
Di dalam mobil yang biasanya selalu terdengar obrolan dan candaan suami istri. Kini terasa sunyi, sang suami masih diam dengan perasaan cemburu yang tak bisa di bendung lagi.
Aduhh. Mas Ditya marah banget kayanya. Gimana ni?
Mobil yang di tumpangi mereka telah sampai di pekarangan rumah. Ditya keluar dan langsung membuka kan pintu mobil untuk istrinya.
"Keluar" berkata dengan nada dingin
Tiara menelan salivnya, melihat dengan jelas kemarahan suaminya. Ditya menarik tangan Tiara masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar mereka.
Brakk
Pintu kamar ditutup dengan sangat keras. Tiara sampai terlonjak kaget.
Gila? Dia memang gila kalau sedang cemburu.
Ditya mendorong tubuh Tiara ke tempat tidur sampai Tiara terjerambah. Tiara menelan salivnya saat melihat wajah suaminya yang terlihat sangat dingin.
"Aku sudah pernah bilang jangan pernah dekat dekat dengan pria lain. Tapi kenapa kau tidak mau mendengar Hah? Bahkan kau tidak cerita tentang para pria sialan itu" kata Ditya penuh emosi
"Ma..maaf. Aku cuma takut aja kalau harus bilang sama kamu. Makanya tadi ak...."
"Diam, kau bilang takut untuk bicara sama aku? Hah atau kau suka di taksir banyak pria? Iya?" kata Ditya setengah berteriak
Gila, memang gila fikirannya menjadi tidak waras kalau sedang cemburu seperti ini.
"Bu..bukan gitu Mas, kalau aku cerita pun Mas tetap akan marah. Lagian aku sudah menjelaskan pada mereka kalau aku sudah menikah" kata Tiara mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Bima dan yang la....Hemmmpt"
Ditya langsung membungkam mulut Tiara dengan ciuman nya. Tidak mau istrinya menyebut nama pria lain di depan nya. Apalagi pria itu menyukai Tiara.
Ditya mel^umat bibir istrinya dengan sedikit kasar. Tiara hanya diam, tidak berniat membalas ciuman suaminya. Air mata tiba tiba menetes begitu saja saat ciuman Ditya semakin kasar.
Ditya menyadari kalau istrinya tidak membalas ciumannya. Dia melihat istrinya menangis, Ditya pun langsung menghentikan ciumannya. Sadar dengan apa yang Dia lakukan pada Tiara.
"Hei jangan nangis"
Ditya membantu istrinya bangun dan memeluk nya. Merasa sangat bersalah karna sudah membuat istrinya menangis.
Padahal tadi Ditya mendengar sendiri bagaimana istrinya menjelaskan pada kelima pria tadi. Tapi yang ada di otak Ditya saat itu hanya tentang lima pria yang menyukai Tiara dan itu berhasil membuat emosinya naik.
"Maafin Tia Mas, Tia gak bermaksud untuk dekat dekat dengan mereka. Hiks.. Tapi Tia juga udah jelasin sama mereka, bahkan Tia..Hiks Hiks.. Membawa kartu keluarga dan buku nikah kita untuk membuktikan pada mereka" Tiara menangis terisak
Ditya menghela nafas dan mencium puncak kepala istrinya dan mengelusnya.
"Jangan marah lagi" Tiara mendongakkan wajahnya menatap wajah Ditya.
Cup
Ditya mengecup bibir istrinya "Iya Mas gak marah lagi, tapi kalau nanti ada yang terang terangan naksir sama kamu. Kamu harus bilang sama Mas"
Tiara mengangguk "Iya"
Akhirnya semua masalah terselesaikan juga. Tiara benar benar melihat sosok lain saat suaminya benar benar di bakar api cemburu. Sangat menyeramkan.
__ADS_1
..
Ditya memeluk istrinya setelah mereka melakukan kegiatan malam ini. Menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Mulai besok gak usah masuk kuliah lagi" kata Ditya santai sambil mengusap punggung Tiara yang berada dalam pelukan nya.
Tiara langsung mendongak kan wajahnya "Tapi kenapa?"
"Aku sudah menyuruh Al untuk mengurus semuanya. Mulai besok kau akan home sechooling "
Apa? Katanya sudah memaafkan. Tapi kenapa jadi kaya gini? Aaa aku tidak mau kuliah di rumah.
"Mas, aku kan sudah jelaskan semunya. Kenapa aku gak boleh kuliah lagi" kata Tiara kesal
"Kamu tetap kuliah, tapi kuliahnya di rumah saja. Nanti ikutan pas ujian nya aja. Aku dulu juga home sechooling" kata Ditya
Tapi aku tidak mau.
"Tapi kenapa aku harus kuliah di rumah? Aku kan masih bisa berangkat ke kampus" kata Tiara masih tidak mau menyerah
Ditya melepaskan pelukan nya, menatap wajah Tiara "Kau fikir aku akan membiarkan kau bebas begitu saja setelah tahu semuanya"
Aaa kau memang sangat pencemburu berat. Aaa bagaimana ini?
"Tapikan aku..."
"Tidak ada tapi tapian, pokoknya mulai besok kau tidak perlu berangkat ke kampus lagi" kata Ditya tegas sudah tak terbantahkan lagi.
__ADS_1
Hilanglah sudah kebebasan ku.
Bersambung