
Satu bulan kemudian...
Setelah kejadian di mall waktu itu. Vera tidak pernah bertemu lagi dengan Ardi. Sampai saat ini Vera belum menyadari perasaannya dan juga perasaan Ardi kepadanya.
Vera melanjutkan aktifitas nya seperti biasa. Tak di pungkiri kalau Dia selalu memikirkan Ardi. Kemarahan Ardi saat mengatakan Vera yang pergi dengan pria lain masih teringat di pikiran Vera.
Berbeda dengan Vera, Ardi justru terlihat lebih frustasi. Dia bahkan semakin irit bicara pada siapapun. Tito yang tahu kenapa sahabatnya seperti ini merasa bingung.
Kenapa gak bilang aja kalau lo suka sama Vera, bukannya malah marah marah gak jelas kaya gini.
"Ar, jalan yuk" kata Tito menepuk bahu Ardi
"Gak, males gue" jawab Ardi tanpa menoleh ke arah Tito
"Ck kalau suka itu bilang Ar, bukan nya marah marah gak jelas" teriak Tito, tidak peduli banyak orang yang mendengar apa yang di ucapkan nya.
Ardi terdiam, membalikan tubuhnya menatap Tito dengan tajam "Ikut gue"
Ardi menarik tangan Tito dan menyeretnya keluar dari kampus. Tito hanya pasrah dan mengikuti langkah Ardi.
"Kunci mobil?" Ardi menengadahkan tangan nya di depan wajah Tito
Tito mengerutkan keningnya "Kenapa minta kunci mobil gue? Lo gak niat jual mobil gue kan Ar?"
Ardi menoyor kepala Tito "Ck gue gak bawa mobil Tito. Gue tadi ke sini pake motor" kata Ardi gemas
"Ohh. Terus kita mau kemana?" tanya Tito lagi
"Udah lo masuk aja, mau lo atau gue yang nyetir?" kata Ardi kesal
"Oke.. Oke.. Gue aja yang nyetir, lo lagi gak konsen takut gue kalo lo yang nyetir" kata Tito
Mereka pun masuk ke dalam mobil Tito, mobil melaju meninggalkan kampus. Membelah jalanan kota yang masih todak terlalu ramai karna baru jam 2 siang.
__ADS_1
"Jadi kita mau kemana?" tanya Tito
"Gak tau" jawab Ardi datar
Tito menoleh, menatap tidak percaya pada sahabatnya ini "Lo bilang gak tau? Terus ngapain lo ngajakin gue pergi coba"
"Ck, gue mau curhat sama lo" kata Ardi sepontan
"Buahahahaha" Tito tertawa dengan keras. Tidak menyangka kalau Ardi berbicara seperti itu.
"Lo yakin? Tumben lo mau curhat" kata Tito mencoba menghentikan tawanya
Ardi menatap tajam pada Tito "Lo mau dengerin gue atau enggak?"
"O..oke, sekarang lo mau cerita apa sama gue?" kata Tito mulai menciut saat melihat tatapan tajam Ardi
Ardi menghembuskan nafas kasar membuat Tito meliriknya sebentar.
"Gue bingung sama diri gue sendiri. Gue selalu kefikiran sama Dia, gue benci, gue marah kalau ada cowok yang deketin Dia. Sebenarnya gue kanapa To?" kata Ardi mengeluarkan segala keluh kesahnya
"Lo jatuh cinta sama Dia Ar" kata Tito
Tito tahu kalau selama ini Ardi belum menyadari kalau tentang perasaan nya pada Vera. Ardi belim menyadari kalau Dia telah jatuh cinta pada Vera.
Ardi menoleh, menatap Tito yang sedang fokus menyetir "Benarkah? Apa ini rasanya jatuh cinta? Kenapa begitu menyiksa?"
"Itu karna lo gak jujur sama perasaan lo sendiri. Seharusnya lo bilang sama Vera kalau lo tuh suka, cinta sama Dia. Gue yakin lo gak akan merada tersiksa lagi" jelas Tito
"Entahlah, gue belum yakin sama perasaan gue. Gue juga belum siap untuk berkomitmen sama cewe manapun" kata Ardi
"Serah lu deh Ar" kata Tito kesal
...Katanya minta solusi, tapi gak di dengerin gimana si?...
__ADS_1
....
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Vera menghampiri Ibunya yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Hari ini Celin memang sedang tidak berangkat ke rumah sakit.
"Kak Rafa belum pulang Ma?" Vera mencium punggung tangan ibunya
"Belum sayang" kata Celin
Vera mengangguk lalu duduk di sofa tinggal. Celin memperhatikan raut wajah putrinya itu, kepekaan seorang Ibu langsung konek.
"Kamu kenapa Vei?" tanya Celin lembut
Vera menggeleng "Vei gak papa ko Ma"
Aku juga gak tahu aku ini kenapa Ma.
"Tapi akhir akhir ini kamu terlihat begitu murung. Ada apa Nak?" tanya Celin lembut
Celin menghembuskan nafas kasar "Vei juga bingung Ma, tapi selama ini Vei gak pernah kaya gini. Dimana Vei selalu memikirkannya dan ingin sekali menghubungi nya. Tapi Vei gak berani Ma"
Celin tersenyum "Sepertinya putri Mama ini memang sudah dewasa ya. Kau telah merasakan jatuh cinta sayang"
Vera diam, benarkah jatuh cinta? Entahlah sampai saat ini Vera belum benar benar yakin dengan perasaannya.
"Memang siapa yang selaku kau ceritakan itu?" tanya Celin
"Kakak kelas Vei, sekarang Dia sudah kuliah. Tapi Dia galak Ma, dingin banget pokoknya" jelas Vera
"Shalat istikharah Nak, minta petunjuk pada Allah" saran Celin. Vera mengangguk
__ADS_1
Bersambung