
Seminggu yang lalu Tiara dan kedua bayinya telah di perbolehkan pulang. Hari ini adalah hari syukuran kelahiran Nessa, Nevan dan juga Rafa. Mereka sengaja mengadakan syukuran secara bersamaan.
Acara berjalan dengan lancar, semua yang datang mengucapkan selamat dan doa yang terbaik untuk anak anak mereka.
Kedua pasangan suami istri tengah di rundung kebahagiaan. Kehadiran buah hati mereka menyempurnakan kebahagiaan mereka.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Semuanya sudah kembali ke rutinitas masing masing. Saat ini Tiara belum membutuhkan baby sister karna Faiha tinggal di rumah mereka untuk sementara.
"Nanti setelah umur Nessa dan Nevan sudah dua tahun dan sudah lepas asi. Kamu bisa kuliah lagi Tia" kata Faiha yang sedang menggendong Nevan.
Tiara menidurkan Nessa yang sudah terlelap di dalam box "Baiklah Mi, nanti Tia akan kuliah setelah Nessa dan Nevan lepas asi"
Faiha mengangguk "Nanti biar Ditya carikan pengasuh untuk kedua anak kalian "
Tiara mengangguk dan tersenyum. Dia merasa beruntung mempunyai mertua yang begitu baik dan perhatian.
"Kita ngobrol di bawah saja, Nevan sudah tidur juga" Faiha menidurkan Nevan di box sebelah box bayi Nessa.
Kini Tiara dan Faiha duduk di ruang keluarga. Menonton televisi sambil memakan buah buahan segar. Sekedar rehat sejenak mumpung Nessa dan Nevan sedang tidur nyenyak.
"Oh ya Tia, Mami belum tahu lo awal mula kalian bertemu. Bagaiamana ceritanya" kata Faiha memasukan sepotong melon ke mulutnya.
Tiara menelan buah semangka yang sedang di kunyahnya. Segar dan manis. Mereka asyik bercerita, Tiara menceritakan bagaimana awal Dia bertemu dengan suaminya. Faiha sesekali tertawa mendengar cerita Tiara.
"Mami benar benar tidak menyangka kalau Ditya bisa menemukan pujaan hatinya sendiri" kata Faiha
"Maksudnya?" bertanya dengan kening berkerut bingung.
"Nanti kalau kau sudah menjadi seorang Ibu. Kau akan tahu bagaimana kepekaan mu terhadap perasaan anak anak mu Tia" kata Faiha lembut
Tiara masih diam, menunggu Faiha melanjutkan ucapan nya.
"Mami tahu kalau Ditya tidak mencintai Celin. Mami melihat dari tatapan mata dan perlakuan Ditya pada Celin selama ini. Meskipun Ditya lebih sering bersama Opa nya. Tapi Mami tetap tahu apa yang dirasakan Ditya"
__ADS_1
"Tatapan sayang, tapi bukanlah sayang pada seorang kekasih. Tatapan yang sama seperti Ditya menatap Dea"
Tiara mengangguk, Dia mengerti maksud dari Faiha. Benar katanya, seorang Ibu memang mempunyai kepekaan tinggi terhadap perasaan anak anak nya.
"Dan Mami bahagia saat Ditya bisa menemukan cinta sejatinya. Yaitu kamu" Faiha mengelus kepala Tiara.
"Mami, boleh gak Tia meluk Mami" kata Tiara, jujur Dia memang sangat ingin memeluk ibu mertuanya.
"Boleh dong sayang, sini peluk"
Faiha merentangkan tangan nya. Tiara pun langsung menghambur ke pelukan ibu mertuanya. Dia merasakan kehangatan seorang ibu dari pelukan Faiha.
"Kau sudah menikah dengan putra Mami Tia, berarti kau adalah anak ku juga" kata Faiha
Di saat mereka masih tenang dan nyaman dengan pelukan itu. Tiba tiba terdengar suara tangisan sangat keras dari lantai atas.
"Nessa, Nevan"
Mereka berlari ke lantai atas, baru sadar kalau mereka meninggalkan kedua bayi kembar itu terlalu lama karna terlalu asyik mengobrol.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
"Ahh jagoannya Aunty" Dea mencium gemas Nevan yang sedang di gendong oleh Tiara.
"Aunty, Budhe bukan Aunty" kata Ditya meledek adiknya yang ingin di panggil aunty.
"Kaka" teriak Dea kesal
Semuanya hanya tertawa melihat kaka beradik yang selalu ribut itu.
"Nevan, pokonya kalau kamu gede jangan kaya Bapak mu. Nyebelin!!" kata Dea berbicara pada Nevan seolah Nevan mengerti apa yang di ucapkan nya.
"Bapak, Bapak? Daddy De Daddy " kata Ditya penuh penekanan
"Cih Daddy, gak cocok !! Abah baru cocok. Hahaha" kata Dea balik mengejek kakanya .Tiara ikutan tertawa.
__ADS_1
"Sayang, jangan ketawa ihh" kata Ditya kesal
"Sudah sudah, kalian jangan berantem terus. Nevan tidak akan seperti Ditya, tapi akan seperti Papi kakek nya" kata Seno
Plak
Faiha memukul tangan suaminya "Kaya kamu, maksudnya jadi play boy gitu? Iya?"
Seno menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
Bisa gawat kalau Ibu Nyonya sudah kesal.
"Hah? Beneran Mi? Dulu Papi play boy?" tanya Dea antusias, Faiha hanya mengangguk.
"Wahh Papi keren"
Dea bertepuk tangan dan langsung memelik Seno. Semuanya hanya terbengong melihat tingkah Dea yang di luar nalar itu.
"Kaka kalah sama Papi, dari kecil cuma sama Kak Celin doang. Ahh payah" kata Dea
Plak
Faiha memukul pelan tangan anak bungsunya itu " Kamu ini kenapa si De, masa play boy di bilang keren"
"Mami, di kampus itu kalau cowok play boy pasti keren keren dan pasti jadi rebutan wanita" kata Dea
Ditya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik kesayangan nya itu.
"Jangan jangan kamu juga ngejar ngejar cowo play boy di kampus?" Faiha menajamkan tatapan nya.
"Enggak lah, aku kan udah punya pacar" kata Dea santai, sampai Dia sadar dengan ucapan nya dan langsung menutup mulutnya.
"Apa maksudmu Dea?" tanya Opa Fernan menatap tajam pada cucu manjanya itu.
Bersambung
__ADS_1