
Rafa berguling kesana kemari di tempat tidurnya. Malam ini Dia tidak bisa tidur, bayangan tadi siang terus berkeliaran di fikiran nya.
Ada apa denganku? Apa aku benar benar sudah melupakan Desi? Apa aku benar benar sudah tertarik pada Anya? Gadis yang baru ku kenal satu minggu yang lalu.
Rafa bangun, terududuk di pinggir tempat tidur. Mengusap wajah kasar, lagi lagi bayangan Anya yang terlintas di fikiran nya.
"Apa masuk akal jika aku bisa secepat itu melupakan Desi hanya karna gadis yang ku kenal baru seminggu ini" gumam Rafa
Rafa menggeleng "Gak, ini gak sebentar. 6 tahun aku terus terbelenggu dalam pahitnya masa lalu. Mungkin ini adalah saatnya untuk aku mencoba mmebuka hati"
Rafa meyakinkan dirinya sendiri kalau ini sudah waktunya untuk Dia membuka hati kembali untuk wanita lain.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Anya dan Rara turun dari angkutan umum. Merapikan pakaiannya sebelum masuk ke dalam wilayah kantornya.
"Semangat untuk hari ini Nya" Rara mengepalkan tangannya ke atas
"Semangat!!" Anya juga melakukan hal yang sama
Seperti itulah keduanya setiap hari. Saling menyemangati untuk menjalani hidup ini.
Mereka bergandengan tangan memasuki gerbang kantor. Menyapa satpam yang menjaga gerbang dengan senyuman ceria mereka.
Mereka memasuki lobi kantor, menyapa setiap karyawan yang mereka temui. Keramahan nya jangan di tanyakan lagi.
"Pagi Pak" keduanya mengangguk hormat ketika berpapasan dengan Rafa dan Nevan.
"Hemm"
Rafa maupun Nevan hanya mengangguk dan berlaku pergi meninggalkan mereka berdua.
"Yuk kita ke tempat kerja kita Nya" Rara menarik tangan Anya
__ADS_1
Anya hanya mengikuti langkah Rara. Sementara itu Rafa menoleh ke belakang, melihat punggung Anya yang menjauh.
Benarkah aku telah jatuh cinta padanya.
"Rafaa, Raf...Rafa" Nevan menepuk bahu Rafa yang malah terdiam dan melamun
Rafa mengerjap "Ehh i..iya"
"Kau kenapa?" tanya Nevan
Rafa menggeleng "Gak papa"
Nevan mengerutkan keningnya, bingung kenapa sahabatnya itu malah melamun. Tapi Dia tidak mau terlalu pusing untuk memikirkan nya.
Rafa menekan tombol lif, menunggu sampai lif terbuka lalu masuk bersam dengan Nevan.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Bu Sulis merasa bingung saat mendapat telpon dari Pak Rafa. Rafa sengaja memerintahkan Bu Sulis untuk mengantarkan laporan keuangan bulan ini ke ruangan nya.
"Setelah mengantarkan nya, cepatlah kembali! Pekerjaanmu masih banyak" kata Bu Sulis pada Anya
"Baik Bu"
Anya berjalan ke arah lif karyawan. Dia juga merasa bingung kenapa Bu Sulis meminta dirinya yang mengantarkan berkas pada Pak Rafa. Karna biasanya juga Bu Sulis sendiri yang akan mengantarkan nya.
Tapi karna tidak mau banyak bertanya dan membantah perintah dari atasan nya. Anya hanya mengangguk dan mengambil berkas itu.
Ting
Pintu lif terbuka, Anya berjalan keluar dari lif. Dia sudah berada di lantai paling atas di gedung ini. Anya berjalan menghampiri meja sekertaris Nevan.
" Permisi Bu, saya mau menyerahkan berkas ini kepada Pak Rafa" kata Anya ramah
__ADS_1
Melly sekertaris Nevan dan Rafa langsung mendongakan wajahnya saat mendengar suara Anya.
"Siapa ya? Kok saya baru melihatmu?" tanya Melly sedikit ketus
"Saya Anya, dari bagian Devisi keuangan. Saya ingin mengantarkan berkas ini pada Pak Rafa" jelas Anya tetap tersenyum ramah
"Ohh karyawan baru ya? Soalnya saya baru lihat kamu" kata Melly lagi
Nih orang kenapa sih? Sinis banget katanya.
"Iya Bu, saya karyawan baru" jawab Anya
"Melly, kenapa kau tidak langsung menyuruh Anya masuk" teriak Rafa yang baru keluar dari ruangan nya dan langsung berjalan ke arah Anya.
Anya dan Melly langsung menoleh ke arah Rafa. Melly langsung menunduk takut saat melihat tatapan tajam dari Rafa.
Tanpa aba aba Rafa langsung meraih tangan Anya dan menggenggamnya. Dia juga tidak tahu kenapa Dia refleks melakukan itu.
Anya pun sampai terperanjat kaget, menatap tangan nya yang sudah berada di genggaman Rafa.
"Ayo ikut aku" Rafa berjalan menggandeng tangan Anya menuju ruangan nya.
Anya hanya mengikuti langkah kaki Rafa. Saat masuk ke dalam ruangan Rafa. Anya langsung terpesona dengan ruangan Rafa yang snagat luas dan terlihat begitu nyaman.
Ruangan asisten nya aja seluas ini. Apalagi kalau ruangan Pak CEO nya.
"Duduklah" kata Rafa menepuk sofa di sampingnya. Rafa sudah duduk di sofa saat Anya sibuk mengamati ruangan Rafa.
Anya terperanjat kaget saat mendengar suara Rafa. Dia melihat ke arah Rafa yang sudah duduk di sofa.
"Tidak usah Pak, saya hanya memberikan berkas ini di suruh sama Bu Sulis" kata Anya meletakan berkas yang di bawanya di atas meja depan Rafa.
"Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu" kata Rafa
__ADS_1
Bersaambung