kemari tapi tak capai hasil itu. Ini kerjanya hanya duduk namun gajinya berkali lipat dari penghasilan Gina selama ini.
"Aku seorang pemimpin apa mungkin tipu anak buah? Kita akan buat kontrak kerja selama setahun ke depan. Setiap tahun kontrak akan diperbarui bila kau betah."
"Kalau aku tak betah selama kontrak apa yang harus kulakukan?" tanya Gina lugu. Menjadi pegawai kantoran bukanlah impian Gina jadi buta terhadap semua peraturan perkantoran.
"Itu ya? Kita bisa nego bila ada kejadian begitu. Tapi kuharap kau betah. Bukankah selama ini kamu betah walau kerja part time.
Kevin mana berani bilang akan kena denda. Jamin Gina akan tolak semua tawaran Kevin. Dulu saja dia mau resign dari kantor. Kevin harus pikirkan segala upaya cegah Gina keluar sebelum dia sembuh total.
"Kalau gitu aku mau! Aku akan berhenti ngajar les dan berhenti beri latihan karate pada anak-anak. Cuma aku akan tetap bekerja di bengkel pada hari sabtu dan Minggu."
"Terserah kamu asal tak ganggu tugasmu di kantor."
"Satu lagi pak! Gimana bayaran aku dalam hal merancang perhiasan?"
"Kalau kau resmi bergabung maka setiap rancanganmu milik perusahaan. Kau hanya dapat bonus bila rancanganmu diterima di pasaran."
Gina menghela nafas. Mengapa Lucia bisa bayar dia mahal untuk satu gambar. Bila dibanding dengan gaji segitu sangat jauh beda. Dia hanya dapat lima puluh juta sebulan itupun kerja rangkap. Sedangkan Lucia berani bayar gambarnya dengan harga segitu. Lebih baik Gina tunda dulu sampai dia dapat bayaran setimpal untuk setiap rancangannya.
"Pak...apa nilai sketsa aku tak ada harga? Masa cuma segitu bayaran? Setiap karyaku diharga tinggi lho!"
__ADS_1
"Oh??? Emang kamu sudah hasilkan karya apa? Apa sudah tembus pasaran internasional? Kalau sudah ada ku gaji kamu dua ratus juta sebulan."
"Dua ratus juta sebulan? Bapak tak boleh ingkar janji lho! Kalau aku bisa buktikan aku bisa dua ratus juta?" tanya Gina pelan. Dengar kata dia ratus juta semangat juang Gina kontan berkobar.
Dengan uang segitu dia bisa bayar Pak Haji hingga lunas dalam tempo dua bulan. Selanjutnya mereka sudah terbebas dari hutang. Hidup akan lebih lega tanpa ingat hutang rumah lagi.
"Silahkan tunjukkan karya internasional kamu!" Kevin mau tahu sampai kebohongan Gina ngaku punya jam terbang internasional. Dari semua aspek Gina tak mungkin masuk kategori orang punya nama beken.
Gina menutup mata harus bongkar sebagian rahasianya demi dua ratus juta. Kesempatan bagus ini mana mungkin ada dua kali. Dia harus dapatkan uang itu demi rumah impian ibunya.
Kevin menanti aksi Gina membuka bukti kalau dia punya jam terbang tinggi. Kevin juga tak berharap Gina berbohong hanya untuk uang yang dia tawarkan.
"Boleh pinjam laptop bapak atau ponsel pintar bapak?"
"Ini..." Kevin segera berikan ponselnya kepada Gina. Kevin tidak kuatir Gina memegang benda pribadinya karena yakin anak ini bukan orang usil.
Gina menerima benda itu lalu kutak kutik dengan jemari lincah. Tidak seperti orang gaptek tak pernah sentuh barang mahal itu.
Gina tidak segera berikan datanya kepada Kevin. Gadis itu memegang erat ponsel Kevin seperti masih ragu ungkap jati diri. Sebenarnya ini sangat beresiko buka jati di tengah jalan.
"Pak...aku punya satu permintaan."
"Apa?"
"Bapak tak boleh katakan pada siapapun tentang aku! Aku tak nyaman bila buka pekerjaan sampingku ini. Cukup bapak saja tahu."
"Kau ada masalah sampai harus main rahasia?"
"Bukan...aku tak mau hidupku jadi ribet jadi pusat perhatian."
"Cuma itu? Apa bukan karena kamu ada masalah?"
"Masalah apa? Aku tak mau jual nama cari makan."
"Ok aku janji bila tak ada rahasia memalukan."
"Terima kasih." Gina baru tenang berikan ponsel gambar tentang profilnya sebagai pemenang kedua perlombaan tahun lalu di Perancis. Tidak jadi juara pertama namun berhasil sebagai kedua.
Sebagai perancang muda ini termasuk satu prestasi membanggakan. Seorang anak Indonesia sukses merambah ke jenjang internasional termasuk mengharumkan nama negara.
Kevin terpana melihat sosok ringkih berdiri di atas panggung bersama perancang kenamaan dunia. Anak kecil itu memegang plakat berwarna silver. Kevin belum percaya kalau orang bengal di depan sama dengan orang dalam ponselnya. Berkali Kevin lihat tetap sama. Itu memang Gina.
"Kau hebat mengapa menutup diri?" tanya Kevin tak habis pikir mengapa menutup diri dari ketenaran. Gina bisa top bila memunculkan sosok aslinya. Pundi-pundi emas pasti akan mengalir seperti kran air terbuka.
"Aku punya alasan sendiri tak mau buka jati diri. Ada waktunya aku berdiri di atas kakiku. Tapi bukan sekarang." ujar Gina tegas. Mata Gina mengeluarkan cahaya tajam ntah mengarah pada siapa. Kevin bergidik melihat pancaran mata seolah ingin membunuh orang.
"Baiklah kalau itu keputusan kamu! Sekarang aku lega tak perlu kuatir lagi kamu menjiplak karya orang. Gambar yang kau lombakan dulu susah kau jual hak ciptanya?"
"Tidak...itu takkan kujual karena itu adalah kenangan aku mencapai prestasi puncak."
__ADS_1
"Bolehkah kulihat karyamu itu? Aku hanya ingin lihat karya apa mengantar mu menjadi pemenang?"
Gina mengangguk lalu meraih laptop Kevin. Gina buka laptop dengan email Gina sendiri. Ada sebagian data tersimpan dalam file yang dia save di emailnya.