
Nevan dan Rafa terdiam memandangi dua gadis di depannya. Tidak terfikirkan sedikit pun kalau yang di sembunyikan oleh mereka adalah kehidupan seperti ini. Terlihat plang di depan pagar yang bertuliskan 'Panti Asuhan Ceria'
Rara dan Anya sudah sangat gugup. Keringat bercucuran dari dahi mereka, tangannya sudah saling meremas.
"Kenapa kalian menyembunyikan ini dari kita?" tanya Nevan menatap Rara
"Kar...Karna kita takut... Ta...takut kalau kalian akan mencampakan kita saat tahu kalau kita hanya anak panti sauhan" jelas Rara mencoba menetralkan perasaannya yang tiba tiba menjadi gugup.
Nevan menghela nafas "Kau fikir kita ini pria seperti apa? Sampai kau berfikir seperti itu?"
Rara dan Anya diam, apa mungkin dua pria di depannya ini berbeda? Mereka telah salah menilai. Menyalakan pria dengan masa lalu mereka.
"Apapun yang terjadi kalian harus jujur pada kita. Jangan menyembunyikan apapun. Kita mencintai kalian apa adanya" kata Rafa tegas
Rara dan Anya mengangguk dengan perasaan lega. Setidaknya dua pria yang sekarang bertahta di hati mereka bisa menerima keadaan mereka dengan lapang dada.
"Anya, Rara"
Rara dan Anya menoleh dab tersenyum ke arah Bunda mereka. Bunda pun menghampiri mereka dengan tersenyum hangat.
"Kata Zaidan kalian kedatangan tamu. Kok gak di ajak masuk?" tanya Bunda lembut
"Ehh.I...iya Bun" kata Anya terenyum kaku
"Kalian siapa? Apa temen kerjanya Rara dan Anya?" tanya Bunda menatap pada Nevan dan Rafa
"Perkenalkan Bunda, saya Nevan calon suaminya Rara" kata Nevan langsung meraih tangan Bunda dan menciumnya
"Saya Rafa Bunda, saya calon suaminya Anya" Rafa melepaskan paksa tangan Bunda yang masih di pegang oleh Nevan lalu mencium punggu tangan Bunda.
__ADS_1
Rara dan Anya saling pandang melihat kelakuan dua lelaki di depannya. Keduanya seolah tidak mau terkalahkan untuk mencuri perhatian Bunda.
"Saya Meta. Bunda senang kalau Rara dan juga Anya bisa melupakan masa lalu mereka dan kembali membuka hatinya" jelas Meta
"Bun, kita masuk dulu ya belum mandi. Cup" Rara mencium pipi Meta lalu berlalu pergi masuk ke dalam panti di susul Anya
"Dasar anak anak itu. Maaf ya Nak Nevan dan Nak Rafa mereka memang seperti itu" kata Meta tersenyum
"Tidak papa Bun" jawab Nevan
"Apa kalian mau masuk dulu?" tanya Meta
Nevan dan Rafa mengangguk serempak. Mereka ingin tahu bagaimana keadaan tempat tinggal para kekasihnya itu.
Sebuah bangunan sederhana yang terdapat 6 kamar yang masing masing di isi dua atau tiga orang. Satu dapur, dua kamar mandi, ruang tengah dan ada ruangan khusus untuk menerima tamu atau donatur donatur yang datang ke panti asuhan Ceria.
Kebanyakan karna para donatur yang dulu sudah meninggal dunia dan usahanya di teruskan oleh anak anaknya.
Dan tahu sendiri anak jaman sekarang sangat jarang peduli sesama. Kebanyakan dari mereka yang egois dan tidak peduli pada orang lain.
......
Nevan dan Rafa duduk di ruang tamu. Meta telah memberikan mereka minum. Keduanya sedang asyik mengobrol tentang masa kecil Rara dan Anya.
Tak lama kemudian Rara datang dengan menggendong bayi yang di kira masih berumur beberapa hari.
"Mawar nangis Bun" kata Rara menghampiri Bundanya
Meta berdiri dan mengambil alih bayi kecil yang bernama Mawar itu. Rara duduk di sofa depan kedua pria itu. Tak lama kemudian Anya datang menyusul dan duduk di samping Rara.
__ADS_1
"Ra,Bunda buatkan dulu susu biat Mawar. Kamu tolong gendong dulu Mawar" kata Meta menentukan Mawar ke pangkuan Rara
Anya mencium gemas pipi bayi itu dan mengusap kepalanya. Rara menepuk nepuk pelan kaki si bayi agar sedikit tenang.
Nevan dan Rafa terdiam, menatap pemandangan di hadapannya. Mereka baru menyadari kalau hidup mereka begitu beruntung. Mempunyai keluarga yang lengkap dan juga kehidupan yang layak.
Melihat kondisi anak anak di panti ini yang terlihat ceria meskipun dengan keadaan mereka yang seperti ini. Mereka bahkan tidak mengeluh sama sekali.
"Shuutt. Diem ya, nanti Bundanya buat dulu susu buat Mawar. Anak pintar" Rara berbicara pada bayi itu yang sudah mulai tenang
"Yank, sejak kapan kalian tinggal disini?" tanya Nevan
Rara mendongak dan tersenyum "Dari bayi"
Meski mengatakannya dengan tersenyum. Tapi Nevan melihat luka dan kesedihan di sorot matanya. Kini Nevan mengerti kalau Rara hanya berpura pura ceria di depan semua orang.
"Kalau Anya?" tanya Nevan lagi
"Sama, kita tinggal disini dari bayi. Sama seperti Mawar yang di buang sejak bayi" jelas Anya terenyum
Deg
Nevan maupun Rafa merasakan sakit di dadanya. Mendengar kedua wanita yang mereka cintai ternyata kehidupan nya sangat menyedihkan.
Bagaimana kau bisa melewati semuanya selama ini Sayang. Nevan
Kau terlalu hebat sayang. Bahkan aku tidak yakin bisa setegar kalian. Rafa
Bersambung
__ADS_1