
"Bagaimana keadaan kalian disana?"
"Baik Mi, kita baik baik aja"
"Syukurlah, kalau kalian baik baik saja. Cepatlah selesaikan kuliah kalian supaya kalian bida cepat pulang ke tanah air"
"Iya Mi"
Setelah mengobrol cukup panjang dengan ibunya. Nevan mematikan telponnya. Menyimpang ponsel di atas nakas.
Nevan mencoba menutupi semuanya dari sang Ibu. Dia tidak mau kalau Ibunya akan khawatir dan ikut merasa kecewa mendengar cerita anaknya yang di kecewakan oleh cinta pertamanya.
Tidak jauh dengan Nevan,
Rafa pun melakukan hal yang sama. Dia tidak mau Ibunya juga ikut merasakan sakit hati dengan apa yang telah terjadi. Apalagi yang melakukan nya adalah saudaranya sendiri.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Hari hari berlalu, Nevan dan Rafa melalui segala aktifitasnya dengan Nevan dan Rafa yang sekarang.
Tidak ada lagi senyuman ramah yang selalu mereka tampilkan. Kini mereka berdua menjadi sangat dingin dan datar.
Tidak ada satupun wanita yang berani mendekati Nevan ataupun Rafa. Melihat bagaimana Rafa dan Nevan bersikap begitu dingin membuat para wanita pun mundur untuk mendekatinya.
Aulia dan Desi telah kembali ke negaranya. Mereka melanjutkan kuliahnya di sana. Sementara Mikchael sudah tidak mau berhubungan lagi dengan Aulia. Dia telah di kecewakan dan tidak mau di kecewakan kembali.
__ADS_1
Sampai saat ini Oma Gisel ataupun kedua orang tua Aulia tidak ada yang tahu permasalahan ini. Cukup Amel, Imran, Desi dan suaminya.
Aulia berjanji tidak akan mengulangi nya lagi pada mereka asalkan mereka semua tidak melaporkan pada Oma, Opa dan kedua orang tuanya.
Dan mereka menyanggupi asalkan Aulia benar benar tidak mengulanginya lagi. Tapi jika terulang lagi, maka sudah tidak ada ampun untuk nya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Di tempat yang berbeda dan negara yang berbeda, Vera baru saja keluar dari sekolahnya. Melihat sudah ada mobil yang terparkir di depan gerbang sekolah.
"Sudah di jemput Ver?" tanya Feni
"Tuh liat, sudah stanbye sejak tadi"Vera menghela nafas sambil menunjuk me arah mobil Ardi.
Semenjak jadian dengan Ardi. Vera sudah tidak di antar jemput oleh supir lagi. Dan Ardi selalu sudah sampai di depan gerbang Vera sebelum bel pulang berbunyi.
Vera tahu apa yang di maksud Ardi. Memang Ardi pernah memergoki Vera sedang mengobrol dengan teman pria sekelasnya. Dan itu membuat sang kekasih yang posesif cemburu tidak karuan.
"Hahaha. Ya udah sana samperin pacar posisefmu itu" kata Feni mendorong pelan tubuh Vera
"Ya udah aku duluan ya Fen" Vera melambaikan tangan sambil berjalan ke arah mobil Ardi.
Ardi yang melihat kekasihnya sudah berjalan mendekat ke arah mobilnya langsung membuka kaca jendela mobilnya.
"Masuk!"
__ADS_1
Itulah kata yang selalu keluar dari mulut Ardi saat menjempur Vera. Tidak ada kata kata manis atau apapun itu. Dan Vera sudah mengerti bagaimana sifat Ardi yang memang dingin dan datar.
Vera langsung masuk ke dalam mobil Ardi. Mobil melaju meninggalkan sekolah Vera. Di dalam mobil keduanya masih diam.
"Sayang besok sibuk gak?" tanya Vera memecah keheningan
Ardi menoleh sekilas lalu kembali fokus pada jalanan di depan nya "Ada apa memang nya?"
"Aku mau di anter ke toko buku, ada buku yang mau aku beli" jelas Vera
"Hmmm. Ya udah nanti aku anter. Jam berapa?" kata Ardi
Ish padahal aku berharap Dia gak bisa nganter. Biar aku bisa jalan jalan sama Feni. Yah gagal sudah.
"Hmmm. Beneran kamu gak lagi sibuk? Kalau sibuk gak papa kok, Vei bisa di anter sama Feni" kata Vera mencoba mencari celah
"Vei sayang, jam berapa berangkat nya? Aku bisa dan aku gak sibuk. Kenapa kau seperti tidak mau aku anter?" kata Ardi sinis
Kok Dia bisa tahu sih isi fikiran ku.
"Hehe. Enggak kok Sayang, aku seneng banget kalau kamu bisa anterin aku" kata Vera tersenyum manis
Karna aku sudah tidak mungkin bisa bebas kaya dulu lagi. Tapi aku sangat bahagia bisa mempunyai kekasih seperti Dia. Walaupun kadang kadang sangat aneh si.
"Ya udah besok aku jemput ya" kata Ardi mengelus kepala Vera
__ADS_1
Vera hanya mengangguk dan tersenyum manis.
Bersambung