Kau Istriku Bukan Simpananku

Kau Istriku Bukan Simpananku
Part 57


__ADS_3

Sepasang pengantin baru itu sudah memasuki kamar hotel. Keduanya baru saja selesai bersih bersih dan berganti pakaian. Celin duduk bersandar di tempat tidur dengan Alvin yang juga duduk di sampingnya.


"Apa kau bahagia menikah denganku?" Alvin mengelus kepala Celin yang masih tertutup hijab


Celin mengangguk cepat dan tersenyum bahagia "Aku sangat bahagia Mas, aku bahagia bisa menikah denganmu"


"Terimakasih karna sudah mau menjadi suamiku. Menjadi imamku dunia akhirat" kata Celin lagi


Cup


Alvin mencium kening istrinya dengan penuh perasaan cinta "Aku juga sangat berterima kasih karna kau mau menjadi pendamping hidupku"


Alvin membalikkan tubuh Celin agar menggadap ke arahnya. Dia menatap lekat wajah cantik istrinya itu. Mengelus pelan pipi mulus Celin, dengan perlahan Alvin membuka hijab yang menutupi kepala Celin.


Alvin tersenyum melihat rambut hitam milik Celin yang tergerai indah di depannya.


"Sayang apa boleh aku?" tanya Alvin ragu


Celin mengangguk dan tersenyum malu "Lakukanlah Mas, aku sudah siap memberikan barang berharga dalam hidupku untuk suamiku"


Cup Cup Cup


Alvin mencium kening, pipi dan bibir istrinya. Kecupan itu berubah menjadi luma^tan halus. Mereka berciuman dengan penuh gairah cinta. Bibir Alvin sudah berpindah ke leher istrinya.


Dengan segenap perasaan keduanya menyerahkan segalanya atas dasar cinta. Mereka ikhlas melakukan nya karna mereka saling mencintai. Tidak ada paksaan apapun. Malam ini adalah saksi bisu bersatunya pasangan pengantin baru dengan segala cinta dan kasih sayang yang mereka rasakan.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Ditya menatap Tiara yang sedang asyik membaca novel. Ditya mengusap kepala sang istri yang berada di pahanya. Tiara masih asyik membaca novel, Dia merasa sangat nyaman tiduran di pangkuan suaminya.

__ADS_1


"Yank" Ditya masih terus mengelus kepala Tiara


"Iya Mas?" Tiara menutup buku novel nya dan menyimpan di sampingnya.


"Kamu sudah selesai datang bulan nya?" tanya Ditya dengan suara serak


Jujur saja Ditya sangat sulit menahan hasratnya saat ini. Apalagi melihat tubuh Tiara yang tidur terlentang di pangkuan nya. Ditya benar benar sudah tidak tahan lagi.


Tiara bangun dan menatap suaminya dengan senyuman jahil "Sudah dari tiga hari yang lalu Mas"


Ditya terbelalak, bagaimana mungkin Ditya tidak tahu itu. Padahal Dia sempat melihat istrinya shalat subuh kemarin. Tadi waktu shalat magrib dan isya memang Dia tidak melihat karna sedang ada kerjaan di luar.


"Kenapa gak bilang?" kata Ditya kesal


"Loh Tia kira Mas tau, kan dari kemarin aku sudah shalat Mas. Gimana sih?" kata Tiara bingung


"Tunggu dulu" Tiara menahan bibir Ditya yang sudah siap menyerangnya.


"Hutang apa? Emang Tia punya hutang sama Mas?" tanya Tiara polos


Ya ampun polosnya istriku ini, tapi sangat menggemaskan.


"Iya kau punya hutang banyak padaku dan kau harus mulai mencicilnya" kata Ditya tersenyum licik


"Hah? Hutang apaan sih Mas?" tanya Tiara masih belum mengerti apa maksud suaminya


"Kau ingat berapa hari kau datang bulan?" tanya Ditya


"8 hari"

__ADS_1


"Nah berarti malam ini kau harus membayarnya. Setengahnya dulu saja, sekarang 4 kali besok malam 4 kali lagi. Di tambah bunga dua kali jadi 10 kali hutang mu padaku" jelas Ditya dengan senyuman liciknya


Hah? Apa? Gila ya, memang nya aku pinjam uang ke bank apa sampe harus pake bunga.


"Sayang kau siap?" tanya Ditya menyeringai


"Hah? Tunggu dulu" teriak Tiara


Tiara mendorong tubuh Ditya dan Dia pun langsung duduk. Tiara ingin mengajukan protes pada suaminya kali ini. Enak aja selama ini Ditya selalu semena mena padanya.


"Aku mau protes sama kamu" kata Tiara serius


Ditya hanya menahan tawa melihat ekspresi istrinya. Dia tahu apa yang di maksud protes oleh istrinya.


"Kalau tiap kali aku datang bulan di hitung utang sama kamu. Terus pake bunga juga, Mas kamu fikir aku pinjam ke bank apa pake bawa bawa bunga segala" protes Tiara kesal


Hahaha. Kenapa istriku sangat menggemaskan si kalau lagi kesal.


"Iyalah, kau lupa kalau kewajiban istri itu adalah melayani suami. Dan kau tidak melayani ku selama 8 hari. Ya harus kau bayar dong" jawab Ditya tidak mau kalah


"Hah? Ya kan itu memang sudah biasa Mas ihh. Setiap perempuan pasti akan datang bulan setiap bulan nya. Kamu anggap saja waktu datang bulan ku adalah hari libur" Tiara masih mengajukan protes nya


"Heh hari libur, kau fikir sekolah apa pake ada hari libur segala"


Ditya langsung mencium bibir Tiara agar istrinya tidak lagi banyak bicara. Mau tidak mau Tiara hanya bisa pasrah dengan tingkah suaminya yang sedikit aneh ini.


Baiklah, aku akan menyicil hutangku. Gila apa ya, sama istri sendiri harus pakai bunga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2