
Ditya memarkirkan mobilnya di depan rumah kontrakan Tiara. Dia baru bisa berfikir jernih setelah menerima surat gugatan cerai tadi. Membuat Ditya berfikir kalau mungkin Tiara masih berada di tempat ini.
Tok tok tok
Kali ini Ditya mengetuk pintu tanpa mengeluarkan suara. Mencoba mendengarkan apa yang sedang terjadi di dalam rumah itu dengan menempelkan telinganya di pintu.
Tok tok tok
"Sebentar"
Deg
Benarkan? Kenapa selama ini aku bodoh sekali sampai percaya begitu saja pada omongan wanita rubah itu.
Ceklek
Tiara diam mematung melihat orang yang berdiri tegap di depan nya. Menatap intens kepadanya, Tiara tidak menyangka kalau suaminya akan kembali kesini.
Tiara segera kembali masuk dan akan menutup pintu. Namun sebelum pintu menutup, kaki Ditya sudah di masukan menghalangi agar pintu tidak tertutup.
"Mas mau a...apa?" kata Tiara tergagap
Ditya tidak menjawab, Dia menerobos masuk ke dalam rumah. Dia duduk di sofa ruang tamu dengan tenang, padahal dadanya sudah bergemuruh sejak tadi, memndam rasa rindu kepada sang istri.
Duhh kenapa Dia kesini lagi si? Aku harus bagaimana?
Tiara masih diam mematung ditempatnya. Bingung harus berbuat apa, saat ini hatinya masih merasa sangat kecewa pada suaminya itu. Kepercayaan nya pada Ditya mulai berkurang setelah apa yang Dia lakukan padanya.
"Ekhem.
__ADS_1
Kenapa masih disitu? Kemarilah" kata Ditya
Tiara tak bergeming, masih diam di posisinya. Menatap bingung pada suaminya. Untuk saat ini Tiara belum siap untuk bertemu dengan nya.
"Kemarilah" suara Ditya sudah terdengar berat
Mau tak mau Tiara mendekat, berdiri di samping sofa tanpa mau duduk di samping suaminya.
"Duduklah" kata Ditya masih belum menoleh ke arah Tiara
Tidak mau banyak bicara, Tiara pun duduk di samping Ditya. Keduanya diam dengan fikiran masing masing.
Saling melirik pun tidak. Mereka benar benar menahan rasa rindu dalam hatinya, sehingga tidak sanggup jika harus saling menatap untuk saat ini.
"Ma..mau apa Mas kesini?" Tiara membuka pembicaraan, Dia ingin segera mengakhiri kecanggungan ini.
"Kenapa kau pergi tanpa meminta penjelasan ku dulu?" Ditya malah balik bertanya
Kata itu keluar begitu saja dari mulut Tiara, Dia merasa harus meluruskan semuanya dan segera mengakhiri semuanya.
"Tapi seharusnya kau mendengarkan penjelasan dariku dulu sebelum memutuskan pergi" kata Ditya tak mau kalah
Tiara menghela nafas berat "Baiklah, maafkan aku karna telah pergi. Tapi saat ini aku sudah ingin mengakhiri hubungan kita. Aku tidak mau menjadi simpanan mu seterusnya. Aku tidak mau menyakiti mbak Celin"
Ditya menoleh, menatap tajam pada Tiara "Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi istriku. Dan kau tidak akan aku lepaskan"
Tiara menatap tidak percaya pada suaminya itu "Mas jangan egois, ingatlah mbak Celin. Wanita yang sudah di jodohkan denganmu sejak kecil. Dia sangat mencintaimu, aku tahu itu"
Ditya diam, mencerna setiap kata yang di ucapkan Tiara. Benang kusut itu kini mulai bisa Ditya luruskan. Dia mulai tahu kenapa Tiara bisa ada di pesta pertunangan nya. Dan Tiara tahu semua tentang nya dengan Celin.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa bergikir seperti itu?" tanya Ditya
"Hahaha" Tiara tertawa hambar, dengan air mata yang lolos begitu saja. Segera Dia usap air mata itu dengan kasar.
"Mas tahu siapa yang selalu aku temui di cafe Apple? Yang aku bilang sahabat aku? Itu adalah mbak Celin, wanita baik yang tidak melihat seseorang dari setatusnya"
Tiara menghela nafas "Dia selalu saja menceritakan tentang calon tunangan nya yang mengatakan 'tidak mencintainya dan mencintai wanita lain'. Dia menangis saat menceritakan itu, Dia sangat mencitai calon tunangan nya itu"
Tiara tersenyum getir dengan air mata yang kembali lolos begitu saja. Mengingat bagaimana Celin menangis saat menceritakan itu. Dan ternyata orang yang di ceritakan sahabatnya itu adalah suaminya sendiri. Siapa yang tidak shock mengetahui hal seperti itu.
"Dan bodohnya aku tidak pernah menanyakan siapa calon tunangan mbak Celin, yang ternyata suamiku sendiri" kata Tiara
Ditya hanya diam menunduk, tidak menyangka kalau semuanya akan serumit ini. Mendapat kembali kepercayaan istrinya mungkin tidak akan semudah apa yang dibayangakan. Tiara benar benar kecewa, di tambah lagi Dia merasa bersalah pada Celin.
Tiara melepas cincin pernikahan nya, meraih tangan Ditya menyimpan cincin itu di telapak tangan Ditya. Menutup kembali tangan Ditya agar menggenggam cincin itu.
"Ceraikan aku dan kembalilah pada mbak Celin !!" mengusap air mata nakal yang terus mengalir di pipinya.
"Dia sangat mencintaimu Mas, aku tidak mau merusak lagi hubungan kalian. Aku ikhlas dan aku tidak menyesal karna pernah menikah dengan mu dan menjadi istrimu selama ini. Tapi mungkin kita tidak berjodoh, pergilah Mas temui jodoh mu" kata Tiara tersenyum getir
Ditya menggeleng pelan, matanya sudah berkaca kaca "Mas tidak akan menceraikan mu sayang, maafkan Mas"
Tiara tersenyum dan mengusap punggung tangan suaminya "Aku sudah memaafkan Mas, pergilah kembali pada jodohmu"
Ditya mendongak, mengusap ujung matanya yang sudah berair. Menatap lekat mata istrinya, terlihat jelas kekecewaan dan luka yang terpancar dari matanya.
"Maafkan Mas, jangan tinggalkan Mas sayang. Mas mohon" baru kali ini Ditya memohon pada seseorang dengan air mata yang berlinang.
Tiara hanya diam, Dia juga sebenarnya tidak mau berpisah dengan suaminya. Jujur saja Dia sangat mencintai Ditya, tapi mau bagaimana lagi. Tiara tidak mau menyakiti Celin lagi.
__ADS_1
Bersambung