JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Draft


__ADS_3

Gina tidak membantah. Ini lebih baik daripada dia harus ke rumah sakit untuk periksa lagi. Gina paling malas berurusan dengan pihak rumah sakit yang bertele-tele. Sampai di sana semua akan dicek ulang lagi dan diberi setumpuk obat yang harus diminum oleh Gina. Kelewat banyak minum obat malah rambut menjadi rontok.


Kevin yang jarang bepergian dengan kaki sedikit kaku harus gunakan tenaga kaki sebagai kendaraan mencapai tempat dituju. Biasa selangkah saja gunakan kenderaan roda empat.


Keduanya berjalan beriringan melawan angin malam yang lumayan menggigit tulang. Kevin memeluk kedua tangan ke dada untuk hangatkan badan sendiri. Mau memeluk Gina takut dapat hadiah benjolan di kepala. Dia bisa memeluk Gina hanya dalam keadaan darurat saja. Kalau dia nekat memeluk Gina di saat ini pastilah akan ada perlawanan dari gadis itu. Kevin bukanlah lawan Gina dalam soal bela diri.


Keduanya berhenti di depan rumah Indy yang sepi. Lampu dalam rumah masih terang benderang tanda penghuni rumah masih belum tidur. Gina beranikan diri mengetok pintu. Siapa tahu Indy bersedia melihat lukanya di malam ini.


Hari juga belum begitu larut. Baru sekitar jam delapan di mana para emak-emak sibuk dengan sinetron tayangan di tv. Suara tv dengan aneka saluran terdengar dari setiap sudut rumah warga. Masing-masing punya channel andalan untuk menyenangkan hati.


Gayung bersambut. Ketokan pintu Gina mendapat respon dari dalam rumah Indy. Indy sendiri yang buka pintu untuk Gina dan Kevin. Dokter muda itu tak heran lihat sepasang anak manusia datang ke tempatnya malam hari. Indy sudah dengar Gina mendapat luka di tangan gara selamatkan nyawa majikan. Berita ini cepat tersebar di seluruh kampung.


"Maaf ganggu Bu Dokter! Kami datang mau minta tolong lihat luka di tangan Gina." kata Kevin dahului Gina. Kevin mau tunjukkan dia juga bisa menjaga Gina sebatas kemampuan dia.


"Oh gitu ya! Ayok masuk!" Indy bergeser ke belakang izinkan Gina dan Kevin masuk ke dalam.


"Assalamualaikum.." Gina memberi salam walaupun sudah dipersilahkan masuk.


"Waalaikumsalam..." sahut Indy selalu tuan rumah.


Kevin dan Gina pindahkan langkah ke dalam rumah langsung ke ruang tamu. Tanpa menunggu izin dari tuan rumah Gina duduk di sofa dengan santai. Kevin menggeleng melihat cara bar-bar Gina masuk ke rumah orang. Rumah orang dianggap rumah sendiri. Indy ketawa tak ambil pusing dengan tingkah Gina. Indy sudah hafal banget kelakuan temannya itu.


"Kalian duduk dulu! Aku ambil peralatan dulu ya!" Indy masuk ke dalam untuk ambil peralatan medis urus luka di tangan Gina.


Kevin baru duduk setelah dapat izin dari Indy. Beda dengan Gina yang cuek mengitari mata ke sekeliling ruangan rumah Indy. Masih sama seperti dulu tak ada perubahan. Indy bukan dokter spesialis maka tak bisa mematok biaya pengobatan lebih tinggi. Sekedar uang pengganti obat bagi penduduk kampung yang berobat. Menjadi dokter di daerah menengah ke bawah memang tak bisa cari rezeki sebanyak-banyaknya.


Indy harus ikhlas dengan rezeki seadanya. Bahkan kadang tak dibayar bila penduduk yang berobat berasal dari keluarga miskin. Indy tak masalahkan semua itu asal semua sehat dia sudah puas.


Indy balik dengan peralatan medis di atas nampan. Semua lengkap di situ untu ganti perban Gina yang sudah lusuh. Bagi Indy sahabat kecilnya itu barang langka. Tahan banting tak kenal takut.


"Mari tangannya! Semoga saja tidak infeksi." Indy mulai bekerja membersihkan luka Gina. Pertama-tama membuka perban dengan gunting. Indy membuang semua perban kotor yang tampak jorok akibat tak pernah diganti. Beruntung lukanya sudah mengering tinggal buka benang jahitan. Dalam dua hari lagi benang jahitan sudah bisa dibuka. Yang tinggal hanya bekas luka jelek di tangan. Sekarang saja sudah cukup jelek seperti kelabang nempel di lengan gadis itu.


"Dua tiga hari lagi kau bisa ke rumah sakit buka jahitan benang! Jangan kena air dulu ya biar kering sempurna!"


"Kalau gitu aku mandi pasir saja! Tak usah kena air!"


Indy memukul kepala Gina gunakan gulungan perban yang akan dibalutkan ke tangan gadis itu. Indy gemas pada jawaban Gina yang menentang nasehat dokter.


"Kenapa tak mandi bola saja di tempat hiburan anak-anak? Dinasehati malah ngeyel! Kau ini cewek nona Gina! Sudah berapa banyak luka di tubuh kamu! Laki mana suka gadis bertatto luka? Mau jadi PT?"

__ADS_1


"Rencana...jadi dokter tak usah cerewet! Obati luka aku saja!"


"Ishhh...kamu ini! Pantas tak laku-laku!"


"Emang kamu sudah laku? Dokter saja ngak laku apalagi aku ini montir. Lebih tak laku..."


"Aku sudah tunangan lho nona Rambo! Tahun depan mau nikah!"


"Tunangan tapi jauh di mata! Sudah direbut monyet betina kali!"


Indy makin gemas didoain jelek oleh Gina. Kevin takjub pada sikap cuek Gina. Sama dokter saja dia tak ada rasa segan. Seenak dengkul ngatain tunangan teman diembat sama monyet. Emang ada ada monyet doyan manusia?


Indy membalut luka Gina setelah bubuhi salep. Ngomong sama Gina butuh pelatihan kesabaran penuh. Kalau tak sabar bisa berantem sama gadis itu. Indy sudah terbiasa saling ejekan dengan Gina tak ambil hati lagi omongan Gina.


"Sudah...pulang sana! Bikin rusuh saja!" Indy menyudahi tugas ke ini lantas mengusir Gina dari rumahnya.


"Maaf Bu dokter! Berapa biayanya?" Kevin tahu diri segera tampil sebagai pahlawan mau bayarin biaya berobat Gina. Gina terluka karena dia maka dia wajib tanggung jawab semua biaya pengobatan.


"Tak usah pak! Kami sudah seperti keluarga! Masak sama adik sendiri minta bayaran. Lanjut minum obat biar cepat sembuh! Jaga dia jangan kayak cacing kena minyak tanah!"


Kevin makin mengerti kalau daerah ini penuh rasa kekeluargaan dan kehangatan. Tidak kaya harta tapi kaya kasih sayang. Kevin makin paham walau Gina menyebalkan namun disayangi oleh warga.


"Sudah biasa begini! Jangan panggil Bu dokter! Panggil Indy saja! Kalau bapak tinggal bersama Gina berarti keluarga aku juga!"


"Iya.. terima kasih!"


Gina dan Kevin pamitan. Indy melambai dibarengi senyum manis agar malam ini Kevin mendapat kenangan manis jumpa dokter muda. Indy tidak secantik Gina namun punya pesona sendiri. Semua wanita pasti cantik di usia muda. Kecantikan itu tak abadi. Semuanya akan luntur dimakan waktu. Secantik apapun cewek tetap akan keriput di usia senja.


Gina dan Kevin berjalan pulang ke rumah. Suasana rumah sudah sepi. Tampaknya semua telah kembali ke kamar masing-masing. Om Sabri dan Bu Sarah pasti sedang sibuk membicarakan masalah bayi mereka. Gani bebek juga tak tampak batang hidung. Mungkin sudah masuk kamar mengerjakan tugas kantor yang dia bawa pulang kerja di rumah.


Kevin pamitan masuk kamar sedangkan Gina masih duduk di ruang tamu tekuni laptop yang sudah dia bawa dari kamar. Kamarnya sekarang telah ditempati oleh Kevin maka barangnya satu persatu pindah ke kamar Gani. Kamar Gani sesak oleh barang dua orang. Terus terang sejak Gina invasi ke kamar Gani kondisi kamar itu tak senyaman dulu. Kini mulai terlihat berantakan gara Gina kurang rapi.


Satu malam lagi berlalu tenang. Kevin mulai nyaman di rumah Gina. Dia sangat tenang di sini bisa tidur tanpa bantuan obat tidur. Biasa di harus konsumsi obat tidur baru bisa menaymbut mimpi. Kini kondisinya telah jauh beda. Semua berangsur baik. Kevin berharap dia bisa pulih hidup normal sebagaimana manusia lain. Tak perlu sesak bila jumpa wanita. Gina adalah kunci keberhasilan Kevin.


Gani dan Gina tak perlu bangun pagi direpotkan oleh tugas dapur. Bu Sarah secara resmi hentikan kegiatan buka warung karena dilarang oleh Om Sabri. Om Sabri tak mau ambil resiko kehilangan anak gara-gara mencari rezeki lebih. Dia masih sanggup kasih makan anak isteri walaupun hanya sebagai pemilik bengkel. Bu Sarah harus istirahat total sampai waktu melahirkan.


Om Sabri bahkan membawa isterinya ke bengkel agar bisa awasi semua gerak gerik Bu Sarah. Om Sabri takut Bu Sarah nakal tak mau duduk tenang di rumah. Jalan terbaik adalah bawa wanitanya ke tempat dia mencari rezeki. Bu Sarah dasarnya tak suka membantah pilih ikuti saran suami demi kedamaian dalam rumah tangga. Keduanya saling mengisi sehingga keadaan rumah tangga adem ayem.


Gina dan Kevin berangkat ke kantor di antar oleh Jay. Mereka ke rumah Kevin dulu jemput Hadi si tukang insinyur yang bakal sambut kerja Peter. Kevin menaruh harapan besar kepada orang yang direkom Gina. Semoga ke depan perusahaannya makin membaik dibantu oleh orang jujur macam Gina. Mereka mengaku preman tapi berhati mulia. Sudah ada berapa orang begitu?

__ADS_1


Kevin sedang berpikir apa supirnya Jay juga termasuk sarjana atau memang seorang montir bengkel biasa. Dari gaya Jay termasuk orang terpelajar. Bukan preman pasaran tak berpendidikan. Semua tindak tanduk anak itu mencerminkan orang pernah mengenyam bangku pendidikan. Tapi Kevin tak mau banyak pikiran. Biarlah Gina yang atur semuanya. Lama-lama Gina yang jadi bos gantiin Kevin ambil keputusan. Kevin terlalu lemah menjadi seorang pemimpin. Gina tak tahu bagaimana Kevin memimpin perusahaan sampai sebesar ini.


Setelah jemput Hadi mereka langsung ke kantor. Kevin kembali dikawal oleh tiga pengawal keren. Yang paling keren tentu saja Gina yang mulai tampak lebih feminim. Tak ada wajah sangar tak bersahabat. Naruto dan Kupret duluan datang sudah duduk di ruang tunggu untuk tamu Ayng ingin jumpa bos atau pegawai lain. Kedua laki itu segera bangun sambut calon bos besar mereka. Mereka tentu saja berharap bisa bekerja di kantor yang tampak bonafide ini ketimbang jadi montir di bengkel. Ilmu mereka akan terpakai di tempat tepat.


"Selamat pagi pak!" sapa Naruto lebih pintar ambil hati daripada Kupret.


"Kita ke atas dulu! Urusan pekerjaan kalian kuserahkan pada asisten aku! Dia akan atur kalian kerja di mana!" ujar Kevin menunjuk Gina gunakan mulut.


"Aku juga boleh lamar kerja pak? Aku ini lulusan IT lho!" Jay langsung ajukan diri begitu dengar para rekannya akan direkrut masuk perusahaan.


Kevin pusing dengar para preman ini semuanya sarjana. Sarjana kok jadi preman buangan. Apa selama ini mereka tak melamar di kantor sampai rela lupakan ilmu jadi montir dan preman.


"Kalian diskusi dengan Gina saja! Naruto dan Hadi ikut aku! Kalian dua harus pelajari semua gambaran proyek kita kali ini. Aku mau tahu pendapat kalian!"


"Siap pak!" seru keempat pemuda itu semangat. Keempat pemuda itu beri senyum termanis pada Gina agar hati wanita itu luluh mau terima mereka. Nama mereka akan melambung bila kerja di kantoran. Tak perlu berkutat dengan segala bau oli kotor serta puluhan peralatan bengkel.


Gina mendengus jual mahal tak mau terima senyum tak tulus dari rekanan dia. Senyum manis karena ada maunya. Kalau tidak selalu ngatain dia preman kejam, monster maupun nona Rambo. Giliran minta kerja jadi manis. Gina takkan termakan senyum manis yang bisa bikin dia diabetes.


Kevin sudah duluan melangkah ke depan menuju ke lift tak peduli kelima anak muda itu saling mengejek gunakan bahasa bibir. Mulut Gina maju dua senti cibiri rekannya. Gina senang bisa di atas angin kerjain para preman insaf itu. Puas sekali bisa pecundangi rekannya itu.


Hadi dan Naruto langsung dibawa masuk ke ruang kerja Kevin untuk lihat rencana pembangunan jalan di kota M. Kevin mau tahu sampai di mana kemampuan anak-anak itu sebelum betulan di rekrut masuk perusahaan. Di tempat kerja Gina sedang pertimbangkan pekerjaan untuk Kupret dan Jay. Gina merasa Kupret tak cocok kerja di perusahaan Kevin karena jurusan anak itu lebih cocok berada di tempat pak Julio. Jay dibutuhkan setiap saat karena ilmu anak itu bisa ditempatkan di mana saja. Gina masih harus diskusi dengan Kevin soal penempatan Jay. Gina akan rekom Kupret pada pak Julio agar pamannya punya orang kepercayaan.


Jay dan Kupret menanti Gina buka mulut akan ditendang atau diterima di kantor ini. Keduanya menanti dengan was-was takut dikerjain oleh gadis ini. Akal bulus Gina sudah top di kalangan mereka. Suka jahili teman.


"Ssstt..Gin...kau sakit gigi?" tanya Jay pelan.


"Kalau iya kenapa? Aku miskin tak punya uang beli odol maka sakit gigi! Mau sumbang gaji pertama kamu buat aku beli odol gigi?"


Jay nyengir. Baru kerja berapa hari sudah sebut gaji. Gajinya berapa saja dia tak tanya. Masak gaji pertama harus disumbangkan kepada gadis bengal ini.


"Anggap aku tak pernah bicara!" Jay balik badan tak mau lihat Gina lagi. Kupret tertawa pahit merasakan aura negatif sedang melingkupinya. Jay yang sudah diterima kerja saja sempat juga dikerjain gadis ini apalagi dia yang harus di mulai dari nol.


"Aku OB saja ya!" Kupret merendah supaya Gina iba hati.


"Mau???? Ada lowongan ke sana kok! Kupret jadi OB dan Jay jadi cs ya?"


"Tega amat lhu ya! Dari supir pribadi jatuh ke cs. Kenapa tak tendang aku jadi pemulung saja." rengut Jay cemberut.


❤️❤️ TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM❤️❤️ SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 2023. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. SEMOGA KITA MENJADI ORANG-ORANG YANG KEMBALI KE FITRAH DAN MERAIH KEMENANGAN.

__ADS_1


TERIMAKASIH SUDAH MENJADI PEMBACA CERITAKU YANG SETIA. DI HARI FITRI INI DENGAN SEGALA KERENDAHAN HATI AKU MOHON MAAF BILA ADA KATA DAN KALIMAT TAK BERKENAN DI HATI PEMBACA. SEMUA PEMBACA ADALAH PEMBERI SEMANGAT BUATKU UNTUK TUMBUH JADI PENULIS BAIK. SEORANG PENULIS TAK ADA NILAI TANPA PEMBACA. TETAP DUKUNG YA. LOVE U ALL. ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2