
Kevin mengetahui ke mana arah pikiran Gina segera menimpal agar wanitanya tidak kuatirkan Gani.
"Gani sedang ke musholla untuk sembahyang subuh. Kau kan tahu dia tak pernah tinggalkan sholat."
"Oh...abang ngak sholat?"
"Sholat dong. Sholatnya gantian... kelompok preman kampung duluan sholat."
Mata Gina berbinar bahagia mendengar kalau kelompoknya ada di sekitar sini. Lebih bahagia lagi mereka benaran insaf mau kembali ke jalan benar.
"Abang per sholat dulu. Aku juga mau sholat..." Gina ingin bangun untuk laksanakan panggilan Tuhan.
Perawat kaget melihat Gina mau bangkit. Dokter sudah wanti-wanti Gina belum boleh banyak gerak untuk hindari gesekan pada luka dalam.
"Nona... untuk sementara kamu tak boleh banyak gerak. Tuhan tahu hatimu di mana pasti tidak akan hukum kamu bila lewatkan sembahyang subuh ini. Istirahat saja biar cepat pulih. Bapak ini juga mau sholat kan? Silahkan pak! Nanti waktu sholat lewat..." Perawat itu mengusir Kevin secara halus. Perawat itu merasa pertemuan Kevin dan Gina sudah harus dihentikan. Gina masih harus diistirahatkan agar tidak terjadi kejadian pendarahan di dalam.
Kevin tersadar dan langsung memahami isyarat yang diberikan oleh perawat itu. Hati Kevin sudah lega melihat keadaan Gina yang ada perubahan. Paling tidak Kevin sudah tahu kalau Gina sudah sadar dan dalam kondisi stabil.
"Sayang...abang pergi sholat dulu ya! Kamu tidur saja...nanti abang balik lagi setelah sholat. Tak usah pikir yang lain selain cepat pulih. Abang kesepian tanpa kamu."
Bibir pucat Gina mengukir senyum tipis. Biasa senyum itu akan tampak manis di mata Kevin, kini senyum itu terasa hambar tanpa adanya cahaya kehidupan. Namun bagi Kevin itu sudah cukup sekalipun senyum hambar.
Kevin menepuk punggung tangan Gina lembut agar Gina tahu kalau dia selalu ada buat Gina. Dia akan menunggu Gina sampai kapanpun.
"Abang keluar dulu ya. Abang ada di luar jaga kamu."
"Iya bang...jangan lupa pergi ke kantor ya!"
"Tenang saja...abang akan handel semuanya untukmu. Cepat pulih."
Sang perawat senang banget lihat pasangan yang saling memberi janji. Saling mencintai tanpa batas. Semoga saja pasangan ini langgeng hingga ajal menjemput.
Kevin meninggalkan Gina dengan langkah berat. Kalau diijinkan maunya berada di sisi Gina untuk beri support pada wanita yang dia cintai itu. Namun Kevin tak boleh bahayakan kondisi Gina maka harus patuh pada perintah dokter dan para perawat.
Jay sudah tak ada di luar berganti kelompok montir bengkel duduk rapi jali di bangku stainless. Wajah mereka bak sayur asem basi. Layu bahkan ada bau asem. Kelihatannya mereka kurang tidur akibat begadang ikut jaga Gina. Kevin merasa tak enak hati telah melibatkan para anak muda ini ikut menjaga istrinya. Mereka juga mempunyai pekerjaan sendiri yang tak bisa ditinggalkan namun mereka memilih menemani Gani dan Kevin menjaga Gina.
"Anak muda...kalian harus pulang untuk kerja bukan? Bukan aku ingin larang kalian menjaga teman kalian tapi semua sama penting. Abaikan tanggung jawab itu tak baik." Kevin berkata menjajari mata ke arah para pemuda itu satu persatu.
Kupret yang telah kenal Kevin tersenyum sambil menggelengkan kepala. Kevin ngerti kalau kesetiaan kelompok itu tidak perlu diragukan. Mereka pasti sangat menyayangi Gina barulah rela begadang hingga subuh demi menjaga kawan mereka.
"Kami mau pastikan monster kami selamat." tukas Kupret sedih.
"Gina sudah sadar tapi tak boleh diganggu karena levernya terluka. Kita tak boleh pancing emosi dia maka dokter melarang kita untuk menemuinya. Kalian pulanglah! Gani akan mengabari kalian bila terjadi sesuatu. Tapi doakan Gina agar cepat terbebas dari masa kritis. Bukankah kalian bertanggung jawab kepada Om Sabri untuk mengelola bengkel?"
Kupret dkk menunduk lesu tak bisa melawan omongan Kevin. Mereka memang bertanggung jawab terhadap bengkel yang sedang lagi banyak pekerjaan. Pelanggan masih menunggu keahlian tangan mereka untuk menyehatkan kendaraan beroda empat itu.
__ADS_1
Kupret mengangkat kepala menatap Kevin belum rela meninggalkan Gina tetapi panggilan tugas juga tidak bisa diabaikan.
"Baiklah kami sudah pulang! Tapi berjanjilah kabari kami! Sore nanti kami akan balik ke sini untuk menemani bapak dan Gani di sini." Kupret wakili teman-teman angkat suara. Suara hati Kupret dan yang lain pasti sama ingin menemani Gina.
"Kalian boleh meneleponi Gani setiap saat. Gani pasti tidak akan berbohong kepada kalian bukan?"
"Iya pak... kalau begitu kami permisi dulu. Bilang pada Gina kalau kami pasti akan menjaga bengkel sebaik mungkin dan tidak akan menyiapkan semua kesempatan yang dia berikan kepada kami."
"Akan ku sampaikan."
"Assalamualaikum..." mereka memberi salam pisah dengan sopan secara serentak.
Kevin tak habis pikir bagaimana orang-orang ini bisa menjadi preman padahal iman mereka cukup bagus. Mereka sama sekali tidak terlihat seperti preman melainkan anak-anak muda yang mempunyai akhlak. Kevin makin mengerti kalau melihat seorang manusia tidak dapat dinilai dari penampilannya. Mereka yang tampak seperti orang tidak terpelajar justru memberi pelajaran berharga kepada Kevin. Saudaranya yang memiliki pendidikan sangat tinggi tapi akalnya busuk dan bobrok itulah Peter.
Kevin tinggal sendirian merenungi semua kejadian yang menimpanya. Banyak sekali pelajaran Kevin petik sejak kenal Gina. Gina sepeti pelita terangi setiap sudut hatinya untuk bisa melihat dunia ini lebih terang. Dunianya yang gelap gulita kini telah bersinar sedikit namun cobaan tak berhenti sampai di sini. Masih ada saja cobaan hampiri mereka.
Kevin akan belajar lebih tegar untuk menghadapi semua masalah yang sedang menimpanya. Dia harus lebih kuat untuk bisa menjaga Gina. Kevin harus bisa membalikkan ke keadaan kalau dia yang harusnya menjaga Gina bukan Gina yang menjaganya. Kevin harus belajar menepis semua rasa takut dan trauma yang selama ini bercokol di dalam tubuhnya.
Kevin menepuk dadanya tiga kali untuk memberi semangat pada diri sendiri agar lebih maju menjaga keluarganya.
Perlahan langit di mulai memperlihatkan sedikit cahaya kuning keemasan. Mentari pagi mulai bersinar memperlihatkan tubuhnya sedikit demi sedikit dengan genitnya. Sebentar lagi hiruk pikuk manusia bergema lakukan aktifitas pada posisi masing-masing. Mengais rezeki ataupun pergi menimba ilmu untuk bekal di hari depan.
Kevin meminta Jay dan Gani ke kantor untuk membereskan semua masalah di kantor. Gina sudah agak membaik sehingga tidak perlu dikhawatirkan lagi. Cukup Kevin saja yang menjaganya sampai betul-betul bisa menerima tamu.
Jay dan Gani tak bisa membantah perintah bos. Kevin sudah menjamin kalau keadaan Gina makin membaik sehingga mereka boleh melepaskan rasa was-was. Gani memilih percaya kepada adik iparnya itu dan kembali beraktivitas di kantor.
Sepeninggalan Jay dan Gani ponsel di kantong Kevin berdering nyaring meminta perhatian dari sang pemilik. Kevin merogoh saku celana mengeluarkan ponsel cari tahu siapa yang telepon pagi hari. Matahari saja belum cukup tinggi di atas kepala manusia sudah ganggu orang.
Netra Kevin menangkap nomor telepon rumahnya tertera di layar. Tanpa ragu Kevin aktifkan ponsel terima panggilan masuk dari rumahnya.
"Halo.. assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...ini bibik nak Kevin! Gimana kondisi nak Gina?"
"Alhamdulillah sudah sadar.."
"Syukurlah! Ini bibik mau bilang kalau Mito kasih laporan kalau.." omongan bibik terputus seolah ada keraguan melanjutkan omongan. Apa yang sedang disembunyikan oleh sang bibik.
"Ada apa bik? Bicara saja.."
"Ini nak...Mito menemukan tuan tergeletak di depan pintu gerbang dalam keadaan pingsan. Bibik terpaksa bawa dia masuk agar tak terjadi hal tak diinginkan. Maafkan bibik telah lancang! Bibik tak mungkin biarkan tuan tergeletak tak sadar diri di luar."
Kepala Kevin berdenyut keras dengar laporan dari bibik. Belum selesai satu masalah muncul masalah baru. Apa hidupnya selalu diwarnai kemelut? Lidah Kevin terasa keluh untuk menanggapi laporan dari bibik. Kevin tidak tahu harus berbuat apa terhadap papanya itu. Mengapa papanya tiba-tiba muncul dalam kondisi pingsan di rumahnya. Apa yang telah terjadi dengan lelaki tua itu. Sedang bersandiwara mencari perhatian agar Kevin mau menerimanya.
"Sekarang gimana keadaan dia?"
__ADS_1
"Sudah sadar namun wajahnya sangat pucat. Bibik rasa harus dibawa ke rumah sakit untuk mengetahui penyebab dia pingsan. Apa yang harus bibik lakukan saat ini?"
"Jay dan Gani sedang pulang ke rumah. Minta Jay antar dia ke rumah sakit. Aku ada di rumah sakit."
"Baiklah nak! Memang itu yang harus kita lakukan untuk memulihkan kondisinya."
"Apa kedua wanita culas itu ada ikut datang?"
"Tidak... yang ada hanya papa kamu tergeletak di depan pintu gerbang pagar. Bibik tidak berani bertanya apa yang sudah terjadi kepadanya sampai pingsan di depan rumah kita. Keadaannya memang sangat memprihatinkan."
Harusnya Kevin bahagia mendengar kalau papanya sekarang menderita. Saatnya papanya merasakan apa yang dia rasakan selama ini. Namun hati Kevin tak bisa munculkan rasa itu. Yang ada hatinya makin perih. Ibunya sudah lama menetap di surga tinggal melihat bagaimana orang yang bikin hidupnya sengsara rasakan betapa pahitnya mendekam dalam tekanan batin.
Setelah memutuskan hubungan telepon dengan bibi Kevin langsung menghubungi Jay dan Gani untuk membawa bapaknya ke rumah sakit. Kelihatannya kedua lajang itu akan tertunda berangkat ke kantor karena ada tugas baru. Kevin tidak bisa tutup mata membiarkan papanya terkapar walaupun di dalam hatinya tersimpan jutaan rasa sesal. Kalau terjadi sesuatu kepada papanya dia juga tidak akan bahagia.
Kevin menyimpan ponselnya ke dalam saku lantas berjalan ke depan kamar Gina untuk melihat kondisi istrinya itu.Kevin tidak melihat apa-apa selain bunyi detak mesin yang menghubungkan ke seluruh badan Gina. Kevin tahu kalau Gina telah ditidurkan lagi agar tidak memikirkan apapun.
Kevin bolak-balik berjalan sekitar ruang ICU untuk menghilangkan kegalauan yang berganda. Kondisi Gina belum stabil 100% muncul lagi masalah baru papanya sedang sakit. Kevin takut kalau keluarga papanya sedang bersandiwara untuk bisa tinggal di rumahnya. Mula-mula memasukkan papanya lantas Mince dan Luna akan ikutan masuk.
Kalau hal ini terjadi Kevin tidak akan segan-segan mengusir mereka. Untuk yang satu ini Kevin harus keraskan hati tidak boleh memberi peluang kepada mereka serambut pun. Kevin tahu kalau Mince orangnya sangat licik dan busuk hati. Segala cara dia tempuh untuk tetap bertahan di kehidupan sosialita yang bergelimang harta.
Hanya dalam tempo setengah jam ponsel Kevin kembali berdering. Kali ini panggilan masuk berasal dari Gani. Kevin segera mengaktifkan ponselnya untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Gani.
"Assalamualaikum Gan...gimana? Kalian sudah ada di rumah sakit?"
"Sudah...kami lagi di IGD. Kamu datang sini saja. Papa kamu kembali pingsan." Gani terdengar panik sampai lupa jawab salam dari Kevin.
Kevin tak dengar lebih lanjut segera berjalan cepat ke tempat yang dimaksud. Kevin sebenarnya berat tinggalkan Gina sendirian namun ada yang harus dia tangani maka dia dengan segera mencari Gani yang bawa papanya. Kevin cukup panik walau dalam hati masih tersisa residu dendam.
Jay dan Gani memang berada di luar ruang tindakan pertama pertolongan. Keduanya tampak cemas dengan kondisi papa Kevin. Pak tua itu jauh dari kata ok. Seluruh tubuhnya dingin seperti baru keluar dari freezer. Wajahnya juga pucat pias tak ada aliran darah.
"Gimana? Sudah ditangani?" buru Kevin sambil mengguncang bahu Jay.
"Sedang ditolong oleh para dokter. Kita belum tahu apa hasilnya." sahut Jay lesu. Anak ini tak berseri sebab belum puas tidur. Rencananya tadi mau picingkan mata sebentar sebelum ke kantor. Rencana itu pupus persamaan dengan munculnya papa Kevin.
Kevin mengusap wajah dengan kasar. Kevin tak habis pikir bagaimana papa nya muncul dalam kondisi drop. Laki tua ini masih punya rumah dan mobil belum bisa dikatakan jatuh miskin total. Mobilnya lumayan mahal bisa dijual bila dibutuhkan. Lantas ke mana dua ulat bulu gatel itu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi kepada papanya itu.
Seorang perawat keluar dari ruang IGD memanggil Gani agar mendekat. Perawat itu hanya mengenal Gani karena memang Gani yang membawa papanya ganti Kevin ke ruang IGD.
"Tolong daftarkan bapak ini agar kami bisa lakukan tindakan selanjutnya!" kata perawat itu datar. Sungguh tidak ada rasa empati kepada orang sakit. Harusnya seorang petugas medis ramah sedikit biar pasien maupun keluarga merasa adem.
"Apa sakit bapak itu?" Gani abaikan permintaan perawat lebih memilih kejar penyakit papa Kevin.
"Kelihatannya bapak ini tidak jaga pola makan sehingga terjadi gerd tepatnya gastritis. Tapi itu hanya dugaan sementara. Kami akan periksa lebih lanjut. Selesaikan dulu prosedur administrasi."
"Apa tidak bahaya sus?"
__ADS_1
"Semua penyakit bahaya bila tidak ditangani apalagi bapak ini usianya tak muda lagi. Kami tunggu kerjasama kalian. Kami akan lakukan cek lab dulu." perawat itu menjawab sambil melengos pergi. Gani kesal banget pingin gampar wajah angkuh sang perawat. Tangan Gani sempat melayang di udara untuk sesaat saking gemasnya.
Kalau ada 10 perawat model gini maka pasien akan lebih cepat mati. Lihat tampang perawat ini aja bisa kena serangan jantung. Jay mencolek Gani tak menambah panjang masalah buat Kevin.