Kau Istriku Bukan Simpananku

Kau Istriku Bukan Simpananku
Part 8


__ADS_3

Ditya masih menunggu Tiara selesai jam kerjanya. Dia selalu memperhatikan gerak gerik Tiara saat melayani pelanggan nya.


"Terimakasih, silahkan datang kembali" Tiara tersenyum manis pada pelanggan terakhirnya


Tiara mulai memberesakan beberapa pakaian yang terpajang di luar toko. Manekin manekin segera Dia masuk kan.


"Biar ku bantu" Ditya langsung meraih manekin yang akan di angkat oleh Tiara


"Gak papa Mas, Tia bisa sendiri ko" kata Tiara


"Sudah kau bereskan yang lain saja. Ini biar aku yang bereskan" kata Ditya


"Baiklah, terimakasih "


Setelah semuanya beres, uang hasil penjualan pun telah Tiara simpan di tempatnya. Kini Tiara menutup tokonya.


"Ayo Mas, kita pulang" ajak Tiara sambil mengambil tas gendongnya


"Kamu kesini naik apa?" tanya Ditya sambil mengikuti langkah Tiara


"Tia bawa motor Mas" jawab Tiara


"Ya sudah biar ku antar, nanti aku pulang naik taxi" tawar Ditya


Tiara menoleh "Emang tadi Mas kesini pakai apa?"


"Bareng sama Alvin, tapi karna Alvin sudah pulang jadi aku naik taxi aja. Tapi sebelum aku pulang aku akan mengantarkan mu dulu " kata Ditya


"Tidak usah Mas, Tia bisa sendiri oke. Udah biasa juga" Tiara mencoba menolak


"Sudah jangan membantah, ayo" Ditya menggandeng tangan Tiara


Sesampainya di parkiran Tiara dan Ditya segera menuju tempat dimana motor Tiara terparkir.


"Mana kuncinya" Ditya menengadahkan tangan nya


"Biar Tia saja yang bawa Mas" kata Tiara merasa tidak enak


"Sudah jangan membantah" kata Ditya


'Kenapa Dia jadi begitu? Semuanya selalu saja bilang jangan membantah' Tiara memberikan kunci motornya pada Ditya

__ADS_1


"Pakai dulu helm nya" Ditya memberikam helm pada Tiara


Untung saja kemana mana Tiara selalu membawa helm dua. Ya mungkin karna kebiasaan bekerja sebagai ojol.


"Ayo naik"


Tiara pun naik ke motor tanpa bicara apapun. Ditya melajukan motornya dengan kencang namun segera mengeremnya sehingga Tiara refleks memeluk pinggang Ditya.


"Mas biar Tia saja yang bawa motornya" kata Tiara masih memeluk pinggang Ditya


"Sudah kau pegangan lah, janga membantah" kata Ditya tersenyum licik


Ditya pun melajukan motornya memecah keramaian kota di malam hari. Para pengendara masih benyak betkeliaran meskipun hari sudah malam.


"Itu yang depan Mas kontrakan Tia" kata Tia menunjuk ke arah rumah sederhana namun sangat terawat


Ditya pun memarkirkan motor Tiara di halaman rumah. Setelah Tiara turun dan membuka kunci. Ditya baru menaikan motornya ke atas teras.


"Makasih ya Mas sudah mengantar Tia. Hmmm mau masuk dulu" kata Tiara sedikit ragu karna Dia tidak pernah membawa seorang pria ke kontrakan nya


Ditya tahu kalau Tiara ragu untuk menawarkan nya masuk ke dalam rumah.


Tiara pun mengangguk "Ya sudah hati hati di jalan"


"Ya, Assalamualaikum " pamit Ditya


"Waalaikumsalam " setelah Ditya pergi, Tiara pun segera masuk ke rumahnya.


Ditya mengambil ponselnya dari saku jaket dan menelpon sang asisten pribadinya.


"Hallo Bos ada apa?"


"Jemput aku sekarang nanti di kirimkan alamatnya"


"Baik"


Ditya pun kembali memasukan ponselnya ke dalam saku jaket. Menunggu di pinggir jalan yang cukup aman agar Tiara tidak melihatnya.


Kontrakan sebelah Tiara yang terhalang oleh dua rumah. Di depan rumah itulah Ditya menunggu Alvin menjemputnya.


Tirai rumah terbuka tanpa sepengethuan Ditya. Dia menatap heran pada Ditya yang berdiri di pinggir jalan tepat di depan rumahnya.

__ADS_1


"Bu sini deh" teriak Meta anak yang tinggal di rumah itu


"Ada apa Met" Bu Ningsih berlari tergopoh gopoh menghampiri anaknya


"Lihat deh itu siapa? Kenapa berdiri disana? Perasaan baru lihat tuh orang deh" Meta menunjuk ke arah Ditya berdiri


"Heem, siapa ya" Bu Ningsih pun ikut penasaran


Tin tin tin


Alvin pun datang, tanpa banyak bicara Ditya pun langsung masuk ke dalam mobil. Dia sudah merasa kedinginan dan banyak nyamuk nyamuk yang mengerubutinya.


"Wah Bu kayanya orang kaya deh, lihat Dia di jemput mobil mewah" teriak Meta antusias


"Heem Met" Bu Ningsih pun ikut antusias


"Kenapa nunggu di pinggir jalan? Emang Tiara gak izinin kau masuk?" tanya Alvin


"Kayanya Dia gak nyaman kalau ada laki laki yang masuk ke rumah nya " jawab Ditya santai


Alvin menoleh sebentar lalu kembali fokus pada jalanan di depan nya "Memang kenapa? Dia bilang gitu sama kamu?"


"Enggak, tapi dari cara Dia ngomong saat nawarin gue masuk Dia kelihatan ragu gitu" jelas Ditya


"Hmmm. Berarti Dia bukan perempuan gampangan Dit" kata Alvin, Ditya hanya mengangguk


"Rumah nya yang tadi bukan?" tanya Alvin


Ditya menggeleng "Bukan, aku sengaja gak nunggu di depan rumah nya. Takutnya Dia lihat kalau aku di jemput sama kamu"


"Hmmm. Bener juga. Tapi Dit, sampai kapan kau akan menyembunyikan identitas mu?" tanya Alvin


Ditya menghembuskan nafas kasar "Entahlah, mungkin sampai urusan perjodohan ini selesai"


"Saranku lebih baik kau jujur pada Tuan besar. Aku yakin ko kalau Dia bakalan bisa menerima semuanya, secara kau kan cucu kesayangan nya" saran Alvin


"Iya Al, aku akan coba jujur sama Opa. Kalau masalah Mami sama Papi sih mereka tidak pernah memaksa. Cuma mereka juga tidak berani melawan Opa" kata Ditya


"Makanya cobalah kau bicara secara perlahan sama Tuan besar" kata Alvin


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2