
Ardi dan Vera baru selesai makan siang. Kini mereka sibuk dengan ponsel masing masing.
"Sekarang kita kemana? Apa langsung pulang?" tanya Vera memulai percakapan
Ardi mendongak, menatap wajah Vera "Terserah, kau maunya kita kemana?"
Vera terlihat berfikir sebentar "Pulang aja ya, aku lagi males ke mana mana"
Ardi mengangguk "Baiklah, ayo"
Ardi berdiri dan mengulurkan tanganya pada Vera. Dengan ragu Vera menerima uluran tangan Ardi.
Mereka berjalan keluar dari restoran. Masih dengan gandengan tangan. Vera yang sedikit menunduk karna malu, Ardi yang berjalan tegap dengan wajah datar.
Di dalam mobil keduanya pun masih diam. Entahlah, biasanya dua sejoli yang baru jadian akan banyak bercerita dan bercanda tawa. Tapi ini malah terkesan sangat canggung.
Vera yang bingung harus memulai percakapan apa dan Vera juga sedikit tahu bagaimana sifat Ardi sehingga Dia takut jika salah bicara.
Sementara Ardi yang dingin, datar dan cuek memang tidak bisa berbasa basi dan mencari tofik obrolan. Jadi Dia lebih memilih diam.
"Hmmm. Kak"panggil Vera memecah keheningan
Ardi menoleh, menatap tajam pada kekasihnya "Kau panggil aku apa tadi?"
Ehh. Aku lupa.
"Maaf" lirih Vera
"Cobs ulangi" pinta Ardo
"Sayang" kata Vera menunduk malu
Ardi tersenyum tipis "Good Girls"
"Besok Hitta mengajak ku pergi untuk memebeli beberapa buku yang di perlukan nya. Apa boleh?" tanya Vera ragu
Vera merasa tidak enak pada Hitta yang memang Dia ketahui sudah lama Hitta menyukainya. Tapi hati tidak bisa di bohongi, Vera hanya menganggap Hitta sahabat saja.
__ADS_1
Maka dari itu saat Hitta bilang ingin mengajaknya membeli buku sebelum Dia kembali ke kotanya, Vera langsung menuetujui tapi Dia tetap akan meminta izin dari Ardi.
"Kenapa Dia mengajakmu? Kenapa tidak mengajak yang lain saja?" tanya Ardi dengan suara datar
"Karna besok sore Dia akan kembali ke kotanya, jadi Dia ingin aku menemaninya dulu sebelum Dia kembali ke kotanya. Memang suka seperti itu" jelas Vera
Ardi menoleh sekilas pada Vera lalu membali fokus pada jalanan di depan.
"Baiklah, tapi aku akan ikut bersama kalian. Jangan harap aku akan membiarkan mu dan Dia jalan berdua" kata Ardi dingin
Baiklah, terserah padamu pria posesif.
"Oke"
Vera sangat malas jika harus berdebat dengan Ardi. Dia mulai memahami bagaimana sifat Ardi dan Vera menerima itu. Menerima Ardi dengan segala kekurangan dan keanehan nya.
"Jam berapa besok berangkat?" tanya Ardi setelah memeatikan mesin mobil karna mereka telah sampai di depan rumah Vera.
"Jam 10. Kamu gak mau masuk dulu?" tanya Vera
Ardi menggeleng dan mengelus rambut Vera "Salam saja untuk semuanya"
"Iya sayang. Besok aku jemput kamu. Cup" Ardi mencium kening Vera sebagai kecupan perpisahan
Vera tidak sekaget tadi lagi saat Ardi mencium keningnya. Dia tersenyum dan memberanikan diri mencium pipi Ardi.
Cup
Vera langsung membuka pintu mobil dan keluar dengan terburu buru karna malu dengan apa yang telah di lakukan nya.
Ardi menatap gemas pada punggung kekasihnya yang menjauh. Tersenyum sambil memegang pipinya yang baru saja di cium oleh Vera. Bibir Vera yang menempel di pipinya masih terasa hangat.
Dasar gadis manja, kenapa aku bisa jatuh cinta padamu.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Berbeda dengan kedua pasangan yang sedang di mabuk cinta. Ada pasangan yang baru menikah dan pasangan yang baru jadian.
__ADS_1
Di Cafe Apple ada dua orang pria tampan yang sama sekali belum mengenal cinta. Mereka sedang membicarakan rencana kuliah mereka di luar negri.
"Baiklah, jadi minggu depan kita akan berangkat ke luar negri" kata Rafa
Nevan mengangguk "Iya, dan kita sudah di belikan apartemen di sana sama Daddy dan Papamu"
Rafa mengangguk mengerti "Ini pertama kalinya kita akan meninggalkan Nessa dan Vei"
Nevan menghela nafas dan mengangguk "Dari dulu kita selalu menjaga kedua princess kita itu. Tapi sekarang aku tenang karna Nessa pun sudah ada yang menjaganya"
"Iya. Vei juga sudah ada Ardi yang akan menjaganya. Sampai saat ini aku cukup percaya pada Ardi, Dia pasti bisa menjaga Vei" kata Rafa
"Iya. Semoga mereka bisa selalu bahagia. Sekarang saatnya kita yang mencari kebahagiaan kita sendiri" kata Nevan
Rafa mengangguk dan tersenyum "Tentu saja, aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta"
"Hahaha. Semoga kita bisa merasakannya ya" kata Nevan
"Jika sudah menikah nanti dan punya anak. Kau mau di panggil apa sama anakmu?" tanya Rafa menghayal
"Hahaha. Merasakan jatuh cinta saja belum, sudah memikirkan itu"Nevan menggelengkan kepalanya merasa aneh dengan apa yang di ucapkan oleh sahabatnya.
"Ya kan misalnya Van, misalnya" kata Rafa
"Ya aku sih terserah anaknya mau memanggilku apa" kata Nevan acuh tak acuh
"Kalau aku mau di panggil Abi" kata Rafa tersenyum sambil membayangkan kalau anak dan istrinya akan memanggilnya dengan sebutan Abi nanti.
Nevan hampir saja menyemburkan minuman yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
"Maksudmu Abi Umi gituh?" tanya Nevan seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya
"Enggak, tapi Abi Bunda. Lucu kali ya. Hehe" kata Rafa
Nevan hanya menggelengkan kepalanya "Kalau kau Abi Bunda, aku juga mau Ayah Bunda. Gimana? Jadi impaskan"
Hahahaha
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya tertawa bersama. Menertawakan kekonyolan mereka sendiri.
Bersambung