Kau Istriku Bukan Simpananku

Kau Istriku Bukan Simpananku
Part 9


__ADS_3

Benar saja rencana pertunangan Celin dan Ditya harus di undur sampai 5 bulan kedepan. Karna ada masalah yang harus di selesaikan dulu. Dan butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan masalah ini. Apakah ini takdir dari Tuhan? Entahlah yang jelas Ditya merasa lega dengan ini semua.


Sudah sebulan lebih Ditya mengenal Tiara si gadis ojol yang manis. Dia pun berhasil membujuk Opa nya agar bisa tinggal sendiri di apartemen yang baru seminggu ini Dia beli.


Bukan tanpa alasan Ditya ingin tinggal sendiri di apartemen nya. Tapi Dia ingin bebas menemui pujaan hatinya kapan saja tanpa sepengetahuan Opa Fernan.


Seperti saat ini Ditya sudah berada di toko pakaian tempat biasa Tiara bekerja. Tiara pun merasa aneh kenapa Ditya sering ke tokonya hanya untuk diam memperhatikan nya tidak melakukan apa apa lagi. Membeli baju pun tidak, jujur saja Tiara merasa agak tidak nyaman ketika Ditya terus memperhatikan nya.


"Mas Tia boleh nanya?" kata Tiara setelah kembali ke meje kasir nya


"Hmmm. Mau tanya apa?"


"Kenapa Mas Ditya sering kesini? Kalau hanya jalan jalan juga tidak mungkin karna Mas Ditya hanya diam di toko ini" kata Tiara


Deg


'Aduh kenapa Dia tanya itu sih? Aku juga bingung harus jawab apa. Apa mungkin ini saat nya untuk ku mengungkap kan perasaan ku'


"Mbak aku mau yang ini" pelanggan toko datang smabil memberikan satu buah baju pada Tiara


Ditya bernafas lega 'Untung saja'


"Baik mbak" Tiara segera membungkus pakaian yang di berikan pelanggan nya

__ADS_1


"Terimakasih, silahkan datang kembali" kata Tiara tersenyum ramah


Tiara kembali duduk dan menatap kepada Ditya "Mas belum jawab pertanyaan Tia"


'Duh masih inget aja sih'


"Hmmm. Karna aku nyaman berada disini. Karna aku nyaman bersama mu. Tia mungkin ini terlalu cepat untuk mu. Tapi percayalah aku sudah jatuh cinta padamu sejak kita pertama ketemu. Saat kami menawari ku untuk mengantarkan ku ke kantor dengan senyuman tulus mu"


Semua kata itu keluar begitu saja dari mulut Ditya. Seperti naskah pidato yang sudah Dia hafalkan. Ditya menarik nafas setelah selesai mengungkap apa yang ingin di ungkapkan nya.


"Mau kan kamu jadi kekasihku?" Ditya meraih tangan Tiara dan menggenggam nya di atas meja kasir


Tiara diam mematung, menatap mata Ditya dalam dalam. Melihat kesungguhan laki laki di depan nya ini. Suara jantung keduanya sudah berdetak cepat saling bersahutan.


Ditya tersenyum merekah saat mendengar jawaban Tiara yang sangat memuaskan. Ditya langsung mencium tangan Tiara dengan penuh kelembutan.


"Terimakasih Tia sudah mau menerima ku" kata Ditya tersenyum bahagia


"Iya Mas" Tiara hanya tersenyum dan mengangguk


"Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang. Tia udah selesai jam kerja nya" kata Tiara sambil mulai membereskan pakaian pakaian yang ada di luar toko


"Biar aku saja Tia, kamu membereskan yang lain nya" kata Ditya, senyuman kebahagiaan tak pernah lepas dari bibirnya

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih Mas" kata Tiara


Setelah mereka membereskan barang barang. Tiara menutup tokonya dan berjalan menghampiri Ditya yang menunggunya.


"Tia pulang sendiri aja Mas, ini sudah malam. Mas langsung pulang aja" kata Tiara smabil berjalan dan menaiki eskalator


Ditya meraih tangan Tiara dan menggenggam nya "Justru karna sudah malam, jadi aku tidak akan membiarkan kamu pulang sendiri"


Tiara menghela nafas "Baiklah"


Kini mereka sudah berada di parkiran. Ditya segera menaiki motor milik Tiara di ikuti Tiara yang naik di belakang nya.


Motor melaju memecah keramaian kota di malam hari. Dua inisan ini tidak pernah lepas tersenyum. Terlihat jelas wajah bahagia dari keduanya. Tiara pun sudah berani memeluk pinggang Ditya saat naik motor.


"Tia mau kan nerima aku apa adanya. Apa pun yang terjadi suatu saat nanti" teriak Ditya karna suara bising dari kendaraan yang lain.


"Iya Mas, Tia akan mendampingi Mas apapun yang terjadi nanti"teriak Tiara dan mengeratkan pelukan nya


Keduanya saling tersenyum walau tidak bisa saling melihat senyuman itu. Tiara menyandarkan kepalanya di punggung Ditya sampai pipinya menempel di punggung itu.


Cinta memang bisa membuat seseorang terasa melayang. Dunia berasa milik berdua, tidak peduli dengan yang lain. Tidak perduli dengan masalah dan rintangan yang akan mereka hadapi kedepan nya. Yang jelas saat ini mereka sangat bahagia.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2