
Waktu berlalu begitu cepat, tinggal satu minggu lagi acara pernikahan Vera dan Ardi akan terlaksana. Semua persiapan sudah hampir selesai, tinggal menunggu hari H.
Nessa dan keluarganya pun telah sampai di rumah orang tuanya. Selama ini Nessa akan ke rumah orang tuanya jika suaminya mempunyai libur cukup panjang.
Jarak rumah Nessa dan rumah orang tuanya memang tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam.
Tapi Angga selalu melarang jika Nesaa akan berangkat ke rumah orang tuanya sendiri. Dia terlalu khawatir.
Weekend ini keluarga Ditya sedang berkumpul. Suasana terasa sangat ramai saat si kecil Qisti sedang aktif aktifnya.
Nessa sekarang sudah mengandung lagi, usia kandungan nya baru 4 minggu. Kehamilan Nessa semakin membuat bahagia keluarganya.
"Van, Vei sama Ardi sudah mau menikah. Kau kapan?" tanya Angga menggoda saudara iparnya itu.
"Jika waktunya tiba" jawab Nevan datar
Angga menghela nafas, Dia pun merasa aneh dengan Nevan yang sekarang. Sangat berbeda jauh dari Nevan yang dulu. Angga pun tidak tahu alasan nya kenapa Nevan dan Rafa bisa berubah seperti ini sekarang.
Nessa dan Tiara datang sambil membawa cemilan juga minuman. Meletakan di atas meja dan ikut bergabung dengan Nevan dan Angga. Sementara Ditya dan Opa Fernan sedang asyik bermain dengan cucunya.
"Van, apa kau tidak mau segera menikah?" tanya Nessa menatap saudara kembarnya
Nevan mengangkat bahu "Entahlah, aku menunggu jodoh dari Allah saja. Jika saatnya sudah tiba, aku akan menikah"
Tiara dan Nessa hanya menghela nafas. Setiap mereka menanyakan hal itu pasti jawaban Nevan selalu saja seperti itu.
"Mi, Mami besok mau ke rumah sakit kan?" tanya Nessa
Tiara menoleh "Heem. Besok jadwal cek up Opa uyut. Oma Faiha tidak bisa mengantarnya"
Nessa mengangguk "Oma sama Opa gak kesini Mi?"
"Mungkin nanti sore Ness" jawab Tiara
__ADS_1
Nessa hanya mengangguk, Dia tetsneyum melihat anaknya sedang berceloteh pada Ditya dan Opa Fernan. Dengan cara bicaranya yang masih belum jelas membuat Qisti terlihat semakin menggemaskan.
Nessa mengelus perutnya yang masih rata.
Sehat selalu di perut Mama ya Nak.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Anya tersenyum saat melihat ponselnya yang berdering dan itu adalah telpon dari sang kekasih.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Sayang lagi apa?"
"Lagi diem aja, barus selesai bantuin Bunda masak makan siang buat adik adik"
"Hmmm. Nanti sore kita pergu yuk. Aku mau beli baju buat acara pernikahan adek aku"
Jujur saja Anya sedikit takut untuk bertemu keluarga Rafa. Dia sering mendengar dari karyawan yang lain kalau keluarga Rafa bukanlah dari kalangan biasa. Ibunya saja pewaris rumah sakit terbesar di kota ini.
"Sayang"
Anya mengerjap, tersadar dari lamunannya "Iya?"
"Gimana? Bisakan nanti kita jalan"
"Iya bisa kok, nanti kita ketemu di tempat biasa"
Tempat biasa yang di maksud Anya adalah taman kota. Sampai saat ini Rafa belum pernah mengantarkan Anya sampai ke tempat tinggalnya karna Anya selalu menolak.
"Sayang, kenapa si aku gak boleh jemput kamu ke rumahmu langsung?"
__ADS_1
"Hmmm. Karna Bunda akan marah kalau aku bawa temen pria ke rumah"
Ck selalu saja itu yang jadi alasan nya. Rafa
"Ya udah nanti kita ketemu di tempat biasa"
"Iya"
Setelah sepakat akan bertemu di taman kota. Anya memutuskan telpon nya.
Ceklek
Rara masuk ke dalam kamar, menghampiri Anya yang sedang duduk di pinggir tempat tidur mereka. Rara duduk di samping Anya.
"Hah. Capek banget, pengen mandi Gue. Gerahh" Rara mengibas ngibaskan tangan nya di dekat wajah nya.
"Gue mau pergi nanti sore sama Rafa. Mau ikut gak?"kata Anya
Rara menoleh "Gak ahh, males Gue. Lagian Lo mau kemana sama Pak Rafa?"
"Gue mau ke mall, Rafa mau belu baju buat acara pernikahan adek nya" jelas Anya
"Ohhh"
"Lo yakin gak mau ikut ke pernikahan adeknya Rafa?" tanya Anya
Rara menggeleng "Gue gak di undang dodol, mana mau Gue ikut kalau gak di undang"
"Nanti Gue bilangin sama Rafa ya biar minta undangan buat Lo" kata Anya
"Gak usah, lagian Gue juga lagi males Nya" kata Rara
"Udah Lo nurut aja, Gue juga sebenarnya males. Tapi karna Rafa sendiri yang ngajak gak mungkin Gue nolak" kata Anya
__ADS_1
Rara hanya pasrah, sekarang Dia menurut saja apa kata Anya.
Bersambung