
Vera menelan makanan nya dengan susah payah. Makan siang berdua dengan Ardi membuat Vera sangat gugup. Apalagi saat melihat wajah datar Ardi yang sedang makan.
Kenapa Dia diem aja kaya gitu, wajahnya benar benar sangat datar. Aaa kenapa aku berada di situasi seperti ini?
Vera mengambil jusnya dan meminumnya setelah makanan nya habis. Dia seskali melihat Ardi yang sedang memainkan ponselnya. Terlihat Ardi mengangkat telpon dari seseorang.
"Ohh. Oke kalau gitu" kata Ardi langsung mengakhiri telpon nya.
Ardi menatap Vera "Tito sama Feni sudah pulang duluan. Jadi kau biar aku yang mengantar"
Vera terbelalak kaget "Ti..tidak usah Kak, Vei bisa telpon supir buat jemput ke sini"
Ardi menatap tajam pada Vera "Kau tetap wanita manja ya? Kenapa harus repot repot nyuruh supir kalau aku mau anterin kamu. Dasar wanita manja"
Hah, aku kira Dia sudah berubah. Ternyata tetap saja, mulutnya itu selalu pedas.
"Ya udah kalau gitu Kakak gak perlu anterin wanita manja kaya aku. Mendingan Kakak anterin wanita tangguh dan kuat. Yang tentunya tidak manja sepertiku" kata Vera kesal
Vera terkejut setelah mengatakan itu. Entah ada keberanian dari mana Dia bisa seberani itu pada Ardi. Yang jelas Dia kesal pada Ardi yang selalu mengatainya wanita manja. Walaupun kenyataan si.
"Kau berani ya" bentak Ardi
Nyali Vera menciut, menyesal karna telah berkata seperti itu pada Ardi. Padahal Vera tahu kalau Ardi orangnya emosian.
"Ma...maaf" lirih Vera
Ardi mencengkram tangan Vera dan menariknya. Vera gelagapan segera meraih tas dan menyelempangkan di bahunya.
Ardi menyimpan uang di atas meja untuk membayar pesanan tadi. Ardi langsung menarik Vera keluar dari tempat itu.
"Kak lepasin ihh, sakit" lirih Vera
__ADS_1
"Diam"
Vera langsung terdiam, mengikuti langkah Ardi dengan terseret seret. Sampai di pakiran Ardi membuka pintu mobil bagian belakang dan medorong Vera sampai terejerambah di kursi.
Ardi mengukung tubuh Vera yang sudah setengah tidur di kursi belakang.
"Kenapa kau seperti tidak suka berada di dekatku Hah? Apa karna pria itu?" teriak Ardi penuh emosi
Pria? Pria mana si yang Dia maksud?
Vera beringrut takut, melihat tatapan mata Ardi yang terlihat menyeramkan.
"JAWAB" teriak Ardi
Ardi sudah memendamnya selama ini. Sejak Dia melihat Vera yang jalan dengan seorang pria di toko buku waktu itu.
Dia sangat gelisah, jujur saja Ardi merasa sangat geram saat Vera merangkul tangan pria itu. Ingin sekali Ardi menarik tangan Vera dan menghajar pria yang sudah berani menyentuh Vera.
"Pria yang bersamamu di toko buku. Siapa pria itu? Apa Dia kekasihmu Hah?" teriak Ardi
Toko buku? Apa maksudnya Hitta?
"Jawab Vera" kata Ardi dengan suara tertahan
"Iya, kalau iya emangnya kenapa?" tanya Vera kesal
"Kau..."
Ardi mengepalkan tangan nya karna terlalu kesal. Dia keluar dari mobil dan masuk ke pintu depan setelah menutup pintu belalang dengab keras.
Vera segera membenarkan posisi duduknya. Dia masih merasa terkejut dengan apa yang barusan Ardi lakukan.
__ADS_1
Dia ini kenapa si? Sudah seperti Papa saja kalau sedang cemburu sama Mama.
Ardi melajukan mobilnya keluar dari pekarangan mal. Di dalam mobil hanya ada keheningan. Keduanya sibuk dengan fikiran masing masing.
Kenapa gue harus lakuin itu. Vera akan semakin takut sama lo Ardi. Arghh bodoh bodoh.
"Dimana alamat rumah kau?" tanya Ardi memecah keheningan.
Vera mengerjap, Dia memberi tahukan alamat rumahnya pada Ardi. Setelah itu mereka kembali diam dengan fikiran masing masing.
Sesampainya di depan rumah Vera. Tidak ada yang bicara satupun, Vera langsung turun dari mobil Ardi tanpa mengatakan apapun bahkan Vera tidak mengucapkan terimakasih pada Ardi.
Ardi menghela nafas "Maaf, maaf karna sudah membentakmu"
Ardi tahu kalau Vera tidak bisa di bentak seperti itu. Tapi Ardi tidak bisa mengendalikan dirinya tadi. Sifat arogannya keluar begitu saja saat mengingat pertemuan nya dengan Vera di toko buku itu.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Tiara sedang memasangkan dasi di leher suaminya. Seperti biasa, Ditya akan mencuri curu ciuman saat Tiara sedang fokus memasangkan dasi.
"Malam ini aku pulang telat ya, soalnya Al lagi ke luar negri untuk menghadiri acara pernikahan Amelia keponakan nya" kata Ditya
"Hmmm. Papi sama Mami ke sana gak?" tanya Tiara
"Enggak, yang ke sana cuma Nenek Salwa sama Opa Satya" jelas Ditya
Tiara hanya mengangguk mengerti "Ya udah ayo kita turun, anak anak pastu nungguin"
Cup
Ditya mencium kening istrinya lalu menggandeng tangan istrinya dan berjalan ke luar kamar.
__ADS_1