
Waktu yang di tunggu telah tiba. Semua keluarga Ditya dan keliarga Gibran sangat bahagia saat melihat putra dan putri mereka akan segera melangsungkan perniakahan nya.
Nessa berjalan di gandeng oleh Tiara dan Faiha menuju tempay dimana ijab qabul akan di langsungkan.
Angga sampai terbengong saat melihat calon istrinya yang begitu cantik dengan gaun pengantin dan make up yang terlihat sangat cocok untuk Nessa.
Ditya yang sudah duduk di depan Angga yang hanya terhalang meja. Menatap haru pada putrinya. Tidak menyangka kalau Ditya sudah bisa menjadi wali nikah dari putri kesayangan nya.
Opa Fernan yang menjadi saksi nikah cucu kesayangan nya sampai meneteskan air mata bahagia.
Jika saja dulu Dia tetap kekeuh dengan keinginan nya untuk menikahkan Ditya pada Celin.
Mungkin keluarganya belum tentu akan sebahagia sekarang. Takdir Tuhan memang yang terbaik.
Ditya menjabat tangan Angga dengan di pandu oleh penghulu. Dengan satu tarikan nafas Angga berhasil mengucapkan ijab qabul. Semuanya mengucapkan kata 'Sah' dan mengucap syukur.
Tiara dan Faiha sampai meneteskan air mata saat melihat Nessa sudah sah menjadi seorang istri dari pria pilihan nya.
Setelah penghulu membacakan doa. Nessa mencium punggung tangan suaminya dan Angga mencium kening istrinya.
"Alhamdulillah " semua orang berucap syukur
"Selamat ya sayang, akhirnya kau menjadi seorang istri. Menurutlah pada perintah suami selama itu adalah menuju kebaikan" Tiara mencium puncak kepala putrinya
Nessa langsung memeluk ibunya dan tangisnya pun pecah "Mami, maafin Ness kalau selama ini Ness belum bisa bahagiakan Mami"
Tiara mengusap air matanya yang kembali meluncur begitu saja. Faiha juga ikut memeluk menantu dan cucunya.
"Mami sudah sangat bahagia saat kau bisa bahagia dengan pasanganmu Nak" kata Tiara mengelus punggung Nessa
"Jadilah istri sholehah Nak" kata Faiha
"Iya Oma" jawab Nessa mengangguk
Nessa melepaskan pelukannya dan beralih pada Ditya. Nessa langsung memeluk ayahnya. Ditya pun memebalas pelukan anaknya dan mencium kening putri kesayangannya.
"Daddy bahagia Nak, karna kau sudah dewasa dan sekarang bukan tanggung jawab Daddy lagi. Sekarang kau menjadi tanggung jawab suamimu. Daddy titip Ness ya Ngga" kata Ditya menatap Angga masih dengan memeluk Nessa
Angga mengangguk "Pasti Dad, Angga akan menjaga Ness"
__ADS_1
Setelah memeluk ayahnya, Nessa menatap saudara kembarnya. Nevan, seseorang yang selalu bersama dengan nya bahkan dari sebelum mereka lahir ke dunia.
"Van"
Nessa langsung menghambur ke pelukan saudara kembarnya. Menangis di pelukan Nevan.
"Jangan nangis, masa pengantin nangis. Aku bahagia Ness, melihat kau bahagia. Jangan pernah nyakitin Dia, kalau sekali saja kau menyakitinya kau akan berhadapan dengan ku" kata Nevan menatap Angga
Angga tersenyum dan mengangguk "Aku gak akan menyakitinya Van, kau tenanglah"
Setelah meminta doa dan restu pada semua anggota keluarga. Sepasang pengantin ini langsung bersiap untuk acara resepsi.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
"Pa, Mama ngapain si lama banget?" tanya Rafa yang sudah kesal menunggu ibu dan adiknya yang tidak kunjung keluar dari kamar.
"Biasalah para wanita kalau dandan kan lama banget Raf, nanti kau juga tahu setelah punya istri" kata Alvin
Keluarga Alvin memang tidak menyaksikan acara ijab Qobul perniakahan Nessa. Mereka akan datang saat resepsi saja.
"Ayo, Pa" Celin sudah keluar dari kamarnya
"Ck baru juga bentar" kata Celin membela diri
"Sebentar apaan, satu jam kita nunggu disini Ma"protes Rafa
"Hai, Ayok Kak, Ma, Pa" Vera keluar dari kamarnya dan langsung menghampri keluarganya.
"Ini juga, kenapa lama banget si Dhe?" kata Rafa kesal
"Maaf, ayo Ma" Vera langsung merangkul manja tangan Celin
"Ayo sayang"
Celin dan Vera berjalan keluar dari rumah tanpa menghiraukan dua pria yang sudah menunggu nya dari tadi.
"Dasar wanita" gumam Alvin
Mereka pun menyusul dua wanita itu. Keluarga Alvin langsung berangkat menuju acara resepsi perniakahan Nessa dan Angga.
__ADS_1
Sesampainya di sana mereka langsung masuk ke dalam hotel dan mengucapkan selamat pada pasangan pengantin baru itu.
Alvin dan para pria yang lainnya sibuk menyapa beberapa rekan bisnis mereka bersama para istri. Sementara Vera hanya mengekor kakanya saja.
"Kita temuin Nevan sama temen Kaka yuk Dhe" kata Raffa saat melihat Nevan dan temannya sednag mengobrol
"Vei ngikut aja deh" kata Vera
"Vera"
Belum juga Vera dan Rafa melangkah, Hitta sudah menghampiri mereka dengan senyum merekahnya.
"Hai, Kak Rafa, Vei" kata Hitta tersenyum
"Sudah besar kau ternyata" kata Rafa menepuk bahu Hitta
"Hai Hitta" jawab Vera tersenyum
"Kalian mau kemana?" tanya Hitta
"Mau menemui Kak Nevan sama teman nya Kak Rafa" kata Vera
"Boleh aku ikut?"tanya Hitta penuh harap
"Ayo" kata Rafa
Vera berjalan di sebelah Hitta, mereka mengikuti langkah Rafa sambil bercerita dan tertawa.
"Hai Van, Ar" Rafa memeluk Nevan dan Ardi secara bergantian
"Hai Raf, baru dateng ya" kata Nevan. Rafa hanya mengangguk
Mata Ardi menyipit saat melihat dua orang di belakang Rafa. Ardi ingat betul siapa pria yang berada di samping Vera.
Vera? Sialan kenapa Dia bersama cowok itu lagi.
"Hai Kak Nevan" Vera menyapa Nevan, tapi matanya langsung terbelalak saat melihat orang di sebelah Nevan.
Kak Ardi, kenapa bisa ada disini?
__ADS_1
Bersambung