
Gina tak menyangka secara diam-diam Gani menyimpan dendam kepada Subrata juga. Selama ini Gani memberi kesan cuek terhadap masalah Subrata. Di balik diamnya Gani ternyata menyimpan dendam yang tidak kalah besar dengan dendam dia. Entah Gina harus bersedih atau bergembira mendapat teman sehati berperang dengan Subrata.
"Kau mau pergi melihat dia?"
"Lihat saja nanti! Oya... kenapa pula kak Kevin?"
Di pelupuk mata Gina masih terbayang gimana Lucia bersikeras peluk Kevin sampai laki itu kumat. Lucia samasekali tak mengenal Kevin walau sudah lama bekerjasama.
"Tadi Lucia ngamuk langsung peluk Kevin. Kau tahu dia alergi wanita. Ya langsung kumat. Sekarang sudah tidur."
"Baiklah! Aku akan handel kantor. Biar dia istirahat."
"Iya...pulang kantor jangan ke mana-mana ya! Pulang rumah."
"Iya Bu Monster...aku akan cepat pulang untuk belajar nyetir. Jay mau ajar aku."
"Biar aku yang ajar! Pasti cepat pinter."
"Tak usah... terimakasih! Aku bukan kucing punya nyawa rangkap. Bisa putus leher aku bila kamu tutornya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..." Gina tersenyum melihat Gani cepat-cepat tutup telepon ogah bahas belajar nyetir sama Gina. Gina bukan guru yang ramah sabar hadapi murid bebal macam Gani. Diajar nyetir malah tabrak pagar rumah orang. Untunglah mobil yang dipakai adalah mobil Om Sabri sehingga tidak ada yang menuntut dia membayar kerusakan mobil. Namun mereka tetap harus bayar pagar rumah orang. Ini adalah hasil karya Gani manusia jadian itu.
Gina kembali berkutat dengan kesunyian. Betapa galau Gina hadapi situasi demikian. Di satu sisi muncul rasa kemanusiaan Gina tapi di sisi lain dia balut luka di hati dengan dendam membara. Sudah puaskan dia telah jatuhkan Subrata dan hancurkan keluarga itu. Bicara soal dendam tak ada yang selesai. Gina dendam pada keluarga Subrata dan terbalaskan. Sekarang Lucia dan Angela pula yang dendam pada Gina. Sampai kapan dendam ini akan berlanjut. Gina sendiri tak bisa jawab.
Di rumah sakit Angela mencari tahu tentang Subrata. Wanita ini mencari jejak Subrata di bagian informasi. Angela sudah siapkan sejuta alasan untuk hindari hujatan suami dan anaknya. Angela bukannya tidak takut akan dicerai oleh Subrata. Dia akan ke mana bila dicerai oleh Subrata di usia mulai senja. Mau jajakan diri sudah pasti tak laku. Siapa mau main sama nenek tua walau masih cantik. Mungkin gratisan ada laki kere mau coba sejumput daging kadaluwarsa.
Berbekal informasi dari penjaga rumah sakit Angela segera mencari kamar yang ditempati oleh Subrata. Walau langkah Angela terasa berat untuk menemui suaminya tetapi dia tetap harus melakukannya. Apapun resiko Angela tetap harus maju temui Subrata dan Lucia.
Mata Angela menangkap sosok Lucia sedang termenung sendirian di luar kamar rawat Subrata. Anaknya itu tampak kuyu tak berseri. Sangat berbeda dengan Lucia hari biasanya. Tak ada cahaya terpancar di wajah cantik itu. Hanya ada mendung tebal bergelantungan di wajah anaknya.
"Cia.." Angela beranikan diri memanggil anaknya. Yang dipanggil angkat kepala sedetik lalu buang pandangan ke arah lain berlawanan dengan tempat Angela berdiri. Lucia belum bisa terima kalau mamanya tega khianati papanya yang sedang hadapi masalah perusahaan. Manusia model apa Angela ini. Suami sedang kesusahan dia bersenang-senang dengan laki lain.
Angela menelan ludah terasa sangat pahit dicueki anak sendiri. Ada rasa sakit hati menyelinap dala relung dada namun itu adalah harga yang harus di bayar oleh Angela. Semua ada sebab akibat. Tak mungkin juga Lucia marah tanpa alasan.
"Sayang mama..gimana kondisi papa?" tanya Angela pelan masih jaga jarak dari Lucia. Angela takut Lucia akan bertindak bodoh menyerang dirinya dalam kondisi stress berat.
"Tak perlu tahu...bukankah lebih bahagia jual diri pada lelaki muda? Masih punya rasa malu tidak? Pantas Gina pandang rendah kepada mama. Mama itu memang wanita hancur."
__ADS_1
Hati Angela mencelos dihina oleh anak kandung sendiri. Andai Gina yang keluarkan kalimat itu mungkin Angela takkan begitu sakit hati.
"Cia...mama di jebak orang. Mama tidak bermaksud khianati papa kamu. Demi Tuhan mama sayang pada kamu dan papa."
Lucia mendengus sinis anggap perkataan Angela hanyalah bunyi kentut yang bau sekejap saja. Begitu ditiup angin semuanya hilang. Lucia anggap kentut bau busuk karena Angela tak pantas di samakan dengan sesuatu yang indah.
"Kata sayang yang terlambat. Cia tak tahu sudah berapa lama mama khianati papa. Papa sudah korban banyak hal untuk mama tapi apa balasan mama? Papa meninggalkan keluarganya demi hidup bersama mama tapi balasan apa yang telah Mama berikan kepada papa?" tanya Lucia dengan tatapan mata berapi-api.
Glek..Angela menelan ludah lagi tak bisa menjawab perkataan Lucia dengan mulus. Angela tak boleh salah bicara karena ini menyangkut masa depan dirinya dan Lucia. Saat ini Lucia sedang terbakar api amarah sehingga mengeluarkan kata-kata tidak sedap terhadap mamanya. Angela tidak bisa menyalahkan Lucia yang sedang dibakar oleh api amarah.
"Cia...mama tidak begitu. Sumpah..."
Lucia membulatkan mata dalam posisi sempurna sehingga tampak mengerikan. Angela makin terpojok mengira Lucia sudah tahu sepak terjangnya selama ini. Suka bersenang-senang dengan berondong muda untuk bawa dia berlayar dalam lautan kenikmatan sesaat.
"Hebat...berani sumpah! Apa tidak takut termakan sumpah?"
"Cia...aku ini mama kamu! Ayok kita jumpa papa! Tak usah bahas masalah ini dulu sampai papa kamu sehat. Kasihan papa kamu bilang harus lama berada di rumah sakit." Angela berusaha mengalihkan pembicaraan agar Lucia melunak mengajaknya menemui Subrata.
Biasanya Lucia akan patuh bila Angela sudah berkata dengan lembut. Namun kali ini Lucia tidak bergeming walaupun Angela telah berusaha menarik simpati anaknya. Hati Lucia terlanjur sakit hati oleh perbuatan mamanya.
"Cia...kamu jangan kurang ajar pada mama ya! Mama sudah bilang jangan lagi membahas masalah ini. Ini urusan mama dan papa kamu. Bukan hak kamu protes mama."
Lucia tertawa sumbang sambil angkat langit ke atas tanda menyerah. Lucia tak habis pikir di dalam otak mamanya berisi apa? Sudah jelas bersalah masih ngotot dia adalah wanita yang punya hak beri teguran pada anak.
"Silahkan masuk! Cia mau lihat seberapa jauh papa tendang mama. Cia berada di pihak papa.." Lucia beri tanda agar Angela masuk ke dalam kamar yang pintunya tertutup rapat. Lucia malas ikut masuk dengar semua pembelaan konyol mamanya. Lucia takut dia terpancing keluarkan kalimat tak sedap pojokan Angela. Lucia memang kesal namun dia belum mau jadi anak durhaka kuliahi mama sendiri. Biarlah papanya yang ambil keputusan. Apapun keputusan Subrata tetap didukung oleh Lucia.
Angela melontarkan tatapan penuh rasa kesal pada Lucia lalu masuk ke ruang rawat Subrata tanpa ketok pintu. Angela mesti pede agar jangan kalah mop dari Subrata. Angela harus maju duluan pecahkan kegagahan Subrata agar tetap tunduk padanya.
Angela tertegun melihat Subrata sedang tidur dengan wajah agak putih. Mulut lelaki itu sedikit terbuka untuk membantu pernafasan yang agak sesak. Kegagahan Subrata telah lenyap berganti satu sosok orang tua tanpa daya. Ibarat lampu pelita hampir padam tertiup badai besar.
Ada rasa sesal hadir di kisi hati Angela terbawa nafsu Angkara. Sangat wajar Lucia marah kepadanya karena lupa diri di usia yang mulai senja. Angela terlalu sombong dengan segala kekayaan yang diberikan oleh Subrata. Nilai kemanusiaan adalah telah tertutup oleh tumpukan materi sehingga tak bisa melihat kebenaran di depan mata.
Secara perlahan Angela menyeret langkahnya mendekati Subrata yang masih tertidur. Angela berhenti di samping tempat tidur sambil menatap lama wajah yang pucat pasi itu. Mungkinkah dia mendapatkan kata maaf dari Subrata yang telah terlanjur sakit hati kepadanya. Apapun cerita Angela harus berhasil meyakinkan Subrata kalau dia tidak pernah melakukan hal terlarang kendatipun dia harus menjual nama Tuhan. Angela tidak punya pilihan lain selain berbuat curang mengatas namakan Tuhan.
Angela mengelus tangan Subrata secara lembut untuk menyalurkan rasa cinta yang kadarnya sangat diragukan. Cinta sejati atau cinta materi. Hanya Angela sendiri beri jawaban tulus.
Subrata merasakan urusan tangan seseorang memaksanya untuk membuka mata. Mata yang mulai rabun itu agak sayu melihat siapa yang berdiri di sampingnya. Secara reflek Subrata menarik tangan dari sentuhan Angela. Subrata merasa sangat jijik disentuh oleh tangan yang baru saja menyentuh tubuh laki lain.
__ADS_1
Angela sangat sedih ditolak oleh Subrata tapi apa daya karena dia memang salah. Cuma Angela harus pintar sandiwara untuk perkecil kesalahan dia.
"Pa...mama datang..Mama minta maaf tak dampingi papa jumpai Gina. Kalau ada mama mungkin takkan begini." Angela melakukan serangan pertama kambing hitamkan Gina sebagai penyebab Subrata sakit.
"Pergilah! Jangan pernah datang ke sini lagi!" desah Subrata dengan suara parau mengandung lendir di kerongkongan.
"Pa...mama minta maaf egois pergi dari rumah. Mama tak bermaksud pergi selamanya. Mama cuma kesal papa tak mau atur Gina. Dia itu anak kurang ajar tak patuh pada orang tua."
"Gina anak baik patuh pada orang tua. Gina hanya patuh pada orang tua yang gimana? Bukan orang tua macam kita. Sekarang aku bebaskan kamu dari semuanya. Kamu boleh berbuat sesuka hati. Setelah aku keluar dari sini aku akan gugat cerai kamu. Kamu merdeka bisa berbuat semaunya tak perlu sembunyi-sembunyi lagi."
Wajah Angela kontan pucat. Subrata membayar lunas untu pengkhianatan Angela tanpa beri kesempatan pada wanita ini bela diri. Subrata langsung utarakan keinginan untuk bercerai dari Angela setelah melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Mimpi seribu kali Angela tak mengira kalau Subrata tega menceraikan dia di saat ini.
"Papa omong apa? Mama hanya pergi semalam dan papa sudah sakit. Bagaimana kalau mama pergi selamanya? Mama mana tega tinggalkan papa yang sedang butuh mama. Sudahlah Pa nggak usah seperti anak kecil ngambekan! Ini mama sudah datang dan minta maaf!" Angela berlagak bodoh tak ingin membahas masalah perselingkuhan dia.
Subrata buang muka ke arah lain malas melihat tampang wanita culas ini. Sudah jelas berkhianat masih saja sok alim memberi perhatian pada suami. Betapa munafiknya Angela sebagai seorang istri.
"Kau tak perlu sok penting Angela... aku sudah tahu semua kebusukan kamu. Baru saja ada telepon dari kantor kalau pihak bank beri kabar kalau kartu kredit kamu dipakai melebihi limit. Apa yang sudah kamu lakukan dengan kartu kredit itu?" tanya Subrata tanpa berpaling ke arah Angela. Subrata punggungi Angela karena sudah sangat muak kepada wanita ini.
Angela tersentak kaget tak sadar kalau kartu kreditnya ikut raib. Angela tak lihat kartu itu karena yang tersisa hanya kartu debit yang telah tercover oleh PIN. Sedangkan kartu kreditnya tidak ada kode PIN. Angela merutuk dalam hati laki muda sialan itu yang telah curi kartu kreditnya dan gunakan sampai over limit.
Kini Angela tak tahu cara bela diri lagi. Apa dia harus karang cerita bohong lagi untuk tutupi kebohongan lain. Angela benar-benar tenggelam dalam kebohongan demi kebohongan. Dia tak punya cara lain selain karang cerita bohong untuk tutupi kebusukan dia.
"Maaf pa! Kartunya sudah hilang berapa hari lalu. Mama lihat papa sangat galau maka mama tak berani lapor. Papa boleh memotong uang belanja Mama setiap bulan untuk menutupi kerugian kartu kredit itu. Mama ikhlas kok!"
"Tak ada bulan depan lagi Angela. Hari ini juga aku jatuhkan talak kepada kamu. Aku bebaskan kamu dari ikatan suami istri dan mulai detik ini kita bukan suami istri lagi. Dan apapun yang kamu lakukan bukan tanggung jawab aku lagi." tegas Subrata membuat Angela membeku tak bisa berkata-kata.
Angela tak mengira kejadian ini sangat fatal sampai Subrata tak ragu jatuhkan talak padanya. Bukan Angela namanya bila langsung terima pernyataan talak dari Subrata. Harapan yang telah dia bangun susah payah lenyap dalam satu helaan nafas Subrata. Angela tak terima dicerai oleh Subrata secara sepihak.
"Papa ayok tarik kembali omongan papa! Ini bukan canda lho! Apa kata Lucia kalau kita bercerai. Kasihan Lucia kalau tahu kita akan pisah."
"Lucia akan lebih bahagia tanpa kamu. Kau tahu apa kata orang lihat kamu jual diri di hotel? Apa kau ingat nama baik Lucia? Semua pengusaha akan tertawai aku bila tak ceraikan kamu. Sudah cukup skandal yang baru reda dan sekarang kamu tambah lagi."
"Itu fitnahan orang pa! Ini pasti ulah Gina hendak lihat kita hancur. Aku akan beti pelajaran pada anak itu."
"Jangan bawa nama orang tak bersalah! Kau hebat Angela... semalam jual diri masih berani limpahkan kesalahan pada orang lain. Di mana otak kamu? Tapi sudahlah! Sekarang kita tak ada hubungan apa-apa lagi. Kau tunggu saja panggilan dari pengadilan agama."
Angela merasa dunianya telah kiamat. Subrata sudah tak mempan dibujuk rayu seperti dulu. Apa yang telah diketahui Subrata sampai tak segan layangkan gugatan cerai. Apa pesona Angela telah luntur di hati laki itu? Angela masih berperang lawan batin sendiri. Tak disangka dalam tempo satu hari semua keindahan hidupnya lenyap.
__ADS_1