
Kepekaan seorang Ibu terhadap anaknya mulai terasa. Celin dan Tiara menyadari kalau ada yang tidak beres di antara anak anaknya dengan Rara, Anya, Aulia dan Desi.
Selesai acara resepsi, Tiara dan Celin mengajak semuanya berkumpul di rumah Ditya. Meninggalkan sepasang pengantin baru yang memang sudah di siapkan kamar di hotel itu untuk mereka.
Semuanya sudah duduk di ruang tamu rumah Ditya. Rara dan Anya hanya menurut, meskipun mereka juga merasa bingung kenapa harus ikut ikutan ke rumah mewah ini.
Alvin dan Ditya hanya diam, jika para istri sudah bertindak maka memang ada yang tidak bisa mereka berdua selesaikan.
"Rafa, Nevan tolong jelaskan semuanya sama kami. Apa yang mmebuat kalian menjadi berubah seperti ini."
"Sudah lama Mama ingin tahu apa yang terjadi pada kalian di luar negri waktu itu. Sampai kalian pulang menjadi dingin seperti ini" kata Celin menatap Rafa dan Nevan secara bergantian
Desi mulai menyadari semuanya, ini pasti bersangkutan dengan masa lalu itu. Gilang sang suami pun mulai menyadarinya.
Ku mohon, buatlah mereka bahagia Tuhan. Aku tahu Rafa dan Nevan adalah orang baik. Aku tidak mau membuatnya terus terjebak dengan masa lalu yang menyakitinya. Desi
Rafa menghela nafas berat, disini mungkin memang Dia yang harus menjawab. Melihat Nevan yang belum bisa melupakan masa lalunya itu membuat Rafa yakin kalau Nevan tidak akan sanggup menjelaskan nya.
"Sebenarnya Desi adalah cinta pertamaku saat aku kuliah di luar negri, saat aku tidak tahu kalau ternyata Desi sudah memiliki suami. Dan Desi mendekatiku hanya untuk mengawasi Aulia dan menjalankan paksaan Aulia" Rafa mulai menjelaskan semuanya
"Saat hati kami benar benar beku dan tertutup. Dengan bodohnya aku malah meminta Anya untuk membantuku melupakan masa lalu menyakitkan itu sampai aku benar benar jatuh cinta padanya" jelas Rafa
Nevan masih diam, membiarkan Rafa menjelaskan semuanya. Mendnegar setiap kata yang Rafa ucapkan.
Rafa juga menceritakan tentang Nevan yang hampir melamar Aulia. Rafa juga menjelaskan tentang Nevan yang juga meminta bantuan Rara.
Rara terdiam mendengar semua penjelasan Rafa. Disini posisinya dan Anya sangat berbeda. Rara tidak di beri tahu oleh Nevan.
__ADS_1
"Terus apa kau sudah melupakan Aulia? Seperti yang di lakukan Rafa?" tanya Tiara menatap anaknya
Nevan terdiam, menatap Rara lalu beralih pada Aulia. Ada getaran yang aneh di hatinya. Nevan bingun harus berkata apa? Perasaannya untuk Rara masih belum Dia sadari.
"Tapi sekarang aku juga sudah single Tante. Kenapa Kak Nevan harus melupakan ku? Lagian Kak Nevan dengan gadis ini hubungan nya juga tidak jelas" tanya Aulia
Yah. Memang benar apa yang Dia katakan. Aku pun bingung dengan hubungan ini.
Rara merasa dadanya sesak, apakah harus Dia kecewa lagi? Untuk yang kedua kalinya. Salahnya sendiri karna terlalu banyak berharap.
Anya sudah tidak bisa menahan diri. Dia berdiri dan berjalan ke arah Nevan. Semua orang melihat apa yang akan Anya lakukan.
Plak
Rara terbelalak kaget saat Anya menampar wajah Nevan. Dia tahu bagaimana saudaranya itu. Anya selalu sulit menahan emosi saat bersangkutan dengan orang terdekatnya.
"Heh kenapa kau menampar Kak Nevan" teriak Aulia tidak terima
Anya menoleh, menatap tajam pada Aulia "Gini ya kehidupan orang kaya. Seenaknya mempermainkan perasaan orang lain"
"Nya udah Nya, kita pulang sekarang" kata Rara mencoba meredam emosi Anya
"Lo mau diem aja Ra? Setelah apa yang Dia lakukan sama Lo Hah?" kata Anya tajam
Rara menghembuskan nafas kasar "Lo fikir Gue sebodoh itu? Gue gak akan lakuin apapun. Tapi Gue gak akan mau terjerumus ke lubang yang sama"
"Pak Nevan yang terhormat, silahkan anda lanjutkan melamar Aulia. Dia sudah single dan tidak ada halangan lagi" kata Rara tegas
__ADS_1
Semua orang diam, mereka telah salah menilai Anya dan Rara. Dua gadis lemah lembut dan sopan ini ternyata mempunyai keberanian yang pantas di acungi jempol.
"Maaf" hanya itu yang keluar dari mulut Nevan. Dia menyadari kesalahannya dan entah kenapa Nevan merasa dadanya sesak saat mendengar ucapan Rara.
"Mulai hari ini kita mengundurkan diri dari perusahaan Bapak Nevan yang terhormat. Seorang CEO yang tidak bisa menghargai perasaan orang lain" kata Anya
"Sayang " Rafa terkejut dengan ucapan lantang Anya. Dia tidak bisa membayangkan kalau Anya berhenti bekerja maka Rafa akan semakin sulit bertemu dengan nya.
"Ke...kenapa harus berhenti? Jangan campurkan urusan pribadi dengan urusan kantor" kata Nevan menatap Rara
"Karna kita udah gak......"
"Zivanya.. Cabut sekarang, jangab memperkeruh keadaan" kata Rara langsung menarik tangan Anya
"Maaf semuanya, silahkan selesaikan semuanya. Kita pulang dulu dan kita udah gak ada urusan lagi sama kalian" kata Rara
"Assalamualaikum. Ayo pergi, Lo jangan ngamuk disini" Rara menarik tangan Anya keluar dari rumah Ditya
Saat berada di teras rumah keduanya saling berpelukan dan menangis tersedu sedu. Mereka paling enggan jika di anggap lemah oleh orang orang.
Apalagi menangis di hadapan orang seperti Aulia.
Pasti mereka akan di rendahkan. Mereka selalu berpura pura tegar dan ceria di depan semua orang. Tapi nyatanya keduanya sangat rapuh dan lemah.
Bersambung
Nanti di sambung lagi ya, dengan ketegangan yang ada. Hehe 😁😁
__ADS_1