Kau Istriku Bukan Simpananku

Kau Istriku Bukan Simpananku
Part 25


__ADS_3

Tiara merasa bosan di rumah tanpa melakukan apapun. Ditya sudah berangkat ke kantor dan Tiara hanya diam karna semua pekerjaan rumah sudah di kerjakan oleh Bi Esih. Palingan Tiara hanya memasak saja untuk suaminya.


Tiara duduk di bangku taman sambil memeluk boneka kesayangan nya, disinilah Tiara merasa senang saat merasa bosan berada di rumah.


"Kalau di pikir pikir apa Mas Ditya bisa menggaji Bi Esih, supir dan dua penjaga di depan? Rasanya mustahil kalau seorang karyawan biasa bisa memiliki uang sebanyak itu untuk membayar gaji mereka dan juga rumah ini" Tiara menatap ke sekeliling


"Rumah yang sangat mewah dan besar. Dengan halaman yang luas dan taman yang luas. Kenapa aku merasa ada yang aneh ya" gumam Tiara


"Permisi Nona, apa Nona mau cemilan?" Bi Esih sudah berada di samping Tiara


Tiara menoleh dan tersenyum manis "Tidak Bi, terimakasih"


"Baiklah Nona kalau begitu Bibi permisi mau ke pasar dulu. Apa ada yang Nono inginkan?" tanya Bi Esih


"Bibi mau ke pasar? Tia boleh ikut?" tanya Tiara dengan mata berbinar senang


Bi Esih terkejut dengan ucapan Nona nya. Dia tidak menyangka kalau Tiara yang menjadi majikan nya sangat ramah dan hangat. Tidak seperti yang selama ini Bi Esih bayangkan kalau istri dari Tuan Muda Ditya akan gelamor dan sombong.


"Tapi Bibi mau ke pasar tradisional Nona, bukan ke supermarket " kata Bi Esih


Tiara tersenyum "Iya Bi, Tia mau ikut ya bosen juga di rumah cuma diem. Menringan ikut Bibi ke pasar"


"Nona yakin?" tanya Bi Esih yang merasa ragu


"Yakin Bi, Tia biasa ko pergi ke pasar" kata Tiara tersenyum ceria


Hah.. Siapa sebenarnya Nona Tiara ini? Ko tidak terlihat seperti dari kalangan orang kaya.


"Baiklah Nona, tapi sebaiknya Nona izin dulu pada Tuan" kata Bi Esih yang tidak mau Nona nya melakukan kesalahan


Tiara mengangguk cepat "Iya Bi, aku ganti baju dulu ya"


Bi Esih menatap punggung Tiara yang mulai menjauh dan menghilang di balik pintu ke rumah utama.


Tiara sudah selesai mengganti pakaian. Dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya.


"Hallo Sayang. Assalamualaikum "


"Waalaikumsalam. Mas Tia mau izin"


"Izin kemana?"

__ADS_1


"Tia mau ikut Bibi ke pasar boleh ya"


Tiara memegang tali tas selempangnya takut kalau suaminya tidak mengizinkan.


"Mau apa kesana?"


Tuhkan suaranya sudah terdengar tidak suka dan penuh dengan nada khawatir.


"Mau jalan jalan aja Mas, sebentar ko. Boleh ya please aku bosen di rumah"


"Ekhem.


Tidak boleh sayang, nanti saja kalau mau jalan jalan sama aku pas aku libur"


Tiara cemberut dengan wajah kesalnya "Ya nantikan bisa jalan lagi Mas. Tia cuma mau jalan jalan aja sama ada yang mau Tia beli"


Ditya menghela nafas "Oke, tapi jangan ke pasar ke supermarket aja"


"Tapi....."


"Mau aki izinin atau enggak sama sekali" suaranya sudah terdengar tegas dan mengancam.


Tiara menghembuskan nafas kasar "Baiklah. Terimakasih Sayang"


"Hah apa yang aku katakan? Nanti Dia pasti akan menggoda ku. Ahhh bagaimana ini"


Wajah Tiara sudah memerah dan tersenyum malu saat mengingat lagi apa yang Dia ucapkan pada suaminya.


"Ahhh biarin lah, sama suami sendiri ini. Kenapa harus malu.... Ahhh tapi aku malu" gumam Tiara smabil menutup wajah dengan kedua tangannya.


Tok tok tok


"Nona maaf, apa Nona jadi ikut ?" kata Bi Esih dari luar kamar


"Iya Bi, sebentar" Tiara memasuk kan ponselnya ke dalam tas dan berjalan ke luar kamar.


Ceklek


"Ayo Bi, Tia sudah siap"


Tiara menggandeng tangan Bi Esih dan berjalan menuruni tangga. Bi Esih merasa tidak nyaman karna mau bagaimana pun Tiara adalah istri dari majikan nya.

__ADS_1


"Maaf Nona, silahkan Nona jalan lebih dulu saya tidak enak berjalan berdampingan dengan Nona Tiara " kata Bi Esih


"Ya ampun Bi, gak papa kali. Tia ini sama ko kaya Bibi. Jadi jangan sungkan ya, bersikap biasa aja " kata Tiara


Bi Esih tersenyum 'Kenapa Nona sangat rendah hati. Pantas saja Tuan sangat mencintai Nona'


"Oh iya Bi, kata Mas Ditya kita belanjanya ke supermarket aja jangan ke pasar" kata Tiara dengan wajah cemberut


Bi Esih tersenyum melihat Tiara yang mengembungkan pipinya. Terlihat sangat menggemaskan.


"Baik Nona"


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


"Tadi beli apa aja?" tanya Ditya sambil mengelus kepala Tiara yang bersandar di dadanya.


"Bahan makanan sama kebutuhan dapur aja" jawab Tiara masih asyik memainkan ponselnya


"Hmmm. Udah main ponselnya" Ditya mengambil ponsel Tiara dan menyimpan nya di nakas samping tempat tidur


"Mas aku...."


"Apa? Kenapa? Mentingin ponsel daripada suami sendiri?" kata Ditya menatap tajam istrinya


"Iya maaf" Tiara mengeratkan pelukannya pada Ditya


"Oh ya tadi waktu kamu telpon aku kaya denger sesuatu deh" kata Ditya tersenyum


"Apa?" tanya Tiara masih belum menyadari apa yang di maksud suaminya


"Ada yang manggil aku sayang loh" kata Ditya mencium puncak kepala istrinya


Wajah Tiara langsung berubah merah padam. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Ditya.


Ditya tersenyum lucu melihat tingkah istrinya. Dengan satu gerakan kini Tiara sudah berada di bawah tubuh Ditya. Menatap mata indah sang suami.


"Ma...mau apa Mas?" tanya Tiara gugup


Ditya menyeringai "Apa lagi? Mau memberi istriku hadiah karna sudah memanggil sayang"


Aaaaa. Ini sih bukan hadiah tapi penyiksaan. Aku tidak butuh hadiah.

__ADS_1


Malam yang panjang baru di mulai.


Bersambung


__ADS_2