Kau Istriku Bukan Simpananku

Kau Istriku Bukan Simpananku
Season 2 {Part 11}


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, di sekolah Vera kini sedang ada acara kelulusan untuk kelas 12. Semua murid kelas 12 di nyatakan lulus. Vera dan teman teman nya mengadakan bazar makanan untuk ikut memeriahkan acara kelulusan itu.


Kelas Vera membuat cup cake untuk di jual. Suasana sekolah terlihat sangat ramai karna banyak keluarga dan orang tua dari para anak kelas 12 yang datang untuk ikut merayakan hari kelulusan itu.


"Wahh Ver, itu kayanya orang tua Kak Tito deh" tunjuk Feni pada kekasihnya yang sedang mengobrol dengan sepasang suami istri yang di yakini adalah orang tua Tito


"Ciee calon mertua tuh" goda Vera sedikit menyenggol tangan Feni


Feni tersenyum malu malu "Apaan si Ver"


"Ya udah si, kenapa malu malu gitu. Harusnya aminin dong doa aku, semoga saja kalian langgeng sampai menikah dan orang tua Kak Tito benar benar menjadi mertuamu nanti" jelas Vera


"Aminnn" kata Feni, mengusap kedua tangannya ke wajah


"Ehh itu Kak Ardi sama orang tuanya" Feni menyenggol tangan Vera saat melihat Ardi yang berjalan ke arahnya bersama dengan keluarganya


"Ya udah biarin aja si Fen" kata Vera masih fokus menata cup cake di atas meja


"Eh tapi siapa cowok ganteng yang sama mereka itu? Ahh kayanya kakanya deh Ver" kata Feni lagi, Dia yang bertanya tapi Dia juga yang menjawab


Karna penasaran Vera pun menoleh, dan tersentak kaget ternyata Ardi dan keluarganya sudah berada di depan meja tempat Dia menunggu jualan nya.


"Kalian berjualan ini?"tanya ibu paruh baya tersenyum ramah


"I..iya Bu" kata Vera


Kenapa aku jadi gugup coba?


Ardi melirik sekilas pada Vera, dengan wajah datarnya. Ibunya terlihat mengambil satu cup cake dan memberikan pada ayah Ardi.


"Ini uang nya" ibu itu memberikan uang setelah puas memilih cup cake yang Dia mau

__ADS_1


"Terimakasih" kata Vera tesenyum manis


Orang tua Ardi berlalu pergi di ikuti Ardi. Tapi tidak dengan kakanya, Dia masih memilih cup cake yang di inginkannya.


"Kenapa cuma dua orang yang menjaga lapak kalian?"tanya nya


"Emang cuma dua orang yang jadi perwakilan untuk menunggu jualan Kak, nanti gantian aja" jelas Vera tersenyum


"Hmmm. Kak" kata Feni ragu ragu


Pria itu menoleh "Iya?"


"Apa Kakak, Kakaknya Kak Ardi?"tanya Feni tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasaran nya.


"Iya aku Kakaknya Ardi, namaku Angga" kata Angga tersenyum


"Hmmm. Tapi ko gak mirip ya?"tanya Feni jujur


"Hehe. Maaf ya Kak" kata Feni merasa bersalah


"Tak apa, ya sudah ini uangnya aku mau yang ini saja" Angga menyerahkan uang dan mengambil cup cake yang di inginkannya.


Angga berjalan menghampri keluarganya. Ardi menatap penuh permusuhan sama Angga.


"Dari mana saja kau?"kata Ardi ketus


Angga tersenyum "Ini, membeli cup cake Dhe"


"Cih, aku bukan adhe mu" kata Ardi dingin


Kedua orang tuanya hanya bisa menghela nafas melihat kedua anaknya yang tak bisa sampai sekarang.

__ADS_1


.....


Hari libur semester adalah yang di tunggu tunggu oleh semua pelajar. Menenangkan fikiran dari semua pelajaran yang membuat pusing kepala. Bersantai di rumah, berkumpul bersama keluarga.


"Ardi duduklah Papa ingin bicara sama kamu" kata Gibran


Ardi menoleh ke arah ayahnya yang sedang duduk di sofa single yang ada di ruang tamu. Mau tak mau Ardi pun duduk di sofa samping ayahnya.


"Kau mau melanjutkan kuliah dimana Ar? Apa mau kuliah di tempat kakakmu saja?"tanya Gibran


Ardi mendelik kesal "Aku gak mau satu kampus sama Dia"


Gibran menghela nafas berat "Mau sampai kapan kau seperti ini Ar? Kaka dan Ibumu tidak salah Ar, kau harus tahu alasannya kenapa Papa menikahinya"


Ardi tersenyum sinis "Alasan? Tentu saja alasan nya karna Dia menginginkan harta Papa untuk anaknya itu. Semua wanita sama saja"


"Cukup Ardi" Gibran sudah hilang kesabarannya, Dia menaikan nada suaranya.


"Kau perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi, Papa rasa sudah saatnya kau tahu Ardi" kata Gibran berdiri dari duduknya


"Tunggu disini ! Kau harus tahu apa yang sebenarnya terjadi" kata Gibran tegas dan langsung berjalan ke arah ruang kerjanya.


Tak lama kemudian Gibran kembali dengan membawa sebuah amplop coklat. Meletakan nya di meja depan Ardi, lalu Dia kembali duduk di sofa.


"Bacalah, ini adalah surat terakhir dari almarhum Mama mu" kata Gibran


Ardi diam, Dia sama sekali tidak tahu soal surat ini. Dengan hati hati Ardi mengambil amplop itu dan membukan nya. Ardi membuka lipatan kertas itu.


Bersambung


Note: saya dulu pas acara kelulusan kaka kelas juga seperti itu. Mengadakan bazar makanan. Mengenang, hehe 😁😁😍😍

__ADS_1


__ADS_2