Kau Istriku Bukan Simpananku

Kau Istriku Bukan Simpananku
Part 78


__ADS_3

Dea duduk diam di sofa samping Viza. Tidak tahu kemana perginya Alin karna sampai sekarang tidak datang juga. Nova menatap tidak suka pada Dea. Sementara Bu Hesti masih bingung harus berkata apa. Dia menunggu suaminya pulang dulu.


Tak lama kemudian Tuan Deni datang saat istrinya tadi memberikan pesan. Dia langsung pulang dari kantornya.


"Jadi ini pacarmu Za?" tanya Deni tanpa basa basi lagi.


Viza mengangguk "Iya Pa, ini Dea kekasihku"


"Om bagaimana ini? Om sama tante kan sudah janji mau menjodohkan kami " Nova mulai buka suara, Dia sudah tidak tahan jika hanya diam saja.


Deni menghela nafas "Apa kau yakin dengan pilihanmu Za?"


Viza mengangguk "Viza yakin Pa, jadi tolong berhenti menjodohkan Viza. Berilah Viza kebebasan untuk memilih wanita yang akan menjadi pendamping hidup Viza"


Selama ini Alviza Reino selalu saja menuruti perkataan orang tuanya. Sampai Dia ingin menjadi dokter pun, Dia harus memohon agar di beri izin oleh orang tuanya.


"Siapa tadi namamy Nak?" tanya Deni pada Dea


Dea mendongak dan menatap pada Deni "Dea Om"


Aduhh ko aku segugup ini si. Sial.


"Apa kau benar mencintai anak Om dengan tulus? Mencintai Dia apa adanya?" tanya Deni


Sejatinya Deni dan Hesti juga orang tua yang sangat menyayangi kedua anaknya. Mereka juga ingin kebahagiaan untuk anak anaknya. Meskipun Deni dan Hesti terkesan sangat keras pada Viza tapi mereka tetap menyayangi Viza.


"Saya benar benar mencintai Kak Viza Om. Saya mencintainya dengan tulus dan sepenuh hati saya" kata Dea yakin

__ADS_1


Meskipun Kak Viza tidak mencintaiku.


"Baiklah, karna Om melihat kesungguhan di antara kalian. Om merestui hubungan kalian. Dan kamu juga boleh terus bekerja di rumah sakit Viza" kata Deni akhirnya


Viza dan Dea tersenyum, tentu saja senyuman yang berbeda arti. Dea yang merasa senang karna ternyata orang tua Viza menyukainya dan menyetujui hubungan mereka. Sejenak Dea lupa kalau mereka hanya pacaran sementara.


Viza yang bahagia karna akhirnya bisa menjalankan pro profesinya saat ini tanpa harus di bayang bayangi oleh permintaan Papa nya.


"Om, gak bisa kaya gitu dong. Terus gimana sama Nova?" teriak Nova emosi


Deni menoleh ke arah istrinya, memberi kode agar istrinya bisa menjelaskan semuanya pada Nova.


"Nova, maaf ya sepertinya perjodohan ini harus di batalkan. Karna tante dan Om sudah janji sama Viza kalau Dia bisa membawa pacarnya dan kita menyukainya makan kita akan membatalkan perjodohan ini. Jadi maafkan tante dan Om ya Nova " kata Hesti mencoba memberi pengertian pada Nova.


"Gak bisa kaya gitu dong Tant, aku menyukai Viza dan aku ingin memilikinya. Pokonya Nova gak mau kalau perjodohan ini sampai harus batal" kata Nova kekeuh


Tanpa di duga Viza mencium punggung tangan Dea yang sedang di genggamnya. Dea hanya diam mematung, merasakan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


Andai kau menyatakan itu tulus dari hatimu Kak. Tahukah kau kalau pernyataan mu barusan membuat dadaku sesak.


Memang sangat sakit bila harus menjalani cinta sendiri. Dimana hanya salah satu yang mencintai semnetara tidak mendapatkan balasan cinta darinya.


"Pokoknya sampai kapanpun aku akan terus mengejarmu. Aku akan membuat kau bisa mencintaiku" teriak Nova lalu berdiri dan berlalu pergi.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Dea menatap ke luar jendela mobil Viza. Entah kenapa dadanya terasa sangat sesak saat mengingat perkataan Viza tadi.

__ADS_1


"Dea" panggil Viza tanpa menoleh ke arah Dea.


Dea menoleh "Iya Kak, ada apa?"


"Maaf ya tadi aku lancang mencium tanganmu. Aku juga lancang mengatakan cinta padamu. Maaf ya, aku hanya ingin kalau kedua orang tuaku percaya" kata Viza


Seandainya apa yang kamu lakukan tadi benar benar tulus dari hatimu Kak. Aku pasti akan sangat bahagia.


Dea memaksakan senyumnya "Iya Kak, tidak papa"


Viza tersenyum tipis "Oh ya aku antar kamu kemana? Apa langsung ke rumah mu?"


Dea menggeleng cepat "Tidak. Kita ke kampus Dea, mobilku masih di sana"


"Baiklah"


Setelah sampai di kampus, Dea langsung turun dan pergi menggunakan mobilnya sendiri. Di perjalanan Dia masih memikirkan apa yang telah terjadi tadi. Jantung nya selalu berdebar saat mengingat hal itu.


"Arghhh. Sadarlah Dea, kau hanya pacar sementara. Jangab terlalu berharap"


Dea memukul setir kemudi, Dia frustasi dengan perasaan nya sendiri.


"Ayolah Dea, kau pasti bisa melupakan perasaan mu untuk Dia. Harus bisa!!"


Sesampainya di rumah, Dea langsung pergi ke kamarnya. Bahkan Dia tidak mampir ke rumah Kaka nya seperti biasa hanya untuk melihat keponakan nya.


Hari ini suasana hatinya sangat buruk. Dea harus menenangkan diri dulu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2