
Gina balik ke dalam gedung kantor sambil menenteng tas dari Pak Julio. Gina tak tahu apa isinya namun ada rasa haru menyelimuti hati. Ternyata beginilah rasanya punya keluarga yang menyayangi mereka. Selama ini mereka berdiri di atas kaki sendiri tanpa bantuan orang lain. Mendadak muncul seseorang memberi perhatian lebih membuat Gina tak bisa menyampingkan rasa senang juga haru.
Sesampai di meja kerjanya Gina hubungi Gani untuk jemput sarapan hadiah dari Pak Julio. Gina belum bercerita kepada Gani tentang munculnya saudara kembar Ibu mereka. Semalam mereka disibukkan oleh tugas Gani dan juga pekerjaan Gina sendiri.
Gani tentu saja dengan senang hati terima hadiah apalagi menyangkut isi perut. Rugi kalau menolak pemberian dari orang budiman.
Gani nampak sangat ceria menemui adiknya di lantai tempat kerja Peter dan Kevin. Pekerjaan kantornya telah diselesaikan oleh Gina maka tak ada rasa khawatir dalam hati Gani lagi. Sejauh dia memeriksa semua tak ada masalah. Ini menunjukkan kualitas Gina sebagai seorang karyawan multi fungsi. Di manapun Gina ditempatkan tak akan menimbulkan persoalan.
Gani senyam-senyum menemui Gina. Wajah Gani yang semalam kusut kini telah kembali kinclong. Raut wajah itu telah kembali normal seperti biasanya.
"Selamat pagi adekku sayang! Makanan apa kau bawa untuk abangmu yang ganteng ini?" Gani langsung berdiri di belakang Gina perhatikan isi laptop adiknya. Gani mau tahu tugas apa sedang dikerjakan oleh dara cantik itu.
"Emang ada bebek ganteng?" ejek Gina bikin Gani manyun.
"Dasar Adek monster! Pantang lihat abangnya senang! Mau ngasih apa?" Gani pasang muka jutek tersinggung pagi-pagi sudah diejek bebek.
Gina menyerahkan satu tas berisi makanan. Sebelumnya Gina sudah sisihkan bagiannya. Satu kotak makanan dalam wadah tertutup rapi dan satu gelas susu coklat dalam botol kemasan rapi.
Gani memeriksa isi tas yang diberikan Gina ingin tahu apa yang diberikan oleh Gina padanya. Soal baik hati Gani tak ragu adiknya itu cukup baik namun beri makanan jarang sekali terjadi.
Gani mengeluarkan kotak makanan khusus untuk anak sekolahan. Bentuknya unik menyenangkan anak kecil. Dari bentuknya saja sudah dipastikan orang yang beri makanan anggap mereka anak kecil.
Gani buka penutup kotak makanan itu lantas tertawa terbahak-bahak karena penataan isi kotak. Persis suguhan untuk anak SD. Ada roti sandwich berisi daging bakar dan keju. Ada telor dadar dibentuk wajah boneka serta nugget goreng. Ada pula saos sambal. Ditambah sebotol susu coklat. Gani melongo bingung kok mendadak Gina hilang akal sehat beri dia bekal untuk anak sekolahan.
Gani menyentuh dahi Gina takut adiknya itu terserang virus membuat orang menjadi anak kecil. Tiada badai tiada angin Gina memberi dia makanan khusus untuk anak sekolahan. Gani mulai bertanya-tanya apa Gina sudah hilang akal sehat?
Pas waktu itu lewat bos kedua saudara kembar itu. Mata Peter dan Kevin ikut melirik kotak makanan yang tergeletak di meja. Kedua lelaki ini mengerjit alis takjub melihat cara penataan makanan yang mirip untuk anak-anak sekolah SD. Kalau dilihat dari tas yang diberikan oleh Pak Julio itu merupakan bawa makanan yang dibawa oleh lelaki itu.
Giliran Peter dan Kevin bertanya-tanya apa Pak Julio menganggap kedua orang ini adalah anak kecil yang masih duduk di bangku SD. Ini berarti Pak Julio menganggap keduanya masih kecil. Kalau Pak Julio menganggap mereka masih anak kecil mana mungkin pak Julio mau melakukan hak tak terpuji dengan Gina.
"Makanan siapa ini?" tanya Kevin mau ketawa tapi ditahan takut menyinggung perasaan Gina. Gina itu tak bisa diajak bercanda bila mood-nya tidak dalam kondisi stabil.
Gani penunjuk ke arah muka Gina yang terdiam seribu bahasa. Gina sendiri tidak menyangka kalau Pak Julio akan memberi mereka sarapan layak anak kecil. Dalam pemikiran Pak Julio Gani dan Gina sama saja dengan anak-anaknya. Makanan yang diberikan pasti persis yang diberikan kepada kedua anaknya itu.
"Mau masuk sekolah TK?" olok Peter tak bisa tahan mulut. Lelaki ini sangat geli melihat kedua saudara kembar itu seperti orang linglung mendapat sarapan khusus untuk anak kecil. Sungguh pagi yang sangat menggelikan buat kedua pembesar perusahaan itu.
Rasa kesal yang bercokol di hati Kevin perlahan mulai memuai karena menyadari Pak Julio tidak melakukan hal tak senonoh dengan Gina. Lelaki itu justru menganggap Gina dan Gani adalah anak kecil yang harus disayangi.
"Itu hadiah dari Pak Julio." lirih Gina agak malu ketahuan diberi bekal anak kecil.
"Oh.. Pak Julio itu baik ya! Saking baiknya sampai rela mengantar makan pagi untuk kalian berdua. Jarang-jarang loh Pak Julio bersedia dekat dengan bawahan! Kalau dia begitu tulus mengantar makanan buat kalian berarti kalian memiliki kelebihan di matanya. Kalian berdua harus lebih giat lagi agar penilaian Pak Julio tidak salah tempat." ujar Peter menguatkan mental Gani dan Gina untuk lebih giat lagi agar mendapat pengakuan dari perusahaan.
__ADS_1
"Ya pak. Aku permisi dulu." Gani memasukkan lagi bekal sarapan ke dalam tas lalu membawanya pergi. Tak enak terlalu lama berada di tempat yang bukan tempat dia akan bertugas. Jam kerja begini pegawai dilarang keliaran di divisi yang bukan tempatnya bekerja. Sebelum ditegur lebih baik Gani tahu diri angkat kaki dari lantai ruang kerja Kevin.
Sepeninggalan Gani, Kevin berpaling menatap wajah Gina. Tatapan Kevin tajam menusuk hati membuat Gina pilih menunduk. Ntah apa lagi akan dikatakan oleh bos judes itu. Doyan amat cari kesalahan orang lain. Gina malah berdoa semoga Kevin pecat dia.
"Kau ini punya penyakit alzheimer ya?" tegur Kevin bikin Gina melongo. Badai apa serang otak Kevin sampai diagnosa Gina mengidap penyakit pikun.
"Emang aku sudah uzur?" balas Gina sengit.
"Kau janji apa semalam? Mau temani aku ke dokter kan?" semprot Kevin membuka pikiran Gina kalau dia memang telah janji ikut Kevin ke dokter. Gina ingkar janji lagi.
"Maaf pak! Aku lupa...bukankah sudah kubilang bapak harus telepon aku. Pekerjaan aku sangat banyak jadi aku lupa." Gina ngaku salah lupa pada janji sendiri.
Peter pilih hindari kancah perang yang pasti panas. Peter tak tega lihat Gina pasti akan diserang Kevin sampai seluruh rambut di tubuh rontok semua. Kalau lagi kalap mulut Kevin mirip mulut emak kalah arisan. Ngoceh tak ada titik koma. Peter ngeloyor pergi secara diam-diam tinggalkan bos dan anak buah yang akan perang mulut.
"Kau bisa apa? Sudah berapa kali ingkar janji? Apa ini contoh pegawai kantoran?"
"Aku tak berbakat jadi pegawai. Aku ini orang kasar tak tahu adat dan sopan santun. Kurasa bapak lebih baik pecat aku!" ujar Gina dengan mulus. Dalam hati Gina berdoa semoga Kevin terpancing mau pecat dia. Andai Kevin pecat dia berarti Gani takkan kena imbas bisa lanjut kerja di situ. Gina memikirkan nasib saudaranya itu.
"Kau pingin sekali terbebas dari kantor? Kau harus bayar denda seribu kali lipat. Kau sudah teken kontrak kerja sampai proyek pak Julio kelar. Kau jangan lupa itu!" ancam Kevin tak berdaya punya pegawai mentalnya sekeras baja. Hanya dengan mengancam Kevin baru bisa menahan langkah anak gadis itu.
"Ok...berapa harus dibayar?" tantang Gina tak mau kalah gertak. Gina tak mau bangkit dari tempat duduknya walaupun sedang bertengkar dengan Kevin. Makin cepat dipecat makin bagus.
Kevin tersenyum lihat semangat Gina melawannya. Gadis pemberani yang tak pernah dia jumpai selama ini. Kevin angkat topi pada keberanian Gina menantang majikan.
"What? Sepuluh juta gaji aku? Dikali seribu jadi sepuluh milyar. Kayaknya gaji Gani tidak sebesar itu." gumam Gina masih surprise dapat gaji selangit. Gina duduk tak bisa berkutik kena ancaman Kevin.
Demi mengikat Gina untuk berada di samping Kevin sampai rela rogoh kocek untuk bayar gadis itu lebih mahal dari Gani. Gani yang duluan kerja gaji ya tak sebanyak itu. Mau apa bosnya itu.
Tadinya Gina pikir bisa bayar denda sejuta dua juta supaya cepat keluar dari cengkraman Kevin. Siapa sangka laki itu punya cara lain ikat Gina sampai tak bisa bergerak.
"Sialan.." desis Gina memaki diri sendiri kalah perhitungan dari Kevin. Biasa dia cukup licik ternyata yang lebih licik darinya.
Rencana keluar dari kantor Kevin pupus sudah. Dia harus bersabar menunggu proses proyek berjalan sampai setengah jalan baru diijinkan resign. Hitung-hitung latih kesabaran Gina hadapi cobaan hidup.
Baru saja Gina pusatkan perhatian pada pekerjaan terdengar bunyi telepon genggamnya. Sambil mendesah gadis ini keluarkan benda keramat penghubung dunia ini.
Wajah Gina muram setelah lihat siapa yang telepon. Baru saja ajak tengkar sekarang telepon. Tak bosannya laki itu usik ketenangan Gina.
"Halo...ada apa?"
" Bersiap kita akan jumpai dokter pagi ini. Bu dokter sudah jadwal kita akan jumpai dia pagi ini."
__ADS_1
"Gimana pekerjaanku pak? Bapak tahu aku tak bisa lembur."
"Aku tahu...aku takkan tegur kamu bila tak selesai kerja. Yang penting Bu dokter sudah tunggu kita. Kau akan jadi supir aku!"
Mood Gina sedang tak baik malas berdebat pilih siaga saja. Toh Kevin tak berniat jahat padanya. Dia sudah janji akan bantu Kevin cari kesembuhan agar hidup normal. Gina berharap tambah pahala hidup bantu sesama manusia walaupun Kevin bukan orang ramah. Membantu orang tak perlu lihat latar belakang orang itu. Cuman butuh ketulusan.
Kevin keluar dari ruangan tanpa bawa tas kerja. Jelas sekali pagi ini Kevin bukan pergi bahas proyek. Pegawai lain pasti sedang menduga bos mereka akan ke mana dengan asisten cantiknya. Baru pertama kali mereka lihat bos mereka bawa anak gadis walaupun itu hanya asisten. Para cewek tentu berharap gantiin posisi Gina sebagai asisten Kevin. Asisten siaga dua puluh empat jam. Ke mana dibawa tak jadi soal.
Sayang Kevin hanya inginkan Gina gadis pertama tak buat dia kumat penyakit alergi. Kevin sengaja bawa Gina ke dokter untuk dianalisa mengapa Kevin bisa dekat dengan Gina tanpa kumat penyakitnya. Bu dokter ingin jumpa Gina mau lihat apa keistimewaan gadis itu.
Kevin berjalan duluan di depan sedangkan Gina berjalan di belakang dengan langkah tanpa daya. Ibarat robot hidup belum kena cas batere. Masih lowbat. Ratusan pasang mata melirik ke arah pasangan beda status ini. Ada yang iri dan dengki, ada yang cuma keheranan bos mereka akhirnya pakai asisten cewek.
Gina diberi kunci mobil agar bawa mobil ke hadapan Kevin. Kevin mana mau capek jalan ke pelataran parkir naik ke mobil. Orang kaya memang banyak gayanya. Belagu sok penting padahal sama juga insan ciptaan Tuhan. Hanya diberi kemudahan rezeki sehingga kaya.
Gina hentikan mobil di depan pintu besar kantor lalu klakson agar Kevin segera masuk ke dalam mobil. Kevin menghela nafas jengkel pada asisten sombong ini. Biasa kalau Kevin bepergian supirnya akan bukakan pintu mobil buat bos. Ini bentuk penghargaan pada majikan.
Asisten satu ini persis monster paling ditakuti Gani. Dingin kaku seperti tiang bendera di kantor. Di sejajarkan pasti akan sama tegaknya. Memberi kesan kokoh dan kaku.
Kevin terpaksa buka pintu mobil sendirian di jok belakang lantas duduk tak bergeming.
"Sabuk pengaman pak!" Gina ingatkan Kevin jaga keselamatan.
"Iya.." sahut Kevin datar. Kenapa tak bisa marah pada Gina walaupun anak itu tidak seimut tampangnya. Tampang Gina imut buat orang ingin lindungi dia. Siapa sangka justru dia lebih kuat dari bayangan orang.
"Ke mana kita pak?"
"Ke alamat ini!" Kevin menyodorkan kartu nama seorang dokter psikologi. Gina melirik alamat dokter itu gunakan ekor mata tanpa menerima kartu nama itu dari tangan Kevin. Bawaan Gina yang sok memang bikin Kevin gregetan. Siapa bos siapa anak buah di sini? Kok anak buah lebih galak dari majikan? Dunia sudah mau kiamat di mata Kevin. Serba terbalik.
Gina melajukan mobil dengan skill seorang supir jempolan. Gina sangat terlatih memegangi setir mobil. Bawaan gadis itu tenang seperti supir profesional.
"Kau pernah jadi supir?" banyak Kevin memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Pernah ikut truk trailer rute Jawa Tengah. Waktu itu ayah bawa truk antar propinsi. Ada setengah tahun aku ikut ayah."
"Ayah? Bukankah kamu bilang kamu tak punya ayah."
"Baru seminggu ini aku punya ayah. Ibuku baru saja menikah dengan lelaki impiannya. Otomatis lelaki itu menjadi ayah kami."
"Apakah dia pemilik bengkel tempat kamu bekerja?"
"Ya pak..dialah ayah kami. Dia lelaki terbaik pernah kutemui. Rela menunggu ibuku sampai dua puluh tahun lebih. Tak ada kisah cinta seindah itu. Kami sangat menyayangi ayah kami. Tak seorangpun bisa mengganti posisinya di dalam hati kami termasuk orang yang mengaku ayah kandung kami."
__ADS_1
Kevin berusaha menangkap makna dari perkataan Gina. Kevin tak tahu apa yang terjadi di dalam kehidupan kita sehingga dia tidak menyukai orang yang mengaku ayah kandungnya.