
Rara terdiam di tempatnya berdiri setelah turun dari mobil Tiara. Menatap pada bangunan mewah di depannya. Tiba tiba Rara menatap pada penampilan nya.
Bagaimana mungkin aku bisa berada di kawasan ini. Lihatlah penampilanku ini.
Rara hanya memakai jins dan kaos oblong warna hitam. Bagaimana mungkin Dia bisa ada di sini.
"Ayo Nak, kita masuk"
Tiara meraih tangan Rara dengan lembut dan menggandengnya masuk ke dalam rumahnya. Meski ragu tapi Rara tetap mengikuti langkah Tiara.
Saat pintu terbuka Tiara langsung di sambut oleh sumi popesifnya. Ditya langsung mencium kening Tiara dan merangkul pinggangnya. Tidak peduli kalau di sana ada gadis polos yang melihat semua adegan itu.
"Assalamualaikum" Tiara mencium punggung tangan suaminya
"Waalaikumsalam. Kenapa lama sekali?" tanya Ditya
"Ada sedikit kendala tadi. Oh ya Mas, kenalin ini Rara yang menolongku tadi saat ada motor yang akan menabraku" jelas Tiara
"Apa?? Kau tidak papa kan? Sudah ku bilang, kalau mengizinkan kau keluar tanpa diriku bukanlah hal yang benar. Lihatlah kau hampir celaka kan" kata Ditya menatap cemas dan khawatir pada istrinya
Kayanya posesif banget nih suami si Ibu.
Tiara tersenyum "Aku gak papa Mas, untung saja tadi aku di tolongin sama Rara"
Ditya menoleh ke arah Rara yang dari tadi berdiri di samping Tiara. Dia tersenyum pada Rara.
"Terimakasih karna sudah menolong istriku" Ditya mengulurkan tangannya pada Rara
Rara tersenyum dan mencium tangan Ditya karna merasa kalau Ditya adalah orang tua dan wajib untuk Rara berlaku sopan padanya.
"Sama sama Om" kata Rara
__ADS_1
Ditya merasa terkejut saat Rara mencium tangan nya seperti yang sering di lakukan oleh anak anaknya.
Gadis yang sopan.
"Ayo kita masuk Rara, biar tante obati lukamu" ajak Tiara yang di jawab anggukan oleh Rara
Tiara mengambil kotak obat di kamarnya. Sementara Rara menunggu di ruang tamu. Dia melihat lihat isi rumah ini. Semuanya terlihat mewah dan pasti harganya mahal.
Orang kaya memang bebas ya mau beli apapun juga.
Rara berdiri dan menatap pada foto keluarga Tiara yang terpajang di dinding. Rara tertegun saat melihat seseorang yang di kenalnya. Lalu Dia mengingat ngingat lagi kalau Dia merasa pernah bertemu dengan Tiara dan Ditya.
Ya ampun, Ibu dan Om tadi kan yang waktu itu di kantor saat peresmian penerus perusahaan yang baru. Pantas saja aku merasa tidak asing dengan wajahnya.
Berarti kalau begitu, Pak CEO juga pasti tinggal disini. Hah bagaimana ini? Kok bisa si aku ada disini
Rara memang bekerja di perusahaan itu baru sebenatar. Dan selama bekerja Rara tidak pernah melihat wajah Ditya. Jadi Dia baru melihat wajah Ditya saat peresmian penerus perusahaan yang baru. Itupun hanya sekilas.
Suara keras dan dingin terdengar di telinga Rara membuatnya terlonjak kaget. Rara langsung menoleh ke belakang, menelan salivnya saat melihat siapa yang berdiri di belakangnya.
"Maaf Pak" Rara mengangguk hormat
"Kau siapa? Kenapa ada di rumahku?" tanya Nevan dengan dingin
Menyeramkan sekali tatapan matanya.
"Sa...saya...saya..."
Bingung Rara harus menjelaskan dan memperkenalkan diri sebeagai siapa. Dia saja baru kali ini menatap wajah Nevan. Meskipun pernah bertemu waktu Dia datang terlambat ke kantor. Tapi Rara tidak berani menatap wajahnya, karna Dia merasa bersalah.
"Nevan" Tiara datang dengan kotak obat di tangan nya.
__ADS_1
Nevan menoleh ke arah Ibunya, Dia tersenyum dan menghampiri ibunya itu.
Hah?? Dia bisa tersenyum juga.
"Ra, ayo sini biar Ibu obati lukanya" kata Tiara menarik lembut tangan Tiara dan membawanya untuk duduk di sofa ruang tamu.
Nevan ikut duduk di sofa single, masih merasa bingung dengan kehadiran wanita yang tidak dikenalnya.
Rara hanya diam saat Tiara mengobati lukanya. Meringis pun tidak, luka kecil seperti ini sama sekali tidak berarti untuk Rara di bandingkan kehidupan nya.
"Sudah, apa ada luka lainnya lagi?"tanya Tiara menatap wajah Rara
Rara menggeleng "Tidak Bu"
"Mi, Dia siapa?" tanya Nevan yang dari tadi memperhatikan interaksi antara ibunya dan gadis itu.
"Dia Rara Van, Dia yang sudah nolongin Mami tadi. Kalau Rara tidak menolong Mami, mungkin Mami akan tertabrak motor" jelas Tiara
"Mami hampir tertabrak? Mami gak papa kan?" tanya Nevan langsung panik dan cemas
Tiara menggeleng dan tersenyum "Enggak. Mami baik baik aja kan do tolongin sama Rara"
Nevan menghela nafas lega "Syukurlah"
"Kalau begitu Rara pamit pulang dulu ya Bu" kata Rara sopan
"Ini sudah waktunya jam makan siang. Kamu makan siang dulu sama kita di sini ya" kata Tiara lembut
"Ta...tapi Bu saya...."
"Sudahlah jangan menolak, ini sebagai rasa terimakasih Ibu sama kamu karna sudah menolong Ibu tadi" kata Tiara memotong ucapan Rara
__ADS_1
Bersambung