Kau Istriku Bukan Simpananku

Kau Istriku Bukan Simpananku
Part 29


__ADS_3

Tiara duduk diam di tempat tidur, tatapan matanya lurus ke depan dengan tatapan kosong. Hati Tiara benar benar goyah saat mendengar perkataan Meta tadi. Mau bagaimana pun apa yang di katakan Meta masuk akal dan ada benarnya juga.


Aku harus bagaimana? Apa mungkin Mas Ditya berbohong padaku. Tapi kenapa?


Ceklek


Ditya masuk ke dalam kamarnya dan melihat Tiara yang sedang melamun tanpa sadar kalau dirinya masuk.


Sayang aku mohon bersabarlah di sisiku sampai aku bisa menyelesaikan masalahku dulu.


Ditya tahu pasti Tiara termakan omongan Meta yang Ditya ketahui sekarang kalau Meta pernah sekampus dengan nya dan juga berteman dengan Celin.


Ditya berjalan menghampiri istrinya. Dia duduk di samping tempat tidur. Tiara masih diam belum menyadari kehadiran suaminya. Ditya mengelus kaki sang istri yang sedang berselonjor. Barulah Tiara mengerjapkan matanya dan melihat ke arah suaminya yang tersenyum padanya.


"Ekhem.


Mas sudah pulang ya, maaf Tia tidak menunggu Mas di bawah" kata Tiara mencoba menutupi kegelisahan nya


Ditya tersenyum lalu mencium kening sang istri "Tidak papa sayang, kata Bibi kamu gak makan siang? Kenapa? Apa kamu sakit?"


Tiara menggeleng dan tersenyum "Tidak, Tia lagi gak nafsu makan saja. Lagi diet hehe"


Tiara memang sangat pandai menutupi perasaan nya. Kegelisahan, semua yang Dia pikirkan selalu ditutupi dengan tawa dan senyum cerianya.


"Ck badan udah kurus gitu masa iya mau diet. Gak boleh ahh gak suka Mas sayang. Kamu gendut juga gak papa, aku tetap cinta" kata Ditya mengenggam tangan istrinya


Tiara tersenyum "Hehe iya deh, gak jadi diet. Nanti malam Tia makan banyak"


Ditya tersenyum dan mencium gemas pipi istrinya "Gemes aku sama kamu ihh. Udah ahh aku mau mandi dulu"


Dicium lagi pipi Tiara sebelum Ditya berlalu masuk ke kamar mandi. Tiara hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya itu. Tiara pun berjalan ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian Ditya. Tiara membuka lemari dan memilih milih pakaian untuk suaminya.


Ayolah Tia, kau tidak boleh suudzon pada suamimu. Jangan terpengaruh pada omongan orang lain. Lihatlah suamimu sangat menyayangimu dan kau tidak perlu meragukan nya lagi. Percaylah pada Mas Ditya.

__ADS_1


Tiara mencoba positive thinking pada suaminya. Dia tidak mau rumah tangga nya hancur karna omongan orang lain.


Setelah menyiapkan pakaian untuk suaminya, Tiara kembali masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Ditya keluar dari ruang ganti sudah memakai pakaian santai yang di siapkan istrinya. Ditya duduk di samping Tiara dan kembali mencium pipi sang istri.


"Oh ya Mas, ko tumben pulang cepet?" tanya Tiara masih fokus pafa ponselnya tanpa menoleh pada Ditya.


"Hmmm. Pengen aja, abis Mas kangen sama istri Mas yang cantik ini"


Ditya kembali mencium pipi Tiara yang sekarang menjadi candu untuk Ditya. Dia merasa suka mencium pipi Tiara yang putih mulus dan empuk.


Merasa kesal karna di abaikan oleh sang istri. Ditya mengambil ponsel Tiara dan menyembunyikan nya di belakang tubuhnya. Tiara kaget saat ponselnya di ambil paksa oleh Ditya.


"Mas kembaliin ihh"


Tiara mencoba mengambil ponselnya. Tidak sadar kalau sekarang Dia sudah memeluk suaminya demi mengambil ponsel yang Ditya simpan di belakang tubuhnya. Ditya pun langsung memeluk Tiara dengan erat dan mencium kening sang istri.


Tiara menengadah melihat wajah kesal suaminya. Cup.. Ditya mengecup bibir Tiara.


"Iya maaf" Tiara mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di dada Ditya.


"Gitu dong, aku kan juga butuh kamu perhatiin bukan hanya ponsel aja" kata Ditya persis seperti anak kecil


"Iya sayang maaf" kata Tiara merasa bersalah karna telah mengabaikan suaminya.


Ditya tersenyum senang mendengar Tiara memanggilnya sayang "Gitu dong kali kali manggil aku sayang"


Tiara baru sadar apa yang di ucapkan nya. Dia semakin memeluk erat suaminya dan menyembunyikan wajah merah nya di dada Ditya.


Ditya mengelus rambut sang istri "Haha kenapa malu sayang, aku kan suami mu. Jadi kau tidak perlu malu begutu"


Tiara tidak menjawab, tapi malah memeluk suaminya semakin erat. Ditya tergelak tanpa suara melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan.

__ADS_1


...


Hari ini Celin harus memilih cincin pertunangan mereka nanti. Dia bingung harus memilih dengan siapa. Jika mengajak Ditya apakah Dia akan mau? Celin tidak yakin Ditya akan mau menemaninya.


Celin berjalan menyusuri mall mewah di kota ini. Tatapan nya kosong, bingung harus berbuat apa.


"Hah baiklah mau bagaimana pun aku harus menghubungi Ditya"


Celin menrogoh tasnya dan mengambil ponsel untuk menghubungi Ditya. Belum juga Celin menghidupkan ponselnya sudah berdering lebih dulu. Ternyata Ditya yang menelpon nya. Celin menarik nafas dalam sebelum mengangkat telpon dari Ditya.


"Hallo Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Linn kau dimana?"


"Aku di mall....Hmmmm.. Mau mencari cincin untuk pertunangan kita nanti"


"Kenapa kau tidak menghubungi ku? Tunggulah disana aku akan menemani mu"


Celin terkejut mendengar ucapan Ditya. Dia tidak menyangka kalau Ditya mau menemaninya membeli cincin pertunangan mereka. Ya walaupun hanya pertunangan sementara.


"Tapi Dit...."


"Linn kau jangan berubah menjadi canggung padaku. Aku kan sudah bilang kalau aku sudah menganggap mu sebagai adik ku. Bersikap seperti biasanya, jika kau membutuhkan ku hubungi aku. Jangan sungkan, kita adalah saudara"


Celin tersenyum "Terimakasih Ditya"


"Iya, sekarang kau tunggu aku disana. Aku akan menemani mu. Ya walaupun pertunangan kita hanya sementara tapi aku mana tega membiarkan mu mencari cincin nya seorang diri"


"Baiklah"


Entah kenapa Celin mearasa bahagia saat Ditya masih peduli padanya. Ya walaupun hanya sebagai adik, tapi itu lebih baik dari pada sebagai pasangan tapi tidak saling mencintai.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2