JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Pengakuan Lucia


__ADS_3

Pagi cerah ini kantor dihebohkan oleh penampilan baru Gina. Pagi ini Gina kenakan gaun pemberian Kevin. Gaun warna putih sedikit kembang bagian bawah. Rambut sengaja diuraikan oleh Gina untuk imbangi penampilan pagi ini. Cuma sayang wajah Gina tetap polos tanpa polesan bedak mahal masa kini. Namun itu tak mengurangi kecantikan alami Gina. Para cowok merasa jantungnya berdetak lebih kencang sedangkan yang cewek melontarkan pandangan iri kepada gadis ini.


Gina cuek bebek saja masuk ke ruang kerjanya seperti biasa tanpa peduli tatapan aneh dari pegawai lain. Dia datang untuk bekerja bukan mencari sensasi. Yang penting bagi Gina adalah bekerja dengan baik untuk mendapat pengakuan Kevin.


Tatkala jam berdentang ke arah pukul 09 terdengar derap sepatu yang sangat familiar bagi Gina. Itu tandanya bos perusahaan sudah datang untuk memimpin semua bawahan. Begitu melihat bayangan Kevin dan Peter sedang berjalan ke arahnya Gina segera berdiri membungkukkan badan seperti biasa.


Kevin dan Peter berhenti di depan meja Gina memperhatikan perubahan gadis ini. Peter tertawa kecil sedangkan Kevin memilih diam karena jantungnya berdetak lebih kencang. Kevin tidak bisa menampik pesona Gina sebagai seorang anak gadis yang cantik. Sekarang tinggal bagaimana Kevin interaksi lebih dekat dengan Gina untuk merasakan bagaimana reaksi tubuhnya terhadap gadis ini.


"Kau masuk ke ruang aku!" perintah Kevin tak sabar ingin menyentuh Gina yang sudah tampil utuh sebagai seorang anak gadis.


"Iya pak!" Gina segera kumpulkan file yang harus ditanda tangani oleh bosnya itu.


Kevin dan Peter duluan tinggalkan Gina. Peter masih mencoba melirik gadis yang berubah jadi bidadari nyasar. Sudah sempurna banget Gina sebagai anak gadis. Kalau diijinkan Peter siap pinang Gina dengan kata bismillah.


Gina mengetok pintu sebelum masuk sebagai tanda dia punya sopan santun. Bukan gadis bar-bar yang dituduhkan orang tak senang padanya.


"Masuk!"


Gina menyembulkan kepala barulah susul badan pindah ke dalam ruangan Kevin. Di tangan Gina memegang beberapa map berisi file kerja Kevin. Kerja setengah hari namun semua pekerjaan beres tanpa ada tersisa. Kevin harus beri point sepuluh untuk kerajinan Gina.


"Ini beberapa file harus bapak tanda tangani. Aku sudah baca semuanya tak ada kesalahan namun lebih baik bapak cek ulang. Dan lagi jadwal kerja proyek pak Julio akan segera dimulai. Pak Peter harus segera berangkat ke lokasi." Gina meletakkan semua file di atas meja Kevin lalu mematung di samping Kevin menanti perintah selanjutnya.


"Pak Julio ada hubungi aku dan bilang akan transfer setengah dana agar proyeknya cepat jalan. Besok kau berangkat ke lokasi Peter!" Kevin membuka file dari Gina memperhatikan semua file yang telah dicek oleh Gina.


"Pak Julio mau Gina ikut bergabung dalam proyek ini. Kelihatannya Gina harus ikut ke lokasi." ujar Peter kalem suka Gina bisa terjun ke proyek yang dia tangani. Dengan demikian waktunya bersama gadis ini akan lebih banyak. Pedekate akan lebih lancar bila ada kesempatan.


"Kalau kau pergi aku pasti akan makin sibuk. Tanpa bantuan Gina aku bagaimana bergerak. Gina akan bantu dari sini saja. Kau bersiaplah untuk berangkat! Kau atur bawahan mu agar handel semua pekerjaan kamu."


Peter menghela nafas. Niat Kevin terbaca olehnya. Laki itu juga ingin menahan Gina di sampingnya untuk pengobatan. Kalau sekedar untuk pengobatan mungkin tak jadi soal. Takutnya niat Kevin akan melangkah jauh. Mengikat Gina hanya sebagai kelinci percobaan untuk menyembuhkan penyakitnya. Rasa sayang Kevin hanya sebatas kebutuhan saja. Peter sungguh tak rela gadis sebaik Gina terperangkap dalam situasi tak dia inginkan. Namun apa Peter punya daya lawan bosnya itu.


"Baiklah..kita tunggu bagaimana perkembangan permintaan pak Julio." Peter memilih pergi sebelum hatinya tersimpan rasa jengkel pada Kevin.


Tubuh Peter bergerak keluar dari ruang kerja Kevin. Tinggal Gina masih di samping Kevin menunggu perintah selanjutnya. Hanya ini yang bisa dilakukan Gina sebagai bawahan Kevin


Kevin membuka layar komputer menunjukkan gambar pada Gina hasil contoh perhiasan yang sudah ditetapkan untuk diluncurkan dalam waktu dekat ini. Sebelum diluncurkan pada waktunya Kevin masih ingin minta pendapat Gina.


"Sini...kau lihat apa sudah cocok dengan isi hatimu!" Kevin menyuruh Gina melihat sekali lagi gambar yang bakal diproduksi.

__ADS_1


Gina membungkukkan badan ikutan lihat layar monitor komputer. Bau badan Gina tercium dari jarak dekat mengusik hidung Kevin. Mata Kevin mencuri pandang pada wajah gadis di sampingnya dalam jarak sangat dekat. Wajah sangat mulus tanpa noda walau agak kusam karena tanpa perawatan seperti gadis lain. Tangan Kevin ingin coba mengelus pipi Gina namun takut dianggap orang cabul maka Kevin mengurungkan niat itu.


Gina tak tahu kalau jantung Kevin sudah berdetak melebihi batas normal. Anehnya Kevin tidak merasa gugup ampun mual, dia hanya merasakan sensasi gugup dekat dengan wanita. Ada perasaan aneh menjalar dalam dada. Berbagai rasa aneh yang tak pernah Kevin rasakan. Kevin tak tak tahu itu perasaan apa.


"Sudah bagus pak! Sesuai dengan keinginan aku." kata Gina belum menyadari kalau mereka berdua sangat dekat. Perhatian Gina sepenuhnya tercurah pada gambar di layar monitor komputer Kevin.


Kevin menyadari kalau gadis di depannya bukan lelaki cantik lagi melainkan seorang gadis menarik dengan sejuta pesona. Reaksi Kevin adalah dia merasa makin suka pada Gina. Gadis keras dengan sejuta talenta.


Gina melihat Kevin tak beri reaksi atas jawabannya memalingkan wajah melihat ke arah Kevin. Begitu berpaling wajah Gina langsung bersentuhan dengan wajah Kevin. Saling menempel bikin keduanya tertegun. Keduanya membeku tak tahu harus gimana saking terpesona oleh kejadian tidak terduga ini.


Gina duluan tersadar segera mundurkan wajah ke belakang. Pipi Gina bersemu merah menahan rasa malu. Mimpi apa semalam sampai sedemikian dekat dengan laki yang masih termasuk laki asing buat Gina. Bukan hanya jantung Kevin berdegup kencang, jantung Gina juga berpacu dengan detak jam. Tak tik tok berdetak tak terkontrol.


"Aku keluar dulu pak! Kalau ada perlu bapak boleh panggil aku lagi." Gina berencana ambil langkah seribu dari ruang Kevin sebelum ketahuan grogi kena radiasi Kevin yang dahsyat.


"Eh iya..." sahut Kevin tak kalah grogi. Keadaan Kevin tidak jauh lebih baik dari Gina. Malah Kevin lebih salting ketahuan perhatikan Gina dari dekat.


Pagi ini serba canggung buat kedua anak muda itu. Kevin Merangkap nafas lega dia sudah bisa terima Gina dalam bentuk utuh sebagai wanita. Artinya dia maju selangkah melawan trauma pada wanita. Kini tinggal dia test pada wanita lain. Apa dia juga bisa terima kehadiran wanita lain selain Gina. Perjalanan menuju kesembuhan sudah dimulai.


Kevin tersenyum sendiri melihat Gina menepuk pipi berkali-kali. Kevin tak tahu apa arti gerakan Gina. Mau sadarkan diri bahwa itu bukan mimpi? Apapun dia hanya Gina yang tahu isi kepala diri sendiri.


Suasana menjadi tenang karena masing-masing tenggelam dalam pekerjaan. Lingkungan kerja Kevin sangat adem tanpa suara berisik dari manapun. Gina fokus sekali pada pekerjaannya sampai tak sadar Kevin sebentar-sebentar melirik ke arahnya. Kevin mau yakinkan diri bahwa asistennya adalah seorang anak gadis.


Gina angkat kepala lihat siapa pemilik sepatu. Seorang wanita berpakaian cukup glamor berjalan dengan anggun ke meja Gina. Mata wanita itu bersinar siratkan bahwa dia sedang senang. Gina buang muka tak mau adu mata dengan orang tak dia harapkan.


"Hai Gin..." sapa Lucia ramah.


Gina tak beri reaksi berlebihan anggap Lucia hanya tamu untuk Kevin. Dia tak ada hubungan dengan wanita penipu itu. Walaupun kelak terbukti dia memang anak kandung Subrata tetap saja takkan Gina akui sebagai saudara. Gina merasa tak ada hubungan dengan keluarga itu selain dendam harus dibayar.


"Pak Kevin ada di dalam. Silahkan nona masuk!" Gina bertahan dengan sikap dinginnya. Gina harus pandai menahan diri agar tidak lakukan hal anarkis pada Lucia. Bapak Lucia seenak dengkul minta sketsa padanya seakan dia harus tunduk pada orang kaya. Mereka yang duduk di bawah tak ada nilainya dibanding seorang putri jutawan kaya.


"Aku datang mencari mu. Kita bisa ngobrol sebentar?" tanya Lucia masih bertahan dengan sikap santun.


"Aku hanya pegawai kecil apa pantas ngobrol dengan putri milyader?" sindir Gina.


"Aku tahu kau tak suka padaku. Aku juga tak tahu mengapa kau tak suka padaku? Terlepas dari masa lalu orang tua kita, kita ini masih termasuk saudara."


Gina mencibir kurang senang diungkit masalah keluarga di kantor orang. Buntutnya pasti panjang, emosi Gina suka tak terkontrol bila disebut !adalah orang tua. Di mata Gina keluarga Subrata adalah setan terkutuk.

__ADS_1


Gina tertawa sinis anggap Lucia sedang mabuk bahas persoalan orang tua dengannya. Gina sudah tak mau tahu tentang Subrata. Gina merasa tak ada hubungan dengan mereka. Mereka adalah musuh harus dibasmi.


"Maaf...aku tak pernah merasa berkeluarga dengan kalian. Jangan buka sesuatu yang tak penting. Pergilah sebelum pak Kevin dengar bulan kosong kamu!"


Lucia terkucil emosinya lihat sifat keras Gina. Bukankah lebih gampang kalau Gina mau akui dia sebagai saudara. Hidup mereka tak perlu susah lagi. Lucia akan minta pada papanya beri fasilitas memadai pada kedua adiknya itu. Mengapa Gina lebih mau persulit diri sendiri dengan keangkuhan bodoh.


"Suka atau tidak kamu ini adalah adikku. Aku mau kita saling memaafkan dan hidup damai. Aku tidak tega melihat cara hidup kalian seperti gelandangan. Kalian ini adalah putra putri dan keluarga konglomerat ternama." ujar Lucia mulai keras karena Gina keras kepala.


"Oya??? Aku tak merasa terlahir dari keluarga kaya. Kami memang miskin tapi bukan pengemis. Kami miskin tapi hidup dengan jujur. Setiap sen uang kami hasilkan adalah hasil keringat kami. Bukan menipu orang atau fitnah orang." Gina habis kesabaran mulai mengorek borok kesalahan Lucia dan ibunya. Andai Lucia punya akal sehat pasti akan ngerti makna kalimat Gina.


"Gina...kalau boleh memilih aku juga tak ingin terjebak dalam suasana tak enak ini. Aku janji akan jaga kalian dengan baik. Kamu sangat berbakat cocok duduk di perusahaan bersama papa. Ayoklah Gin! Kita mulai dengan lembaran baru. Kau mau apa tinggal bilang!"


Gina bangkit dari kursi kerjanya lantas pergi meninggalkan Lucia. Gina takut nanti dia lepas kontrol. Setiap kalimat Lucia memojokkan Harag diri mereka seakan mereka haus akan nama besar dan harta. Mata Gina belum silau oleh harta. Dia justru akan buat kejayaan Mahabarata tinggal kenangan.


Lucia melongo ditinggal pergi oleh Gina. Betul kata papanya Gina bukan orang gampang ditaklukkan walaupun sudah dijanjikan posisi bagus di Perusahaan. Anak itu pilih tetap hidup sederhana andalkan sepasang tangan.


Lucia tak bisa memaksa terus. Dia harus berusaha lagi sampai Gina takluk. Sekarang dia harus laksanakan plan kedua yakni dekati Gani. Mungkin Gani akan bawa jalan supaya Gina mau akui keluarga mereka. Tujuan Lucia tentu saja Gina yang lebih pintar dari Gani. Lucia membutuhkan sketsa gambar Gina untuk bertahan di samping Kevin. Tanpa sketsa gambar Lucia tak ada gunanya di perusahaan. Tak mungkin juga Lucia makan gaji buta tanpa hasilkan karya.


Pikir punya pikir Lucia masuk ke dalam ruang kerja Kevin. Mungkin Kevin harus tahu sekelumit tentang hubungan dia dengan Gina. Siapa tahu Kevin punya solusi lunakkan hati Gina mau akui keluarga Subrata. Papanya punya penerus dan dia aman di samping Kevin.


Lucia mengetok pintu lalu nyelonong masuk tanpa ijin empunya ruang kantor. Gadis ini kontan pasang wajah sejuta bunga segar. Berseri-seri agar tampak cantik menarik.


Kevin melirik Lucia sekejap lantas beri kode pada gadis itu untuk duduk di depannya. Kesempatan emas ini mana mungkin disiapkan oleh Lucia. Jarang sekali dapat sambutan baik dari Kevin. Laki lebih sering !menghindar ketimbang ajak Lucia makin mendekat.


"Gimana? Sudah enakan?" tanya Kevin begitu Lucia duduk manis di depannya. Wajah Lucia demikian manis sedap dipandang mata. Kalau Kevin bisa dekat dengan wanita mungkin juga akan jatuh cinta pada wanita ini. Sayang dia cuma bisa dekat dengan Gina si gadis tak ramah itu.


"Ya lumayanlah!" sahut Lucia santai merasa senang Kevin mulai hangat.


"Kapan serahkan rancangan? Kau lihat ini hasil karya Gina. Sederhana namun sangat sedap dipandang mata. Harganya tidak terlalu mahal bisa dijangkau oleh penggemar perhiasan." Kevin memutar layar laptop ke arah Lucia.


Lucia melihat seuntai kalung warna biru tampak elegan dalam kebisuan. Perhiasan itu cocok dipakai oleh segala suasana. Bisa resmi bisa juga untuk santai. Di taksir dari harga pasti sangat terjangkau karena tidak terlalu rumit pembuatan. Lucia harus akui kejelian Gina cari pangsa pasar. Di saat krisis begini dia mampu ciptakan perhiasan sejuta umat.


"Gina berbakat juga ya! Maklum lah satu darah." kata Lucia seakan tak heran bakat Gina mulai menonjol perlahan.


Kevin mengernyit alis heran mengapa Lucia akui Gina sedarah dengannya. Kisah apa lagi dikarang oleh Lucia cari perhatian Kevin.


"Apa maksudmu sedarah? Apa Gina itu saudara dekat kamu?"

__ADS_1


Lucia tertawa kecil perlihatkan gigi rapi terawat baik. Senyum cling yang bikin gadis ini makin elegan.


__ADS_2