
Ting
Satu pesan masuk ke ponsel milik Anya. Mengambil ponselnya dan membuka pesan dari nomor yang tidak di kenal.
Nanti siang, aku akan menjemputmu untuk makan siang bersama. Tunggulah di loby. By : Rafa
Anya terbelalak kaget melihat pesan yang di kirimkan oleh Rafa.
Bagaimana bisa Dia tahu nomorku?
Sepertinya Anya lupa kalau Rafa termasuk orang yang berpengaruh di Fendra.Corp sehingga Dia bisa dengan mudah mendapatkan nomor pribadinya.
Bales gak yah?
Anya masih menatap pada poselnya. Bingung apa Dia harus membalas pesan pertama dari Rafa atau tidak. Gemetar gemetar akhirnya Anya pun membalas pesan dari Rafa.
Iya.
Send...
Pesan telah dikirim, Anya kembali menaruh ponselnya di atas meja. Melanjutkan pekerjaan nya kembali.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Rafa tersenyum tipis melihat balasan dari Anya yang sangat singkat. Dari sini Rafa mulai yakin kalau Anya bukanlah gadis yang Dia fikirkan.
Anya tidak seantusias gadis lain saat mendapat pesan darinya. Anya benar benar tidak terlihat mengejar ngejarnya dan ingin memilikinya karna harta dan jabatan nya.
"Semoga kau adalah pencarian terakhirku. Maafkan aku kalau aku belim bisa mengatakan cinta padamu. Aku belum seyakin itu dengan perasaanku sendiri" gumam Rafa
"Tuhan, izinkanlah aku merasakan dicintai oleh wanita yang aku cintai"
Dari dulu itulah harapan Rafa, pernah di tolak bahkan sebelum Dia menyatakan cinta membuat Rafa trauma untuk memulai kembali.
Tapi kehadiran gadis ceria yang selalu tampil apa adanya membuat hati Rafa sedikit goyah. Walaupun pada kenyataan nya Dia juga belum begitu yakin dengan perasaan nya saat ini.
Saat jam makan siang, Rafa langsung izin pada Nevan untuk makan siang di luar bersama seseorang.
Sama halnya dengan Anya, Rafa juga belum menceritakan semuanya tentang hubungan nya dengan Anya.
Ting
__ADS_1
Rafa berajalan keluar dari lif, melihat Anya sudah menunggu di kursi tunggu di lobi. Rafa tersenyum tipis dan langsung menghampiri Anya.
"Ayo" ajak Rafa datar
Anya langsung berdiri dan mengangguk. Dia berjalan mengikuti langkah Rafa menuju parkiran.
Sudah sampai di restoran, Anya pun hanya diam dan mengikuti langkah kaki Rafa. Setelah memesan makanan, mereka langsung menyantap makanan dengan tenang.
Sebenarnya gue ini siapanya Dia si? Aneh banget rasanya saat berdua kaya gini tapi masih aja gak ada obrolan. Hening banget.
"Anya" panggil Rafa pelan
Anya mendongak, menatap wajah Rafa "Iya Pak?"
"Ck kalau sedang di luar seperti ini jangan memanggilku Pak" kata Rafa sedikit kesal
Ya terus gue harus panggil apa dong.
"Ma...maaf, tapi saya harus manggil apa?" tanya Anya.l, dari pada bingung sendiri lebih baik bertanya.
"Terserah. Kau mau memanggilku apa" kata Rafa
"Kak Rafa" memilih panggilan yang tidak terlalu formal tapi juga tetap sopan.
Rafa mengangguk "Baiklah, tidak terlalu buruk"
"Apa weekend ini kau ada acara?" tanya Rafa
Anya berfikir sebentar sampai akhirnya menggeleng "Enggak Pak. Eh maksudnya Kak"
"Ck. Kalau gitu minggu ini kau ikut aku pergi" kata Rafa
"Pergi kemana Kak?" tanya Anya bingung
"Sudah kau tinggal ikut saja, perlu banyak bertanya" kata Rafa tegas
"Baiklah" Anya hanya bisa pasrah saat Rafa sudah memerintahnya. Ya, apa yang Rafa katakan bukan ajakan tapu lebih ke perintah yang harus dituruti.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Rara baru selesai makan siang di kantin kantor. Seperti biasa Dia selalu membawa bekal buatan Bundanya.
__ADS_1
Rara berjalan menuju lif, tapi saat Dia akan menekan tombol lif tiba tiba lif di sebelahnya yang di khususkan untuk pemilik perusahaan terbuka.
Ting
Nevan berjalan ke luar dari lif, matanya menangkap sosok yang baru saja kemarin Dia temui. Nevan berhenti dan menoleh ke arah Rara yang masig diam di tempatnya.
Nevan berjalan menghampiri Rara yang masih diam itu. Dia menatap wajah Rara seolah sedang mengingat ngingat.
"Kau yang kemarin datang ke rumahkan?" tanya Nevan masih menatap wajah Rara
Deg Deg Deg
Wajah Nevan yang sangat dekat dengan Rara membuat nafasnya terasa. Dan itu membuat jantung Rara berdetak sangat kencang.
Ada apa dengan jantungku ini?
"Hei, aku sedang berbicara denganmu" kata Nevan menjauhkan wajahnya saat Dia sudah yakin kalau wanita di depannya memang yang kemarin datang ke rumahnya.
Rara megerjap, tersadar dari keterkejutan nya. Menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan.
"Iya Pak" Rara menundukan wajahnya yang tiba tiba terasa panas
"Ohh pantesan kau kemarin memanggilku dengan sebutan Pak. Jadi kau salah satu karyawan ku ya" kata Nevan
Dia berarti tidak ingat saat aku yang datang terlambat di hari pertama peresmian nya menjadi pemimpin perusahaan ini.
"I..iya Pak" jawab Rara
"Baiklah kalau begitu kau mau kemana?" tanya Nevan
Entah kenapa Nevan merasa sangat penasaran dengan gadis di depan nya ini.
"Saya baru selesai makan siang Pak. Ini mau kembali ke tempat kerja" jelas Rara
"Temani aku makan sekarang"
Tanpa aba aba Nevan langsung menarik tangan Rara keluar dari lobi kantor. Dia juga heran kenapa Dia melakukan ini pada Rara.
Tapi karna sudah terlanjur jadi Nevan melanjutkan langkah nya sambil terus menggandeng tangan Rara.
Bersambung
__ADS_1