
Dua minggu kemudian......
Setelah Anya dan Rafa resmi menikah. Hari ini adalah saatnya untuk Nevan dan Rara yang meresmikan hubungan mereka.
Rara yang sudah berhijab sejak pernikahan Anya membuat Nevan semakin menyayangi nya. Dengan gaun pengantin muslimah, Rara duduk di samping Nevan.
Semua keluarga telah berkumpul untuk menyaksikan pernikahan mereka. Nevan menjabat tangan penghulu lalumegucapkan ijab qabul dengan lancar.
"Sah"
Semua mengucap syukur atas pernikahan Nevan dan Rara. Anya terlihat begitu bahagia saat saudaranya bisa menemukan kebahagiaan nya setelah semua yang telah mereka lewati.
Bunda merasa terharu, saat kedua putrinya telah menikah dan akan meninggalkan nya. Meski Rara dan Anya tidak lahir dari rahimnya. Tapi Bunda sangat menyayanginya sama seperti pada anak anak panti yang lainnya.
Rara langsung menyalami keluarga Nevan, dan Bundanya. Meminta doa restu dari mereka. Nevan pun melakukan hal yang sama.
Anya dan Rara memeluk Bunda dengan mata berkaca kaca. Mereka paling anti menangis di depan banyak orang seperti ini. Jadi sekuat tenaga mereka menahannya.
"Makasih Bunda, karna telah merawat Rara dari kecil sampai sekarang" kata Rara mencium pipi Bundanya
"Iya. Anya gak mau tau dan gak akan pernah mau tau siapa orang tua Anya. Orang tua Anya cuma Bunda" kata Anya yang di angguki Rara
Bunda sampai meneteskan air mata haru. Putri yang Dia temukan di halaman rumah nya kini sudah dewasa dan menikah.
Sayang seribu kali sayang, orang yang meninggalkan dua bayi mungil ini tidak meninggalkan petunjuk apapun.
Jadi Bunda tidak pinya petunjuk untuk membantu mereka mencari orang tua kandung nya.
"Bunda menyayangi kalian, maaf karna Bunda tidak bisa membantu kalian untuk menemukan orang tua kalian" kata Bunda
"Gak perlu di carilah Bun, mereka sudah jelas tidak menginginkan kita. Ngapain di cari" kata Alea menyahut ucapan Bundanya
Anya dan Rara langsung melepaskan pelukannya dan menatap Alea dengan tajam.
"Kebiasaan deh Le" kata Anya
"Kenapa si Kak, hidup itu di bawa santai aja kaya Gue. Sampai saat ini Gue gak pernah tuh mau tau siapa orang tua kandung Gue" kata Alea santai
__ADS_1
"Kau bisa bicara seperti itu pada orang lain Le. Tapi kita gak bodoh" kata Anya tersenyum meledek
"Lo, Gue dan Anya sama sama tidak bisa bohong" tambah Rara
Alea menghela nafas "Terserah Lo Kak"
Sepasang mata menatap Alea dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Alea.
Anya dan Rara menggelengkan kepalanya melihat Alea yang berlalu pergi. Bingung dengan sikap adiknya yang kelewat bar bar dan blak blakan itu.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Di lanjut dengan acara resepsi, Rara dan Nevan menerima banyak ucapan dan selamat dari tamu undangan yang hadir.
Alea memilih beberapa makanan dan di bawanya ke meja yang ada Bunda dan Rizal. Anak anak panti yang lain sedang asyik bermain.
"Mau kemana kamu?" Dea bertanya saat meliahat putranya berdiri dari duduknya
"Mau kesana bentar Ma" jawab Hitta
Dea mengangguk dan kembali mengobrol dengan keluarga yang lainnya. Sementara Hitta berjalan mendekati salah satu meja.
"Waalaikumsalam"
Alea menoleh dan matanya langsung terbelalak kaget melihat Hitta sudah berdiri di sampingnya.
"Hai" Hitta tersenyum lalu menarik kursi di samping Alea dan duduk di sana.
"Apa kau tidak ingat aku?" tanya Hitta
Sejak dari lamaran waktu itu, Hitta ingin sekali menyapa Alea. Tapi gadis itu selalu menghindarinya. Di pernikahan Rafa pun begitu. Tapi sekarang sangat ingin menyapanya.
Dan Hitta tidak ingin menyia nyiakan kesempatan ini. Entah kenapa Hitta sangat penasaran dengan gadis ini.
Alea tersenyum kaku "I...Ingat kok"
"Alea Bunda kesana dulu mau liat adik adik. Ayo Rizal temenin Bunda" kata Bunda Meta
__ADS_1
"Iya Bun"
Setelah Bunda dan Rizal pergi, kini di meja itu tinggalah Alea dan Hitta. Suasana canggung pun mulai terasa.
"Kalau kau ingat padaku, kenapa tidak menyapaku? Padahal kita sudah beberapa kali berada di acara yang sama" kata Hitta menatap Alea
Aduh Gue harus jawab apa coba? Kenapa Gue jadi gugup kaya gini si.
"Kar..Karna aku takut kalau kau malu saat di sapa anak panti sepertiku" jawab Alea jujur
Hitta terkesiap mendengar jawaban Alea. Dia tidak menyangka kalau gadis yang membuatnya penasaran bisa berfikir seperti itu.
Sepertinya Dia memiliki masa lalu yang berat. Sehingga Dia berfikir seperti itu terhadap semua orang.
"Aku tidak seperti itu Alea, aku berteman dengan siapa saja asalkan orang itu baik. Aku tidak melihat seseorang dari setatusnya" kata Hitta
Apakah Dia berbeda?
"Benarkah?" tanya Alea seolah tidak percaya
Hitta mengangguk dan tersenyum tulus "Tentu saja, jadi mulai saat ini kita berteman"
Alea terenyum dan mengangguk "Iya. Kita berteman"
Baiklah berteman dulu untuk saat ini. Walaupun aku berharap suatu saat nanti bisa lebih dari teman. Hitta
Dari kejauhan Vera melihat apa yang dilakukan Hitta. Hatinya bahagia saat pria yang dulu menyimpan perasaan padanya sekarang sudah bisa melupakan perasaan nya.
Semoga kau bisa bahagia Hitta.
"Sayang mau sampai kapan kau melihatnya?" tanya Ardi mengecup pipi Vera dan merangkul pinggangnya
"Ya ampun sayang, banyak orang ihh. Malu" kata Vera dengan wajah memerah
Ardi malah semakin gemas melihat wajah istrinya itu. Tidak peduli banyak orang, Dia malah kembali mencium pipi Vera.
"Karna aku kesal padamu yang terus memperhatikan pria lain" kata Ardi ketus
__ADS_1
Ya ampun posesifnya makin menjadi.
Bersambung