
Celin tersenyum bahagia saat suaminya datang membawa apa yang Dia inginkan. Dua kotak pizza berbeda rasa.
"Terimakasih sayang" kata Celin
Alvin hanya menanggapi dengan senyuman "Dimakan ya"
Celin mengangguk dan langsung mengambil sepotong pizza dan memakannya. Alvin pun ikut memakan nya. Hanya satu potong saja Alvin sudah merasa kenyang. Sementara Celin hampir menghabiskan dua box pizza itu.
"Enak ya sayang" kata Alvin
Celin mengangguk masih dengan mulut yang penuh dengan pizaa.
"Pelan pelan makan nya Sayang, nanti keselek" kata Alvin lembut
Celin tidak memperdulikan nya. Sampai Dia merasa kenyang baru Celin menghentikan makannya.
Kini Celin dan Alvin sedang berada di dalam kamar. Celin memeluk tubuh suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Alvin mencubit gemas pipi Celin "Kamu makin berisi deh sayang"
Alvin terkejut saat tiba tiba Celin bangun dan duduk. Melepaskan pelukan nya.
"Maksudnya?" terdengar nada tidak suka dari ucapan Celin
Alvin mengerutkan keningnya "Maksudnya apa sayang? Iya kamu makin berisi aku su....."
"Jadi aku gendut gitu? Iya?" teriak Celin kesal
Hah? Kenapa Dia marah.
"Bukan gitu sayang, maksud aku...."
"Jahat, kamu jahat ngatain aku gendut padahal aku lagi ngandung anak kamu. Hiks hiks" Celin sudah menangis terisak
Ehh. Siapa yang mengataimu gendut.
"Sayang hey, jangan nangis. Aku gak bermaksud ngatain kamu gendut. Aku cuma..."
Cuma apa ya? Aku juga bingung.
__ADS_1
"Kamu jahat banget" Celin semakin menangis terisak
Alvin segera memeluk istrinya, meskipun Celin berontak. Alvin tetap memeluknya, tak peduli Celin yang terus memukul dadanya.
"Udah sayang, jangan nangis lagi. Aku minta maaf" kata Alvin
Ibu hamil memang sensitif banget.
Celin terus menangis sampai Dia lelah dan tertidur di pelukan suaminya. Ingin sekali Alvin tertawa melihat tingkah istrinya ini.
Kamu lucu sayang. Cup
Alvin mencium kening Celin, menarik selimut sampai ke pinggang istrinya. Dia ikut berbaring dan memeluk Celin.
I Love You Sayang.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Tiara berbinar saat penjual bakso itu sudah mengantarkan pesanan mereka. Tiara segera mengambil sambal, tapi saat akan menuangkan sambal itu ke mangkuknya tiba tiba Ditya merampasnya.
"Massss" Tiara merengek dan mencoba mengambil kembali botol sambal itu.
Tiara cemberut "Iya deh iya"
Padahal kan cuma dikit gak akan terjadi apa apa. Negeselin dasar.
"Udah gak usah cemberut gitu, ini demi kebaikan kamu dan baby kita juga sayang" kata Ditya lembut
"Iya Mas"
Mereka pun memakan bakso dengan tenang. Setelahnya Ditya langsung mengajak istrinya pulang ke rumah mereka.
"Mas langsung pergi ya, ada kerjaan mendadak sama Alvin" kata Ditya setelah mengantar istrinya sampai ke kamar.
"Iya Mas, hati hati ya"
Cup
Ditya mencium kening istrinya lalu Dia pergi keluar dari kamar.
__ADS_1
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Mereka bertemu di apartemen yang hanya mereka berdua yang tahu. Sebenarnya keduanya berbohong, mereka tidak ada kerjaan apapun. Hanya saja para suami ini ingin menenangkan fikiran setelah menghadapi para bumil yang sensitif.
"Kalau bukan karna keinginan anak ku, gak akan aku turutin kemauan Celin Dit. Sumpah maunya yang aneh aneh" cerita Alvin
Ditya mengangguk "Iya Al, ternyata susah juga hadapi Ibu hamil. Mereka sangat sensitif"
Ditya dan Alvin menghela nafas secara bersamaan.
"Ahhhh. Tapi aku bahagia bisa merasakan saat saat ini Al" kaya Ditya lagi
"Heem, merasakan yang namanya di omeli istri dan menghadapi istri yang sedang hamil" kata Alvin tersenyum
"Iya Al, aku masih gak menyangka kalau kita akan menikah dan yang paling gak di sangka adalah kau yang menikah dengan Linn"
Ditya tersenyum mengingat kembali kisah cintanya. Yang sudah di atur dari kecil, tapi pada akhirnya Ditya bisa mengambil keputusan sendiri.
"Semoga kita akan selalu bahagia bersama keluarga kita ya Dit" Alvin menepuk bahu sahabatnya
"Amin"
Sudah lama mereka tidak saling bercerita seperti ini. Hanya berdua, menceritakan apa saja yang ingin mereka ceritakan. Semenjak menikah keduanya sibuk dengan urusan masing masing. Di tambah lagi pekerjaan yang selalu banyak.
"Aku berniat menjual apartemen ini Al" kata Ditya menatap langit langit apartemen nya.
Alvin menoleh dan mengerutkan keningnya "Kenapa?"
"Disini kita melakukan kesalahan Al, kita menenangkan fikiran kita dengan meminum alkohol. Aku mau berhenti Al, aku ingin sehat dan panjang umur biar bisa melihat anak anak ku dewasa nanti" jelas Ditya
Mereka memang bukan pecandu minuman terlarang itu. Tapi jika sedang banyak masalah mereka akan datang ke apartemen ini yang selalu ada banyak minuman alkohol di sini.
"Kau benar Dit, aku juga ingin berhenti meminum minuman haram itu. Aku ingin memulai hidup baru yang lebih baik dan sehat" kata Alvin
"Jadi kita jual saja apartemen ini. Cukup kita yang tahu kenangan buruk tentang kita disini. Kita mulai hidup baru Al" kata Ditya tersenyum
Alvin mengangguk "Iya Dit"
Keduanya memutuskan ini adalah pertemuan mereka terakhir kalinya di apartemen ini. Mereka tidak akan melakukan hal buruk yang pernah dulu mereka lakukan tanpa ada yang tahu. Berhenti meminum minuman haram itu.
__ADS_1
Bersambung