Kau Istriku Bukan Simpananku

Kau Istriku Bukan Simpananku
Part 54


__ADS_3

Tiara memasangkan dasi di leher suaminya. Ditya beberapa kali mencium kening istrinya.


"Yank aku nanti pulang nya telat ya. Ada urusan dulu" kembali Ditya mencium kening istrinya


"Iya Mas"


Mereka pun turun untuk sarapan. Setelah sarapan Tiara mengantar suaminya sampai di depan rumah.


"Aku berangakat dulu ya" Ditya mencium seluruh bagian wajah istrinya


"Iya Mas, hati hati ya" Tiara mencium tangan suaminya


"Jangan banyak fikiran, semuanya akan baik baik saja. Assalamualaikum " kata Ditya


"Iya Mas. Waalaikumsalam"


Setelah Ditya pergi, Tiara kembali ke dalam rumah. Dia duduk diam di bangku taman. Memandang bunga bunga yang terlihat indah dengan pancaran cahaya matahari pagi.


Beberapa kali Dia menghela nafas berat. Tidak bisa di pungkiri kalau Dia merasa sangat cemas dan khawatir kalau Dia tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya.


Semoga semuanya akan baik baik saja. Aku akan selalu berusaha, semoga kau memberikan kami keturunan Ya Allah.


Tiara berdiri dan kembali berjalan ke dalam rumah.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Sore harinya sepulang dari kantor, Ditya langsung pergi ke rumah orang tuanya. Dia ingin meminta solusi pada kedua orang tuanya tentang masalah yang sedang di hadapinya.


Pas sampai di rumah orang tuanya. Ditya langsung menceritakan tentang penyakit istrinya. Faiha dan Seno tentu saja terkejut mendengar cerita Ditya.

__ADS_1


"Terus bagaimana keadaan istrimu Dit? Dia pasti sangat terpukul dengan kenyataan ini" kata Faiha


Ditya tersenyum karna ternyata ibunya sangatlah memikirkan perasaan Tiara. Tidak ada yang di takutkan lagi sekarang, setelah melihat sikap ibunya saat mendengar kenyataan tentang keadaan Faiha.


"Mami tidak marah? Apa Mami dan Papi tidak akan menyuruhku menceraikan istruku kan?" tanya Ditya memastikan kalau kekhawatiran nya tidak akan terjadi.


"Ya ampun Dit, Papi dan Mami juga manusia. Gak mungkin kita menyuruhmu meninggalkan istrimu yang sekarang dalam keadaan tidak baik baik saja" kata Seno


"Iya Dit, Mami juga perempuan. Mami merasakan bagaimana perasaan istrimu saat ini. Sekarang Dia pasti sedang sangat terpukul, meskipun Dia mencoba menutupinya"


"Sekarang yang istrimu butuhkan adalah dukungan dari kita, dari orang orang terdekatnya. Untuk meyakinkan istrimu kalau Dia pasti akan sembuh" jelas Faiha


Ditya tersenyum "Terimakasih Mi, Pi. Kalian sudah mau menerima istri Ditya dengan segala kekurangan nya"


"Iya Dit, sekarang kau terus memberinya semangat agar Dia bisa terus semangat untuk sembuh" kata Papi Seno, Ditya mengangguk


"Oh ya Mami akan membuatkan jamu penyubur kandungan untuk istrimu. Nanti kau bawa ya" kata Faiha


Seno tertawa mendengar pertanyaan putranya itu "Kau tidak tahu kalau Mami mu sudah lama menjadi tukang jamu. Hahaha"


Faiha memukul paha suaminya dengan kesal "Diam kamu ih Mas"


"Mami itu punya beberapa resep ramuan jamu dari almarhum nenek kamu dulu" jelas Faiha


"Sudah kamu tunggu saja disini. Mami akan buatkan kamu untuk istrimu. Kebetulan kemarin Mami baru saja belanja bahan bahan jamu"


Faiha pun berlalu pergi ke dapur untuk membuatkan jamu. Sementara Ditya dan Seno masih berada di ruang keluarga.


"Pi bagaimana dengan Opa? Kan Opa minta Ditya agar bisa cepet cepet ngasih Dia cicit " kata Ditya

__ADS_1


Seno meghela nafas "Sudahlah, urusan Opamu biar Papi yang urus nanti. Sekarang kau fokus dulu sama pengobatan istrimu"


"Baiklah Pi"


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Ditya pulang ke rumah setelah ibunya selesai membuat jamu dan memberikan nya padanya. Ditya menyimpan jamu itu di dalam kulkas. Dia segera pergi ke kamarnya.


"Sayang"


Ditya melihat istrinya sudah tertidur. Ditya berjalan mendekati tempat tidur, menatap wajah teduh istrinya.


"Apa kau menangis lagi?" gumam Ditya mengusap sisa air mata di sudut mata istrinya


Ditya mengecup kening istrinya, lalu Dia pergi ke kamar mandi untuk bersih bersih dan berganti pakaian.


Besok paginya Tiara terbangun sebelum subuh. Dia menatap wajah suaminya yang masih terlelap memeluknya.


Perlahan Tiara mengangkat tangan Ditya yang memeluknya itu. Bukan nya terlepas, suaminya malah semakin memeluk erat tubuh Tiara.


"Mas lepas dulu ih, udah mau subuh" kata Tiara


"Hmmmm. Bentar lagi Yank, belum adzan juga. Lagian kamu kan belum shalat" kata Ditya masih dengan mata terpejam


"Iya si, aku masih datang bulan" gumam Tiara


Tiara hanya diam membiarkan suaminya memeluk tubuhnya. Memejamkan matanya kembali, walaupun tidak tidur hanya sekedar merileks kan tubuhnya.


Bersambung

__ADS_1


Kemarin gak up, maaf ya saya ada kesibukan.... 🤗🤗


__ADS_2