
"Ko Mas Al belum jemput aku ya Ti, tadi Dia bilang bakalan jemput kesini. Makanya aku gak bawa mobil" kata Celin melihat ke arah pintu utama menantikan suaminya.
"Hmm. Mungkin masih banyak kerjaan mbak" jawab Tiara
Celin menoleh dan kembali fokus pada Tiara "Ahh pria mah emang gitu ya Ti, kalau udah kerja pasti lupa segalanya"
Tiara mengangguk "Iya mbak, giliran perempuan datang bulan ajah di bilang hutang. Gak mikir kalo mereka jarang menemani kita juga bisa kita jadikan hutang"
"Hah? Maksudnya?" tanya Celin kebingungan
"Hehe. Enggak mbak, gak papa" jawab Tiara cengengesan
Aduh kenapa bisa keceplosan si, malu maluin aja.
"Eh ada apa si Tia? Ko aku jadu penasaran. Datang bulan? Hutang? Maksudnya apa?" tanya Celin
Aduh jawab apa dong aku??
"Bu..bukan apa apa mbak, cuma keceplosan aja. Hehe" jawab Tiara
"Ihh apaan si? Kepo nih?" kata Celin tetap memaksa karna rasa penasaran
Ihh ko mbak Celin malah maksa lagi.
"Gak papa ih mbak, ini urusan rumah tangga" jawab Taira
"Hah? Maksud kamu.... Ya ampun Tia, jadi Ditya nikahin kamu karna kamu punya hutang sama Dia? Bukan karna cinta? Memang keterlaluan tuh si Ditya" cerocos Celin mengambil kesimpulan sendiri
Hah? Apa? Aduhh kenapa jadi kaya gini si.
"Bu..bukan mbak, aku gak punya hutang apa apa sama suamiku" kata Tiara bingung menjelaskan
Aduhh gimana cara menjelaskan nya.
"Terus apa?" tanya Celin menyelidik
Tiara menghela nafas berat, tidak ada pilihan lain selain menceritakan semuanya. Ahh Tiara sangat malu saat menceritakan hal memalukan yang terjadi tadi malam.
"Hahahaha. Gila ya emang si Ditya itu" kata Celin tertawa
__ADS_1
"Tuhkan mbak malah ketawa, malu aku mbak" kata Tiara menunduk dengan wajah memerah malu.
"Haha. Udah gak usah malu Ti, Mas Al juga sama ko gak ada bosan nya. Tadi pagi aja aku sampe susah jalan gara gara ulahnya semalam" kata Celin
"Hah? Hahahaha. Mas Al kuat juga ya mbak sampe buat mbak susah jalan. Wahh mantap" kata Tiara
Hah? Ampun deh, kenapa aku juga malah keceplosan si.
"Hehe" Celin menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal
"Ekhem"
"Ekhem"
Hah? Itukan suara....
Itukan suara....
Celin dan Taira serempak menoleh ke belakang mereka. Keduanya menelan salivnya dengan susah payah. Rasa malu yang mereka rasakan saat melihat kedua lelaki tampan yang menjadi ghibahan mereka berdua.
Ditya dan Alvin sudah mau mengucapkan salam saat masuk ke rumah itu. Tapi mereka tidak jadi mengucapkan salam saat mendengar suara para istri mereka yang sedang nyerocos tidak jelas.
"Wa..waalaikum sa..salam" jawab Tiara dan Celin gugup karna rasa malu.
Apa mereka mendengar semua obrolan abstrak itu. Celin
Aduh malunya aku sudah membicarakan hal yang begitu memalukan. Tiara
"Kalian tidak mau menyambut kita yang baru datang" kata Ditya tersenyum jahil
Lihatlah senyumnya itu.
"Eh i..iya" Tiara berdiri dan menyalami suaminya lalu mengambil tas kerja suaminya.
"Kau tidak mau menyambutku sayang?" tanya Alvin yang melihat Celin masih diam di tempatnya
Lihatlah senyumnya itu.
"I..iya" Celin pun melakukan hal yang sama dengan Tiara pada suaminya.
__ADS_1
"Sudahlah ayo kita duduk dulu, kenapa wajah kalian tegang begitu?" kata Ditya menahan tawanya
"Iya, kau juga kenapa wajahnya sampai memerah begitu" kata Alvin mengelus pipi istrinya
Hah mereka pasti mendengar semuanya. Celin
Sudah pasti mereka mendengar semua obrolan itu. Tiara
Tiara dan Celin sudah duduk di samping para suami mereka. Keduanya masih menunduk malu karna apa yang mereka bicarakan tadi pasti para suaminya sudah mendengarnya.
"Jadi apa yang kalian obrolkan?" tanya Ditya sambil mengelus kepala Tiara
Aku tidak mau jawab, kalian pasti sudah tahu. Tiara
Kalian pasti sudah tau kan. Celin
"Ahh sepertinya istri istri kita menjadi pendiam ya Dit. Baiklah kalau begitu kita pulang dulu. Biar nanti aku tanya di rumah apa yang mereka obrolkan tadi" kata Alvin tersenyum licik
Hah? Apa?
"Yuk sayang kita pulang, biarlah Ditya juga bertanya pada istrinya" kata Alvin menggandeng tangan istrinya dan berdiri dari duduknya.
"Kita pamit ya Tia, Dit. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Bahkan yang mengucapkan salam dan menjawab salam pun hanya para suami mereka. Celin malah menatap pada Tiara, seolah memberi kode padanya.
Kita harus jawab apa?. Celin
Apa yang akan mereka tanyakan? Kita harus bagaimana?. Tiara
Keduanya hanya sibuk dengan fikiran masing masing. Sungguh mereka sangat malu karna mengobrolkan hal yang sangat sensitif itu. Dan lebih parahnya para suaminya mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Sayang ayo kita selesaikan di kamar" ajak Ditya tersenyum licik
Aaaa habislah aku...
Bersambung
__ADS_1