Kau Istriku Bukan Simpananku

Kau Istriku Bukan Simpananku
Part 66


__ADS_3

"Seminggu lagi kau mulai kuliah sayang, apa kau siap?" Ditya mengelus kepala Tiara yang berada di dalam pelukannya


Kenapa perasaanku gak enak ya. Kenapa aku merasa kalau aku gak boleh kuliah.


"Sayang" panggil Ditya lagi karna istrinya malah diam melamun.


"Eh iya Mas"


"Kau kenapa?" tanya Ditya menatap wajah istrinya


"Tidak papa ko" Tiara tersenyum dan kembali menjatuhkan kepalanya ke dada suaminya.


"Yank kalau sudah kuliah nanti kamu harus hati hati dan jaga diri baik baik"


Entah kenapa Ditya merasa tidak rela mengizinkan istrinya kuliah. Bukan karna ingin memutuskan impian sang istri. Tapi Ditya merasa cemas dan khawatir berlebihan saja.


Aduhh ada apa dengan ku? Kenapa aku merasa kalau aku tidak akan kuliah ya. Aku merasa ada yang harus aku lindungi. Tapi apa..?


"Iya Mas"


Ditya menciumi wajah istrinya "Kita tidur yuk"


Eh tumben langsung tidur, ada apa dengan nya?. Tiara


Kenapa aku takut melakukan nya ya. Aku takut menyakiti Tia, tapi apa yang aku sakiti coba? Tia kan sudah biasa, ish ada apa denganku. Ditya


Malam ini Ditya dan Tiara merasakan perasaan yang aneh. Mereka merasa kalau ada yang harus mereka jaga. Tapi apa...? Entahlah keduanya merasa ada perlu mereka jaga saat ini.


Cup


"Tidur ya" Ditya mencium kening istrinya dan memeluk Tiara.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Pagi hari nya Tiara merasa badan nya sangat lemah dan malas untuk berbuat apa apa. Setelah shalat subuh Tiara kembali berbaring di bawah selimut.


Ditya menatap heran pada Tiara. Tidak biasanya Tiara kembali tidur jika sudah shalat subuh. Dia biasanya akan langsung turun dan membuat sarapan.

__ADS_1


"Sayang kamu sakit?" Ditya menempelkan punggung tangan nya di dahi Tiara. Merasakan suhu tubuh istrinya.


Tidak panas.


"Tia gak papa Mas, cuma mau tiduran aja. Gak tau kenapa Tia males ngapa ngapain, maaf ya Tia gak buatin Mas sarapan" kata Tiara menggenggam tangan suaminya


"Gak papa ko sayang, kan masih ada Bibi. Ya udah kamu tidur lagi aja"


Ditya ikut naik ke tempat tidur dan memeluk istrinya. Dia ikut memejamkan matanya walaupun tidak kembali tertidur.


Sampai jam 8 pagi Tiara masih belum bangun. Hal ini malah membuat Ditya cemas. Tanpa sepengetahuan Tiara, Ditya menelpon dokter karna melihat sikap istrinya yang akhir akhir ini terlihat sangat aneh.


"Hmm"


Tiara menggeliat dan mulai membuka matanya. Dia melihat ke arah suaminya yang sudah rapi dan duduk di pinggir tempat tidur.


"Mas jam berapa ini?" tanya Tiara bangun dan duduk menyandar


"Jam delapan sayang, kamu sakit? Wajahnya pucet banget" kata Ditya khawatir


Hah? Emang iya? Tapi aku tidak merasa sedang sakit.


Tok tok tok


"Tuan, Nona dokter nya sudah datang" teriak Bi Esih di balik pintu kamar


Hah Dokter?


"Sayang kenapa memanggil dokter? Tia gak sakit ko" kata Tiara bingung


"Wajah mu pucat Yank, aku gak mau ambil resiko. Kau harus di periksa" kata Ditya


"Tap..tapi Mas...."


"Tia sayang, udah jangan membantah" kata Ditya tegas


"Masuk Bi" teriak Ditya

__ADS_1


Ceklek


Bi Esih masuk di ikuti Dokter perempuan paruh baya. Setelah mempersilahkan Dokter, Bi Esih langsung keluar dari kamar Tuan nya.


"Kapan terakhir kali Nona datang bulan?" tanya Dokter setelah selesai memeriksa keadaan Tiara.


Hah? Bulan ini aku belum datang bulan ya. Ko aku baru sadar.


"Bulan ini saya tidak datang bulan Dok" jelas Tiara


"Saya tidak bisa memastikan langsung. Tapi lebih baik anda langsung ke rumah sakit untuk di periksa oleh dokter SPOG"


SPOG? Apa itu artinya.....


"Memang istri saya sakit apa dok?" tanya Ditya


Hah? Masa iya Mas Ditya tidak mengerti maksud dokter.


"Lebih baik langsung ke rumah sakit saja Tuan"


"Baiklah, sekarang saya akan langsung ke rumah sakit" kata Ditya


"Mas bukan nya mau ke kantor? Tia bisa sendiri ko, di anterin Pak Dadang aja nanti"


"Enggak sayang, aku akan menemanimu. Biar urusan kantor di hendel dulu sama Al" jelas Ditya


Tiara hanya mengangguk, tidak mau membantah ucapan suaminya lagi. Sekarang yang memenuhi fikiran nya adalah kenapa Dia harus periksa ke dokter SPOG. Bolehkah Tiara berharap saat ini?


Aku belum sepercaya diri itu untuk berharap lebih. Tapi semoga saja.


Berbeda dengan Tiara, Ditya malah berfikiran kalau penyakit istrinya semakin parah. Dia benar benar takut terjadi apa apa dengan Tiara.


Tuhan, ku mohon jangan sampai terjadi apa apa dengan istriku. Aku tidak bisa hidup tanpanya.


Apa mungkin ini jawaban dari kegelisahan ku selama ini. Apa Tia akan pergi? Tidak..Tidak Tia gak boleh pergi ninggalin aku.


Entahlah kenapa Ditya bisa sebodoh itu. Dia tidak tahu arti dari kata dokter SPOG.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2