Kau Istriku Bukan Simpananku

Kau Istriku Bukan Simpananku
Part 30


__ADS_3

"Maaf lama Linn" Ditya sudah sampai di mall dan langsung menghampiri Celin


"Gak papa ko Dit" jawab Celin tersenyum ramah


"Ayo kita cari cincin nya sekarang" ajak Ditya


Celin mengangguk dan mengikuti langkah Ditya. Mereka berjalan beriringan dengan perasaan sedikit canggung.


Sesampainya di toko perhiasan Celin dan Ditya masih saling diam. Celin mengalihkan perhatian nya dengan menatap cincin dan perhiasan lain nya di etalase.


"Cepatlah pilih cincin yang kau suka Linn" kata Ditya


"Heem. Kita cari yang biasa aja ya kan cuma sementara" ada nada getir dari ucapan Celin barusan dan Ditya menyadarinya.


"Silahkan Tuan, Nona mau beli perhiasan seperti apa?" tanya penjaga toko


"Carikan cincin pertunangan yang bagus" jawab Ditya, Celin hanya diam membiarkan Ditya yang memilih cincin nya.


"Baik Tuan tunggu sebentar" penjaga toko pun mengambilkan sepasang cincin berlian yang di inginkan Ditya.


"Ini Tuan, silahkan di lihat dulu "


Ditya mengambil kotak cincin itu dan membukanya lalu menunjukan pada Celin.


"Bsgaimana Linn? Apa kau suka?" tanya Ditya


Kenapa kau menanyakan itu padaku Dit? Seolah aku adalah calon tunangan mu sungguhan. Seolah kita saling mencintai.


"Ya aku suka, yang ini saja Dit" jawab Celin tidak mau membuang waktu untuk memilih cincin. Toh mereka hanya bertunangan sementara saja.


"Oke mbak kami memilih yang ini" Ditya menyerahkan kartu black card pada penjaga toko untuk pembayaran.


Setelah selesai membeli cincin pertunangan. Ditya dan Celin pun memutuskan untuk makan siang dulu karna memang sudah waktunya makan siang.


"Kamu mau pesan apa Linn?" tanya Ditya


"Samakan saja Dit" jawab Celin


Ditya pun memesankan makanan dan minuman untuk mereka pada pelayan.

__ADS_1


"Linn" kata Ditya lirih


Celin mendongak dan menatap Ditya yang sedang menatap lekat wajahnya. Perlahan Ditya meraih tangan Celin dan menggenggam nya di atas meja.


"Maaf"


Hanya itu yang keluar dari mulut Ditya. Dia sadar kalau kejujuran nya waktu itu membuat Celin sangat terluka. Tapi mau bagaimana lagi, Celin akan semakin terluka kalau Ditya terus terusan berpura pura di depan nya. Terkadang kejujuran memang sangat menyakitkan.


Celin hanya diam menatap kosong pada Ditya. Tidak ada yang perlu di maafkan atas hubungan mereka. Memang perasaan tidak bisa di paksakan. Celin tahu itu, Dia bukanlah wanita egois yang menghalal kan segala cara untuk mendapatkan pria yang di cintainya.


"Maaf karna sudah membuat mu terluka. Aku tahu kau sangat terluka walaupun kau mencoba menutupi nya. Maafkan aku Linn, tapi mau bagaimana lagi aku tidak mau kau semakin terluka kalau harus hidup bersamaku. Bersama orang yang tidak mencintaimu" kata Ditya merasa sangat bersalah


Celin mengerjap, tersadar dari lamunan nya "Tidak perlu minta maaf Dit, tidak ada yang salah di antara kita. Mari kita hidup bahagia dengan takdir yang Allah berikan pada kita"


Ditya mengangguk "Kau pasti akan menemukan pria yang lebih baik dariku Linn. Pria yang bisa menyayangi dan mencintaimu sepenuh hati. Aku akan selalu mendoakan mu"


Celin tersenyum "Terimakasih, aku sudah ikhlas dengan semuanya Dit. Mungkin kau bukan yang di takdirkan Allah untuk menjadi jodohku "


"Ya, jodohmu pasti lebih baik dari aku Linn. Percayalah Allah akan memberikan yang terbaik untuk wanita baik sepertimu" kata Ditya ,Celin tersenyum dan mengangguk.


"Kau akan tetap menjadi adik dan sahabatku Linn. Kau jangan sungkan jika membutuhkan bantuanku" kata Ditya lagi


"Saudara " kata Ditya tersenyum dan mengusap kepala Celin yang tertutup hijab.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀 ...


Tiara menatap bingung pada ponselnya. Lima menit yang lalu Meta mengirim pesan padanya yang berisikan foto. Tiara tahu itu adalah suaminya. Tapi Dia tidak tahu wanita yang sedang bersama suaminya. Wanita itu hanya terlihat punggung nya saja.


Apa maksud Mbak Meta mengirim aku foto ini. Dan siapa wanita itu? Aku seperti mengenal bentuk tubuhnya. Tapi ya sudahlah biar aku tanyakan langsung pada Mas Ditya nanti.


Tiara bukanlah orang yang gampang di provokasi oleh orang lain. Sebelum Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Dia tidak akan langsung percaya pada apa yang orang bicarakan.


Malam harinya Ditya pulang ke rumah mereka dengan perasaan sedikit lega. Karna Dia sudah bisa meluruskan masalahnya dengan Celin. Ditya sangat merasa bersalah pada Celin.


Apa lagi setelah mengatakan kejujuran tentang perasaan nya Celin tidak pernah lagi menghubunginya. Celin seolah menghidari Ditya dan Dia tidak nyaman jika Celin menghindarinya dan itu membuatnya semakin merasa bersalah.


"Assalamualaikum" Ditya masuk ke dalam rumah dan melihat Tiara yang sedang duduk di sofa menunggu nya.


"Waalaikumsalam. Mas sudah pulang" Tiara menghampiri suaminya dan mencium tangan Ditya.

__ADS_1


"Iya Sayang" Ditya mencium kening istrinya


Tiara mengambil tas kerja dan jas Ditya yang memang sudah di lepas "Mau makan dulu atau mandi dulu?"


"Mas mandi dulu aja sayang, gerah nih" kata Ditya merangkul pinggang istrinya


"Baiklah, biar Tia siapkan airnya" kata Tiara


Setelah menyiapkan air untuk mandi suaminya dan juga pakaian untuk suami. Taira kembali ke lantai bawah untuk menyiapkan makan malam.


Tak lama kemudian Ditya pun turun ke bawah dan duduk di kursi meja makan. Mereka makan dengab tenang.


Kini mereka telah berada di kamar, Dengab posisi yang sangat di sukai Ditya. Tiara memeluk tubuhnya menyandarkan kepala di dada bidangnya.


"Mas tadi pergi ke mall ya?" tanya Tiara mulai menanyakan apa yang ada di pikiran nya.


Deg


Kenapa Tia bisa tahu.


"Kenapa emang nya Yank?" bukan nya menjawab malah balik bertanya


Tiara menggeleng "Enggak papa, cuma nanya aja"


Ditya tahu istrinya itu sedang memendam sesuatu. Dan Ditya tidak mau terus membohongi Tiara.


"Iya Yank, tadi aku ke mall ada urusan sama temen aku" kata Ditya


"Ohh siapa temennya Mas? Ko aku cuma tahu Mas Alvin aja temen nya Mas" kata Tiara


"Iya sayang, tadi aku ketemu sama Linn. Dia mau di antar beli sesuatu. Linn itu temen aku dari kecil, orang tua kami temenan" jelas Ditya


"Ohh, lain kali aku mau dong ketemu sama Dia Mas" kata Tiara


Kan aku bilang juga apa? Cuma temen kan, untung aja aku tidak langsung negatif tingking pada suamiku.


"Iya sayang, nanti aku kenalain ya kapan kapan. Dia itu orang baik banget sama kaya kamu selalu ceria dalam keadaan apapun" kata Ditya


Tiara hanya mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2