
Tiara menyiapkan sarapan untuk suaminya. Kehamilannya benar benar sangat mendukung. Tiara tidak merasakan mual atau apapun itu. Dia menjalaninya dengan tenang.
"Aku kan sudah bilang gak usah melakukan apapun Yank, biar Bibi aja" Ditya sudah muncul dengan pakaian kantornya.
Tiara tersenyum "Tia gak papa Mas, lagian Tia juga gak mual atau pusing. Tia baik baik aja Mas"
Ditya hanya menghela nafas kasar "Oke, tapi kalau capek jangan maksain untuk masak. Jangan melakukan apapun selain memasak"
Tiara mengangguk dan tersenyum "Siap Tuan Bos"
Huwek Huwek Huwek
Ditya berlari ke arah wastafel dan memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Dia tidak suka mencium bawang goreng. Rasanya sangat tidak enak dan membuatnya mual.
"Mas kau tidak papa?" Tiara menyusul suaminya dan memijat tengkuk suaminya
"Mas gak suka mencium bau bawang goreng itu Yank, rasanya mual" kata Ditya lemas
Wajahnya sudah pucat dan terlihat keringat dingin di dahinya. Tiara merasa tidak tega melihat suaminya yang terkena efek dari kehamilan nya.
"Ya udah yu duduk dulu" Tiara memapah Ditya untuk duduk di kursi meja makan.
Tiara memberikan teh hangat untuk suaminya "Masih mual Mas?"
Ditya menggeleng lemah "Sudah mendingan Yank, aku kayanya gak jadi ke kantor deh "
Tiara memijat bahu suaminya "Ya sudah gak papa, Mas istirahat aja "
Ditya menoleh dan menempelkan pipinya di tangan Tiara yang ada di bahunya.
Setelah memberi tahukan pada Alvin kalau Dia tidak bisa berangkat ke kantor. Ditya hanya berbaring di tempat tidur. Tiara sudah memakasakan suaminya agar mau makan walaupun sedikit tadi.
Kasian sekali suamiku, Dia harus kena dampak dari kehamilanku. Cup
Tiara mencium kening Ditya yang sedang tidur. Menaikan selimut sampai ke pinggang. Tiara berjalan ke arah balkon dan duduk di sana menatap indah nya taman dengan hari yang sangat cerah.
Kehadiranmu benar benar membawa kebahagiaan pada kami semua sayang.
Tiara mengelus perutnya dengan senyuman bahagia. Lika liku perjalanan hidupnya selama ini. Akhirnya bisa berakhir bahagia bersama orang yang di cintai dan mencitainya.
__ADS_1
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Berbeda jauh dengan Tiara, di sini justru Celin yang mengalami morning sick. Alvin sampai kewalahan melihat istrinya yang selalu muntah di pagi hari dan susah untuk makan.
"Sayang gak papa kan aku tinggal?"
Alvin menatap istrinya yang sedang berbaring di tempat tidur dengan wajah pucat. Jika saja Ditya bisa ke kantor mungkin Alvin tidak akan meninggalkan istrinya yang sedang lemah ini.
"Gak papa Mas, kamu pergi aja lagian Ditya gak ke kantor kan?" kata Celin dengan suara lemahnya.
"Iya, Ditya yang mengalami morning sick seperti kamu. Aneh ya" kata Alvin
Celin tersenyum "Memang ada yang seperti itu Mas, tapi ini hanya sementara ko hanya trimester pertama aja"
Alvin mengangguk "Baiklah, kau baik baik di rumah. Jangan melakukan apapun ya"
Cup
Alvin mencium kening istrinya "Aku berangkat dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Celin kembali memejamkan matanya saat suaminya sudah menutup pintu kamar.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
"Kemana Tia?"
Ditya turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi karna Dia belum melaksanakan shalat dzuhur.
Sementara itu Tiara sedang berkutat di dapur. Dia sedang membuat kue, entah kenapa Tiara sangat suka mengemil sejak hamil. Porsi makan nya pun bertambah.
"Akhirnya selesai juga"
Tiara menyimpan kue yang sudah di buatannya di atas meja makan. Setelah membersihkan tangan nya, Tiara membawa kue itu ke ruang keluarga.
"Sayang"
Ditya berjalan menghampiri istrinya yang sedang menonton televisi sambil memakan kue.
__ADS_1
"Mas sudah bangun"
Ditya duduk di samping istrinya dan mencium pipinya yang terlihat semakin chabi.
"Kamu buat kue Yank?" tanya Ditya menatap pada kue yang ada di atas meja.
"Iya Mas, mau coba? Enak loh" Tiara mengambil sepotong kue dan menyodorkan nya di mulut Ditya.
Enak
Ditya mengunyah kue buatan istrinya "Mau lagi Yank"
Tiara mengambilkan lagi dan menyuapi Ditya lagi. Sampai tak terasa Ditya sudah menghabiskan beberapa potong kue buatan istrinya.
"Enak kan Mas" kata Tiara
"Heem" Ditya mengangguk
Ditya merebahkan tubuhnya dengan kepala di letakan di pangkuan Tiara. Dia beberapa kali mencium perut istrinya.
"Baby baik baik ya di perut Mommy. Jangan menyusahkan Mommy" kata Ditya kembali mencium perut istrinya
Mommy? Ihh menggelikan, ko Mommy si manggilnya.
"Gak mau Mommy manngilnya Mas" rengek Tiara
Ditya mendongak, menatap wajah Tiara "Terus mau apa dong?"
"Mami aja, atau Bunda, atau Ibu, Mama juga boleh. Tapi jangan Mom" kata Tiara
Ditya menghela nafas "Ya udah Mami, Daddy aja ya"
Tiara mengangguk "Iya, lebih baik Mami dari pada Mommy. Nanti anak kita manggilnya Mom. Ihh gak suka, geli dengarnya"
Ya ampun, kenapa istriku sangat menggemaskan.
"Kamu ini ada ada aja deh" Ditya mencubit gemas hidung Tiara
"Sakit ihh" Tiara menepis tangan suaminya.
__ADS_1
"Hahaha. Iya maaf maaf"
Bersambung