
"Kau kenapa Ness?" tanya Rafa menatap heran pada Nessa yang berjalan terburu buru dan menundukan kepalanya.
"Aaaa aku malu banget" teriak Nessa sambil menyembunyikan wajahnya di atas meja.
Rafa dan Nevan saling pandang dan mengangkat kedua bahunya.
"Malu kenapa?" tanya Nevan
Nessa mengangkat wajahnya, rambutnya terbuar menutupi wajah. Dia menyibak rambutnya ke belakang dengan tangan nya.
Nessa menatap saudara kembarnya dan juga sahabatnya secara bergantian. Dia pun menceritakan apa yang terjadi, pertemuan nya dengan pria tadi dan kejadian yang sangat memalukan itu.
"Siapa pria itu? Apa Dia berbuat macam macam padamu?" tanya Nevan menyipitkan matanya
"Enggak, Dia gak macam macam sama aku. Cuma aku jadi malu aja tadi di depan Dia" jelas Nessa
Dasar posesif, kalau gak cepat cepat aku jelasin pasti Dia akan langsung mendatangi pria tadi.
"Ya udahlah Ness, ngapain malu si. Emang Dia kuliah disini juga?" tanya Rafa
"Kayanya si iya, tapi gak tau juga" kata Nessa acuh tak acuh
"Ya udah sekarang kita kembali ke kelas aja" kata Nevan
Mereka pun langsung pergi dari kantin dan kembali ke dalam kelas mereka.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Vera berjalan keluar dari kelasnya bersama dengan teman nya Feni. Dia sudah menceritakan apa yang terjadi tadi pagi pada sahabatnya ini.
"Siapa si Ver? Ko aku jadi penasaran ya. Emang kamu beneran gak tau siapa pria yang membentakmu tadi?" tanya Feni
Vera menggeleng "Kau kan tahu kalau aku tidak terlalu tahu siapa Kakak kelas kita. Aku cuma tahu teman teman sekelas saja"
"Siapa ya kira kira?" Feni mengetuk jari telunjuknya ke dagu, sedang berfikir keras.
__ADS_1
"Sudahlah gak usah di fikirin" kata Vera
Mereka pun berjalan menuju parkiran sekolah. Saat mereka sedang asyik mengobrol dan bercanda tiba tiba ada dua orang pria yang menghampiri mereka.
"Hai Feni" sapa Tito tersenyum lebar
"Hai Kak" Feni tersenyum malu malu
Vera menatap pria yang berada di belakang Tito. Pria berwajah dingin dan terlihat sangat jutek.
Inikan orang yang tadi bertabrakan sama aku. Dan eh tunggu dulu. Sepertinya Feni dan Kakak yang ini ada hubungan sepesial deh. Aduhh kenapa aku jadi pusing si.
"Mau pulang ya? Aku anterin yuk" ajak Tito. Feni hanya mengangguk dan tersenyum malu
Tito menepuk bahu sahabatnya "Ar, gue duluan ya"
Ardi hanya mengangguk, Dia masih menatap tajam pada wanita yang tadi pagi menabrak nya.
"Ver, jemputannya belum datang?" tanya Feni. Vera hanya menggeleng
Vera mengangguk dan tersenyum "Gak papa ko Fen, kamu duluan aja. Palingan bentar lagi jemputan aku datang"
"Baiklah, kalau begitu aku duluan ya" kata Feni
Vera mengangguk "Hati hati"
Setelah Feni dan Tito pergi, kini tinggal Vera dan Ardi yang masih ada di sini. Vera bergerak gelisah saat Ardi terus menatapnya dengan tajam.
Kenapa Dia terus menatapku seperti itu.
Tin tin tin
Vera bernafas lega saat mobil yang menjemputnya sudah datang. Dia segera melangkah kan kakinya tanpa berpamitan pada Ardi yang masih berada di sana.
"Dasar anak manja" teriak Ardi, sengaja agar terdengar oleh Vera
__ADS_1
Vera mengempalkan kedua tangan nya. Dia berbalik dan berjalan cepat menghampiri Ardi.
"Heh siapa yang anak manja?" teriak Vera, entah ada keberanian dari mana Vera bisa berteriak sekeras itu pada Ardi.
Ardi tersenyum sinis "Siapa lagi kalau bukan kau, semua wanita sama saja. Sama sama manja dan menyebalkan"
Vera menatap nyalang pada Ardi, Dia juga tidak ingin menjadi wanita manja. Tapi keluarganya lah yang selalu memanjakan Vera hingga Vera tumbuh menjadi gadis seperti sekarang.
Tanpa berkata lagi, Vera langsung pergi meninggalkan Ardi. Dia masuk ke dalam mobil dengan wajah kesal menahan amarahnya.
Ardi menatap mobil yang di tumpangi Vera sampai mobil itu menjauh dan menghilang.
"Dasar gadis manja"
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
"Kau duluan saja Van, aku masih ada urusan sama Nadia" kata Nessa
"Tapi aku tidak mungkin membiarkan mu pergi tanpa aku Ness" kata Nevan khawatir
"Cukup Van, aku sudah dewas aku berhak pergi jalan jalan bersama teman temanku tanpa kau dampingi. Aku juga ingin mempunyai teman selain kau dan Rafa. Biarkan aku merasakan apa yang gadis gadis lain rasakan Van. Mau sampai kapan kau mengekang ku seperti ini?" kata Nessa meluapkan segala kekesalan nya
Dia hanya ingin hidup normal seperti yang lainnya. Jalan jalan bersama teman temannya. Bisa bebas berteman dengan siapa saja.
Sejak kecil Nessa selalu di kekang oleh Ayah dan saudara kembarnya. Tapi sekarang Nessa sudah besar, Dia sudah dewasa dan Nessa tidak ingin terus terusan di kekang seperti ini.
Nevan diam, mencerna semua perkataan saudarinya. Benarkah selama ini Nessa merasa terkekang oleh sifat posesifnya. Nevan sama sekali tidak menyadari itu, Dia hanya berniat melindungi saudara satu satunya itu.
"Baiklah Ness, jika kau memang merasa terkekang oleh sikapku. Mulai sekarang kau boleh melakukan apapun yang kamu mau, aku tidak akan ikut campur lagi" kata Nevan akhirnya
Nessa tersenyum dan langsung memeluk Nevan dengan erat "Terimakasih, aku menyayangimu Nevan"
"Aku juga sangat menyayangimu Ness"
Bersambung
__ADS_1