
Tiara duduk termenung di balkon kamarnya. Mungkin Dia bisa menutupi segala kegelisahan, rasa cemas dan khawatirnya dari orang lain. Senyuman ceria selalu Dia setel di hadapan siapapun.
Tapi jika dirinya sedang sendiri seperti ini. Dia tidak bisa lagi menutupi segala perasaan nya. Wanita mana yang tidak sakit, dan gelisah saat mengetahui kalau dirinya sulit memiliki keturunan. Apalagi sekarang posisi nya Dia sudah menikah.
Aku selalu percaya padamu Tuhan. Kau akan memberikan yang terbaik untuk keluargaku. Aku akan mengikuti alur takdirmu.
Sedih? Sudah pasti, Tiara sangat sedih dengan keadaan nya sekarang. Apalalgi ketika mengingat tentang persyaratan yang kakenya Ditya ajukan pada mereka. Sungguh hatinya sangat gelisah.
Mungkinkah Opa Fernan akan tetap merestui hubungan kita meski aku akan sulit memiliki keturunan.
Tatapan mata yang selalu memancarkan kehangatan, kebahagiaan, dan keceriaan. Kini tidak ada lgi, hanya ada tatapan kosong.
Ceklek
Tiara menghapus air mata yang sedari tadi membawahi pipinya. Dia segera menetralkan kembali ekspresi wajahnya saat mendengar suara pintu kamar terbuka. Sudah pasti suaminya yang datang.
"Assalamualaikum Sayang"
"Waalaikumsalam"
Tiara masuk ke dalam kamar dengan senyuman ceria. Seperti biasa Dia selalu bisa menutupi kesedihan nya.
Tiara mencium tangan suaminya dan Ditya mencium keninng nya. Ditya menatap intens pada wajah istrinya. Melihat matanya sedikit memerah dan ada sedikit sisa air mata di sana.
"Yank kamu nangis?" tanya Ditya masih menatap intens wajah istrinya
Tiara mengisap sudut matanya yang masih meninggalkan bekas air mata. Tersenyum manis pada suaminya.
"Enggak, siapa yang nangis? Tadi di balkon angin nya kenceng banget jadi perih deh kena mata"
__ADS_1
Tiara langsung memalingkan wajahnya agar Ditya tidak tahu kalau Dia sedang berbohong.
"Ohh gitu ya, ya udah aku mandi dulu ya" kembali mencium kening istrinya sebelum pergi ke kamar mandi.
Aku tahu kau berbohong, kau pasti habis menangis kan. Kenapa selalu memendamnya sendiri.
Ditya pun masuk ke kamar mandi sementara Tiara turun ke lantai bawah untuk menyiapkan makan malam.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Ditya berjalan ke arah balkon kamar saat mendapat telpon dari ibunya. Dia melihat sekilas pada istrinya yang sudah terlelap.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Dit bagaimana kabarmu dan istrumu? Kenapa gak pernah berkunjung ke rumah. Padahal rumah kita kan deket"
"Maaf Mi, Ditya lagi sibuk akhir akhir ini "
"Oh ya Dit, gimana apa sudah ada tanda kehamilan di istrimu?"
Deg
Pertanyaan yang sangat Ditya hindari dari anggota keluarganya. Di bingung harus menjawab apa jika sudah di tanya seperti ini. Apalagi Ditya paling sulit kalau berbohong sama ibunya.
"Dit hallo, Dit kamu tidak papa kan"
"Ekhem.
__ADS_1
Iya Mi, aku tidak papa"
"Jadi gimana? Apa ada kabar bagus tentang istrimu?"
Ditya menghela nafas berat "Mi apa Mami akan marah jika Tiara belum hamil?"
"Loh ko marah sih Dit, ya enggak lah. Yang namanya anak, jodoh, rezeki dan maut semuanya Allah yang ngatur. Masa Mami marah, mungkin memang belum dikasih kepercayaan aja sama Allah"
Ditya tersenyum mendengar ucapan ibunya "Terimakasih Mi, tapi untuk saat ini Tiara belum hamil Mi"
"Gak papa, kan kalian masih muda. Perjalanan masih panjang, tetap beruhasa dan berdoa"
"Terimakasih Mi, besok aku akan ke rumah. Ada yang mau aku bicarakan sama kalian. Tapi mungkin tidak sama Tia"
"Loh kenapa Tia gak ikut?"
"Tia lagi gak enak badan, lagian ini urusan aku ko. Jadi Tia gak perlu ikut"
"Ohh baiklah"
Setelah mengakhiri telpon nya Ditya kembali ke dalam kamar. Dia duduk di pinggir tempat tidur menatap wajah teduh istrinya yang terlelap. Di usapnya lembut pipi Tiara.
Sayang jangan pernah terbebani dengan kenyataan ini. Yakinlah kalau semuanya akan baik baik saja. Kita akan memiliki banyak anak yang lucu lucu. Aku akan terus berusaha untuk menyembuhkan mu.
Cup
Ditya mencium kening istrinya lalu naik ke tempat tidur. Memeluk istrinya dan mulai memejamkan mata.
Selamat tidur sayangku.
__ADS_1
Bersambung