
"Jadi apa yang mau mbak ceritakan sama Tia?" tanya Tiara
Celin menghembuskan nafas kasar, menatap lurus kedepan. Terlihat sekali kalau Dia sedang menanggung beban yang sangat berat. Hatinya yang terluka dan juga cara menjelaskan pada keluarganya nanti.
"Dia tidak mencintaiku Ti" kata Celin dengan tatapan kosong dan menahan sesak di dada saat mengatakan itu.
"Hah?" Tiara terkejut mendnegar ucapan Celin barusan.
"Maksud mbak apa?" masih belum mengerti apa yang Celin maksud
Celin menghela nafas berat "Calon tunangan ku, pria yang di jodohkan dari kecil dengan ku. Dia tidak mencintaiku Ti, Dia bahkan mengatakan nya langsung padaku"
"Hah? Mbak yang benar saja, bukan nya kalian akan segera pertunangan? Terus bagaimana dengan pertunangan kalian?" tanya Tiara kaget
Mata Celin mulai berkaca kaca "Pertunangan akan tetap berjalan karna undangan pun telah tersebar. Tapi setelah bertunangan kami akan membatalkan pernikahan kita. Aku tidak mau egois Ti, Dia tidak mencintaiku dan aku tidak mau memaksakan Dia untuk bisa mencintaiku seperti aku mencintainya"
Air mata pun telah meluncur membanjiri pipi mulus Celin. Tiara menatap iba pada Celin, entah kenapa Dia juga merasakan apa yang Celin rasakan. Tiara menggeser kursinya agar bersampingan dengan Celin. Tiara langsung memeluk Celin yang masih menangis.
"Sabar Mbak, semuanya akan baik baik saja. Percayalah rencana Allah akan lebih baik dari yang kita bayangkan" Tiara mengelus punggung Celin, Dia pun ikutan meneteskan air mata.
"Memang apa alasan nya calon tunangan mbak tidak mencintai mbak Celin?" tanya Tiara setelah Celin mulai tenang
"Dia bilang kalau Dia mencintai wanita lain yang bisa membuatnya bahagia. Dia juga bilang kalau Dia hanya menyayangiku sebagai adik saja tidak bisa lebih" kata Celin sambil menghapus sisa air matanya
Tiara menghela nafas, entah kenapa dadanya terasa sesak mendengar cerita Celin.
"Sabar mbak, mungkin Dia bukan jodoh mbak" kata Tiara
Celin mengangguk " Iya Tia, aku juga mencoba untuk mengikhlaskan Dia. Mungkin Allah telah menyiapkan jodoh yang lebih baik untuk ku"
__ADS_1
"Sudah ya mbak jangan nangis lagi" kata Tiara menghapus air mata Celin yang kembali meluncur begitu saja
"Terimakasih ya Tia, aku ngerasa punya saudara tau. Kamu baik banget" kata Celin tersenyum
"Tia juga merasa punya kaka hehe" Tiara mencoba mencairkan suasana
"Oh ya, kamu dateng ya nanti ke pertunangan aku. Di hotel xx masih lama sih. 3 bulanan lagi lah aku lupa bawa undangan nya gak papa kan?" kata Celin sudah kembali ceria
Tiara mengangguk "Iya Mbak, gak papa lah gak pake undangan juga hehe"
"Ya sih, nanti aku bilang sama penjaga nya kalau kamu adalah tamu sepesial aku" kata Celin
"Siap"
....
"Assalamualaikum sayang" Ditya mencium kening istrinya
"Waalaikumsalam Mas" Tiara mencium tangan Ditya
"Ko pulang nya malem" mengambil tas kerja dan menyimpan di tempatnya
"Banyak kerjaan di kantor, jadi lembur deh. Aku mandi dulu ya" Ditya kembali mencium kening sang istri sebelum masuk ke kamar mandi
Tiara mengambil jas suaminya dan berjalan ke ruang ganti dan menyimpan nya di keranjang pakaian kotor. Tiara pun segera menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Setelah itu Dia segera menyiapkan makan malam.
Ditya tersenyum saat keluar dari kamar mandi sudah ada pakaian yang di siapkan oleh sang istri. Ditya pun segera memakainya dan berjalan keluar dari ruang ganti.
"Yank, Sayang" teriak Ditya berjalan ke luar dari kamar
__ADS_1
Ditya menuruni tangga dan mendapati istrinya sedang menata makanan di atas meja makan.
"Mas ayo makan dulu" kata Tiara
"Iya sayang" Ditya pun duduk di kursi meja makan
Tiara segera mengambilkan makanan untuk suaminya. Dan Dia pun ikut duduk dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Selesai makan malam mereka kembali masuk ke kamar. Duduk di atas tempat tidur dengan saling berpelukan.
"Tadi pulang jam berapa Yank?" tanya Ditya sambil mengelus kepala sang istri dan memainkan rambutnya
"Jam 4 sore" jawab Tiara masih memeluk tubuh suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada Ditya.
"Ngapain aja tadi sama temen kamu?" tanya Ditya masih memainkan rambut sang istri
"Gak ngapa ngapain, cuma ngobrol aja sambil makan siang " jelas Tiara
"Oh ya siapa nama temen kamu itu ? Ko kayanya kamu suka banget sama Dia?" tanya Ditya
"Dia memang baik banget loh Mas, jadi aku suka berteman sama Dia. Namanya itu...."
Drettt... Dretttt
"Bentar sayang ada telpon, Mas angkat dulu ya"kata Ditya
Tiara mengangguk dan melepas pelukan nya membiarkan suaminya mengambil ponsel dan menerima telpon nya.
Bersambung
__ADS_1