
Hari pertama Rara dan Anya kembali bekerja di perusahaan Fendra.Corp.
Turun dari angkutan umum, Anya dan Rara bergandengan tangan memasuki lobi kantor. Menyapa siapa saja yang berbapapasan dengan mereka.
Terlihat wajah wajah terkejut dari setiap karyawan yang bertemu dengan mereka.
Seminggu tidak masuk kerja tanpa adanya surat cuti. Anya dan Rara di anggap mengundurkan diri. Tapi anehnya meja kerja mereka di larang di tempati oleh siapapun oleh Rafa.
Sampai sekarang mereka datang kembali bekerja. Tentu saja ini menjadi pembicaraan antara karyawan. Mereka menganggap kalau Anya dan Rara di perlakukan berbeda di kantor ini.
"Lihatlah mereka. Pasti mereka mempunyai hubungan khusus dengan bos kita sampai bisa kembali ke kantor ini"
"Iya. Mungkin mereka telah menyerahkan diri di atas ranjan bos untuk bisa terus bekerja di sini"
"Padahal mereka hanya karyawan biasa dan belum lama bekerja di perusahaan Fendra.Corp. Tapi sudah di perlakukan spesial seperti ini"
"Dasar wanita murahan"
Seperti itulah para karyawan membicarakan Anya dan Rara. Bukan tidak mendengarnya, tapi Rara dan Anya tidak mau mencari masalah dengan mereka.
'Mengalah untuk menang, untuk apa mendengarkan omongan orang lain selagi kita tidak merasa melakukan nya'
Itulah prinsip mereka, Anya maupun Rara paling malas jika harus mencari keributan dengan siapa pun itu. Mereka hanya suka kedamaian dan hidup dengan tenang dan penuh keceriaan.
"Semangat Anya" Rara mengepalkan tangannya di udara. Memberi semangat untuk Anya dan juga dirinya sendiri.
"Semangat Rara" Anya pun melakukan hal yang sama. Saling menyemangati sesama saudara adalah kebiasaa mereka.
Dua orang di belakang mereka tersenyum tipis mendengar penuturan keduanya. Awalnya mereka merasa geram saat mendengar kasak kusuk dari para karyawan yang membicarakan kedua wanita yang mereka cintai.
"Ra Lo gak kangen sama si rese" kata Anya
"Tentu saja, disini kan cuma Dia yang mau berteman dengan kita. Lo taukan bagaimana para karyawan judes nya sama kita" kata Rara
"Heem. Apalagi kalau mereka tahu tentang kita" Anya menghela nafas berat
__ADS_1
"Pasti akan makin membenci kita" tambahnya lagi
Rara mengangguk "Tapi seenggaknya kita udah mulai terbiasa dengan hal seperti itu. Selama ini kita selalu mendapatkan perlakuan seperti itu. Jadi jika suatu saat kebenaran nya terungkap maka kita sudah kebal dalam menghadapinya"
Anya hanya mengangguk, mereka masuk ke dalam pintu lif yang terbuka. Tanpa menyadari kalau pembicaraan mereka terdengar oleh dua pria di belakangnya.
Rafa menekan tombol lif, menunggu beberapa saat sampai pintu lif terbuka. Nevan masuk ke dalam lif di ikuti Rafa.
"Apa maksud dari perkataan mereka tadi Raf?" tanya Nevan
"Entahlah. Sepertinya mereka menyembunyikan tentang kehidupan mereka dari semua orang" dugaan Rafa
"Dan sepertinya mereka mempunyai trauma di masa lalu sampai mereka menyembunyikan tentang kehidupannya" parduga Nevan
Rafa hanya mengangguk menyetujui perkataan Nevan. Untuk saat ini mereka akan diam saja.
Tapi jika saatnya tiba mereka pun akan menyelidiki semua tentang kehidupan dua gadis yang mereka cintai itu.
.......
Mengingat anak mereka yang sudah besar dan Opa Fernan yang juga butuh seseorang untuk menemaninya di rumah selain para pelayan dan perawat.
Malam ini Hitta berniat jalan jalan ka cafe untuk menghilangkan jenuh setelah seharian berkutat dengan pelajaran yang cukup memusingkan.
Hitta masuk ke dalam Cafe Aplle milik keluarga Alvin. Dia duduk di meja yang dekat dengan jendela. Melihat pemandangan kota di malam hari.
Hitta telah memesan minuman dan kentang goreng pada pelayan. Sambil menunggu pesanan Dia memainkan ponselnya.
"Silahkan minuman nya Mas" seorang pelayan menyimpan segelas capuchino dan sepiring kentang goreng di meja Hitta.
"Terimakasih" jawab Hitta tersenyum ramah
Pelayan itu mengangguk dan tersenyum lalu pergi meninggalkan Hitta.
Hitta telah menghabiskan kentang goreng juga capuchino nya. Dia masih betah berada di sana.
__ADS_1
Biasanya Hitta akan membawa tugas kuliahnya saat nangkrong di Cafe Apple. Tempat yang menurut Hitta sangat menenangkan untuk mengerjakan tugas.
Tak terasa waktu sudah pukul 10 malam. Sudah waktunya Cafe tutup. Hitta memasukan ponsel ke dalam saku jaketnya. Berdiri dan menyimpan uang di atas meja untuk membayar makanan dan minumannya.
Hitta melangkah ke arah pintu keluar. Tapi sebelum tangan nya berhasil membuka pintu, Hitta mendnegar suara bising di dalma Cafe.
Hitta berbalik dan berjalan ke arah sumber suara. Seorang wanita sedang duduk di lantai dan dua orang wanita sedang mencaci makinya.
"Ta...tapi Kak, aku harus pulang. Bunda akan marah jika aku pulang terlalu malam"
"Kau fikira kau ini siapa? Bersihkan dulu semuanya baru kau bisa pulang. Kau ini hanya anak panti, jangan sok sokan punya Bunda deh. Kau itu cuma anak haram" teriak si wanita yang satu
"Jadi kau harus membersihkan semuanya. Lagian kau kan cuma kerja part time disini" kata wanita yang satunya lagi
"Kak, apa bisa jika kita kerjakan sama sama agar cepat selesai. Jika aku mengerjakan sendiri, aku akan pulang larut malam"
Hitta yang mendengar semunya langsung berjalan menghampri mereka.
"Kalian tidak bisa memberikan pekerjaan itu pada Dia karna itu adalah pekerjaan yang harus di selesaikan bersama" kata Hitta
Kedua wanita yang mencaci maki itu langsung menoleh dan terkejut saat melihat Hitta.
"Jika kalian masih bersikap seperti ini maka aku akan laporkan pada pemilik Cafe ini" ancam Hitta
"Memangnya siapa pemilik Cafe ini? Memangnya kau tahu?"
"Alvin Syahreza adalah pemilik Cafe ini. Dan Dia adalah mantan asisten Uncle saya di Fendra.Corp " jelas Hitta tersenyum sinis
Kedua wanita itu terkejut, kecuali wanita yang tadi di caci maki karna Dia baru kerja disini. Jadi belum mengetahui siapa pemilik Cafe ini.
Hitta berjalan ke arah wanita yang duduk di bawah "Bangunlah. Kau bisa pulang sekarang. Biar urusan mereka aku yang urus"
Wanita itu hanya mengangguk
Bersambung
__ADS_1