
"Apa maksudmu Dea?" tanya Opa Fernan menatap tajam pada cucu manjanya itu.
Matilah aku sudah salah ngomong.
"Mas titip Nevan dulu ya" Tiara menyadari situasi yang mulai tegang. Tiara memberikan Nevan pada suaminya.
"De ikut aku" Tiara menarik tangan Dea agar pergi dari sana. Tiara tahu kalau Dea cuma asal bicara dan itu akan berdampak patal jika Opa Fernan tahu.
Semua orang menatap heran pada Tiara dan Dea yang berlengang pergi ke taman belakang.
Tiara menyuruh Dea duduk di bangku taman "Kau kenapa bicara seperti itu De? Apa benar kau sudah punya pacar?"
"Sebenarnya aku memang sudah punya kekasih, tapi kekasihku itu seperti tidak mencintaiku. Dia menjadikan ku pacar karna menghindari perjodohan dari orang tuanya" jelas Dea, terlihat sekali wajah sendu Dea.
Tiara diam, terkejut dengan apa yang Dea ucapkan. Tiara menyangka kalau Dea hanya asal bicara. Tapi ternyata Dia memang punya kekasih.
"Ta...tapi kenapa kau bisa mengenalnya? Apa Dia teman kuliah mu?" tanya Tiara
Dea menggeleng pelan "Bukan. Dia kaka dari sahabatku. Aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia baik, ramah, tapi Dia tidak mencintaiku"
"Terus kenapa kalian bisa jadian kalau kau tau Dia gak cinta sama kamu?" tanya Tiara penasaran
Dea menghela nafas "Sahabat aku, Alin yang memohon padaku untuk menjadi pacar sementara kakanya. Kata Alin kakanya itu selalu di kekang oleh orang tua mereka. Kakanya di paksa harus memimpin perusahaan keluarga padahal Dia suka menjadi dokter sebagai profesi nya saat ini"
"Terus kenapa kamu mau?"
"Aku kasihan sama Dia, apalagi Dia di ancam akan di jodohkan kalau tidak memperkenalkan pacarnya pada kedua orang tuanya. Dan kalau memang Dia sudah mempunyai pacar, maka orang tuanya tidak akan memaksakan kehendak lagi. Orang tuanya akan mengizinkan nya menjalani profesinya sebagai dokter" jelas Dea
"Apa kau benar benar mencintainya De?" tanya Tiara masih penasaran dengan kisah cinta Dea.
Dea mengangguk cepat "Iya Kak, aku benar benar mencintainya. Itulah sebabnya aku mau menjadi kekasih sementara nya. Tapi semakin kesini aku semakin tidak bisa mengendalikan perasaanku. Sementara Dia masih sama, tidak mempunyai perasaan apapun padaku"
__ADS_1
Tiara menghela nafas, memang susah kalau sudah Cinta. Tiara mengerti itu. Sifat Dea dan Tiara memang sama, selalu ceria di depan siapapun tanpa ada yang tahu perasaan nya saat ini.
Jika saja Tiara tidak mengajaknya bicara berdua dengan Dea. Mungkin sampai saat ini Dea tidak akan mau cerita.
"Tarus sekarang kau mau gimana? Apa kau mau memberi tahu keluargamu?" tanya Tiara
"Enggak Kak, aku belum bisa memberi tahu mereka dulu. Sekarang Kaka bisa kan kalau membantu aku menjelaskan pada mereka. Aku takut mereka akan marah kalau tau aku hanya di jadikan pacar sementara" kata Dea memohon
Tiara mengangguk dan mengisap punggung tangan Dea. Mencoba memberi kekuatan pada Dia.
"Aku akan membantumu De, kalau ada apa apa ceritalah sama aku ya" kata Tiara
Dea langsung memeluk Tiara "Iya Kak, makasih ya"
.....
Mereka yang ada di ruang keluarga menatap horor pada Tiara dan Dea yang baru datang. Mereka yakin ada yang tidak beres dan di sembunyikan oleh kedua wanita ini.
Ya ampun, udah kaya habis berbuat kriminal saja. Merasa mau di sidang. Dea
"Kalian dari mana aja?" tanya Ditya menatap tajam pada istri dan adiknya
"Dea, kau belum menjawab Opa? Apa maksud dari perkataan mu tadi?" tanya Opa Fernan
Oke, tenang Dea tenang. Kau pasti bisa memberi alasan yang masuk akal.
"Hahaha. Dea hanya bercanda Opa" kata Dea tertawa
Bagaimana mungkin Dia masih bisa tertawa senatural itu. Tiara melirik ke arah Dea
"Terus kalian tadi ngapain pake acara ke taman belakang segala?" tanya Ditya
__ADS_1
Hah dasar posesif, masih aja nanya soal itu.
"Tia tadi penasaran Mas, benar atau cuma asal ngomong aja Dea bicara seperti itu. Ehh benar saja seperti dugaanku. Kalau Dea cuma asal bicara " jelas Tiara
"Ohhh baiklah, dan kau Dea" Ditya menunjuk ke arah adiknya. Dea mendongak dan menatap kakanya.
"Kalau suatu saat nanti kau benar benar mempunyai kekasih. Kau harus membawa Dia ke hadapanku. Aku ingin melihat kalau Dia pria baik baik" kata Ditya
Ya ampun, ternyata posesifnya gak sama aku doang. Sama adiknya juga. Tiara
"Siap Kak, Dea kan masih berharap bisa menikah sama Ji chang wook" kata Dea tersenyum ceria
Plak
Tiara memukul pelan tangan Dea "Masih belum berubah, tetap aja tergila gila sama Dia"
"Hahaha. Iyalah Ka, memang nya Kaka enggak gitu?" kata Dea menaik turunkan alisnya.
Aduhh jangan tanya kaya gitu dong. Kalau aku jujur pasti suami kesayanganku akan menghukum ku.
"Siapa yang tadi kau sebut itu Dea?" tanya Seno
"Aktor Korea Pi, ganteng and cute banget" kata Dea dengan mata berbinar
"Hah? Ya ampun Dea, kalau menghayal jangan berelebihan" kata Faiha
"Hehe. Gak ko Mi, cuma bercanda doang" jawab Dea
"Dan apa kau juga menyukai aktor Korea itu sayang?" tanya Ditya menatap tajam.
Aku gak mau jawab. Pasti kau akan cemburu pada hal yang tidak jelas.
__ADS_1
Bersambung