
Pertemuan keluarga Celin dan keluarga Alvin di lakukan malam ini. Karna kedua orang tua Alvin sudah tiada, maka hanya di wakilkan oleh Paman dan Bibinya saja.
Alvin bukanlah dari kalangan orang berada, tapi karna kecerdasan nya Dia dulu sampai bisa kuliah di unirvesitas terbaik di kota ini. Dan lulus dengan nilai terbaik, itulah kenapa Alvin mendapat kepercayaan untuk menjadi asisten pribadi Ditya.
"Jadi begini Pak, saya kesini mewakilkan almarhum kedua orang tua Alvin Syahreza. Sebenarnya saya sedikit kaget saat tahu kalau keponakan saya sudah bertunangan dengan Nona Celin" kata Paman Habibi membuka pembicaraan nya
"Saya kesini hanya meminta restu Tuan dan Nyonya untuk melemar Nona Celin, putri kalian untuk menjadi istri dari keponakan saya Alvin" jelas Paman Habibi
Gio dan Devan hanya tersenyum, begitupun dengan Syaida dan Revina.
"Saya serahkan semua keputusan nya pada putri saya Celin" jawab Devan menatap lembut pada putrinya
Celin tersenyum malu dan mengangguk kan kepalanya "Celin mau Pa, Celin mau menjadi istrinya Mas Alvin"
Semua tersenyum lega setelah mendengar jawaban Celin. Alvin pun tersenyum bahagia ke arah kekasihnya. Dia sudah yakin untuk mempersunting Celin secepatnya.
"Baiklah Tuan kalau begit...."
"Jangan terus memanggil kita Tuan, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga Pak" kata Gio memotong ucapan Paman Habibi
Paman Habibi tersenyum "Baik Pak kalau begitu, saya hanya ingin memberi tahukan saja kalau keponakan saya, Alvin. Bukanlah orang berada, Dia bisa seperti sekarang karna kerja kerasnya sendiri tanpa ada bantuan sedikit pun dari keluarga selain dukungan dan doa"
Gio tersenyum "Itulah yang membuat kami percaya pada Al, Dia bisa hidup dan sukses di atas kakinya sendiri. Awalnya saya sedikit kesal karna ternyata Alvin lah yang bertunangan dengan Celin. Bukan Ditya yang memang sudah saya jodohkan mereka dari kecil"
"Tapi saat melihat kegigihan Alvin dalam bekerja. Ketulusan nya mencintai cucu saya, membuat saya yakin kalau memang Alvin lah yang terbaik untuk Celin. Saya dengar kau sedang membangun cabang Cafe Aplle? Kau cukup mahir dalam berbisnis, kau mulai mendirikan bisnis mu sendiri" kata Gio tersenyum
Hah? Cafe Aplle? Maksudnya?. Celin
Alvin tersenyum "Benar Tuan, saya sedang membuka cabang di kota B. Saya sedang mencoba peruntungan dalam berbisnis kuliner"
"Jangan panggil aku Tuan, panggilah Opa sama seperti Celin" kata Gio
__ADS_1
Alvin mengangguk dan tersenyum, para wanita hanya diam saja melihat para lelaki malah membicarakan bisnis. Memang ya kalau para pria sudah bertemu yang di bahas pasti cuma bisnis dan bisnis. Tapi itu jugakan untuk menyenangkan para wanitanya agar bisa hidup tercukupi.
"Baiklah, pernikahan kalian akan di langsungkam dua minggu lagi" kata Gio
"Hah? Apa gak kecepetan Opa?" tanya Celin kaget
"Enggak lah, sudah nanti biar Opa dan Pap mu yang urus. Kau dan Alvin hanya perlu mempersiapkan diri saja" kata Opa Gio tegas
Celin dan Alvin hanya mengangguk saja. Tidak berani membantah karna mungkin memang lebih cepat lebih baik.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
"Syukurlah Mbak, Tia ikut seneng dengernya"
Celin baru saja menelpon Tiara untuk meneceritakan tentang rencana pernikahan nya yang akan segera di langsungkan dua minggu lagi.
"Iya Tia, aku juga gak nyangka loh kalau aku akan segera menikah dengan Alvin"
"Iya mbak selamat ya, semoga semuanya di lancarkan sampai hari H"
Tiara tersenyum "Iya mbak terimakasih"
Setelah mengobrol cukup lama Tiara pun mengakhiri telponnya. Terperanjak kaget saat ada tangan kekar melingkar di perutnya.
"Siapa yang nelpon Yank?" tanya Ditya mencium bahu Tiara
"Mbak Celin Mas, Dia bilang kalau dua minggu lagi akan menikah sama Mas Alvin" jelas Tiara
"Hmmm. Syukurlah kalau mereka sudah memantapkan hati untuk menikah" kata Ditya
"Iya Mas, Tia juga bahagia karna mbak Celin gak sedih lagi gara gara kamu" goda Tiara pada suaminya
__ADS_1
Cup Cup Cup
Ditya mencium beberapa kali pipi istrinya yang menggemaskan itu "Aku kan gak akan kaya gitu kalau kau tidak menggodaku"
Tiara membalikan badan nya, menatap tajam pada Ditya "Apaan? Siapa ya menggoda mu Mas? Aneh"
Tiara langsung masuk kembali ke dalam kamar karna sudah merasa dingin berada di balkon dari tadi.
Ditya segera menyusul istrinya "Ya kan kamu selalu menampilkan senyuman indah itu, siapa yang gak tergoda coba?"
"Hah? Aneh" gumam Tiara
"Awas aja kalau kau berani tersenyum kaya gitu sama pria lain" kata Ditya menatap tajam pada istrinya
Hah? Dia ini kenapa? Emang ada apa dengan senyumanku coba? Dasar aneh.
"Emang kenapa?" tanya Tiara
"Masih tanya kenapa? Aku aja yang udah di jodohin dari kecil langsung luluh lihat senyum kamu. Apalagi pria yang masih jomblo" ketus Ditya
Hah? Dia benar benar aneh.
Tiara hanya terbengong melihat tingkah suaminya. Benar benar aneh dan posesif tingkat dewa.
"Sudah ah, ayo tidur Mas jangan ngomong yang aneh aneh mulu" Taira sudah membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Ditya menyeringai "Siapa yang mau tidur sayang, kita kan harus melakukan tugas penting dari Bapak negara"
"Hah? Tugas penting? Bapak negara? Maksudnya?" Tiara membalikan badan nya dan menatap bingung pada suaminya itu.
Ditya kembali tersenyum penuh arti "Ya kan kita di suruh buat cepet cepet bikin cicit untk Bapak Negara"
__ADS_1
Hah? Apa??
Bersambung