Kau Istriku Bukan Simpananku

Kau Istriku Bukan Simpananku
Part 44


__ADS_3

Tiara dan Ditya sudah siap untuk kembali ke rumah mereka. Tiara sudah mengunci rumah kontrakan nya.


"Tiaaaa"


Menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ditya menatap sinis pada wanita yang sedang berjalan ke arahnya.


"Eh mbak Meta, ada apa mbak?" tanya Tiara ramah


"Kau mau kemana Tia?" tanya Meta tanpa memperdulikan sepasang mata yang menatap tajam padanya.


"Tia mau kembali ke rumah suami Tia Mbak" jawab Tiara


Meta melirik ke arah Ditya yang masih menatap tidak suka padanya "Yakin? Gak takut di bohongi lagi"


"Apa maksudmu"


Ditya sudah tidak bisa menahan diri lagi, Dia benar benar muak melihat Meta yang selalu bermuka dua.


Meta tersenyum sinis "Kenapa? Itu kan kenyataan. Kau membohongi Tia, dalam segala hal bahkan kau menghianati kepercayaan Tia"


"Tutup mulutmu!" bentak Ditya penuh emosi


"Kau tidak perlu mengingatkan ku tentang kesalahanku. Aku sudah tahu dimana letak kesalahan ku. Jangan mempengaruhi istriku lagi. Mengerti" kata Ditya penuh penekanan di setiap katanya


"Tia, bukan nya kau sudah menggugat cerai Dia? Kenapa malah mau balikan sama Dia?" tanya Meta tanpa memperdulikan ucapan Ditya barusan.


"Maaf mbak, tapi Tia rasa tidak ada salah nya untuk memberi suami Tia kesempatan. Tia tahu ko kalau Dia melakukan ini juga terpaksa dan ada alasan nya. Dan Tia mencoba menerimanya, Tia percaya kalau Mas Ditya tidak akan mengulangi kesalahan nya lagi" kata Tiara tersenyum


Meta menatap kesal pada Tiara, sia sia selama ini Dia mempengaruhi Tiara. Ternyata Tiara bukanlah orang yang gampang terpengaruh.


"Ya sudah mbak, kalau begitu Tia sama Mas Ditya pergi dulu" Tiara menggandeng tangan Ditya


"Assalamualaikum Mbak"


Tiara dan Ditya berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah. Tanpa menjawab salam dari Tiara, Meta langsung pergi dengan wajah kesal.


Di dalam mobil Ditya terus menggenggam tangan istrinya, sesekali Dia melirik ke arah istrinya.

__ADS_1


Terimakasih Tuhan, karna telah memberiku istri yang sangat pengertian.


"Mas fokus nyetirnya ihh, lepasin dulu tangan nya. Tia juga gak akan kemana mana" kata Tiara


"Gak, Mas takut kamu pergi lagi" kata Ditya tanpa menoleh ke arah istrinya


"Ya ampun Mas, memang aku mau pergi kemana coba. Udah ah fokus nyetir aja" Tiara melepas paksa tangan yang di genggam oleh suaminya.


Ditya hanya cemberut sambil terus fokus mengemudi. Setelah sampai di depan rumah mereka langsung turun dan masuk ke dalam rumah. Tiara langsung di sambut hangat oleh para pekerja di rumah ini.


....


"Mas"


Tiara mendekat ke arah suaminya yang sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


Ditya menoleh "Apa sayang?"


Tiara naik ke tempat tidur dan duduk di samping suaminya. Dia diam, bingung harus memulai dari mana. Tapi Tiara harus menanyakan ini.


"Ada apa hmmm?" tanya Ditya mengusap tangan istrinya


Tiara menoleh dan menatap intens wajah suaminya "Mas apa keluarga Mas tidak akan marah jika tahu kalau kita sudah menikah diam diam?"


Ditya menghela nafas, Dia sudah tahu kalau istrinya pasti masih kepikiran tentang keluarganya.


"Sayang, mereka sudah tahu kalau aku sudah menikah. Mereka meminta aku untuk membawa kamu menemui mereka. Tapi aku tidak mau memaksamu, aku akan menunggu kau siap untuk bertemu dengan keluargaku" jelas Ditya


"Aku siap ko Mas, lebih cepat lebih baik" kata Tiara lirih sambil menunduk


"Sayang, hey" Ditya mengangkat wajah istrinya


"Jangan merasa terbebani dengan apa respon keluargaku nanti. Yakinlah apapun yang terjadi aku akan selalu berada di sampingmu" kata Ditya


"Terimakasih Mas"


Tiara memeluk suaminyan, Dia merasakan kenyamanan di pelukan sang suami. Tiara yakin kalau suaminya akan melindunginya nanti.

__ADS_1


"Ya udah sekarang kita tidur ya" kata Ditya, Tiara hanya mengangguk


Ditya mengusap rambut Tiara agar istrinya terlelap. Setelah Tiara benar benar terlelap. Dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah balkon kamar.Ditya menelpon ayahnya.


"Assalamualaikum Dit, ada apa telpon malem malem gini?"


"Waalaikumsalam Pi, Papi udah tidur?"


"Belum, baru selesai laporan dari restoran"


"Hmmm. Pi ada yang mau aku bicarakan"


"Apa? Bicaralah?"


"Aku sudah menemukan istriku Pi"


"Hah? Syukurlah Dit, terus sekarang dimana Dia? Bawalah Dia untuk menemui kami"


Ditya menghela nafas "Aku juga maunya gitu Pi, tapi apa Opa akan menerima istri Ditya? Istriku hanya orang biasa, bukan dari kalangan pengusaha seperti kita. Dia tidak mempunyai orang tua lagi"


Seno tersenyum, Dia tahu apa yang di tarakan anaknya saat ini. Dia bisa memahami kegelisahan putranya.


"Tenang saja Dit, Opa kamu pasti akan menerima nya. Asalkan Dia baik dan mencintaimu apa adanya"


Ditya tersenyum "Tentu saja Pi, Dia kan menikah dengan aku sebelum Dia tahu kalau aku adalah keluarga Husen dan Mahendra. Dia menerimaku apa adanya Pi"


"Baiklah, segeralah bawa Dia menemui kita. Jangan khawatirkan soal Opa, Dia memang seperti itu. Keras kepala dan tidak mau di bantah. Tapi percayalah kalau Dia bisa di luluhkan dengan sebuah ketulusan"


"Baiklah Pi, besok malam aku akan ke rumah Opa"


"Oke nanti Papi sama Mami kesana"


"Iya Pi"


Ditya bernafas lega setelah menceritakan keluh kesahnya pada ayahnya. Seno memang selali bisa mngerti putranya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2